Kenapa Masih Suka Berdebat

0
374
Indahnya ukhuwah

Mungkin ucapan, “shaf-nya mengalami kemajuan”, sering kita dengar. Kalimat sindiran yang biasanya terdengar saat memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini, seakan sudah biasa. Ada nada getir yang terdengar. Keprihatinan akan semakin berkurangnya jumlah jama’ah pada hari-hari terakhir Ramadhan, seolah hanya bisa diratapi. Sampai sekarang belum terjawab juga solusinya. Jama’ahnya berkurang, maka shaf-nya jadi maju, “mengalami kemajuan”. Paling tidak itu yang terjadi di sini. Entah di tempat lain. Kayaknya sih 11-12.

Pengalaman saat masih menjadi karyawan di sebuah supermarket, begitu. Saat awal-awal Ramadhan hingga pertengahan, jam-jam setelah berbuka dan shalat tarawih, supermarket dimana aku bekerja, sepi pengunjung. Kalau nantinya ada, kebanyakan dari mereka etnis Tionghoa. Aku yakin mereka bukan orang Islam. Bagi mereka, sepinya supermarket pada jam-jam segitu, menguntungkan. Lebih efektif dan tidak perlu mengantri saat membayar di kasir.

Tapi lihat saja nanti. Saat memasuki pertengahan Ramadhan, supermarket kembali ramai. Tak kenal waktu malahan. Para pengunjung sibuk dengan urusan persiapan lebaran. Ada yang membeli bahan dan peralatan pembuatan roti, ada yang sengaja belanja jadi, termasuk mencari baju lebaran. Saat siang, akan dilihat antrian orang berseragam dinas. Mereka belanja untuk kepentingan bingkisan lebaran. Malamnya, bukan hanya wajah-wajah etnis Tionghoa, tapi sudah campuran. Wajah-wajah asli orang Banyumas sudah mulai belanja kebutuhan. Tak jelas apakah saat siang hari nggak sempat atau bagaimana. Mungkin begitu.

Iming-iming keutamaan bulan Ramadhan untuk memperbanyak amal dan berdoa kepada Allah SWT, seakan tak berlaku. Layaknya teman-teman yang lain, persiapan lebaran harus sempurna. Ada beraneka ragam makanan, pakaian, sepatu, dan asesori lain yang baru. Termasuk perlengkapan shalat pun demikian. Apakah itu salah? Bukan kapasitasku untuk menjawab. So far, it’s good for them.

Dulu aku sering iri. Saat masuk kerja shift malam, ingin rasanya pulang dan shalat tarawih berjama’ah di masjid. Eh, mereka yang waktunya longgar kok malah pada ke sini. Semestinya mereka memanfaatkan betul untuk berjama’ah di masjid. Berbaur bersama para tetangga dan teman saat berlangsung shalat tarawih dan sesudahnya, merupakan barang mahal. Sering kita tidak sempat berkumpul bersama mereka. Sayangnya hampir tak ada teman yang bisa di ajak tukar shift. Saat Ramadhan tiba, semua berebut agar bisa masuk shift pagi.

Sepertinya fenomena itu, sekarang bertambah. Bukan saja pada pertengahan bulan Ramadhan mereka memenuhi supermarket atau pusat-pusat perbelanjaan, hampir tiap hari. Pada bulan Ramadhan malah lebih ramai. Seolah semua orang punya uang untuk berbelanja. Acara ngabuburit sekarang di supermarket. Paska buka puasa sampai tutup toko pun demikian. Persediaan barang dagangan di supermarket selalu kurang. Wis prepegan pokoke. Laris manis.

Yang namanya berbeda pendapat sih nggak masalah. Tapi seringnya perbedaan pendapat justru akan melebarkan jarak antara kita. Perbedaan pendapat di bidang agama dan politik sering menjadi pemicunya. Misal, beberapa waktu lalu ketika masih sering muncul pertanyaan: lebih utama mana antara shalat tarawih 11 raka’at dengan yang 23 raka’at. Masing-masing memberikan argumen lewat mimbar-mimbar pengajian. Akibatnya banyak yang merasa risih. Mengapa para juru dakwah sepertinya ngotot meyakini apa yang mereka anggap benar. Bahkan seolah menganggap yang lain salah.

Risih demi mendengar perbedaan-perbedaan pendapat itu yang kadang kita menjadi sungkan. Mau shalat ke masjid sini, takut di cap menjadi jama’ah golongan A. Kalau memilih di mushola sana, enggan dikatakan memihak golongan B. Semua serba salah. Akhirnya banyak yang enggan pergi ke masjid atau mushola. Aku sih berpikiran positif saja. Mereka masih melakukan shalat tarawih. Entah di masjid atau mushola mana, di rumah, atau setelah berbelanja itu.

Gemar berbeda pendapat, lebih-lebih urusan khilafiyah sering berakibat buruk. Seperti contoh diatas, tentang shalat tarawih. Kita pasti tahu yang namanya shalat tarawih itu hukumnya sunnah, sedang menjaga persatuan dan kesatuan itu wajib. Tanpa disadari, dengan bersikukuh bahwa pendapatnya, tentang hal yang sunnah, malah mengakibatkan terlanggarnya yang wajib. Jama’ah menjadi risih dan memilih undur diri. Kadang aku pun begitu.

Entah bagaimana ceritanya, kalau urusan agama dan politik, semua merasa ahli. Mirip penonton dan komentator bola. Saat pemain kesulitan mencetak gol, salah mengumpan, salah mengantisipasi serangan hingga kebobolan, serta merta kita akan berkomentar. Padahal aku yakin, para pemain itu pun sudah berniat mencetak gol. Tapi mungkin kehilangan momentum karena kurang atau terlalu cepat mengambil keputusan. Lagi pula belum tentu saat kita bermain, bisa seperti itu. Memang berkomentar itu lebih mudah. Termasuk aku… hehe….

Alhamdulillah, sekarang perbedaan soal jumlah raka’at shalat tarawih, jarang terdengar. Mungkin sudah mulai menyadari kekeliruannya. Tema-tema kultum atau ceramah, tidak lagi menyinggung hal itu. Sekarang yang sering didengar adalah kalimat: mau yang 11 raka’at atau 23 raka’at sama-sama baik. Yang nggak baik itu yang nggak shalat tarawih. Mestinya memang begitu. Setahuku, semua punya dasar sendiri-sendiri kok.

Pernah aku dengar sebuah kisah seorang ulama yang menghindari soal perdebatan. Apalagi perdebatan itu hanya urusan khilafiyah atau tak begitu penting. Ulama itu beranggapan bahwa akibat dari perdebatan itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Baik yang menang debat maupun yang kalah sama saja. Malahan sering bisa merenggangkan hubungan antar mereka. Siapapun yang dinyatakan kalah belum tentu menerima dia kalah, karena dia tetap meyakini apa yang dia yakini. Sedang yang menang pun belum tentu mendapat simpati.

Ulama itu takut saat perdebatan berlangsung nanti, justru akan keluar dari rel kebenaran. Demi mempertahankan keyakinannya, tak jarang orang akan melakukan pembenaran sendiri. Perdebatan malah keluar dari substansi. Ditakutkan niatnya berubah, bukan lagi mencari kebenaran, tapi mencari kemenangan. Saat terpaksa berdebat, ulama itu selalu berdoa dalam hati, bahwa apa yang dia maupun lawannya sampaikan, adalah kebenaran. Begitu lah seharusnya. Perdebatan seharusnya dilakukan dalam rangka mencari kebenaran, bukan kemenangan. Kebenaran bisa muncul dari ucapan-ucapan kita, lawan debat, atau bahkan orang lain. Insya Allah itu akan kita temukan jika niat kita benar-benar mencari kebenaran. Ikhlas menerima jika yang benar berasal dari lawan debat. Tidak jumawa ketika kita yang benar.

Munculnya ormas-ormas semacam NU, Muhammadiyah, Persis, dan yang lain, tidak lepas dari ucapan Ali bin Abi Tholib. Saudara sepupu yang kemudian menjadi menantu Rasulullah SAW ini pernah mengatakan bahwa keburukan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Maka tidak heran jika umat Islam di Indonesia banyak yang masuk di salah satu ormas-ormas tersebut. Mereka berharap bahwa kebaikan yang dibawa oleh masing-masing ormas, akan mampu mengalahkan keburukan. Itu sisi positifnya.

Salah satu sisi negatif dari bergabung di ormas-ormas itu ialah tentang Ashobiyah. Ashobiyah bisa diartikan, mencintai kaumnya secara berlebih, sehingga menganggap yang salah. Virus ini yang mudah sekali menyerang para anggotanya. Mereka yang jarang melakukan perimbangan terhadap informasi-informasi luar, biasanya mudah sekali mengidapnya. Yang didengar hanya gurunya. Pemberi petuah dari golongnnya, akan mudah dipahami, sedang yang dari golongan lain sering diacuhkan. Kalimat: jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihat lah apa yang dibicarakan, pun seperti tak dihiraukan. Bahasa Banyumasannya: Mbrengkunung.

Aku pernah berdiskusi dengan seseorang yang aku anggap memiliki ilmu agama yang lebih cukup. Kalau melihat kebiasannya, dia berbeda denganku. Aku tidak melakukan apa-apa yang dia lakukan. Aku memiliki keyakinan bahwa yang dia lakukan tidak ada contohnya pada jaman Rasulullah SAW. Dia pun tahu itu. Dia membenarkan ucapanku. Tapi dia pun berujar, jika aku tidak melakukannya, kira-kira apa yang terjadi. Mereka akan beralih dariku dan meminta petunjuk dari orang yang nggak jelas. Toh, apa yang aku lakukan bukan sesuatu yang diharamkan. Begitu alasannya.

Penjelasannya cukup logis. Aku pun manggut-manggut. Dia menyarankan kepadaku, bahwa meski kami berbeda soal itu, ukhuwah harus tetap dijaga. Sepakat. Alasan yang dia pakai membuat pikiranku terbuka. Andai aku berada pada posisinya, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku pun menjadi semakin simpati padanya. Dia sering bertanya-tanya, mengapa mereka yang tak paham sering mudah menyalahkan. Padahal kondisinya berbeda-beda pula. Yah, perbedaan memang wajar. Itu sudah ada sejak jaman Nabi. Tapi semua dibiarkan.

Pernah dikisahkan tentang perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan Umar tentang shalat tahajud. Umar beranggapan bahwa shalat tahajud boleh dilakukan sebelum tidur. Sedang Abu Bakar bilang kalau shalat tahajud dilakukan setelah tidur sehabis Isya. Setelah menghadap Rasulullah SAW menjadi jelas. Demi mendengar alasan kedua sahabatnya itu, Rasulullah SAW membenarkan semuanya. Abu Bakar beralasan kalau dia yakin bisa bangun malam, maka tahajudnya dilakukan setelah tidur dulu. Sedang Umar tidak merasa yakin. Maka dia shalat tahajud dulu baru tidur. Meski berbeda, tetap dibenarkan. Nah, kan?!

Perbedaan demi perbedaan sudah ada sejak jaman dulu. Karena berbeda itu fitrah. Jika menginginkan sama semua, maka itu musykil. Maka satu-satunya mensikapi perbedaan itu adalah menerima lapang dada dan bukan mempertentangkannya. Pernah aku baca dalam Al Qur’an, bahwa mereka yang bisa menerima perbedaan itu lah orang yang mendapat petunjuk. Semua sudah diatur sejak sebelum adanya dunia ini. Pena telah diangkat dan tinta telah kering. Apapun yang terjadi sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, begitu. Tugas masing-masing kita adalah saling ingat mengingatkan dalam hal kebenaran. Andai tidak mau, itu bukan urusan kita. Karena Allah SWT lah bisa memberi hidayah.

Mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah itu keniscayaan. Jika menjaga persatuan itu hal yang wajib, kenapa mesti dikalahkan dengan perbedaan pendapat tentang sesuatu hal yang sunnah. Jika shalat tarawih itu hukumnya sunnah, mengapa memperuncing perbedaan pendapat yang membuat persatuan jadi terganggu. Aku rasa semua ulama di mana sepakat tentang hal ini. Oleh karenanya, jika berbeda pendapat membuat kita renggang lebih baik dihentikan.

Bagi orang Islam, bulan Ramadhan ibarat ujian. Salah satu yang di uji ya soal persatuan itu. Apalagi sering terjadi perbedaan awal atau akhir waktu Ramadhan. Ini menjadi tolok ukur keikhlasan kita menerima perbedaan. Andai setelah Ramadhan masih belum berubah, maka puasa yang dikerjakan seperti tak berarti. Padahal sudah diingatkan berkali-kali, bahwa puasa bukan cuma menahan rasa haus dan lapar. Mengekang hawa nafsu pun menjadi salah satu syaratnya. Kalau masih menuruti hawa nafsu untuk tidak bertoleransi terhadap perbedaan, ya terserah.

Aku sih yakin, salah satu sebab “larinya” jama’ah dari masjid karena risih dengan perbedaan pendapat yang terlalu meruncing. Mereka enggan terjebak dan di-stigma-kan menjadi pendukung salah satu organisasi keagamaan di Indonesia. Kalau terlalu sering ke masjid atau mushola A, takut dilabeli sebagai jama’ah organisasi B. Jika terlalu sering mengikuti pengajian bersama jama’ah C, sungkan dikatakan anggota organisasi D. Serba salah jadinya. Padahal aku yakin, mereka sebenarnya ingin bergandengan dengan siapa saja, tanpa dilabeli yang macam-macam. Mereka ingin rajin shalat berjama’ah di mushola A tanpa harus di vonis menjadi jama’ah organisasi B. Demikian juga, saat ingin mengikuti pengajian bersama jama’ah C, mereka tak mau disangka menjadi jama’ah organisasi D. Begitu. Mereka ingin bebas kemana saja tanpa dilabeli yang macam-macam. Apalagi terjebak pada perdebatan-perdebatan itu. Kita cinta damai kok. Ingin semuanya rukun-rukun saja.

Sudah saatnya meninggalkan perbedaan-perbedaan yang memecah belah. Lihatlah ke sekililing, masih banyak persoalan-persoalan yang lebih penting. Kemiskinan ada di mana-mana, sedang kebanyakan mereka adalah orang Islam. Kesehatan masih menjadi barang mahal. Apa kontribusi kita. Tak sedikit para petinggi yang gemar korupsi. Mengapa kita acuh tak acuh dan menganggap seolah sudah biasa.

Jika kita yakin Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamiin, maka buktikan. Buktikan kalau Islam benar-benar menjadi solusi bagi semua permasalahan yang ada. Bukan sekedar legitimasi dan justifikasi. Bersiaplah untuk melihat Islam menjadi bahan olok-olokan, saat kita masih terlena dengan ashobiyah.

Masih mau asyik berdebat?

Indahnya ukhuwah
Indahnya ukhuwah
BAGIKAN
Berita sebelumyaTekun dan Ulet, Modal Utama Kelompok Batik Pringmas
Berita berikutnyaMenjadi Relawan Arus Mudik
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here