Konsep Penanggulangan Kemiskinan

0
385

Kemiskinan adalah sebuah permasalahan yang masih menjadi kendala di masyarakat. Masyarakat miskin dari tahun ke tahun selalu bertambah jumlahnya. Pembangunan yang dilakukan di sana sini belum bisa menyentuh persoalan kemiskinan secara signifikan. Berbagai program yang dilakukan oleh pemerintah terkait penanggulangan kemiskinan, seolah menemui tembok besar nan tinggi. Namun demikian, pemerintah bersama masyarakat terus dan terus saja memerangi kemiskinan tersebut.

Dari sudut pandang sebab dan akibat, kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni: Kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural.

Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural ialah kemiskinan yang disebabkan oleh pengelolaan tata pemerintahan yang tidak berpihak kepada rakyat. Dalam hal ini, kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat mengakibatkannya kemiskinan. Contoh:
a. Alokasi dana yang dikucurkan untuk kesejahteraan masyarakat sangat kecil.
b. Peraturan yang menyulitkan berkembangnya usaha rakyat, semisal perundang-undangan yang mempersulit, pajak, dan retribusi yang menguntungkan pengusaha besar.
c. Jaminan perlindungan bagi UMKM.
d. Kesulitan akses bantuan modal.
e. Impor besar-besaran.
f. dan lain-lain.

Kebijakan-kebijakan itu bisa disebabkan karena imbas perekonomian dunia, dan pemangku kebijakan yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.

Kemiskinan Kultural
Kemiskinan kultural ialah kemiskinan yang disebabkan oleh adat kebiasaan yang dianut oleh masyarakat. Oleh karenanya, kemiskinan masih saja menjadi persoalan mereka.
Contoh:
a. Paradigma keliru tentang kaya dan miskin. Kaya diidentikkan dengan neraka (misalnya), dan miskin lebih dekat dengan surga.
b. Perubahan pola masyarakat yang tadinya produktif menjadi konsumtif.
c. Pembelanjaan yang mengalirkan dana ke pemodal besar, bukan ke masyarakat miskin.
Menurut Tung Desem Waringin dalam buku: Financial Freedom, beliau menyebutkan bahwa penguasaan atas 90% uang yang beredar di dunia, ada pada 10% orang di dunia. Sedangkan 10% uang yang beredar, diperebutkan oleh 90% orang di dunia. Andai uang itu dikumpulkan menjadi satu, dan kemudian dibagi rata, maka komposisi kepemilikan uang akan kembali semula. Karena kultur masyarakat yang gemar membelanjakan uangnya ke pemodal besar. Salah satu alasannya karena gengsi.

Oleh karenanya diperlukan tindakan penanggulangan kemiskinan yang bersifat komprehensif. Tidak memandang kemiskinan dari satu sudut pandang saja. Penanggulangan kemiskinan akan lebih mendekati keberhasilan tatkala melakukanserangkaian kegiatan guna mengatasi kedua penyebab tersebut.

Pertama, untuk kemiskinan struktural diperlukan adanya pendidikan politik. Agar masyarakat tahu bagaimana para penjahat kerah putih itu mempermainkan anggaran negara untuk kepentingan mereka. Hingga timbul keinginan untuk tidak lagi mendudukkan mereka pada jabatan yang strategis di pemerintahan. Dengan kata lain, masyarakat harus berani memilih calon-calon wakil di DPR atau DPRD dan pimpinan negara atau pun daerah sesuai hati nurani. Tidak semata-mata karena iming-iming yang bersifat instan.

Mendorong diterbitkannya kebijakan-kebijakan publik yang pro rakyat. Contoh: pembatasan impor. Agar masyarakat bisa ikut menikmati kemudahan dalam pengentasan kemiskinan. Selain itu, pemahaman dan pergerakan penanggulangan kemiskinan harus dilakukan secara bersama-sama. Saling bahu membahu.

Kedua, untuk kemiskinan kultural diperlukan edukasi dalam memahami dan melakukan perubahan paradigma di masyarakat. Mengalihkan belanja kebutuhan dari produk pabrikan ke produk yang bisa dipenuhi oleh masyarakat. Perlunya mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk memproduksi barang dan atau jasa yang berbasiskan SDA yang tersedia. Sebab akan lebih mudah mengembangkan produk local berbasis SDA yang ada daripada produk yang berbahan dasar impor. Kemudian membangun jejaring antar mereka untuk mempermudah promosi dan pemasaran dengan harapan guna kontinuitas produk masyarakat.

Saran Kegiatan:
Melihat persoalan-persoalan diatas, maka kami menyarankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan berupa:
1) Edukasi yang berkelanjutan terhadap perubahan paradigma dan kultur masyarakat yang merugikan mereka.
2) Workshop entrepreneurship.
3) Pelatihan-pelatihan pengembangan UMKM berbasis SDA lokal.
Misal:
– Pertanian organik (beras, sayur, pupuk, dan lain sebagainya).
– Penerapan teknologi hasil pertanian.
– Pemanfaatan limbah
– Pembuatan kemasan produk
4) Pemberian modal usaha
5) Kampanye cinta produk UMKM, salah satunya dengan pameran.
6) Membangun jejaring antar UMKM. Bisa dengan memanfaatkan jaringan internet atau Sistem Informasi Desa (website).
7) Pendampingan yang berkelanjutan.

BAGIKAN
Berita sebelumyaRencana Liburan Keluarga
Berita berikutnyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here