Kuncinya Berani

0
215
Diskusi dan berbagi.

Urusan pengembangan usaha masih menjadi retorika di UPK PNPM MP Kec. Suruh Kab. Semarang. Meski aku yakin, ini pun terjadi di banyak tempat. Mereka sudah bermimpi dan berniat membuka usaha selain pinjaman dana bergulir. Namun hingga saat ini, semua belum terealisasi.

Masalahnya ada pada keberanian. Ini yang kemarin aku tangkap. Sebab di kabupaten Semarang, sudah diterbitkan Perda tentang BUMDesa Bersama. Perda ini termasuk upaya yang dilakukan oleh Pemda Kab. Semarang untuk melakukan transformasi UPK eks PNPM MP. Artinya secara legal formal, sudah cukup kuat.

Sayangnya keberanian itu belum sepenuhnya terhimpun. Padahal Mas Edi Sukarno (Bapermasdes Kab. Semarang) sendiri yang mengatakan bahwa keberanian itu porsi nya mencapai 70% dari sebuah usaha. Sisa nya baru lah masalah teknis usaha dan lain-lainnya. Kalau tak berani, sulit untuk memulai usaha. Apalagi sampai berkembang.

Kedatangan teman-teman dari kelembagaan BKAD Kec. Suruh Kab. Semarang pada hari Selasa (22/11/2016), aku rasa lebih pada memupuk keberanian saja. Mereka masih gamang dan ragu. Terlebih khawatir dikatakan sebagai lembaga yang berbisnis.

Pemberdayaan dalam berbisnis

Setelah aku memaparkan dasar pemikiran, pola kemitraan, pendampingan, dan pemberdayaan yang dilakukan, Mas Edi menyimpulkan sendiri. Yang terjadi di kecamatan Kebasen adalah bisnis yang berbasis pemberdayaan, atau pemberdayaan yang berbisnis. Artinya semua berjalan beriringan.

Pengembangan usaha dengan pola kemitraan, tetap menyertakan ruh pemberdayaan. Pasalnya, para mitra usaha tidak dilepas begitu saja. Ada dukungan manajemen untuk kelancaran usaha mitra, dan ada mekanisme kontrol agar BKAD tidak kecolongan. Apalagi semua mitra usaha yang sudah ada, masih berstatus sebagai pengurus kelompok SPP.

Semua mitra dan ketua kelompok SPP melakukan pertemuan rutin tiap bulan. Pertemuan ini menjadi sarana koordinasi antara BKAD dengan mitra, dan ketua kelompok. Informasi-informasi terbaru disampaikan. Berbagai permasalahan dan rencana kegiatan pun di bahas di sini.

Sesekali diselipkan materi pelatihan yang bersifat soft skill.

Berdasar daur siklus produk

Pemikiran tentang pengembangan usaha berdasar daur siklus produk. Dua indikator utama, yakni kemacetan dan idle money, cukup menjadi alasan perlunya pengembangan usaha. Saat kemacetan tinggi dan idle money banyak, maka pola SPP yang selama ini dilakukan, sudah masuk fase penurunan.

Padahal menurut ilmu manajemen, pengembangan usaha seharusnya sudah dilakukan saat memasuki fase kedewasaan. Harapannya saat produk utama memasuki fase penurunan, sudah ada andalan usaha lain.

Jika masih bisa bertahan dengan pola lama, yang ditandai dengan kemacetan nol persen, dan tak ada idle money, dana bergulir masih layak. Namun tatkala fase penurunan sudah didapati, tapi enggan melakukan ekspansi usaha, maka berdoa lah. Semoga Tuhan YME memberikan keajaiban.

Tiga solusi

Menurut Prof. Rhenald Kasali, saat fase kedewasaan memasuki puncaknya, perlu 3 (tiga) langkah antisipasi. Ketiga langkah ini tidak secara eksplisit beliau tuliskan. Aku menyimpulkannya dari studi kasus di Pertamina. Kebetulan aku punya buku analisis beliau terhadap perkembangan Pertamina sejak jaman Ibnu Sutowo hingga Karen Agustiawan.

Pertama: rekonstruksi.

Langkah ini dimaksudkan agar kita memperbaiki pola yang sudah ada. Pilah dan pilih mana yang masih layak dipertahankan, dan mana yang harus dibuang. Bentuk dari langkah ini berbeda-beda tiap tempatnya.

Kalau di BKAD Kec. Kebasen, salah satu langkah rekonstruksi adalah menambahkan survei lingkungan untuk kegiatan SPP. Jika ditemui keraguan bagi calon pemanfaat, langsung tegas. Tolak atau kurangi pengajuannya.

Kedua: lompat ke kurva kedua

Langkah rekonstruksi belum tentu berhasil. Oleh karena nya perlu upaya lain, yakni: lompat ke kurva kedua.

Langkah ini dimaksudkan agar kita membuka usaha lain. Saran yang bisa aku sampaikan: buka lah usaha pada bidang yang kita tahu. Syukur menguasai. Agar tidak terkesan gambling dan beresiko. Tugas lain tentu harus mau belajar.

Nikmati proses dan jangan bermimpi untuk cepat besar. Semua pasti ada tahapannya.

Ketiga: persiapkan kurva ketiga

Kurva kedua pun akan memasuki fase kedewasaan juga. Maka, perlu mempersiapkan kurva ketiga. Bentuk dari persiapan kurva ketiga adalah pemberdayaan. Yakni kita perlu memberdayakan masyarakat agar meningkat kemampuannya melalui berbagai pelatihan.

Harapannya akan muncul orang-orang dengan skill mumpuni. Mereka lah yang akan membantu kita dalam pengembangan usaha di masa mendatang. Yakni pengembangan usaha, paska menurunnya kurva di kurva kedua.

Analisa SWOT

Analisa SWOT disampaikan oleh Kades Mandirancan, Amin Subkhantoro. Selaku pemandu acara diskusi, sesekali beliau menyampaikan pandangannya. Apalagi beliau masuk dalam tim kecil formatur BKAD. Yakni tim yang membahas semua kebijakan strategis kerja-kerja BKAD Kec. Kebasen.

Beliau menyampaikan perlu nya mengevaluasi kegiatan dana bergulir. Sebab yang namanya lembaga keuangan, selalu tumbuh cepat bak jamur di musim penghujan. Berbagai varian produk pinjaman ditawarkan. Termasuk bunga pinjaman yang sangat rendah. Mampu kah teman-teman UPK bersaing dari sisi jasa, pelayanan, reward, dan penyediaan modal yang dibutuhkan.

Jika masih yakin, silakan saja. Tapi perlu menjadi perhatian bahwa BUMDesa yang akan tumbuh pun bisa menjadi pesaing. Perlu adanya koordinasi dengan para stake holder agar bisa sinkron.

Menurutku, legalitas bukan jaminan sebuah usaha akan berjalan. Yang penting lagi adalah legitimasi dari masyarakat. Apakah yang usaha yang kita lakukan bisa diterima oleh masyarakat. Bukti dari legitimasi itu adalah mereka tak mau berpaling, meski iming-iming menggiurkan.

Jadi, kunci nya adalah keberanian. Berani menanggung resiko saat bertahan dengan yang ada. Harus siap pula menanggulangi masalah yang muncul saat memutuskan mengembangkan usaha.

Diskusi dan berbagi.
Diskusi dan berbagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here