Mari Terus Bekerja

0
229
Paparan Sesi Kedua

Rencananya aku tak akan menghadiri acara Dialog Nasional Ikatan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (IPPMI) di Hotel Grand Alia Jakarta. Soalnya pada hari yang sama yakni Sabtu (20/12/14), rencananya rombongan pelaku PNPM MP dari Kec. Karangtengah Kab. Demak datang ke Kebasen. Mereka yang terdiri dari pelaku PNPM dan perwakilan kelompok UEP dan SPP hendak berdiskusi dengan kelompok-kelompok yang ada di Kebasen. Ternyata pada hari Kamis (18/12/14) Mas Lalu Muazim mengatakan kalau agenda di undur pada Selasa (23/12/14). Alhamdulillah….

Oleh karenanya saat Kang Tarjo (Sutarjo) menelpon, aku katakan siap berangkat ke Jakarta. Saat itu dia sedang menemani rombongan BKAD, UPK, dan BP UPK mengikuti pelatihan di Baturaden. Aku katakan kalau sore harinya akan merapat ke sana. Bincang-bincang pun terjadi di lokasi. Bahkan Kang Tarjo yang rencananya naik kereta, rela ikut naik bis bersamaku.

Aku berinisiatif mengajak Mas Amin, Kades Mandirancan. Gayung bersambut, dia mengiyakan saat aku ajak via telpon. Heran nih, padahal aku cuma bilang: “Mau nggak ikut ke Jakarta nanti sore”.

Entah apa alasannya, yang jelas keinginanku untuk mempertemukannya dengan beberapa teman di Jakarta akhirnya kesampaian. Namun demikian, setelah beli tiket bis, aku sempatkan ke rumahnya sekitar jam 4 sore, satu jam sebelum keberangkatan. Aku ingin memastikan dia tak mengurungkan niat. Baru saat itu dia paham maksud kegiatan yang akan kami ikuti. Untung saja dia tak membatalkan.

Sengaja aku biarkan dia duduk bersama Kang Tarjo. Pesanku buat Kang Tarjo untuk memberikan sedikit pengetahuan pelaksanaan PNPM di Ciamis dan Majalengka dipenuhi. Mas Amin antusias menyambut ajakan diskusi dari Kang Tarjo. Tambahnya pengetahuan bagi Mas Amin sangat penting. Aku berharap dia mau menularkan kepada teman-teman Kades di kecamatan Kebasen.

Bincang-bincang mereka berlangsung sejak kami menunggu keberangkatan bis hingga keluar dari kota Purwokerto. Dinginnya malam karena hujan dan AC  tak menyurutkan diskusi itu. Seingatku, diskusi panjang mereka tak pernah berhenti hingga kami sampai di Indramayu. Baru setelah itu kami tertidur.

Perjalanan yang kami perkirakan sampai paling lambat saat Subuh tiba, ternyata meleset. Bis baru sampai di Kemayoran sekitar jam 6 pagi. Sekitar jam 5 pagi, saat aku terjaga aku melihat foto teman-teman dari Majalengka sempat narsis-narsis di komplek Monas. Weh.

Ternyata diskusi mereka berdua masih belum terpuaskan. Saat sarapan tak jauh dari terminal akhir bis DAMRI, masih terus saja. Hanya saja, topiknya sudah mulai berubah. Masing-masing bercerita tentang masa lalu. Kang Tarjo menceritakan saat dia menyatakan keluar dari PNS. Hebat nih orang, di saat kebanyakan orang ingin jadi pegawai, eh dia malah risen. Sedang Mas Amin bercerita pengalamannya putar-putar Jakarta saat masih tinggal di sana.

Tadinya ingin sampaikan kalau aku pengin naik Bajaj. Seumur-umur belum pernah aku naik kendaraan unik itu. Kendaraan yang sempat jadi kambing hitam kemacetan di Jakarta ini, ternyata masih eksis. Pilihan jatuh pada taksi.

Sesampainya di hotel, kami sempatkan mandi pagi dan istirahat di kamar. Rombongan dari Majalengka sudah bersiap.

Mas Amin aku ajak berkenalan dengan Mba Grace, Pak Ibnu Taufan, dan Mba Ade Siti Barokah. Sayangnya, saat aku bertemu Mas Sani, Mas Amin entah kemana. Sedang teman-teman dari Majalengka sudah otomatis berkenalan saat masih di kamar.

Saat Pak Aunur Rofiq hadir, aku yakinkan Mas Amin untuk mendekatinya. Dia agak ragu untuk bertanya tentang banyak hal. Aku tahu sebagai seorang Kepala Desa, pasti dia ingin tahu banyak hal tentang teka-teki yang selama ini menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat. Mengapa pelaksanaan UU Desa belum juga menemui titik terang yang pasti.

Perbincangan Mas Amin dan Pak Aunur Rofiq terlihat serius meski terkadang diselingi senda gurau. Aku tak nimbrung bersamanya. Sekedar mengenalkan dan menyampaikan keinginan Mas Amin berbincang-bincang. Kalau mendengar sendiri dari salah satu narasumber utama kan lebih memuaskan. Marem.

Sebelum acara diskusi berlangsung, Pak Ibnu Taufan memberikan kata sambutan dan membacakan rekomendasi hasil perumusan dengan pengurus IPPMI baik di tingkat pusat maupun daerah. Perumusan itu sendiri sudah dilakukan semalam. Kemudian meluncurkan website organisasi dan koperasi “Sikompak”.

Sedikit bertanda tanya ketika website yang diluncurkan tidak memakai domain Indonesia. Padahal setahuku, baik Pak Ibnu atau Mba Grace sebagai pengurus nasional, sudah sering berinteraksi dengan orang-orang Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI). Semestinya mereka tahu kalau di Indonesia, sudah memiliki domain khusus organisasi semacam ini. Pertanyaan itu sudah aku sampaikan via twitter. Namun hingga tulisan ini dibuat, dalam notifikasi akun twitterku, belum ada jawaban. Tak mengapa sih. Cuma heran saja. Maaf ya, Pak Ibnu, Mba Grace… hehe….

Sesi pertama di isi oleh Pak Aunur Rofiq dan Mas Budiman Sudjatmiko. Pak Aunur Rofiq selaku Ketua Pokja Kebijakan PNPM Mandiri di TNP2K, berbicara dengan santai. Berbeda dengan Mas Budiman yang selalu berapi-api. Apa yang disampaikan oleh keduanya masih berkutat soal belum siapnya pemerintah dalam melaksanakan UU Desa. Perubahan nomenklatur kementrian menjadi salah satu penyebabnya. Masih harus menunggu penyesuaian di sana sini.

Paparan sesi pertama
Paparan sesi pertama

Menarik apa yang disampaikan oleh Pak Ripono dalam sesi tanya jawab. Aktifis kawakan yang pernah bertemu pada acara Harlah ke-1 Gerakan Desa Membangun (GDM) di Melung ini, mengkritisi sudut pandang para pendamping dalam menempatkan desa, khususnya Kades. Dia menyayangkan bahwa masih banyak pendamping desa yang justru mengawali pendampingannya dengan rasa tidak percaya. Mereka masih beranggapan Kepala Desa dan orang-orang desa harus diawasi agar tidak menyelewengkan dana.

Kasihan sekali.

Bagaimana mungkin seseorang yang bertugas menguatkan masyarakat dalam proses pemberdayaan justru memandang demikian. Apa jadinya nanti jika pendamping yang seharusnya menguatkan malah memulainya dengan rasa tidak percaya. Maka aku sepakat dengan pernyataan dari Akang Imansabumi, awali dengan cinta. Menjadi pendamping bagi desa harus menempatkan cinta terhadap mereka sebagai landasannya. Cinta akan membuat segalanya jadi indah.

Pak Ripono yang juga kawan dari Mas Budiman juga sedikit menggugat keberadaan partai politik. Ternyata setelah dia duduk, belum puas juga. Dia mempertanyakan apa partisipasi nyata partai politik terhadap masyarakat dalam pemberdayaan. Pasalnya Mas Budiman sendiri menyampaikan bahwa pesta demokrasi yang nyata itu di desa. Sekitar 70% suara disumbangkan dari desa. Apa jadinya kalau mereka golput.

Optimisme yang disampaikan oleh Mas Budiman belum cukup menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang bermunculan di daerah. Terlebih saat sesi kedua yang disampaikan dari perwakilan Kemenkeu, Pak Rukijo. Beliau mengatakan bahwa sudah beberapa kali rapat dengan pihak Kemendagri dan Kemendesa. Hasilnya pun masih belum final.

Saat diminta mengalokasikan anggaran ke desa, beliau segera minta data ke Kemendagri, Kemendesa, dan BPS. Menurutnya, data jumlah desa di Indonesia dari versi ketiganya, berbeda semua. Belum lagi saat rapat demi rapat dilakukan. Perubahan data desa berubah-ubah dan selalu bertambah. Maka beliau berinisiatif dan disepakati oleh semua, data desa harus di cut off pertambahannya per 10 Desember 2014. Tujuannya jelas, agar mudah bagi pihak Kemenkeu dalam mengalokasikan anggaran.

Belum seiring berjalannya tiga kementrian terkait dengan implementasi UU Desa juga membuat beliau resah. Andai dana desa sudah disiapkan oleh Kemenkeu, bukankah perlu adanya APBDes yang didahului oleh RPJMDes dan RKPDes. Sedang peraturan menteri dan turunannya terkait itu belum jua ada. Selain itu, revisi PP 60 juga sedang digodok. Maka pertanyaan sederhana akan muncul. Kapan implementasi UU Desa itu?

Diskusi di masa istirahat
Diskusi di masa istirahat

Sesi kedua dilaksanakan setelah istirahat makan siang. Materi yang disampaikan oleh Pak Prabawa Eka tidak aku ikuti sejak awal. Pemaparan dari Pak Rukijo dan Pak Arie Sujito yang aku dengar tuntas. Aku baru melihat sosok Pak Arie Sujito, sang dosen UGM yang ikut mengawal RUU Desa hingga disahkan.

Yang menarik dari pemaparan beliau ialah tentang pendamping organik. Pola pendampingan lama yang lebih condong terhadap rezim teknokratik dan administratif (begitu istilah beliau), harus dirubah. Beliau tidak menafikkan keberhasilan pendampingan dalam kegiatan PNPM yang berhasil menekan angka kebocoran dana. Tapi pola lama itu telah menciderai semangat pemberdayaan.

Beliau berharap ke depan, pendamping harus bisa melahirkan pendamping-pendamping organik yang tumbuh dari masyarakat. Pendamping yang mampu melahirkan pendamping-pendamping dari masyarakat dan tidak menciptakan ketergantungan terhadap pendamping itu sendiri.

 

Paparan Sesi Kedua
Paparan Sesi Kedua

Kritik yang disampaikan oleh Pak Arie Sujito sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Mas Budiman Sudjatmiko. Menurut Wakil Ketua Pansus RUU Desa ini, pemberdayaan masyarakat tidak sekedar mengurangi kemiskinan, tapi juga menegakkan kedaulatan diri dan negara. Fasilitator seharusnya menjadi agen penjaga transformasi sosial masyarakat. Kenyataan di lapangan itu belum bisa dilakukan. Oleh karenanya, pekerjaan yang harus diselesaikan adalah bagaimana merubah pelaku pemberdayaan bisa menjadi agen perubahan. Bukan sekedar pegawai pemberdayaan.

Paparan dari Pak Rukijo tentang jumlah desa yang selalu bertambah terasa menggelikan. Mengapa sampai saat ini belum jua ditetapkan jumlah desanya. Padahal dalam UU Desa syarat-syarat pemekaran sudah dibuat seketat mungkin. Keseriuasan pemerintah dalam menangani desa selama ini patut dipertanyakan. Padahal sumbangsih masyarakat desa kepada bangsa ini sangat besar.

Mungkin perlu diingat ketika masyarakat Aceh berbondong-bondong mengumpulkan semua yang mereka punyai guna membeli pesawat atas permintaan Bung Karno. Pesawat yang digunakan untuk mengirim bantuan obat-obatan itu dihasilkan dari penjualan ubi, padi, kelapa, dan berbagai harta milik orang-orang desa. Itu sumbangsih paska kemerdekaan.

Sumbangsih jaman perebutan kemerdekaan, tak terkira. Orang-orang desa selalu melindungi dengan cara berbohong, tentang keberadaan pejuang-pejuang bersenjata. Orang-orang desa juga mengirimkan makanan kepada mereka. Bocoran informasi kegiatan penjajah selalu mereka sampaikan agar para pejuang bisa merencanakan serangan-serangan ke pasukan penjajah.

Gegap gempita masyarakat dalam menyambut UU Desa begitu terasa. Seperti apa yang disampaikan oleh Kang Tarjo sebelum melontarkan pertanyaan, sosialisasi UU Desa lebih banyak dilakukan secara swadaya. Baru kali ini ada UU yang sosialisasinya dilakukan sendiri oleh masyarakatnya, tidak bergantung pada pemerintah. Luar biasa bukan?

Paparan demi paparan dari narasumber, terlebih dari Pak Rukijo membuat kebingungan ini semakin bertambah. Untung saja aku sudah biasa dibuat bingung. Aku sudah tidak heran soal ini. Ketidakpastian adalah sesuatu yang pasti.

Serius Menyimak
Serius Menyimak

Terlepas dari kebingungan itu, saat pulang hanya ada satu tekad yang menyeruak di dada, yakni: “Tetaplah Bekerja!”

Masih banyak masyarakat yang belum memahami UU Desa dan segala konsekuensinya. Konsekuensi untuk melaksanakan wewenang yang diberikan oleh UU Desa, perencanaan, pelaksanaan, mekanisme monitoring, dan evaluasi pelaksanaan pembangunan di desa dan lain sebagainya. Masyarakat masih sangat membutuhkan pendampingan meski umur program tinggal hitungan hari. Tak ada alasan untuk berhenti bekerja hanya karena ketidakjelasan paska 2015.

Keyakinan itu yang membuatku nyaman sepulang dari Jakarta. Hanya ingat saat bis masuk tol menuju Cikampek. Setelah itu mata terpejam dan baru terjaga saat bis masuk di wilayah Paguyangan Brebes. Makan malam pun terlewatkan tanpa merasakan lapar.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat” (QS 14 Ibrahim ayat 7)

MERDESA…!

BAGIKAN
Berita sebelumyaPersahabatan yang Menguatkan
Berita berikutnyaPersiapan Menuju Workshop SIDeKa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here