Mata Air di Masa Kecil dan Sekarang

4
954
Curug Kidang

Setidaknya ada empat lokasi di sekitar Desa Mandirancan yang menjadi tujuan bermain semasa kecil. Ibaratnya itu tempat-tempat favorit. Warga Mandirancan yang sekarang bermukim di luar desa pun masih ingat akan keberadaannya. Mungkin karena jaman itu belum ada permainan semacam playstation, komputer, atau yang lainnya. Yang perlu tahu kamu, keempat tempat itu berhubungan dengan air.

Kedungbunder

Tempat pemandian ini tidak benar-benar berbentuk bundar. Letaknya di hulu Kali Kemit. Kali Kemit menjadi salah satu sungai kecil yang sering kami susuri, selain Kali Sintru. Kali Kemit membelah Desa Mandirancan menjadi dua bagian. Wetan dan kulon. Maka dulu, sering terdengar orang Mandirancan wetan dan kulon. Sebuah pemisah yang kadang muncul dan sedikit membuat distorsi kala lomba-lomba perayaan HUT RI. Kali Kemit terletak di sebelah timur SD Mandirancan. Di sana ada jembatan Margono yang menghubungkannya. Dimana jalan itu merupakan jalan alternatif ke Banyumas. Jembatan Margono sendiri terletak di sebelah timur Balai Desa Mandirancan. Sekitar 100 meter. Sedang Kali Sintru merupakan batas alam yang memisahkan Desa Mandirancan dan Tumiyang. Kamu akan melintasi jembatan diatasnya saat berkendara dari Mandirancan ke Kebasen.

Kedungbunder
Kedungbunder

Menyusuri Kali Kemit atau Kali Sintru sambil memancing menjadi hiburan kala musim libur sekolah atau saat bulan puasa tiba. Biasanya kami bermain berkelompok. Umpan yang kami bawa berupa cacing kecil yang ada di batang pisang yang membusuk. Ikan-ikan kecil sebesar ibu jari atau dua jari telunjuk dan jari tengah tergolong besar. Senangnya bukan main. Biasanya kami menyusuri dari hilir ke hulu. Sedang ikan-ikan itu akan kami bakar di bagian hulu saat kami sudah merasa capek.

Mencuri buah-buahan, umbi-umbian, dan ketela salah satu kebiasaan buruk masa kecil. Buah pisang yang masih mentah akan kami benamkan dalam tanah. Di balut dengan dedaunan kering agar masak. Beberapa hari kemudian akan kami datangi, dibongkar, dan dinikmati bersama-sama lagi. Umbi-umbian atau ketela akan ikut di bakar. Ikan-ikan kecil tadi sebagai lauk, sedang umbi-umbian atau ketela sebagai pengganti nasi. Tak jarang kami kepergok si empunya kebun. Kami akan lari tunggang langgang. Sepertinya kebiasaan mencuri di masa kecil sudah turun temurun. Setelah kami besar, kami tahu bahwa si empunya kebun sudah memaafkan kami. Mereka mafhum dengan kebiasaan anak-anak. Mereka juga pernah melakukan hal yang sama semasa kecil. Apalagi dulu, tidak semua anak-anak bisa makan nasi di rumah.

Kedungbunder dulu memiliki dasar yang cukup dalam. Anak-anak sering loncat dari bagian atas yang tingginya sekitar 3 meter. Tapi sekarang tak ada yang berani. Bukan karena tak ada nyali. Longsoran tanah dan bebatuan yang terbawa air akibat erosi membuatnya kini tak terlalu dalam. Melompat dari ketinggian itu bisa menyebabkan kaki menghantam dasar kedung. Sakit. Airnya bening karena dekat dengan mata air. Kini mudah keruh karena dangkal.

Kalibacin

Naik ke hulu, ada pemandian Kalibacin. Pemandian ini dulu dipercaya bisa mengobati penyakit kulit. Aroma belerang dari mata air yang berasal dari dua pohon jati didekatnya, dipercaya mampu membunuh kuman. Untuk sampai ke sana, cukup jalan kaki sekitar 200 meter dari Kedungbunder. Sedikit menanjak jalannya. Sedang untuk sampai di lokasi pemandian Kalibacin sendiri, kita harus menuruni jalan setapak. Dekat sih. Licin karena lumut membuat kita harus berhati-hati.

Saat kita mandi, tidak bisa telanjang bulat. Tempat pemandiannya terbuka. Bisa dilihat dari jalan makadam diatasnya. Waktu itu hanya rasa malu yang muncul. Seingatku tak ada rasa syahwat laki-laki terhadap perempuan. Mungkin beda dengan anak-anak jaman sekarang. Banyak yang sudah dewasa sebelum waktunya. Jaman memang sudah banyak berubah.

Kalibacin
Kalibacin

Sekarang aroma belerang masih tercium. Tapi dua pohon jati dimana sumber mata air itu muncul sudah tumbang. Sudah sangat tua. Namun mata airnya masih memancar. Tidak sederas dulu memang. Sekarang pun sudah sangat jarang ada yang bermain ke sana. Akses jalannya yang masih sulit, fasilitas mandi di rumah yang semakin mudah, pengobatan dokter yang cepat bagi penyakit kulit, dan hiburan lain yang lebih menarik menjadi penyebabnya. Seingatku, lebih dari 2 tahun ini aku tak lagi ke sana. Terakhir saat memenuhi keinginan Ata bermain air. Waktu itu Syamil belum ada.

Curug Krucuk

Dari pemandian Kalibacin tadi, sekitar 80 meter ke arah timur akan kita temui Curug Krucuk. Air terjun yang hanya ada saat musim penghujan ini, akses jalannya susah. Hanya ada jalan setapak sepanjang 25 meter saja. Setelah itu, untuk mencapai ke sana harus melewati aliran sungai kecil. Dangkal sebenarnya. Yang paling dalam kira-kira hanya sedikit diatas lutut orang dewasa. Cuma tetap harus berhati-hati sekali. Lumut yang tumbuh di bebatuan baik yang terlihat maupun tidak, bisa membuat kita terpeleset. Harus pintar-pintar pula mencari bebatuan yang tak terlalu dalam sebagai pijakan.

Dulu aku dan teman-teman sempat ingin mencari mata air terakhir di atas sana. Kami mencari jalan dengan memanjat tebing dan menaiki dataran tinggi. Tapi hingga merasa capek, tak jua kami temukan. Sebagai pengobat rasa capek, kami turun dan berdiri di tempat dimana air Curug Krucuk terjun. Bangga sekali waktu itu.

Curug Kidang
Curug Krucuk

Tiga tempat pemandian, yakni Kedungbunder, Kalibacin, dan Curug Krucuk, akan lebih sering kami sambangi saat puasa. Dinginnya air membuat rasa panas hilang. Entah ini termasuk membatalkan puasa atau tidak. Yang kami tahu memang makruh hukumnya. Tak terlalu peduli. Asyik. Memperpendek rasa lamanya waktu menunggu saat berbuka pula. Setelah merasa capek bermain air, biasanya kami baru membakar ikan-ikan hasil pancingan. Saat itu tak ada istilah ini hasil pancinganku, itu hasil pancinganmu. Semua diperbolehkan menikmatinya. Asal mau berbagi dan tidak menang sendiri. Semua mendapat porsi yang proporsional. Mereka yang mendapat hasil pancingan lebih banyak, akan mendapat bagian yang lebih banyak dari yang lain. Bersyukur saat dia mau membaginya kepada yang lain. Nikmat sekali.

Untuk sampai ketiga tempat yang aku sebutkan diatas, akan kamu susuri jalan dari pertigaan yang bernama Gili Cawang, dekat Jembatan Margono, ke selatan. Jalan ini hanya beraspal dari Gili Cawang sampai ke grumbul Kalibacin. Setelahnya akan kita lalui jalan makadam dengan bebatuan yang besar dan lancip. Jalan ini masuk kewenangan Perhutani. Akan kita temui beberapa bagian yang longsor ke Kali Kemit di sebelah kanan. Ada juga longsoran tanah dari tebing yang berada di sisi kiri. Mempersempit lebar jalan yang dulu bisa dengan mudah dilalui kendaraan roda empat.

Menurut cerita, jalan ini sudah masuk perencanaan sebagai jalan besar Purwokerto-Cilacap, disamping jalan yang sudah ada. Yakni jalan yang melalui Patikraja dan Rawalo. Jalan ini nantinya akan dihubungkan dengan jalan Gunung Tugel yang beberapa waktu lalu sudah diresmikan penggunaannya. Perencanaan itu sudah tersimpan di Bappenas katanya. Gambar perencanaan itu didapatkan kala Presiden Suharto mengundang ahli perencanaan dari Belanda. Hanya saja hingga sekarang belum bisa direalisasikan.

Untuk menghubungkan jalan ini dengan jalan Gunung Tugel, memerlukan pembangunan jembatan diatas sungai Serayu. Katanya pula, pembangunan jembatan ini letaknya dekat dengan lapangan desa. Ke timur sedikit. Masuk wilayah grumbul Ndesa. Pembangunannya akan menembus hingga ke Kebasen atau Kalisalak di ujung selatan sana. Aku pernah menyusuri jalan ini masuk ke hutan hingga jembatan Kali Bening di dalam. Saat itu kondisi jembatannya sudah parah. Entah sekarang. Yang aku tahu hingga sekarang, jalan itu sering digunakan sebagai rute kendaraan tril dalam even Jimat Adventure Banyumas (JAB). Sebuah even tahunan yang diselenggarakan berbarengan dengan pejamasan jimat di Desa Kalisalak Kec. Kebasen.

Jika memang benar demikian, pembangunan jembatan akan sangat berguna. Mempermudah akses jalan ke Purwokerto, yang selama ini mengandalkan jembatan Serayu yang sempit. Jembatan yang merupakan pengalihan jalur kereta api. Kisah tentang jembatan itu pernah aku tulis dan posting di web ini pada 10 September 2014 dengan judul: “Jembatan Serayu Penuh Kenangan dan Misteri”.

Besarnya biaya, perubahan eskalasi politik, dan belum masuk skala prioritas mungkin menjadi alasannya. Wallahu ‘alam.

Ketiga tempat bermain itu terdapat sumber mata air. Yakni di atas Curug Krucuk yang hingga kini aku belum pernah ke sana, dan di pemandian Kalibacin itu. Sayang keduanya itu hanya sedikit sekali mengeluarkan air di musim kemarau. Kondisi ini menjadikan tanah-tanah di sawah kering. Air juga tak bisa diarahkan ke kolam-kolam ikan sebagai budidaya perikanan darat. Bahkan dulu, Pemdes Mandirancan perlu turun tangan karena pemilik sawah dan kolam sempat saling berebut air.

Pemdes Mandirancan pernah berdiskusi dengan pihak Perhutani terkait masalah sumber mata air yang selalu kering saat musim kemarau. Ini disebabkan karena pepohonan di sekitar lokasi berupa tanaman produksi yang tak bisa menyimpan cadangan air. Sehingga pada musim kemarau tak bisa mengeluarkan cadangan air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun pihak Perhutani tak bisa berbuat apa-apa. Penanaman pepohonan itu sudah instruksi dari atasan.

Kondisi ini diperparah dengan saluran irigasi yang terbuat dari tanah. Konstruksi tanah, selain meresapkan air, juga mudah dirusak oleh Kepiting sawah sehingga terjadi kebocoran air di sana-sini. Saluran irigasi ini baru tahun kemarin dibuat permanen oleh Pemdes Mandirancan yang berasal dari bantuan dana PPIP dan PNPM Mandiri Perdesaan. Saluran irigasi yang dipermanenkan dengan dana PIPP adalah saluran utama di bagian atas yang arah aliran airnya dibelokkan dengan plered, semacam bendungan kecil, di grumbul Kalibacin. Sedang saluran bawah yang arah airnya dibelokkan dengan plered di grumbul Mbogem didanai BLM PNPM Mandiri Perdesaan.

Kedungtieng dan Curug Kidang

Satu tempat yang baru aku datangi saat aku dewasa bernama Kedungtieng. Sumber mata air ini terus mengeluarkan air meski kemarau panjang. Air dari Kedungtieng tidak saja dimanfaatkan untuk irigasi sawah, tapi juga untuk air bersih warga masyarakat di grumbul Kesumba, Karangwangkal, dan Panturan. Setelah ada program PAMSIMAS tahun 2013 kemarin, warga tak perlu lagi membeli slang panjang dari rumah hingga mata air. Bahkan air dari sana bisa disalurkan hingga ke grumbul Legok, sebelah timur agak jauh dari lapangan desa. Debit airnya memang berkurang saat kemarau tiba. Tapi masih tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan itu. Meski untuk sawah tidak terairi semua.

Jika sumber mata air dari Kalibacin dan hulu Curug Krucuk bisa dimanfaatkan mengairi sawah kulon, maka mata air Kedungtieng bermanfaat untuk sawah tengah. Di Desa Mandirancan, letak sawah terpisah-pisah. Sawah kulon terhampar dari sebelah barat Kali Kemit memanjang hingga pertigaan Wringin. Pada beberapa tempat yang berada di pinggir jalan raya sudah didirikan bangunan buat perumahan warga. Sayang memang.

Sawah tengah membujur dari utara ke selatan, terpotong jalan raya. Sejak lapangan desa hingga ke selatan pekuburan Munthuk. Sedang sawah timur terletak di sebelah utara jalan raya hingga pinggir sungai Serayu, masuk grumbul Kedungrau.

Di komplek Kedungtieng ada tanah lapang yang biasa digunakan untuk perkemahan. Biasanya tempat itu digunakan perkemahan siswa-siswa SMAN 1 Purwokerto. Dari jalan masuk ke SMPN 3 Kebasen, terus ke selatan hingga melewati pekuburan Munthuk. Kemudian belok kiri ke timur, arah grumbul Kesumba. Bumi perkemahan itu terletak di sebelah selatan rumah penduduk yang terakhir di sana. Belum sampai ke mata air Kedungtieng. Hanya saja bumi perkemahan itu sudah masuk wilayah Perhutani. Maka perijinan harus melalui kantor KRPH Banyumas Timur yang posisinya persis di depan Balai Desa Mandirancan.

Satu tempat yang belum pernah aku ke sana yakni Curug Kidang. Dari foto yang diunggah di grup facebook Warta Mandirancan, Curug Kidang lebih bagus daripada Curug Krucuk. Lokasinya masih di wilayah grumbul Kesumba. Tapi kondisinya hampir sama dengan yang lain, debit airnya selalu kecil saat musim kemarau.

Curug Kidang
Curug Kidang

Aku menjadi salah satu saksi menurunnya debit air di kala musim kemarau dari tahun ke tahun. Dulu saat musim kemarau tiba, debit air di Kali Kemit tidak terlalu berkurang. Masih bisa kami bermain-main di sana. Airnya pun masih mengalir agak deras. Sekarang tidak demikian. Debit air sangat kurang, saat musim kemarau seperti sekarang. Kemudian menjadi sangat besar saat musim penghujan tiba. Ini disebabkan karena pepohonan di hutan tidak bisa menyimpan air hujan. Air akan mengalir begitu saja, tidak terserap sempurna.

Pak Kades Amin pernah mencetuskan ide untuk membuat embung. Tidak mudah memang. Selain harus mencari lokasi yang tepat, faktor dana pun menjadi kendala. Makanya hingga kini sejak hampir 3 tahun yang lalu dia terpilih, belum ada kabar akan di bangun. Perlu kajian lebih mendalam.

Untuk bercerita tentang persoalan air yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat Desa Mandirancan, butuh data akurat, observasi, dan wawancara dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Ini yang belum aku lakukan. Oleh karenanya, cerita diatas hanya didasarkan pada pengetahuan sempitku.

Data akurat yang dimaksud misalnya tentang jumlah pemanfaat program PAMSISMAS misalnya. Kemudian observasi terhadap upaya pelestarian hasil kegiatan air bersih pada program P3DT, dan wawancara penanganan air yang bercampur dengan kapur di beberapa rumah di grumbul Watulempung dan masih banyak yang lainnya. Beberapa sumur yang sejak dulu hingga kini tak pernah kehabisan air saat kemarau panjang pun belum di data. Butuh kerja yang tak mudah.

Paling tidak, tulisan ini bisa menggambarkan kondisi dan masalah air yang dihadapi oleh warga Desa Mandirancan tercinta.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here