Melepaskan Belenggu dalam Diri

0
176
Lepaskan belenggu

Semestinya tak ada alasan jika memang jiwa kita merdeka. Tak perlu pula menyalahkan pihak lain atas kelalaian yang kita lakukan. Kealpaan dan kemalasan melakukan aktifitas secara konsisten berasal dari diri sendiri, bukan orang lain. Maka berhenti lah melakukan justifikasi dan menyalahkan orang lain, saat kekhilafan itu ada.

Kealpaan menulis dalam beberapa waktu lalu, berawal dari kedisiplinan diri yang kurang. Ingin rasanya mengungkapkan alasan karena jengah dengan hiruk pikuk Pilkada. Para pendukung bakal calon sering mengumbar tulisan yang provokatif. Namun rasanya tak etis. Pilkada adalah mbarang gawene Negara. Kita harus menghormati.

Jika menulis adalah bagian dari kehidupan, maka melakukannya secara kontinu, merupakan aktifitas yang selayaknya bisa dinikmati. Aktifitas menulis yang dilakukan pun merupakan bukti keberpihakan. Keberpihakan pada uang, popularitas, self centered, atau kepada masyarakat marginal. Karena tak bisa dipungkiri, subyektifitas pasti ada.

Disiplin diri

Selain memulai sesuatu, hal yang paling sulit lainnya ialah konsisten. Tetap melakukan aktifitas yang sama dalam berbagai kondisi, merupakan tolok ukur konsistensi. Tak terlalu mempedulikan akan kesenangan yang didapat, tetap melakukan aktifitas yang diyakini bermanfaat, sejatinya menentramkan hati. Menulis salah satunya.

Tetap menulis walau tak mendapatkan bayaran misalnya, menjadi bukti disiplin dalam diri. Tak begitu terpengaruh dengan keadaan di luar sana, tetap saja menulis. Meminjam istilah ekonomi, anggap lah kondisi di luar sana tetap, atau cetiris paribus. Variabel-variabel penentu di luar supply dan demand dianggap tetap dalam rumusan hukum ekonomi.

Satu-satunya cara mendapatkan disiplin diri ialah dengan terus berlatih. Tanamkan prinsip, disiplin pada diri sendiri, dan toleran pada orang lain. Segala sesuatu yang akan berpengaruh baik pada diri sendiri, segera dilakukan. Tidak bergantung pada orang lain. Namun, andai ada uluran bantuan, baiknya tetap disambut.

Memperkuat keyakinan

Yakin bahwa kesuksesan akan didapat dari ketekunan dan kedisiplinan diri, butuh asupan lagi dan lagi. Memperkuat keyakinan ini menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Membaca buku, bergaul dengan orang-orang yang memiliki keyakinan dan disiplin tinggi, berkaca pada pengalaman kegagalan masa lalu, dan bersyukur atas keberhasilan sekarang, serta membayangkan kesuksesan yang lebih di masa mendatang, adalah beberapa cara yang bisa dilakukan.

Semakin kuat keyakinan akan keberhasilan merupakan energi besar dalam pembentukan disiplin diri. Keyakinan yang didapat menjadi pendorong aktifitas dan penangkal rasa sakit dan malas yang menggelayut. Seperti tak ada rasa lelah yang mendera saat kita yakin sesuatu yang kita lakukan akan berhasil.

Maka ada saatnya kita perlu berhenti sementara. Berhenti untuk melihat ke belakang, apa yang masih kurang dan perlu perbaikan. Saat pemberhentian hal yang dilakukan adalah menambah energi dan menyusun rencana perjalanan ke depan. Berhenti untuk berjalan lebih jauh lagi, bukan berhenti untuk kembali.

Menyongsong keberuntungan

Kita sering mendengar bahwa orang pintar selalu kalah dengan orang yang beruntung. Namun saya lebih cocok dengan kalimat yang mengatakan bahwa keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan. Oleh karena nya, saya pun percaya bahwa keberuntungan bisa diciptakan. Karena proses tak pernah membohongi hasil.

Persiapan yang terus menerus dilakukan dalam sebuah proses, pada saatnya akan ditemukan dengan kesempatan. Saat kesempatan tiba, kita bisa menyongsongnya karena persiapan yang terus dilakukan selama ini. Andai tanpa persiapan yang kontinu, kesempatan sebaik apapun, tak bisa kita raih. Padahal kesempatan tak datang setiap saat. Perlu persiapan untuk itu.

Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Allah SWT tak pernah tidur. Dia melihat semua aktifitas kita. Dia pula yang akan membalas apa-apa yang kita lakukan. Keadilan-Nya membuat kita yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan ketentraman.

Keberuntungan yang didapat merupakan hadiah atas kegigihan atas proses dan persiapan yang kita lakukan. Sekali lagi, proses tak pernah membohongi hasil.

Belenggu yang menghalangi diri dalam berkegiatan akan lebih mudah dilepaskan, saat kita memiliki keyakinan dan harapan akan keberhasilan. Melepaskan belenggu diri hanya bisa dilakukan oleh masing-masing kita. Faktor eksternal hanya bersifat sementara dan sebagai pemantik saja. Pilihan keputusan ada dalam diri sendiri. Karena hidup memang pilihan.

Lepaskan belenggu
Lepaskan belenggu

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaMempersiapkan Pembangunan yang Berdampak Positif
Berita berikutnyaMenghijaukan Visa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here