Memaknai Idul Fitri dan Saling Memaafkan

0
198

Alhamdulillah, akhirnya masih bisa bertemu dengan hari raya Idul Fitri. Momen indah yang dirasakan umat Islam akhirnya datang. Saat dimana tak ada yang tak mengaku bersalah. Semua memohon maaf atas segala kesalahan. Meski untuk memohon maaf, tidak harus menunggu momen ini. Apalagi kesalahan yang dilakukan kepada sesama manusia, sebaiknya segera dilakukan. Bagi umat Islam, hanya diberi batas toleransi selama tiga hari untuk meminta maaf jika terjadi masalah. Jika melebihi dari itu, maka di anggap sebagai orang yang sombong.

Untuk urusan maaf memaafkan, Allah SWT sudah mengatakan bahwa tak akan mengampuni dosa manusia sebelum dia meminta maaf kepada sesama manusia. Kesalahan yang dilakukan kepada manusia lain harus dimintakan keikhlasan dalam memaafkan terlebih dahulu sebelum memohon ampun kepada Allah. Tak adil memang, jika mudah saja manusia menyatakan bertaubat atas segala kesalahan tanpa meminta maaf kepada pihak yang dirugikan. Bahkan permohonan maaf itu pun kadang harus berbentuk. Tidak cukup sekedar ucapan saja.

Jika kita bersalah kepada seseorang karena mengambil haknya, maka wajib mengembalikan sebelum atau sesudah meminta maaf. Kecuali jika yang bersangkutan telah mengikhlaskannya. Tapi jika tidak, maka harus dikembalikan sesuai apa yang pernah kita ambil. Seseorang yang merasa dirugikan atas pencemaran nama baik, maka permintaan maaf sebaiknya disertai upaya pemulihan nama baiknya. Andai kita merasa enggan, coba lah berpikir dan memposisikan diri kita pada posisinya. Apa yang akan kita rasakan. Sepertinya tak jauh berbeda.

Meminta maaf juga dilakukan lewat teknologi informasi dan teknologi. Saat tak kuasa bertatap muka, maka teknologi menjadi pilihan. Rangkaian kata-kata indah yang dipadukan dengan gambar-gambar apik disajikan. Meski inti dari ucapan tersebut sama, tapi kreatifitas yang muncul tak pernah terhenti. Selalu saja ada yang baru tiap tahunnya. Gambar-gambar nan apik dibuat sendiri atau menyalin dari yang lain, serupa dengan kartu ucapan yang pernah membooming beberapa tahun lalu. Arus lalu lalang dunia maya berseliweran menggantikan Pak Pos yang dulu disibukkan dengan kiriman-kiriman kartu ucapan “Selamat Idul Fitri”.

Indahnya Idul Fitri memang terletak pada keikhlasan dalam mengakui kesalahan dan mohon kemaafan pada orang lain. Setelah satu bulan bergelut dengan ujian menahan hawa nafsu dengan mengharap ampunan-Nya, saatnya memohon keikhlasan dari sesama. Pentingnya meminta maaf terutama kepada para orang tua membuat jalanan masih saja ramai. Mobil dan motor dengan nomor polisi luar kota masih berjalan dari arah kota besar. Mungkin mereka memilih pulang selepas shalat Ied. Harapannya tentu terhindar dari kemacetan.

Dulu saat komunikasi menjadi barang yang sulit, banyak orang tua yang menangis tatkala si anak belum kembali saat mulai terdengar takbir. Mereka merasa nelangsa jika si buah hati belum berkumpul, padahal esok sudah lebaran. Kemudahan teknologi mempermudah komunikasi. Antara orang tua dan anak bisa berkomunikasi terlebih dulu. Para orang tua mengerti dengan kondisi jalan yang selalu macet, hingga bisa memahami jika si anak terpaksa pulang agak terlambat.

Pada hari pertama saat aku mengantar anak dan istri ke Jatilawang, iring-iringan kendaraan masih terlihat. Pentingnya meminta maaf membuat mereka rela jauh-jauh mengunjungi orang tua, kerabat, dan teman-teman. Tapi sepertinya arus mudik lebaran kali ini tak seramai tahun kemarin. Arus kendaraan di jalur alternatif Purwokerto – Cilacap via Kebasen tak begitu ramai. Kendaraan dengan plat B, D, F, dan yang lain masih memang banyak yang bersliweran. Volume kendaraan pun bertambah. Cuma tak seramai tahun kemarin. Obrolan-obrolan yang aku dengar pun hampir senada.

Mungkin karena berdekatan dengan tahun ajaran baru. Banyak yang memilih tidak mudik saat lebaran karena itu. Dana yang dipersiapkan untuk memasuki tahun ajaran baru tidak sedikit. Belum lagi soal persiapan si anak yang biasanya minta serba baru saat awal masuk sekolah. Sepertinya awal masuk sekolah pun serentak di berbagai tempat dan tingkatan. Lebih baik menghemat pengeluaran agar kebutuhan sekolah terpenuhi.

Meski begitu, shalat Ied yang diadakan di lapangan Desa Mandirancan penuh. Barisan shaf-shaf yang sudah diatur oleh panitia, kurang. Warga masyarakat yang berduyun-duyun datang ke lapangan akhirnya membuat shaf sendiri. Terlihat para perangkat desa dan panitia mengatur shaf agar tidak melenceng dari garis yang telah dibuat. Pun dilakukan agar barisan shaf rapi dan penuh dulu pada tiap barisnya. Karena salah satu syarat sahnya shalat adalah barisan shaf yang rapi.

Sebelum pelaksanaan shalat Ied, panitia zakat fitrah yang mengumumkan hasil perolahannya. Tercatat ada peningkatan meski sedikit. Total beras yang diterima oleh panitia tahun ini ada 6.370 kg, sedang tahun kemarin 6.075 kg. Perolehan ini diterima dalam bentuk beras dan uang yang kemudian dikonversikan menjadi beras. Sesuai kesepakatan, jika muzzaki (pemberi zakat) ingin berzakat dengan uang, maka 2,5 kg beras diganti dengan Rp 26.000,-. Hanya selisih seribu rupiah dari penggantian tahun kemarin. Sayangnya ada berapa jiwa yang berhak menerima (mustahik), aku tak ingat. Tapi rata-rata per jiwa berhak menerima zakat sebanyak 3 kg. Begitu kata Pak Sujarwo, selaku ketua panitia zakat fitrah.

Pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dibagi dalam dua wilayah. Wilayah barat yang meliputi RW 01 dan 02, dipusatkan di masjid An-Nur, sedang sebelah timur di masjid Al-Mujahidin, meliputi RW 03 dan 04. Pembagian zakat fitrah dilakukan selepas shalat Ashar. Ini sudah dilakukan beberapa tahun ini. Dulu saat aku masih SD, pembagian zakat dilakukan pada malam hari setelah jam 01.00. Karena sampai malam hari, masih ada yang baru menyetorkan zakatnya. Perlahan setelah semua mengerti bahwa zakat fitrah harus diserahkan sebelum shalat Ied, maka kebiasaan itu di ubah.

Hasil evaluasi dulu, zakat yang diberikan kadang baru bisa diterima oleh mustahik setelah shalat Ied. Karena pada malam hari itu, mereka sudah terlelap. Saat pintu diketuk, tak dibuka. Akhirnya di simpan dulu oleh si pembagi. Karena mereka sudah capek dan harus mempersiapkan diri shalat Ied di pagi hari, maka terpaksa diberikan setelah shalat Ied. Ini berarti beras zakat itu bernama sodakoh biasa, bukan zakat fitrah. Sekarang permasalahan itu sudah terpecahkan, dan semua menerima. Toh lebih mengenakkan, ngabuburit sambil membagi zakat fitrah.

Pada sambutannya, Kades berharap kepada semua warga masyarakat untuk mendukung semua program pemerintah. Rasa bangganya sebagai masyarakat Desa Mandirancan dia sampaikan. Beraneka ragam profesi dan latar belakang ada di sini. Posisinya tak terlalu jauh dari kota Kabupaten pun banyak membantu. Belum lagi berbagai macam potensi yang ada. Oleh karenanya, beliau berharap utamanya kepada para perantau yang mudik, untuk senantiasa memberikan sumbangsih kepada Desa Mandirancan. Sumbangsih yang dimaksud bukan hanya dalam wujud fisik, tapi pemikiran, ide dan gagasan, serta informasi-informasi yang sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat Desa Mandirancan.

Bertindak sebagai imam adalah Pak Sutrisno. Dia adalah salah satu warga Desa Mandirancan yang suaranya merdu. Saat mengumandangkan adzan sering membuat merinding. Tapi pagi itu, suaranya tak terlalu bagus. Sakit yang dideritanya beberapa waktu lalu banyak berpengaruh.

Khotib muda coba ditampilkan oleh panitia. Namanya Amin Hidayat. Dia pendatang dari Desa Notog. Dulu dia pernah menjadi pelanggan di tempat rental komputerku. Istrinya yang pernah kuliah bareng di STAIN Purwokerto, masih tergolong saudara dengan Kadus Darsim. Kalau tak salah dia masih guru honorer di salah satu MI Ma’arif di Notog juga. Lama tak berkomunikasi juga.

Khotbahnya mengingatkan kembali akan makna Idul Fitri. Mengingatkan agar setelah ramadhan hendaknya kita tetap berusaha menahan hawa nafsu. Perjuangan menahan hawa nafsu dan mencegah diri dari kesalahan-kesalahan hendaknya tetap dipertahankan. Karena pada hari raya ini, kawanan iblis kembali akan berusaha menjerumuskan manusia. Tak sedikit yang merayakan dengan minum-minuman keras misalnya. Ini salah satu bentuk perayaan yang keliru.

Setelah shalat Ied dan khotbah dilanjutkan dengan acara salam-salaman. Jama’ah pria saling berjajar bersalaman yang diawali dari Kepala Desa kemudian diikuti oleh yang lain. Jama’ah perempuan pun demikian. Mereka didahului oleh ibu kepala desa. Ini momen tepat, utamanya untuk meminta maaf kepada tetangga jauh yang sering tak sempat berkunjung nantinya. Kesempatan juga untuk mengetahui siapa-siapa saja yang mudik tahun ini. Syukur bisa sempat berkunjung.

Perayaan Idul Fitri di Desa Mandirancan agak sedikit berbeda dengan kebanyakan. Kalau ditempat lain, acara salam-salaman dan berkeliling langsung hari itu, tapi di sini tidak. Hari pertama acaranya shalat Ied, bersalaman dengan keluarga dan berkunjung ke orang tua pasangan (mertua), jika tak terlalu jauh. Sedang berkeliling dan bersalaman esoknya, pada hari kedua. Jadi dua hari dimanfaatkan betul. Dulu pas masih kecil, biasanya mesti ada dua pakaian baru. Kalau cuma punya satu, maka setelah shalat Ied harus diganti agar besoknya bisa dipakai lagi.

Bagi orang Jawa, hari raya Idul Fitri berkaitan dengan kata laburan, luberan, leburan, dan lebaran. Kata laburan berarti merias rumah. Dulu saat rumah-rumah masih berdindingkan tabag (anyaman bambu) atau kayu, yang digunakan untuk adalah labur. Labur adalah kapur yang biasanya berwarna putih dicampurkan dengan air, lalu disapukan pada dinding memakai kuas. Saat belum mengenal kuas, yang digunakan adalah potongan kulit buah kelapa (tepes) yang dilembutkan pada salah satu ujungnya. Tapi sekarang yang digunakan adalah cat.

Baik melabur atau mengecat merupakan salah upaya tuan rumah dalam menyambut calon tamu. Menghias rumah dengan labur atau cat menunjukkan sebuah kegembiraan. Karena kebanyakan orang desa malah senang jika ada yang mau berkunjung ke rumahnya. Itu merupakan salah satu bentuk penghargaan orang lain terhadap dirinya. Tidak memandang rumahnya bagus atau tidak. Tapi merasa masih diperhatikan dan diakui oleh tetangga.

Kata lain yang berkaitan adalah luberan. Kata luber berarti berlimpah. Saat Idul Fitri ditandai dengan berlimpahnya makanan. Aneka makanan disajikan di rumah. Mereka mempersiapkan diri agar saudara atau tetangga yang berkunjung merasa lebih dihargai. Momen ini yang dulu aku dan teman-teman tunggu. Idul Fitri identik dengan beraneka macam makanan yang tak ditemui sehari-hari. Biasanya kami akan mengincar makanan yang berbeda. Suguhan yang sering kami incar dulu adalah permen.

Selain berlimpah makanan, biasanya pun ada uang saku. Anak-anak seperti kami dulu akan berkunjung ke rumah tetangga yang suka memberi uang saku. Maka saat orang tua kami membelikan baju dulu, kami selalu ingin baju yang banyak sakunya. Harapannya agar saat jalan-jalan nanti bisa menyimpan uang saku atau permen yang banyak. Biasanya pula akan saling berlomba mengumpulkannya. Kami merasa menang saat mendapatkan uang saku paling banyak. Dunia anak-anak memang menyenangkan.

Setelah sebulan penuh berpuasa, saatnya saling memaafkan. Istilah yang dipakai adalah leburan. Lebur semua dosa-dosa saat tangan berjabatan dan mulut saling mengucapkan permintaan maaf. Tak ada lagi dosa diantara manusia itu. Semua luluh seiring berpisah dan ikhlas memaafkan. Pernah populer makai kalimat, “kosong-kosong ya?”

Kata lebaran sendiri bermakna lepas, bebas, sudah, selesai atau habis. Lepas dan bebas dari segala dosa dan permusuhan. Maka tak heran jika semua mengakui kesalahan di hari yang suci ini. Andai saja makna lebaran ini tetap bertahan selama 11 bulan mendatang. Sepertinya mudah saja mengungkapkan berbagai kasus kejahatan. Tak perlu berpolemik atau perang kata-kata untuk membela diri atau menutupi kebohongan.

Akhirnya, secara pribadi aku ucapkan: Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan kita semua. Aamiin, ya robbal ‘alamiin….

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjadi Relawan Arus Mudik
Berita berikutnyaMasih Kurang Apa Orang Desa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here