Memangkas Diskusi Panjang Tanpa Eksekusi

0
278
Diskusi bareng para ibu mengasyikan. Ujung-ujungnya makan... hehe....

 

Diskusi apapun, itu penting. Dari diskusi, kita bisa menyerap makna tersurat dan tersirat dari materi yang didiskusikan. Diskusi mengenai regulasi contohnya, akan mempermudah memahami aturan. Meski dibuat secara bersama-sama, tentu tak semua pihak memahami dan tahu penerapannya. Sering malah, kita terjebak pada diskusi-diskusi panjang tak berkesudahan.

Sebagai negara hukum, Indonesia memiliki ribuan regulasi. Tujuan dari diterbitkannya regulasi tentu dimaksudkan untuk melindungi, memfasilitasi, membina, dan mengembangkan ke arah yang lebih baik dari obyek regulasi. Pemahaman dasar terhadap penerbitan regulasi ini lah yang semestinya dipahami.

Jika masih terdapat diskusi-diskusi panjang mengenai regulasi, tanpa aksi, maka perlu mempertanyakan pemahaman kita. Sebab regulasi dibuat bukan untuk menghalangi perkembangan obyeknya. Andai ada regulasi yang sepertinya berseberangan, jalan keluarnya adalah mencari titik tengah.

Untuk memfasilitasi itu, Pemerintah melalui Kementrian Hukum dan HAM sudah menyelenggarakan Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan. Tugas Direktorat ini guna mencari titik temu dalam menterjemahkan regulasi yang seakan berseberangan. Sebab kita tak bisa mengklaim kebenaran sebuah regulasi tanpa memahami regulasi lain. Seperti halnya hak, sebuah regulasi dibatasi oleh regulasi lain.

Diskusi menambah wawasan
Diskusi menambah wawasan

Terjebak pada diskusi non-produktif

Bagi para aktifis, diskusi-diskusi panjang terasa mengasyikkan. Masing-masing berusaha mengekspolitasi pemikirannya. Tanpa bermaksud meremehkan orang lain, eksploitasi pemahaman menjadi ajang saling belajar. Tak jarang diskusi tersebut menghabiskan waktu istirahat (tidur), berpuluh-puluh rokok, dan bergelas-gelas kopi. Sayangnya diskusi yang terjadi, sering kali tidak produktif.

Kebiasaan beradu argumen semasa kuliah masih terbawa. Apalagi jika sudah membawa nama besar almamater masing-masing. Diskusi menjadi seru. Orang berpendidikan tinggi sekali pun, akan berlaku subyektif saat berargumen demi membela intelektualitas kampus. Meski tak menghasilkan kesimpulan, diskusi-diskusi panjang yang demikian, sangat digemari.

Diskusi non-produktif serasa candu. Biarpun tak menghasilkan kesepakatan, masih saja dilakukan. Memang diskusi-diskusi tersebut akan menambah khasanah pengetahuan. Akan tetapi sepertinya kita lupa bahwa muara dari diskusi adalah ditemukannya pemahaman yang sama dan kesepakatan. Dimana kesepakatan tersebut bisa diterapkan. Ini bahan introspeksi.

Tidak percaya dengan argumen sendiri

Pada dasarnya, berpanjangan diskusi tersebut menggambarkan sebuah ketidakpercayaan. Mereka tidak yakin dengan pendapat sendiri. Melalui diskusi mereka ingin melengkapi pengetahuan. Sayangnya, tak sedikit yang jaim. Meski pendapatnya keliru, biasanya akan dilakukan pembenaran.

Mengapa demikian?

Rasa percaya terhadap argumen sendiri, akan membuahkan aksi. Konsep yang diyakini benar, tak membutuhkan pembenaran, kecuali bukti penerapannya. Kebenaran dari konsep yang dibuat hanya akan terbukti saat dipraktekkan. Ketidaksempurnaan penerapan konsep, menjadi kritik dan bahan perbaikan.

Sedang konsep yang belum diyakini benar, akan disampaikan kepada pihak lain untuk mendapatkan imbal balik. Biasanya pada saat pemaparan konsep tak disertai contoh-contoh nyata. Sedang konsep yang sudah dipraktekkan, akan mudah memperlihatkan hasilnya. Konsep ini akan mengakui pada sisi mana kelemahan dan upaya perbaikannya.

Mendiskusikan hasil eksekusi
Mendiskusikan hasil eksekusi

Kembali ke hukum asal

Ada 2 (dua) hukum asal yang kita tahu. Masing-masing hukum asal tersebut mestinya ditempatkan pada posisinya. Pertama: segala sesuatu dilarang kecuali yang diperintahkan; kedua: segala sesuatu diperbolehkan kecuali yang dilarang.

Hukum asal pertama berlaku pada sisi ukhrawi. Sedang hukum asal kedua ditempatkan pada urusan keduniawian. Penempatan kedua hukum asal tersebut akan menjadi acuan kita dalam memahami sesuatu. Tentu agar diskusi-diskusi panjang tersebut lekas menemui titik temu.

Perdebatan dalam diskusi biasanya dimulai dari ketidaktepatan menempatkan kedua hukum asal tersebut. Saat berbicara tentang keduniawian, maka pada dasarnya semua diperbolehkan, kecuali yang sudah jelas dilarang. Pun sebaliknya.

Sayangnya hukum asal tersebut menjadi salah kaprah. Seringkali kita menjadi ketakutan terhadap sesuatu, karena “tidak diperintahkan”. Padahal aturan secara umum yang dibuat, membuat ruang kepada kita untuk berkreasi. Selama tidak melanggar tatanan hukum yang harus ditaati. Ruang kosong yang tersisa menjadi wahana menumbuhkan kreatifitas, sampai akhirnya pemerintah melirik dan melindungi melalui sebuah regulasi.

Mencari titik temu

Mengembalikan perbedaan argumen pada hukum asal, akan lebih mudah mencari titik temu. Masing-masing pihak tinggal menyepakati, pada sisi mana obyek diskusi akan ditempatkan. Jika sudah bisa menempatkan obyek pada sisi mana hukum asal tersebut, maka gambaran titik temu sudah jelas.

Salah satu tujuan diskusi sebenarnya untuk mencari jalan keluar. Sayangnya demam panggung saat diberi kesempatan berbicara, biasanya akan mengaburkan tema utama. Mereka terlalu sibuk dengan argumen sendiri dengan mengesampingkan yang lain.

Jika tujuan awal diskusi menjadi dasar, seharusnya diskusi-diskusi panjang non-produktif ini bisa dihentikan. Mencari titik temu dengan mengendurkan ego masing-masing. Karena konsep yang kita tawarkan pasti akan mengalami perbaikan-perbaikan.

Saat mendapatkan titik temu, diskusi akan lebih produktif. Diskusi lanjutan akan mengarah bagaimana mengeksekusi hasil diskusi. Tolok ukur keberhasilan dan kapan mulai di eksekusi.

Mencari titik temu menyelesaikan pekerjaan.
Mencari titik temu menyelesaikan pekerjaan.

Melakukan eksekusi

Jika kesimpulan dan kesepakatan dalam diskusi telah terekam, gambaran menjadi jelas. Langkah selanjutnya adalah eksekusi. Pembeda antara diskusi dengan diskusi lain ialah pada tataran eksekusi. Banyak konsep yang hanya indah di awang-awang, tapi tak bisa di eksekusi.

Titik kritis bukan pada perencanaan dan pelaksanaannya. Akan tetapi keputusan untuk melakukan eksekusi. Meski hanya mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, keputusan tersebut akan menjadi dasar operasionalisasi obyek diskusi. Sebab pada saat itu lah, pengambil keputusan harus siap menanggung segala resiko.

Pemahaman akan segala konsekuensi dari keputusan tersebut menjadi titik awal tereksekusi atau tidak. Eksekusi menjadi akhir dari sebuah diskusi panjang. Menjadi seorang eksekutor dalam pengembangan obyek regulasi, tentu dibutuhkan keberanian. Terlebih jika keputusan melakukan eksekusi kesepakatan, mendapat tantangan dari pelbagai pihak. Hanya para pemberani lah yang mampu mengambil keputusan.

“Sekecil apapun sebuah tindakan, akan lebih bermanfaat daripada gagasan besar yang hanya didiskusikan”.

Diskusi bareng para ibu mengasyikan. Ujung-ujungnya makan... hehe....
Diskusi bareng para ibu mengasyikan. Karena ujung-ujungnya makan… hehe….
BAGIKAN
Berita sebelumyaGive us a chance
Berita berikutnyaMensikapi Rakornas UPK
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here