Membaca Hasil Penelitian Tentang Institusi Keuangan Desa

2
194
Logo BKD. Sumber: bkd.co.id

Awal mendapat tugas mencari jurnal hasil penelitian, tak tahu jurnal seperti apa yang baik. Asal cari, unduh, dan cetak jurnal sesuai kata kunci. Judul, substansi, metode, pembahasan, dan kesimpulan tak diperhatikan. Bingung dan sedikit pusing saat ditugasi untuk mereview jurnal. Apalagi mesti 10 (sepuluh) jurnal sekaligus. Lembur hingga tak tidur 24 (dua puluh empat) jam pernah dilalui. Al hasil jadi tahu bagaimana mereview jurnal dan menemukan ciri jurnal yang baik. Persoalan bahasa menjadi hal lain, karena mengandalkan google translate tak jarang tambah bikin pusing. Tata bahasa terjemahan masih harus diperbaiki.

Terbiasa

Lama kelamaan membaca jurnal menjadi hal yang menarik. Ini imbas dari tugas review 10 (sepuluh) jurnal itu. Ndilek, memang. Tips untuk mempelajari hal baru dari sesuatu yang diminati terbukti membawa keasyikan sendiri. Unduh berbagai jurnal yang terlintas disukai dengan kata kunci tertentu menjadi hobi. Klasifikasi dan pengumpulan dalam masing-masing folder pun mulai dilakukan. Soal membaca, nanti dulu. Karena tugas membuat jurnal penelitian sudah mendekati deadline.

Dari membaca banyak jurnal dan menemukan research gap, jadi lebih mengerti bahwa perbedaan pendapat itu biasa. Tidak perlu diperdebatkan. Andai merasa tidak setuju dengan sebuah pendapat, baiknya lakukan riset pula. Mungkin pendapat yang tidak setujui karena kita belum paham. Atau jika memang berbeda kesimpulan, setidaknya tersanding hasil dari penelitian juga. Bukan sekedar pendapat pribadi.

Bahkan apapun hasil riset kita, bersiaplah untuk terbantah dengan riset orang lain. Karena ruang dan waktu bisa berbeda. Ilmu selalu berkembang. Stagnan dengan pemahaman lama dari sebuah fenomena hanya menjadikan diri sulit berkembang dan mengikuti jaman.

Institusi Keuangan Desa

Jurnal yang sedang saya pelajari terkait institusi keuangan desa. Interaksi lama dengan pengelolaan dana Eks PNPM dan Badan Kredit Desa, menjadi alasan. Adakah hubungan positif dan atau signifikan antara institusi keuangan desa dengan kemiskinan. Mampukah keberadaannya mengurangi angka kemiskinan. Kemudian, bagaimana institusi keuangan desa tetap bertahan dengan kebiasaan buruk sebagian masyarakat pedesaan dan himpitan lembaga keuangan yang profesional. Apa yang harus dilakukan oleh institusi keuangan desa agar bisa menghidupi karyawan dan menciptakan corporate branding agar nasabah tetap loyal.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa ditemukan dari banyak hasil riset dalam jurnal dan dari berbagai belahan dunia. Terutama dari negara-negara berkembang dan dunia ketiga. Bangladesh, India, China, negara-negara Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin, dan termasuk Indonesia, menjadi tempat riset. Hasilnya pun beragam. Namun bisa ditarik kesimpulan bahwa institusi keuangan desa memiliki dampak positif terhadap pengurangan kemiskinan.

Sejarah Institusi Keuangan Desa

Hal yang menarik dan membanggakan adalah sejarah institusi keuangan desa banyak yang berkiblat dari tahun 1895 dan 1896 di Purwokerto, Indonesia, yakni BRI dan Badan Kredit Desa (dulu lumbung Desa).

Jacob Yaron, peneliti desa dari Bank Dunia menuliskan praktik baik BRI Unit Desa (1992). Menurut beliau, BRI Unit Desa mampu menjaga kesinambungan dalam penyaluran kredit kepada petani agar tetap bertahan dan terbukti paling efisien saat itu. Jika dibandingkan dengan institusi keuangan lainnya, BRI Unit Desa mampu menurutkan bunga riil dan berhasil menekan tingkat indeks subsidi, yakni – 43% dari Program Bimmas (Bimbingan Massal, 1969). Dimana subsidi yang diberikan oleh pemerintah kala itu justru minus atau tidak dipakai.

Praktik baik manajemen Badan Kredit Desa yang awalnya untuk menolong para petani pun dijadikan rujukan peneliti lain. Pasalnya pola pembayaran yang dilakukan menyesuaikan siklus keuangan petani, dan konversi pengembalian pokok dan jasa atau bagi hasil disesuaikan dengan komoditi yang dihasilkan. Tidak memberatkan dan mencirikan khas kedesaan, yakni gotong royong dan tolong menolong.

 

2 KOMENTAR

  1. Joss, tengkulak merupakan “pelembagaan” tradisional asli di Desa tp syngnya telah bertransformasi dgn mekanisme pasar kapital sehingga terkesan buruk apalagi perubahan sosial mengakibatkan relasi hubungan menjadi relasi material dibanding relasi sosial, dan sesungguhnya tengkulak melakukan pelayan financial sekaligus pemasaran produk.

    Lembaga keuangan umumnya hanya menawarkan jasa materi ( uang) saja tidak membangun relasi sosial. Itulah latar belakang pemerintah kala itu melahirkan dana bergulir dgn berbagai skema program, namun lagi2 lembaga ini pun didorong akhir2 ini ke pendekatan pasar kapital dan abai membangun watak tolong menolong dan gotong royong atau disebut tanggung renteng.

    Kelembagaan keuangan Desa seharusnya lahir dlm melayani financial dan jembatan ikhtiar produksi dan pemasaran produk masyarakat desa. Lembaga ini hadir membangun struktur sosial yg asli dan berwstak keindonesiaan

    Itu dulu lagi otw Saba Desa

    • Sepakat, Kang. Tidak sekedar pinjam meminjam modal. Tapi pemodal ikut menguatkan kapasitas peminjam agar tercipta keberlanjutan usahanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here