Membangun Ekonomi Pro Masyarakat

0
244

Tulisan ini merupakan notulensi hasil Focus Group Discussion (FGD) di Aula Bappeda Kab. Banyumas kemarin sore (Rabu sore (14/12/2016), sejak pukul 15.30 WIB. Sengaja aku tulis agar bisa dibaca oleh khalayak. Sebagai pemantik diskusi lanjutan tentunya.

Menurut Pak Eko, Kepala Bappeda Kab. Banyumas, FGD tentang menggagas BUMDes menjadi penyalur pupuk bersubsidi ini dilakukan sebagai tindak lanjut talk show di acara Festival Tahu Kalisari beberapa waktu lalu. Hadir sebagai narasumber, Eko Prijanto (Kepala Bappeda), Timbul Sugiarto (Bapermas PKB Banyumas), Sugiyanto (Bidang Perekonomian Setda Kab. Banyumas), dan aku mewakili GDM (Gerakan Desa Membangun).

Materi tentang BUMDesa dilihat dari sisi regulasi disampaikan oleh Pak Eko. Paparan yang disarikan dari berbagai regulasi, beliau ingatkan kembali. Dimana BUMDesa bertujuan mensejahterakan ekonomi masyarakat desa dan sebagai salah satu sumber pendapatan desa. Sayangnya dari 301 desa di Banyumas, baru ada 88 BUMDesa. Itu pun belum semua aktif.

Sedang materi dari Pak Timbul melanjutkan cerita BUMDesa di Gumelar Kec. Gumelar yang sudah memproduksi tepung tapioka. Selama ini pihak Bapermas PKB sudah melakukan kajian tentang potensi desa bersama perguruan tinggi. Sayangnya hasil kajian itu tidak jua ditindaklanjuti oleh desa. Banyak kendala yang ditemui, salah satunya masalah kapasitas pengurus BUMDesa sendiri.

Pemberdayaan sebagai bagian dari upaya pengembangan usaha

Aku menyampaikan sedikit kritik terhadap berbagai kalangan mengenai BUMDesa. Sebagai organ bisnis, BUMDesa selalu dibicarakan dari sudut birokrasi. Yang menjadi obyek diskusi tak jauh-jauh dari regulasi, bentuk organisasi, sumber permodalan, dan jenis-jenis usaha yang bisa dilakukan versi peraturan. Padahal sebagai unit bisnis, BUMDesa hanya bisa dikatakan berhasil jika sudah mendapatkan profit. Keuntungan bisnis BUMDesa menjadi tolok ukur. Terlepas dari berbagai upaya guna mendapatkan keuntungannya.

Namun pada sisi ini tidak aku ulas lebih lanjut. Aku tak mau terjebak pada diskusi masalah ini. Karena materi yang mesti disampaikan berkaitan dengan pemberdayaan, maka slide aku arahkan ke sana.

Bagiku, pemberdayaan menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha di masa mendatang. Aku tampilkan daur siklus produk, tahapan-tahapannya, dan titik jenuh yang pasti akan ditemui. Oleh karena nya, pemberdayaan perlu dilakukan guna menciptakan kurva baru. Pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM orang desa itu penting. Dengan harapan, kelak jika sudah tiba masa nya, mereka akan dioptimalkan untuk menggerakan unit usaha baru bagi BUMDesa. Jadi, SDM untuk pengembangan usaha itu diciptakan sejak sekarang.

Pola Kemitraan

Salah kelemahan BUMDesa ada pada pengurus. Kebanyakan kepengurusan BUMDesa masih dilakukan sambil lalu. Mereka tidak bisa fokus. Sebab mengurusi BUMDesa belum bisa dijadikan sumber pendapatan. Maka, aku tawarkan pola kemitraan. Dimana BUMDesa melakukan kemitraan dengan masyarakat atau lembaga bisnis. BUMDesa bisa melakukan penyertaan modal, dengan tetap melakukan pendampingan dan monitoring usaha mitra tersebut.

Terlalu riskan dan berat di biaya operasional tatkala BUMDesa menjalankan sendiri usaha nya. Apalagi jika jenis usaha yang dilakukan masih baru sama sekali. Sebab sebagai organ bisnis, tetap harus memperhitungkan pendapatan, biaya, efisiensi, resiko usaha, dan lain sebagainya. Sembari belajar, baiknya BUMDesa melakukan kemitraan saja dulu.

Pola kemitraan ini disambut baik oleh Pak Syaiful dari KUD Aris Banyumas. Menurut beliau, keuntungan pupuk per kilogram itu sangat tipis. Sedangkan modal yang dibutuhkan sangat besar, mencapai 500 juta untuk skala distributor. Tentu pertimbangan efisiensi, biaya tenaga kerja, kemungkinan kerugian, dan sebagainya perlu diperhatikan. Yang memungkinkan dilakukan ialah mengarahkan petani untuk membeli pupuk secara kolektif melalui BUMDesa.

Mewakili bidang perekonomian Setda Banyumas, Pak Sugiyanto mengatakan, bisa. Jika BUMDesa mau menyalurkan pupuk bersubsidi. Kemudian beliau paparankan potensi usaha nya serta persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi oleh distributor atau pengecer. Selain itu, beliau pun sampaikan tentang kemungkinan BUMDesa bermitra dengan BULOG untuk urusan beras. Distribusi gas, meski secara perhitungan, itu sudah cukup dilakukan oleh pihak swasta. Kemungkinan lain adalah kemitraan dengan perbankan terkait layanan usaha bank.

Kembali ke pertanian alami

Melihat berbagai kemungkinan tadi, akhirnya Pak Jaka (Kabid Ekonomi Bappeda) membuka wacana tentang pertanian pola alami. Alih-alih berbicara tentang kemungkinan BUMDesa menjadi penyalur pupuk, Pak Jaka justru mengarahkan agar kita kembali ke pertanian alami. Sayangnya pernyataan beliau muncul di akhir-akhir acara FGD. Kalau saja tidak melihat waktu, ingin rasanya aku sampaikan kecocokan atas pemikiran beliau.

Kesadaran dalam menggunakan produk-produk organik sudah mulai merata. Khususnya bagi kalangan menengah ke atas. Faktor kesehatan menjadi pertimbangan utama. Residu dari pupuk kimia dalam tubuh, dalam jangka panjang memang akan merusak. Apalagi dari harga pupuk tersebut ada subsidi sebesar Rp 3.700,- per kg. Padahal tingkat kebutuhan pupuk begitu banyak. Bisa dibayangkan, berapa besar dana pemerintah dikucurkan untuk itu.

Sembari membantu pemerintah mengurangi subsidi, ada baiknya masyarakat mulai bercocok tanam secara alami. Manfaatkan limbah-limbah untuk pupuk. Selain tanamannya menjadi bagus, tak ada efek bagi kesehatan.

Terlepas dari kebijakan dari BUMDesa, Pak Jaka juga menyinggung tentang koperasi. Bahwa lembaga bisnis yang cocok untuk Indonesia, ya koperasi. Karena ada gotong royong didalamnya. Tiap-tiap individu pun bisa ikut merasakan hasilnya. Maka, jika ingin melakukan kemitraan dalam usaha nya, dorong masyarakat desa untuk berkoperasi dan BUMDesa melakukan penyertaan modal di situ.

Wah. Mantap, Pak Jaka.

KIkis di bappeda
Sambil pamer model rambut baru… hehe….
BAGIKAN
Berita sebelumyaMenakar Hasil Pelatihan
Berita berikutnyaTersenyum karena Temanggung Bersenyum
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here