Membiasakan Berbagi Gagasan

4
274
Diskusi enaknya sambil ngopi.

Tagline “senang berbagi” bukan bentuk pencitraan. Berdiskusi sambil menggagas kerja-kerja yang implementatif, sering aku lakukan. Saat berdiskusi, bukan sekedar menyampaikan ide dan pemikiran, tapi belajar menekan ego. Keinginan untuk selalu diperhatikan dan menguasai topik pembahasan, selalu mencuat.

Membiasakan berbagi gagasan, terasa menguntungkan. Selain menambah wawasan, berbagi gagasan juga membuka sisi lain yang tak kita pikirkan. Apalagi sekarang, sarana untuk mendapatkan tanggapan balik semakin mudah. Manfaatkan saja internet dan sosial media.

Sarana ujian

Kita sering tertipu dengan kebanggaan diri. Seolah ide dan atau gagasan yang kita rancang, begitu bagus. Berbagai argumen sudah disiapkan manakala muncul pertanyaan-pertanyaan. Saat diberi ruang, paparan konsep terasa meyakinkan. Padahal belum tentu konsep itu bisa diimplementasikan.

Gagalnya implementasi konsep, bisa disebabkan karena beberapa hal. Karena terlalu idealis, standar tinggi, biaya mahal, menggunakan bahasa planet, dan atau justru karena terlalu komplit. Gagasan yang begitu brilian, sering mentok. Padahal, mungkin jika bisa diimplementasikan, hasilnya akan luar biasa.

Dengan berbagi ide dan berdiskusi, gagasan kita akan di uji. Sudut pandang orang lain perlu diperhatikan. Berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain, merupakan sarana untuk melengkapi atau merevisi konsep yang kita rancang. Entah dari sisi materi, alternatif penerapan, maupun cara menyampaikan gagasan itu ke pihak lain.

Ruang-ruang diskusi menjadi sarana untuk menguji gagasan. Seberapa pun kecilnya sumbangsih mitra diskusi, akan berpengaruh. Dari sudut pandang mereka lah, kita menemukan celah kekeliruan pada rancangan yang kita susun.

Menahan diri

Terlalu bersemangatnya menyampaikan gagasan, sampai menghabiskan waktu, akan menimbulkan kesan kesombongan. Meski tak ada niat untuk itu, berbicara panjang lebar tentang gagasan cemerlang nya, sering membuat lawan diskusi malah jengah. Kesan takjub pada awalnya akan hilang, saat mereka melihat, kita terlalu mendominasi. Sebagai manusia, mereka pun ingin didengar pendapatnya.

Menahan diri untuk tidak memaksakan dan membenarkan konsep sendiri, perlu kecerdasan emosi. Sayangnya, keahlian menahan emosi hanya bisa didapat dari tempaan yang tak ringan. Semakin sering berlatih, kecerdasan emosi akan didapatkan. Saat itu terjadi, orang lain akan lebih bisa menerima kita.

Seringkali, munculnya perdebatan yang keluar dari substansi, disebabkan karena ketidakmampuan menahan diri. Gagasan cemerlang akan kabur dan tak digubris, kala pemapar konsep memiliki kecerdasan emosi yang rendah. Termasuk pemilihan diksi dalam menyampaikannya.

Sesederhana atau se-rumit apapun konsep yang kita paparkan, akan lebih diterima saat mereka tahu, kita tak terlihat ingin mendominasi. Jika kesan pertama begitu menggoda, jangan lanjutkan. Tahan sebentar, menunggu respon balik dari audiens. Mainkan ritme obrolan, dan hentikan paparan saat mereka sudah merasa cukup.

Memunculkan gagasan baru

Pepatah mengatakan: kepala sama hitam, isi beda-beda. Gagasan dari tiap-tiap orang pasti beragam. Mereka memiliki sudut pandang sendiri, yang kadang kita tak paham. Namun, saat diskusi, kita baru sadar bahwa ada gagasan yang lebih baik.

Munculnya gagasan baru tersebut bisa berakibat penambahan atau pengurangan materi konsep. Perbaikan di beberapa materi menjadi keuntungan. Konsep yang lebih mudah diterima oleh masyarakat, bisa terealisasi.

Gagasan baru yang muncul saat kita berbagi, bisa menjadi pekerjaan yang bisa mendukung gagasan awal. Meski kita perlu menyaring, mana gagasan yang sesuai pakem. Sebab tanpa ada nya pakem, bisa-bisa konsep yang disusun akan bubar. Terpancing oleh masukan-masukan yang kadang menjebak dan mengombang-ambingkan. Harus teguh memegang prinsip.

Merancang implementasi

Setelah gagasan di uji, meski hanya via diskusi, kemudian dilengkapi, dan muncul pula gagasan baru, tahapan selanjutnya ialah eksekusi. Perubahan karena penambahan atau pengurangan materi konsep, akan berpengaruh terhadap strategi implementasi yang berkualitas. Karena implementasi yang didasari atas perencanaan, meski tak terlalu detail, akan lebih mudah mencapai target keluaran.

Tahapan-tahapan yang mesti dilalui, tentu menjadi salah satu topik yang dibicarakan pula. Muncul lah tata urutan tahapan yang harus dilakukan, pihak-pihak mana saja yang harus dilibatkan, termasuk gambaran kasar pembiayaannya. Masukan-masukan selama melakukan diskusi, akan lebih mengefisiensikan sumber daya. Penganggaran akan lebih mengena.

Yang perlu diingat, dalam berbagi gagasan atau diskusi hendaknya tak berkepanjangan. Sebab kualitas gagasan baru akan terbukti saat sudah di eksekusi. Evaluasi dan perbaikan nyata hanya bisa didapatkan dari praktik. Gagasan tanpa eksekusi seperti pepesan kosong.

Mari berbagi gagasan.

Diskusi enaknya sambil ngopi.
Diskusi enaknya sambil ngopi.

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaBukan Pekerja Biasa
Berita berikutnyaMempersiapkan Pembangunan yang Berdampak Positif
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

4 KOMENTAR

  1. Diskusi itu menjadi satu alat utk menyamakan persepesi. Setelah persepsi disepakati, baru ada aksi.

    Diskusi yang efektif harus melibatkan objek. Sehingga, nyambung dgn arah tujuan yg ingin dicapai.

    Kalau kata Karl Marx, ada tesis, anti tesis, kemudian baru sintesis.

    Sintesis inilah yg menhadi pijakan praksis.

    Demikian kang, romedan sayah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here