Membongkar Tirani Lewat Musik

2
187
Akang Imam in Action

Merinding, terharu, dan tersanjung. Itu yang aku rasakan kemarin malam. Konser Kampung dari Desa Jatitujuh Kec Jatitujuh Kab. Majalengka yang membuatku begitu. Lagu pertama yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh sang vokalis, Akang Didin Ketut, membuat bulu kudukku berdiri. Lengkingan suara dengan urat-urat leher yang menegang dan jelas terlihat menandakan kesungguhan. Lagu itu tak sekedar dinyanyikan dengan suara keras. Tapi getaran nada dan syairnya bisa menyihir. Seolah dosa-dosa yang telah aku lakukan selama ini terlihat silih berganti. Getaran itu hadir karena musik dan nyanyian yang dibawahkan oleh grup pimpinan Akang Kijun ini benar-benar dari hati. Menggugah hati yang terlena.

Konsep musik kampung ini tidak saja unik dari jenis instrumennya. Tapi aransemen lagu dan syairnya memiliki keunikan yang khas. Syair-syair yang dilagukan sejatinya adalah puisi dengan nilai seni tinggi. Perlu penghayatan dalam memahaminya. Kata-kata yang dirangkai tak begitu saja didengarkan. Memaknai makna yang tersirat didalamnya menjadi kunci dalam menikmati alunan musik yang kadang syahdu dan tiba-tiba rancak menghentak.

Akang Imam in Action
Akang Imam in Action

Perasaan yang merasuk dalam diri ini karena alunan lagu shalawat tidak berubah meski tiba-tiba musiknya menghentak. Lengkingan suara Akang Didin Ketut pun seolah menyihir untuk ikut berteriak memohon ampunan pada sang Khaliq. Bahkan perasaan nelangsa dan hampir saja aku menangis saat syair lagu Dimanakah Ibu dilantunkan.

Keprihatinan sang pencipta lagu akan kecenderungan anak-anak yang lebih menyukai menonton televisi daripada nasihat orang tua menjadi inspirasi. Bukan cuma televisi saja sebenarnya. Syair itu pun memposisikan playstation, komputer, dan robot menjadi barang mati yang justru mereka sayangi daripada orang tua khususnya ibu. Anak-anak lebih tertarik dan manut dengan ajaran-ajaran yang dia tangkap dari menonton televi, bermain playstation dan lainnya.

Awalnya aku bersama kawan-kawan yang lain tertawa tergelak saat permainan calung dimainkan dengan lawakannya. Roaming memang. Bahasa yang dipakai bahasa Sunda. Tak paham jika harus mencerna satu per satu kata yang diucapkan. Bahasa tubuh pemain calung ini lah yang bisa mengkomunikasikan materi lawakan. Tertawa ini pun awalnya hanya sekedar partisipasi. Lama kelamaan ngeh juga maksud dari materi lawakan itu. Kekonyolan demi kekonyolan yang dipertontonkan dengan sedikit kosakata bahasa Sunda membuatku dan teman-teman dari Banyumas terbahak. Terlebih goyangan genit penabuh calung justru dimainkan oleh seseorang yang terlihat gagah dengan kumis tebalnya.

Syair Dimanakah Ibu
Syair Dimanakah Ibu

Sebelumnya, tak sadar badan ini bergoyang mengikuti irama calung dan tarian yang dibawakan oleh 5 orang penari putri. Aku berujar kepada teman-teman, kalau ini sejenis  lengger di Banyumas, pasti akan ada yang ikut menari dan menyawer. Ekspresi dalam mimik penari yang bergairah dalam membawakannya pun terlihat lebih menarik. Senyumnya seolah sedang berbicara kepada penonton. Tidak sekedar menarik bibir ke belakang. Mulut yang sedikit di buka seolah mau berkata-kata. Beda banget.

Awalnya aku kira lagu reggae dari grup musik Karangtaruna Tanjung Mekar Desa Tanjungsari akan membawakan lagu yang familier aku dengar. Ternyata tidak. Jangankan syairnya, judul lagunya saja aku tak tahu. Tetap aku bisa menikmati kolaborasi cantik mereka. Kaki kanan ikut bergoyang sedikit menghentak demi mengikuti iramanya. Sebenarnya aku ingin request lagu Hitam Putih atau yang jalan-jalan ke desa. Lagu khas yang aku dengar jika bepergian bersama Gonus. Urung aku lakukan karena hanya dua lagu saja yang mereka bawakan.

Yossy dan Kang Tarjo pernah bercerita tentang konser musik kampung. Mereka bilang semua alat musik yang dibuat hasil kreasi sendiri. Jenis alat musik yang dibuat masih mengacu alat musik modern dengan tak melupakan unsur tradisional. Ada kendang, seruling, gegesek (siter), belentung (katak), dan kecrek. Jenis alat musik modern yang dibuat ada gitar melodi, bass, dan drum. Senar gitar tetap menggunakan senar yang biasa dipakai. Tapi papan petik itu yang dibuat dari bambu. Demikian juga dengan drum. Bumbung-bumbung bambu besar dijadikan penguat suara saat kulit kambing yang diikatkan dipukul menggunakan stik drum. Dominan bambu bahan dasarnya.

Sayangnya aku tak bisa menangkap dengan baik makna filosofi yang disampaikan oleh Akang Kijun dan Akang Imam sebelum konser dilakukan. Makna itu baru bisa aku tangkap saat aku menghayati syair-syair yang dibawakan oleh Akang Didin dan Akang Imam.

Tersanjung aku saat Akang Imam mendendangkan lagu dengan judul “Di Desa Saja” yang khusus dia nyanyikan untukku. Berkali-kali Akang dengan 2 orang putri ini menyebut namaku di panggung. Mulai dari pegiat desa yang gemar menyuarakan potensi desa, provokator kemandirian desa, dan beberapa sebutan lain yang tak bisa aku ingat saking terharunya. Padahal ini kali pertama aku dan dia bertemu. Diskusi-diskusi serius dalam facebook pun, aku rasa biasa saja. Mungkin yang dia tangkap siapa aku, saat aku bersama Mba Grace mengampu kelas Pemberdayaan 2.0.

Lagu "Di Desa Saja"
Lagu “Di Desa Saja”

Saat Mba Grace membeberkan soal UU Desa dengan beberapa alasan, peluang, dan sikap yang harus dilakukan oleh masyarakat desa, aku sedikit berbeda memposisikan diri. Mba Grace, meski sering blusukan ke desa, saat itu seperti corong pemerintah yang merasa bertanggung jawab mensosialisasikan UU Desa. Hanya saja, Akang Imam ini mempertanyakan keseriusan pemerintah terhadap implementasinya. Aku dukung dia.

Orang-orang di Jakarta memang aneh. Mereka seolah dengan mudah mendefinisikan tentang masyarakat dan perikehidupan di desa sedang mereka tinggal dan hidup di kota. Cukupkah kacamata mereka melihat itu hanya dari luar. Mengapa tidak mendorong masyarakat desa mendefinisikan mereka sendiri sebagai satu kesatuan yang mencakup banyak aspek. Mereka lebih paham tentang desa. Cara pandang orang desa terhadap sesuatu tidak semata pada untung ruginya. Sedang orang kota, kebanyakan masih menghitung apa yang akan dia dapatkan jika melakukan kegiatan ini dan itu.

Sebelum Akang Imam menyanyikan lagu: “Di Desa Saja”, dia berlari mendekatiku. Dia serahkan sekian rupiah buatku. Dia bilang, “baru kali ini ada artis yang membayar penonton”. Hahaha….

Akang Imam lakukan ini karena melihatku selalu antusias dan tertawa selama pementasan seni. Lagu yang dia ciptakan sendiri syair dan aransemen musiknya itu, dia nyanyikan khusus buatku. Benar-benar tersanjung aku malam itu. Semangat dan penuh penghayatan dia nyanyikan lagu tersebut. Menurut pengakuannya, lagu itu dia ciptakan karena pengalaman teman-teman yang lebih memilih kembali ke desa setelah merantau. Kembalinya mereka ke desa sebagai bagian untuk ikut membangun desa. Menjadi bagian dari penyelesai masalah, bukan penambah masalah.

Karena aku tak bisa bernyanyi, meski pernah juara 3 lomba karaoke di desa tahun 1999, aku naik ke panggung. Aku katakan bahwa malam ini benar-benar membuatku terharu, dan hampir menangis (merkabak). Aku sampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Akang Imam dan grup Konser Kampung. Penghayatan terhadap kehidupan yang dituangkan dalam lagu merupakan salah satu cara mereka untuk membongkar tirani. Aku pun berjanji akan menuliskan kegiatan malam itu secara tersendiri. Sebagai pengingat agar kelak aku tak lupa bahwa malam itu ada kenangan indah bersama kawan-kawan pegiat desa di Majalengka.

Bongkar Tirani Lewat Musik
Bongkar Tirani Lewat Musik

Saat Akang Imam menyanyikan lagu yang nostalgia jaman reformasi, aku merasa ngeri. Syair-syair yang didendangkan penuh makna pemberontakan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah terhadap rakyat. Oleh karenanya, saat lagu Bongkar dia nyanyikan, kami pun turut bernyanyi bersama. Aku merasa bebas berteriak menanyikan lagu itu. Terbayang bagaimana angkuhnya mereka. Terbayang aku larut dalam gelombang aksi demonstrasi kala itu. Tirani itu harus diruntuhkan. Meski pesan itu disampaikan lewat musik.

Sekilas tentang Konser Kampung

Konser Kampung adalah sebuah komunitas seni budaya yang lahir pada tahun 1986 di Desa Jatitujuh terletak di utara dari Majalengka, Jawa Barat, Indonesia

Makna nama Konser Kampung Jatitujuh

Konser adalah sebuah kegiatan mementaskan/ mempertunjukan karya terutama musik, namun makna kata tersebut kami artikan lebih luas lagi yaitu konser dalam artian tidak hanya untuk musik tapi juga mempertunjukan prilaku kebiasaan masyarakat Jatitujuh dalam keseharian terutama kehidupan berbudaya.

Kampung adalah suatu tempat yang letaknya jauh dari masyarakat kota. Kampung disini lebih pada daerah tempat aktifitas kami berkarya, yaitu Desa Jatitujuh.

Berawal dari sebuah kelompok musik yaitu Konser Kampung Jatitujuh, sebuah kelompok musik yang lahir dari tradisi menulis puisi lalu menyanyikannya. kelompok ini berdiri tahun 1987, berbarengan dengan tumbuh suburnya tradisi menulis puisi di kalangan penyair Jatitujuh

Konser Kampung Jatitujuh yang pada awalnya adalah komunitas penyair Desa Jatitujuh, kemudian mencoba mengeksploitasi puisi menjadi bahasa musik. Sajak-sajak penyair Jatitujuh kemudian dikomunikasikan dengan bahasa ungkap berupa aransemen musik.

Pada perkembangan berikutnya Konser Kampung Jatitujuh mengisi beberapa acara di Bandung, Cirebon, Indramayu dan Tasikmalaya serta kota-kota lainya termasuk Majalengka. Tampil di acara bergengsi seperti Silang Budaya Indonesia-Perancis di CCF Bandung.

Sejak kemunculan di Bandung, Konser Kampung Jatitujuh sekakin kerap di minta masyarakat untuk tampil sebagai penghibur, sekaligus memenuhi rasa penasaran terhadap “jenis musik yang berbeda. Keberadaan Konser Kampung Jatitujuh sebagai kelompok musik yang menghadirkan nuansa tradisi utara atau tarling, membuat sebuah komunitas Film Independent dari Bandung yaitu Lingkar Production mengajak kerja sama dalam pembuatan film documenter tentang penari topeng dari Indramayu: Mimi Rasinah. Film ini masuk nominasi dalam Festival Film Independent tahun 2000, pada penilaian aspek penata musik. Pada perkembangan berikutnya, dengan didasari komitmen keberpihakan pada kesenian, tahun 2003 Konser Kampung Jatitujuh mendirikan yayasan dengan nama Yayasan Kampung Konser, sebagai wadah untuk dokumentasi, revitalisasi Budaya tradisi dan reaktualisasi seni tradisi.

Tahun 2004 Konser kampung mendirikan radio komunitas dengan nama Radio Konser, dengan radio selanjutnya komunitas ini lebih akrab dengan masyarakat karna dalam program–programnya Radio Konser lebih pada pendidikan masyarakat dan info–info seputar lokalitas, nasional serta info dunia.

Konser Kampung di bawah naungan Yayasan Kampung Konser turut memeriahkan Festival Braga Bandung, acara ini terus berlanjut hingga kini. Tahun 2006 mengisi World Musik Bambu Festival Jakarta dan Bandung. Tahun 2007 mendapat anugrah juara 2 Festival Musik Etnik Kontemporer Kreatif se-Jawa Barat yang bertempat di Garut, dan banyak lagi pementasan-pementasan yang dilakukan di luar daerah lainya.

Pada tahun 2008 komunitas ini lebih bergerak pada ekplorasi dan pencarian–pencarian baru terutama di bidang musik, dengan membuat alat musik baru yaitu belentung, bambu spoon serta gegesek. Alat ini kini mulai diperkenalkan ke masyarakat luas, dan tahun 2012 ini gegesek dan belentung tampil dalam World Musik Festival di JCC Jakarta dan saat ini sedang berusaha untuk memiliki hak cipta patennya, sedangkan dalam bidang seni rupa pada bulan September tahun 2012 mengadakan pameran karya berupa lukisan dan batik tulis, pameran yang digelar di negara Australia tersebut selama sebulan, dari bulan September sampai dengan Oktober

Saat ini Yayasan Kampung Konser melaksanakan program kegiatan lebih pada pendidikan masyarakat, penguatan kapasitas masyarakat terutama masyarakat muda, sering diundang untuk melakukan sosialisasi masyarakat kreatif di masyarakat, sekolah-sekolah, serta perguruan tinggi dalam dan luar daerah dengan melalui silaturahim musik dan rupa.
Yayasan Kampung Konser dalam melaksanakan kegiatanya bersama masyarakat sangat terbuka sekali terhadap siapapun yang akan turut bersama sama, hal ini menjadikan banyak seniman pemusik ataupun perupa yang menjadi keluarga komunitas ini, baik dari dalam negri maupun luar negri.

Sekretariat Rumah Kreatif Konser Kampung di Jalan Carik No. 01 Desa Jatitujuh Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka 45458 Jawa-Barat.

Sayang hari berikutnya aku tak bisa ngobrol bersama mereka lagi. Bersama Mas Sani, aku keluar ke acara rakor UPK se-Prov. Jabar di Cingambul.

Sekali lagi terima kasih sebanyak-banyaknya atas keramahan yang diberikan. Sukses untuk Konser Kampung!

Untuk Akang Imam, semoga selalu diberi kesehatan dan keteguhan dalam memperjuangkan masyarakat desa menuju #IndonesiaHebat.

 

Referensi:

https://www.facebook.com/RumahKreatifJatitujuh

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here