Membuang Energi Negatif

2
344
Pikiran Positif

Lama Danu memiliki hubungan buruk dengan ibunya. Bagi Danu, ibunya selalu ia anggap sebagai biang dari setiap kegagalan yang dialami. Karena ibu, Danu tak bisa kuliah. Karena ibu Danu tak jua mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu pula usahanya selalu gagal. Pokoknya setiap keburukan yang menimpanya, selalu dia jadikan sang ibu sebagai kambing hitam. Ibu harus bertanggung jawab untuk semuanya.

Saat dua kali Danu gagal di UMPTN, dia salahkan ibu. Danu gagal mengembangkan usaha, bahkan sampai jatuh sakit lama, juga karena ibu. Hampir tak ada kebaikan dari ibu di matanya. Andai terlintas, segera Danu sisihkan. Ibu lah biang segalanya.

Meski tak pernah Danu ungkapkan secara terus terang, tapi perilakunya terhadap ibu, menunjukkan kekesalan padanya. Ibunya melarang Danu pergi merantau ke Jakarta. Padahal adiknya, diperbolehkan. Ibu beralasan kalau Danu ringkih, gampang sakit. Ah, alasan saja.

Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa dia salah. Danu menyadari kesalahannya terhadap ibu saat dia mendampingi istri melahirkan anak pertamanya. Perjuangan istri saat melahirkan anaknya benar-benar membuka mata hatinya. Perjuangan antara hidup dan mati saat melahirkan anaknya, membuat Danu merasa amat sangat bersalah terhadap ibu. Dia membayangkan, mungkin begitu lah perjuangan ibu saat melahirkannya. Danu benar-benar sadar, salah besar jika dia menyalahkan ibunya sendiri . Sejak saat itu, Danu mulai memperbaiki hubunganknya dengan sang ibu.

Kasih ibu seluas samudra. Sang ibu memaafkannya.

Sebelum itu, Danu benar-benar menjadi seorang pendendam. Selain itu, ada nama-nama yang sering Danu ingat karena kecurangan mereka. Danu mendendam mereka.

Ketika Danu mendapat bocoran bahwa dia mendapat nilai tertinggi pada lomba pidato yang diadakan oleh KKN, entah darimana, saat dia masih SD, senangnya bukan main. Akan tetapi, saat pengumuman tiba, ternyata namanya tak disebut oleh panitia. Bahkan untuk juara III sekalipun. Danu heran. Tapi bingung mau bertanya ke siapa. Orang yang memberikan bocoran informasi, bungkam. Tak tahu apa yang terjadi.

Danu ingat betul kejadian itu. Mereka yang menjadi juara I, II, dan III adalah anak-anak dari tokoh masyarakat di desanya. Pantas. Pasti ada permainan di sana. Sejak itu lah dia kecewa dan mulai tidak percaya dengan orang lain. Dia kecewa, mengapa anak se kecil itu dipermainkan oleh orang tua. Apalagi saat itu statusnya adalah anak tanpa ayah. Ayahnya entah kemana. Yang hingga tulisan ini dibuat, dia tak pernah bersua lagi. Betapa tega nya mereka. Padahal mereka adalah tokoh-tokoh agama di sini. Kenapa bisa?

Seiring berjalannya waktu, kembali Danu dikalahkan. Lagi-lagi karena ketokohan orang tua. Saat ada pemilihan perkumpulan, kebanyakan teman menginginkannya sebagai ketua. Tapi, para orang tua menggagalkan keinginan teman-teman. Hasilnya, perkumpulan itu pun bubar jalan. Teman-teman seolah enggan di pimpin oleh anak dari tokoh itu. Kejadian ini membuatnya bertambah kesal dan menjadi pendendam.

Kejadian lain pun masih banyak. Danu sering dikalahkan oleh segelintir orang hanya karena dia anak orang miskin, dan bukan tokoh masyarakat. Rasa benci kepada orang-orang semacam itu semakin besar. Jangankan pada aktifitas yang berimbas pada pendapatan, pada kegiatan sosial saja dia sering dikalahkan.

Darimana Danu tahu hal-hal seperti itu. Bahwa dia dikalahkan oleh segelintir orang itu. Teman. Banyak teman yang bersimpati padanya.

Kejadian-kejadian buruk yang menimpanya itu, membuat dia tumbuh menjadi pribadi yang buruk pula. Sering keluar ucapan-ucapannya yang bernada sumbang. Mudah curiga dengan orang lain. Danu sering menampik uluran kebaikan orang, karena curiga terlebih dulu. Rasa tidak percaya dengan orang lain lebih besar. Danu hanya asyik dengan dunianya sendiri. Teman-teman yang menjadi temannya, setelah dia tahu, ternyata mereka pun memiliki tipe yang sama, yakni: pecundang.

Mereka tidak pernah berhasil dalam melakukan aktifitas. Kegagalan demi kegagalan yang dialami, selalu disematkan pada orang lain sebagai penyebabnya. Tak pernah mengakui bahwa kegagalan itu karena kesalahan sendiri. Tak ada evaluasi untuk diri sendiri, yang ada hanya kesalahan karena orang lain.

Mereka begitu bangga dan mengesampingkan orang lain saat berhasil. Keberhasilan yang mereka capai semata karena kehebatannya. Tak ada hubungannya dengan orang lain. Bagi mereka, orang lain hanya nebeng tenar dari keberhasilan yang mereka capai. Lain tidak.

Maka saat itu, hanya ada dua kesimpulan: Pertama, jika berhasil maka itu lah Danu. Danu lah yang hebat. Kedua, jika Danu gagal maka akan aku cari kambing hitam. Orang lain lah penyebab kegagalan itu. Yang paling parah, ibu nya selalu dimasukkan ke daftar orang-orang penyebab kegagalan yang dia alami.

Teman-teman, celakanya lagi, tokoh Danu itu lah aku. Songong pisan ya.

Pikiran Positif
Pikiran Positif

Sejak aku menyadari bahwa aku salah, aku berusaha mencari teman-teman baru yang bisa memperbaiki keadaanku. Aku cari teman-teman yang bisa mengajariku menerima kenyataan dalam berbagai hal. Andai aku gagal, itu karena aku. Aku harus mengevaluasinya. Jika berhasil, aku tahu bahwa keberhasilan itu bukan karena kehebatanku. Ada banyak orang yang mendukungku.

Aku masih ingat saat Sukri, mantan Ketua OSIS SMA di jamanku, dia berkata:

“Kita bukanlah orang-orang yang terbaik. Masih banyak teman-teman yang lain yang lebih baik. Kita hanya lah sekumpulan orang yang diberi kesempatan. Maka pergunakanlah kesempatan itu agar kita layak disebut sebagai orang baik”.

Makasih ya, Bro.

Setelah aku membaca sebuah buku, pada masa dimana aku belum menyadari kesalahanku, dan gemar menyematkan kesalahan kepada orang lain, ternyata energy negatif melingkupiku. Energi negatif menguasai setiap sendi dan aliran darahku. Maka tak heran jika tubuh kurus ini tak pergi dariku.

Alhamdulillah, Allah SWT masih menyayangiku. Dia menyadarkan aku.

Perlahan dengan terus menyingkirkan energi negatif dan mengisinya dengan energi positif, sekarang berat tubuhku bertambah. Sudah bertambah lebih dari 12 kg dari berat semula. Cihuy!

Energi negatif benar-benar merusak. Merusak perikehidupan dan kesehatan. Saat aku masih gemar menyalahkan orang lain, rasa sakit selalu menghinggapiku. Kini sakit itu jarang datang. Andai datang pun paling cuma semalam. Itu pun cukup dengan tidur atau obat dari warung.

Teman-teman pun semakin banyak, ilmu bertambah, dan rejeki pun Alhamdulillah lebih lancar. Meski pendapatan yang aku terima hanya masih kalah dengan PNS, tapi keberkahan atas rizki itu tak terkira. Anak-anak masih bisa jajan, tidak gampang sakit, uang bensin untuk keliling tiap hari pun selalu ada. Begitu lah.

Gemar bersosialisasi mengurangi pikiran negatif
Gemar bersosialisasi mengurangi pikiran negatif

Dalam bukunya: Quutut Tafkiir yang diterjemahkan dengan judul: Terapi Positive Thinking (Mengontrol Otak Untuk Sehat Jiwa Raga), Dr. Ibrahim El Fiky menyebutkan bahwa beberapa sifat kepribadian yang buruk antara lain:
1. Keyakinan dan prasangka buruk,
2. Anti perubahan,
3. Menghadapi masalah tanpa tindakan,
4. Selalu mengeluh dan mencari sisi negative dalam segala hal,
5. Merasa stress, bingung, cemas, dan selalu gagal,
6. Prestasi rendah, mental rapuh, dan hanya mampu mencapai sedikit dari target hidupnya,
7. Menutup diri, tidak bergaul, dan tidak memiliki teman dekat, dan
8. Terjangkit penyakit jasmani dan rokhani.

Na’udzubillah. Ya Allah SWT, jauhkan kami dari sifat-sifat kepribadian yang buruk itu.

Kita tentu pernah dan atau sedang berhubungan dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk tersebut. Atau justru kita sendiri yang memiliki kebiasaan buruk itu. Saat aku katakan jika sekarang aku berusaha membuang energi negatif yang selama ini bersemayam, bukan berarti semua sudah tuntas. Lintasan-lintasan negatif masih sering datang dan menggoda. Kadang masih gatal untuk nimbrung omongan-omongan bermuatan negatif pula.

Pernah suatu ketika, aku bertanya kepada seorang teman yang menurutku, dia selalu berpikiran positif. Sebelumnya, dia menceritakan apa yang sedang dia usahakan bersama temannya yang lain. Aku bertanya apakah dia tidak menaruh curiga bahwa temannya akan berkhianat. Dia tersenyum dan menjawab: Ini ikhtiarku. Andai dia culas, itu urusannya sama Allah SWT. Dosa dia yang menanggung, dan aku yakin keberkahan akan dicabut dari rizki yang dia dapatkan.

Dia dengan ikhlas mengatakan bahwa rizki sudah diatur. Tak perlu kita meragukannya. Yang perlu kita lakukan adalah berikhtiar meraihnya. Sekeras apapun kita berusaha, kalau Allah SWT belum berkehendak, maka belum datang jua rizki itu. Rejeki akan datang tepat pada waktunya.

Namun demikian,salah besar jika mengambil kesimpulan untuk berleha-leha dalam mengikhtiarkannya. Terus berusaha dan berdoa adalah kunci utamanya. Karena Allah SWT pun akan menilai dari apa yang kita upayakan. Apalagi jika meniatkan apa-apa yang kita lakukan semata karena ibadah, maka semestinya tak ada kekecewaan terhadap perbuatan baik yang tak berhasil.

Subhanallah. Begitu ya.

Menjadikan diri sebagai pribadi yang positif memang butuh perjuangan. Meski kita sudah berazzam untuk melakukannya, godaan-godaan pasti datang untuk menggoyahkan keyakinan. Dalam terjemahan bebas, kita sudah diingatkan: “Apakah kamu mengira akan dibiarkan begitu saja ketika kamu sudah mengatakan: Aku beriman kepada Allah”.

Ujian akan terus berdatangan untuk menguji. Semakin tinggi kelas yang akan kita naiki, semakin berat ujian itu. Tawakal kepada Allah SWT menjadi kunci sukses menghadapi ujian-ujian tersebut. Insya Allah.

Semoga kami dijadikan golongan orang-orang yang teguh berpendirian dalam pikiran-pikiran positif. Aamiin….

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjadikan Orang Lain Hebat
Berita berikutnyaNguri-uri Kesenian Tradisional
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here