Memenuhi Hutang Janji yang Sepertinya Remeh

2
232
Edisi momong

Pagi ini kami sudah bersiap. Rencana semalam sudah aku bicarakan dengan istri. Dia bersedia mencuci, masak, dan persiapan lain seperti biasanya. Padahal biasanya hari Minggu agak santai. Tapi pagi ini tak berlaku. Aku dan dia sudah sepakat untuk pergi sekedar mengisi hari liburan bersama. Meski sebenarnya hari Senin kemarin sepulang kerja, kami sudah ke Moro. Menepati janji yang Ata tagih sepulang dari Jember.

Hari ini tujuan kami ke Taman Balai Kemambang. Tempat refreshing sebagai ruang hijau terbuka di dalam kota ini, menambah wahana rekreasi keluarga yang murah meriah. Dulu tempat ini berupa areal persawahan. Entah bagaimana ceritanya sampai bisa di sulap  menjadi tempat seperti ini. Lokasinya di Jalan Karangkobar atau sebelah barat perumahan Permata Hijau. Dari terminal angkutan kota, kamu bisa naik angkot jurusan H1. Atau jalur I1 kalau dari terminal bis. Cuma memang harus muter-muter dulu. Lebih enak memang, kalau punya kendaraan sendiri.

Edisi momong
Edisi momong

Taman Balai Kemambang sepertinya ditujukan untuk warga Purwokerto dan sekitar di sebelah utara. Sedang yang berada di sebelah selatan dan barat yang menggunakan bis, lebih baik ke Taman Andhang Pangrenan. Lokasinya di bekas terminal Purwokerto. Meski konsepnya beda, tapi fungsinya tetap sama. Yah, kecuali yang berkendaraan sendiri tentunya. Bebas.

Kali ini, aku memenuhi janji untuk Syamil. Semalam menjelang tidur, dia menagih lagi. Saat istriku bilang, insya Allah besok, Syamil bilang nunggu aku libur. Aku pun menyahut kalau besok aku libur. Senang dia mendengar kalau besok aku libur. Kesempatan ini sudah dia tunggu-tunggu. Dia bahkan sudah merelakan roti kelapa yang dia sukai untuk pakan ikan di sana.

Dia suka melihat ikan-ikan berenang di Taman Balai Kemambang. Awal-awal tempat ini di buka, Syamil langsung suka. Dia berteriak-teriak kegirangan saat roti kelapa yang sudah dihancurkan, di makan oleh ikan-ikan. Gemroyok.

Selasa kemarin Syamil batuk pilek. Ingusnya tak berhenti keluar. Badannya panas. Setelah diberi penurun panas, agak mendingan. Dia masih merasa senang bermain ke sana kemari. Termasuk bernyanyi lagu“Burung Hantu” dengan suara cadelnya. Baru-baru ini dia suka lagu itu. Berkali-kali diputar videonya tak jua bosan. Liriknya yang masih terbalik-balik dan tak lengkap aku biarkan saja. Yang penting dia suka.

Malamnya dia batuk-batuk. Semakin malam semakin menjadi. Ingus yang tak mau keluar membuatnya susah bernafas. Dia hanya bisa menangis. Istriku hampir semalamam tak tidur. Apalagi Syamil hanya mau di bopong sama dia. Ajakanku dan ibu tak digubrisnya. Sebentar terlelap, sebentar kemudian bangun lagi. Begitu seterusnya.

Sebenarnya saat maghrib istriku minta pertimbanganku agar Syamil di bawa ke Bu Bidan. Dosis obat yang diberikan sering cocok. Aku bilang besok saja. Tunggu perkembangan sakitnya. Lagi pula dada dan punggungnya sudah diolesi krim penghangat. Kalau tambah parah ya dibawa ke sana, syukur bisa sembuh.

Pikirku, aku tak ingin memanjakan tubuh Syamil dengan obat. Apalagi obat-obatan kimia. Tubuh sejatinya memiliki daya tahan dan kemampuan mengenali kuman-kuman atau benda asing yang ada dalam aliran darah seseorang. Jika sakit itu pernah dia alami. Tubuh akan bereaksi melawannya. Obat hanya diperlukan untuk membantu saat tubuh tak mampu melawannya sendiri. Begitu yang aku tahu.

Seharusnya sistem kekebalan tubuhnya, meski masih rapuh karena masih balita, bisa mengenali dan melawannya. Karena dua minggu yang lalu, dia pun baru sembuh dari batuk pilek. Ternyata tidak demikian. Pikiranku salah. Kuman penyebab batuk pilek lebih hebat dari sistem kekebalan tubuhnya. Apalagi memang anak-anak di balita mudah sekali sakit.

Rabu pagi kami putuskan Syamil dibawa ke Puskesmas. Kebetulan Ata diliburkan, karena guru-gurunya akan mengikuti workshop Kurikulum 2013. Kegiatan antar jemput pun tak ada pagi itu. Kebiasaan pagi tetap dilakukan sebelum berangkat ke Puskesmas. Mencuci, masak, memandikan anak-anak, persiapan berangkat kerja dilakukan lebih cepat. Tak tega melihat Syamil terus terusan menangis.

Ata ikut aku ke kantor, sedang Syamil dan istri aku antarkan ke Puskesmas. Kebetulan jalan depan rumah yang di kontrak pihak Puskesmas untuk rawat jalan selama rehab bangunan, tiap pagi aku lewati. Wajahnya pucat, tak bergairah, lemas, dan mengantuk serta ingus yang mesti berkali-kali dibersihkan, membuatku kepikiran saat di kantor. Maka tatkala istriku SMS minta air mineral, aku bergegas ke sana. Syamil merengek minta minum. Sama seperti semalam. Minum berkali-kali.

Istriku mengeluhkan bidan yang tak jua datang meski sudah mendaftar dan menunggu lama. Syamil rewel terus. Aku bilang sabar. Nanti juga datang. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Istriku menekuk wajahnya. Antara capek, mengantuk, dan kasihan melihat Syamil. Terlihat Syamil kuyu. Aku berikan dua gelas air mineral seraya berpesan untuk SMS jika sudah selesai urusan di sana.

Tak lama kemudian urusan di sana selesai. Ata yang sedang asyik mencorat-coret kertas, aku ajak menjemput Syamil. Dia tak protes. Menurut saja. Apalagi saat aku bilang, sambil nunggu bis, bisa lihat kereta dulu. Akan aku antarkan mereka ke utara pintu perlintasan kereta di Gambarsari. Ada dua pilihan di sana untuk pulang. Kalau tak dapat mikro bis, ya naik koperades.

Saat aku turunkan mereka di pintu perlintasan, Syamil yang sudah diberitahu akan melihat kereta yang lewat dulu sebelum pulang, terlihat lebih sumringah. Dia mau melambaikan tangan, meski belum tersenyum. Agak lega melihat perubahan Syamil. Aku pun berharap dengan melihat kereta, mereka akan sedikit terhibur. Ata bertanya apakah uangku sudah banyak. Dia sudah ingin naik kereta. Aku hanya bisa bilang, belum.

Saat aku pulang sore harinya, ibuku malah bertanya, kemana mereka. Syamil, Ata, dan istriku belum pulang. Aku hubungi istri via telpon. Ternyata mereka mampir ke rumah Mba Riswati. Rumahnya memang dekat dari pintu perlintasaan kereta itu. Jalan kaki ke utara, terus masuk gang ke timur. Kira-kira cuma 150 meter. Terdengar Ata berteriak tak mau pulang. Itu pula alasan yang istriku katakan saat aku bertanya mengapa tak jua pulang. Dia bilang sudah SMS aku pula. Mungkin tak terkirim. Aku bilang mau istirahat dulu, nanti aku jemput.

Kepergian Syamil ke Puskesmas yang tak kunjung pulang, menyebabkan salah paham. Saat aku pergi menjemput mereka sore harinya, Bi Tasem dan Tarsidi, adik sepupuku, ikut menyusul. Mereka mengira Syamil harus opname. Baik aku maupun ibu memang tak mengkomunikasikan kepada tetangga. Ya, kan memang Syamil baik-baik saja.

Mungkin Bi Tasem berpikiran, Syamil memang harus opname. Dia tahu persis Syamil menangis hampir sepanjang malam. Apalagi sejak pagi hingga sore dia tak pulang. Saat aku pulang kerja tadi, aku hanya sendiri. Dia pikir saat aku pergi lagi, untuk kembali ke Puskesmas. Padahal saat kami berpapasan di pabrik batu bata, sudah aku klakson. Mungkin tak mendengar. Makanya mereka terus saja. Tarsidi baru telpon saat aku sudah di rumah. Sepertinya mereka sudah sampai di Puskesmas, bertanya-tanya, dan ternyata tak ada kami di sana.

Aku gembira saat menjemput mereka. Ata dan Syamil berlari-lari menghampiri motorku saat memasuki gang ke rumah Mba Riswati. Syamil sudah bertelanjang kaki seperti biasa. Kaos kaki dan sepatu yang dikenakan saat berangkat paginya sudah dilepas. Seperti biasa, dia minta berdiri di depan, dan Ata di belakang jika kami bertiga saja. Syamil pun berteriak-teriak dan melambaikan tangan kepada mamanya. Senang.

Istriku menceritakan kenapa mereka sampai tak mau pulang. Katanya sesudah dua kali melihat kereta melintas, mereka mampir ke rumah ini. Keduanya tak mau di ajak tidur siang. Anak kedua dan ketiga, Mba Riswati, yakni Fauzan dan Shafia memang teman yang baik. Bisa momong Syamil. Tak pernah dia menangis kala bermain bersama mereka. Makanya betah. Istriku bilang sambil menunjukkan celana Syamil, kalau tadi dia prosotan dan bermain pasir di situ. Di ajak pulang nggak mau, disuapi malah lari-lari. Tandanya sudah sehat. Alhamdulillah.

Hal itu pun kami ceritakan ke ibu. Rupanya Syamil ingin melihat kereta di sana. Permintaannya yang berkali-kali hanya berujung janji-janji. Aku hanya mengiyakan dan bilang, insya Allah kapan-kapan. Cuma kapan-kapannya itu tak berujung. Kata ibu, mungkin dia sakit karena sudah sangat ingin. Makanya jangan mudah berjanji sama anak-anak, begitu kata ibu. Dia pasti akan mengingat-ingat terus.

Kalimat: “Bapa, Mamil itani teta wawadan (Bapa, Syamil lihat kereta di rumah Mas Fauzan)” memang selalu aku jawab: “Nggih, Insya Allah”. Baru kemarin kesampaian.

Dulu aku pikir, saat aku penuhi janji yang Ata tagih, sudah termasuk memenuhi keinginannya. Maka aku tak merasa punya hutang janji. Saat aku ajak mereka pergi ke Moro, Depo Pelita, Alun-alun, Andhang Pangrenan, atau tempat lain, aku pikir sudah lunas. Ternyata belum. Syamil punya keinginan sendiri. Dua anak, dua kemauan. Begitu kata para orang tua. Yah, meski sering mereka saling membela saat salah satu kena teguran istri dan ibuku, selera mereka tetap berbeda. Ini pelajaran hidup yang baru.

Oleh karenanya, pagi ini kami pergi ke Taman Balai Kemambang. Memenuhi hutang janji. Syamil sudah berkali-kali memperagakan bagaimana dia akan memberi makan ikan-ikan di sana. Ikan-ikan yang di pelihara dan sering dia lihat di rumah Pak Suroyo, depan rumahku, belum cukup. Ikannya tak banyak. Pun sering tak segera makan saat Syamil sebarkan potongan-potongan roti kelapa. Dia ingin yang lebih dari itu.

Kerelaannya berbagi roti kelapa yang dia sukai, harus dibayarkan. Aku tak ingin dia sakit lagi. Ini hutang janji yang mesti aku penuhi. Dia sudah memimpikan hari ini jauh-jauh hari sebelumnya. Saat aku tanyakan kepada istri mengapa roti kelapanya masih banyak, dia menirukan ucapan Syamil, untuk pakan ikan. Aku pun pernah mencoba menawarkan, dia bilang:

“Emoh. Mam itan”.
Oalah anak lanang… anak lanang….

Gembira dia saat sebelum berangkat aku katakan akan memberi makan ikan. Demikian juga Ata. Ata semalam komplen. Mengapa tak ke Moro saja. Aku bilang kasihan Syamil. Senin kemarin kan sudah ke Moro. Ata mau menerima, meski dia merajuk minta ditemani tidur lebih awal. Kebeneran.

Rencananya hari ini, selain ke Taman Balai Kemambang, juga main ke stasiun Purwokerto. Tapi nantinya acara ke stasiun dibatalkan. Pertimbangannya, selain sudah terlalu siang, kemarin-kemarin juga sudah lihat kereta. Untung keduanya pun tak protes. Nantinya kami mampir ke rumah Nanang, teman SMA, untuk bersilaturahmi. Lama tak main ke sana, sejak meninggalnya Bu Tino, ibunya Nanang.

Kali ini aku ambil jalan via perempatan Tanjung. Terus ke utara hingga pertigaan Sawangan, belok kiri sampai Alun-alun. Terus ke utara lagi hingga masuk ke Jalan Dokter Angka. Jalan yang membentang sejak SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto ke timur hingga perempatan hotel Aston ini terasa longgar. Cuma kurang bersahabat bagi pejalan kaki. Panas.

Sampai di perempatan Karangkobar, aku belok kiri. Tiba lah di Taman Balai Kemambang. Karcis tanda masuk tertera di pintu. Orang dewasa 2500 dan anak-anak 1500 rupiah. Tapi Syamil belum dihitung. Mungkin karena masih di bawah usia 3 tahun. Pose di depan aku ambil dulu. Konsep tulisan ini sudah aku buat sebelumnya.

Gembira benar Syamil demi melihat ikan-ikan berenang di sana. Ingin bergegas sampai di balai di tengah-tengah kolam. Ia minta aku bopong. Padahal aku ingin dia berjalan atau berlari-lari. Mungkin ingin melihat ikan-ikan berenang dengan leluasa.

Sesampai di balai, dia bersama Ata pun minta roti kelapa yang sudah disiapkan. Dia lemparkan potongan roti itu ke kolam. Ikan-ikan berebut memakannya. Syamil menunjuk-nunjuk ke kolam. Kegembiraan sudah dia tampakkan saat berangkat tadi. Sepanjang perjalanan, seperti biasa, dia minta berdiri di jok belakang. Berteriak memberitahuku akan mobil di depan, truk berjalan, serta tontonan apa saja yang bisa dia sebutkan.

Sampai naik ke pembatas
Sampai naik ke pembatas

Ata pun larut dalam kegembiraan. Tak lagi merajuk minta ke Moro. Ikut sibuk memberi makan ikan bersama pengunjung yang lain. Hari Minggu pagi memang banyak pengunjung. Kebanyakan mereka membeli pakan ikan yang disediakan oleh pengelola. Banyak yang tercecer di lantai. Aku ikut memberi makan sambil memunguti pakan yang tercecer itu. Eman-eman.

Syamil dan Ata berganti-ganti tempat memberi pakan. Dalam hatinya, Syamil mungkin bahagia bisa berbagi makanan dengan ikan. Dia pun ingin berbagi dengan ikan-ikan di sisi yang lain. Dia mengajak istri ku keluar dari balai. Berjalan ke selatan. Mencariku yang baru keluar dari toilet. Aku sengaja membiarkan dia berpanasan di pagi ini. Kemarin-kemarin kala diajak berjemur dia tak mau. Sinar matahari di pagi hari bagus untuk kesehatan.

Setelah agak bosan, dia mengikuti Ata yang mengajaknya bermain jungkat-jungkit dan ayunan. Kemudian memberi pakan ikan lagi. Berganti tempat lagi. Sampai akhirnya kolam itu sudah dia kelilingi semua. Masuk kembali ke balai.

Hanya sebentar dia memberi makan ikan. Dia ingin melihat ikan dari sisi yang lebih tinggi. Maka dia pun memanjat pagar pembatas. Aku dan istri  bergantian memeganginya. Takut kecebur. Tertulis di papan peringatan, dalamnya kolam mencapai 1,6 meter. Berbahaya bagi anak-anak.

Berbagi untuk ikan
Berbagi untuk ikan

Ata yang sempat merajuk minta sesuatu, kemudian mengajak Syamil bermain. Berlari-lari di balai yang tak luas. Lalu kuda-kudaan di lantai balai yang kotor. Bahkan sempat bergulingan laiknya kalah dalam berkelahi. Peringatanku dan istri karena kotornya lantai tak mereka gubris. Tapi kami biarkan saja. Kotor-kotoran seperti itu sudah biasa. Kalau bermain di sekitar rumah malah lebih parah lagi.

Anak-anak sebaya yang ada di balai hanya melihat tingkah mereka. Para orang tua pun demikian. Tak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka. Ada yang simpati mungkin, melihat kedua anakku akrab bercanda. Tidak bertengkar sungguhan. Karena kadang saling berpelukan. Atau mungkin yang merasa aneh, kok bisa ya orang tuanya membiarkan saja. Padahal jelas-jelas lantainya kotor. Biar. Tak terucap juga kan.

Saat jam menunjukkan sudah hampir setengah sebelas siang, aku ajak mereka pulang. Panas matahari sudah tidak bagus lagi untuk kesehatan. Sinar ultraviolet yang ada sekarang, malah sebaiknya dihindari. Bisa-bisa jadi pusing nanti, kena dehidrasi. Persediaan air minum yang di bawa dari rumah pun, sudah habis. Aku ajak istri dan anak-anak mampir ke rumah Nanang. Sekalian minta air minum di sana.

Ata manut, tapi Syamil bilang emoh. Masih ingin memberi makan ikan, alasannya. Akhirnya bisa juga di rayu. Dia mau di ajak keluar.

Besok-besok lagi ya...
Besok-besok lagi ya…

Aku yakin dan percaya, saat kita menghargai kebutuhan anak-anak, mereka akan menghargai kita nantinya. Sesuatu yang seolah remeh bagi kita, bisa saja terlihat istimewa bagi anak-anak. Maka ketika kemarin malam pas mau tidur, Syamil menangis minta dicarikan sebilah kayu yang dia jadikan mainan, aku minta istri mencarikannya.

Bagi kita, sebilah kayu itu apalah artinya. Tinggal di buang atau dimasukkan ke perapian. Tapi tidak bagi Syamil. Entah apa yang dia pikirkan tentang sebilah kayu itu. Sebilah kayu itu penting baginya. Meski remeh saja. Memberikan padanya akan dia apresiasikan sebagai bentuk penghargaan dari kita untuknya. Dia pasti ingat hal itu sampai dewasa.

Aku berharap Syamil akan melakukan hal yang sama. Menghargai sesuatu yang remeh baginya, namun sangat berarti bagi kami kelak, kala sudah renta. Semoga.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here