Mempersiapkan Pembangunan yang Berdampak Positif

0
202
Pembangunan semestinya berdampak positif bagi masyarakat.

Pembangunan infrastruktur masih menjadi idola. Wujud nyata pembangunan lebih mudah dilihat kala berupa kegiatan fisik. Pembangunan jalan aspal terlihat hasilnya. Tinggal mengukur kesesuaian antara desain, RAB, spek dengan hasil akhir. Jika masih dalam batas wajar, maka pembangunan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Kegembiraan dalam menyambut UU Desa dan dana desa dengan pembangunan fisik, masih agak bisa dimaklumi. Ketimpangan pembangunan selama ini, membuat desa sangat tertinggal. Desa identik dengan jalan rusak, bangunan tua siap ambruk, sarana kesehatan, dan pertanian yang memprihatinkan. Oleh karena nya, berbenah dengan dana yang ada, bisa dimengerti.

Akan tetapi, pembenaran ini sebaiknya mulai dipikirkan. Beberapa tahun ke depan, beban pemeliharaan akan semakin membengkak. Jika tak ada sumber lain, bisa jadi bangunan fisik tersebut tinggal prasasti. Padahal dana dari pemerintah, tidak diperuntukkan guna pembangunan fisik saja. Kesejahteraan dan kemandirian desa menjadi tujuan utama.

Pertanyaannya adalah: “apakah pembangunan-pembangunan fisik itu benar, bisa mensejahterakan masyarakat?”

Mengevaluasi dampaknya

Pembangunan sarana dan prasarana dasar pada intinya dilaksanakan guna menunjang perekonomian masyarakat desa. Peningkatan jalan menuju sebuah grumbul, dimaksudkan untuk memperlancar lalu lintas usaha warga. Harapannya, dengan akses jalan yang lebih baik, masyarakat akan meningkat perekonomiannya. Karena lebih mudah mengangkut hasil usaha ke pasar.

Sayangnya, harapan itu sering terbalik. Alih-alih ingin meningkatkan perekonomian masyarakat, akses jalan tersebut justru dimanfaatkan pihak luar. Kemudahan mencapai suatu grumbul, dimanfaatkan pengusaha untuk menebang kayu, misalnya. Para pedagang kreditan lancar menguras uang masyarakat. Petugas bank plecit semakin gencar menjajakan uangnya.

Kenyataan yang demikian tidak bisa dipungkiri. Kita pun tak punya wenang untuk melarang pihak luar melakukan aktifitasnya. Andai jalan kembali rusak pun, sepertinya tak ada alasan menarik iuran dari mereka. Kembali lagi, masyarakat yang dirugikan.

Mempersiapkan masyarakat

Hal yang paling mungkin dilakukan ialah mempersiapkan masyarakat. Sebelum pembangunan jalan tersebut, pemerintah desa tidak cukup mensosialisasikan. Perlu ada kajian kesiapan yang semestinya dilakukan oleh masyarakat setempat. Apakah sumber daya lokal tersebut, kelak setelah pembangunan selesai, bisa memanfaatkan secara benar. Inventarisir kebutuhan masyarakat, pilah dan pilih kegiatan pendukung sebagai persiapan paska pembangunan selesai. Kegiatan pendukung termasuk didalamnya kesiapan mental anak-anak muda. Tidak kebut-kebutan di jalan tersebut.

Persiapan yang dilakukan berupa pemahaman dan membangun mimpi, apa yang akan dilakukan warga nantinya. Jika mimpi terbangun, pemerintah desa berkewajiban membantu merealisasikannya. Entah dengan cara pelatihan-pelatihan, mendorong mereka berproduksi, atau berdagang sesuatu.

Pembangunan jalan aspal menuju hutan wisata Watumeja di Desa Tumiyang Kec. Kebasen misalnya, disambut antusias warga. Persiapan mewujudkan destinasi lain, yakni agrowisata, sedang dilakukan. Beberapa warga sudah mempersiapkan sumber air, karena di Watumeja memang agak kesulitan air.

Mereka bermimpi dan sedang merealisasikan, para pengunjung Watumeja, kelak akan mampir ke lokasi agrowisata tersebut. Warga masyarakat sekitar sudah bersiap diri untuk itu. Sedang Pemerintah Desa Tumiyang mendukung dengan cara menghubungkan dengan para pihak dalam persiapan, promosi, dan pelaksanaannya nanti.

Persiapan lain yang sedang dilakukan ialah penanaman pohon pepaya dan jenis tanaman holtikultura. Sedang pelatihan pembibitan, pembuatan pupuk kompos, pelatihan pembuatan opak, dan tata letak agrowisata, sudah masuk dalam agenda kegiatan persiapan. Singkat kata, penyambutan rencana pengaspalan jalan, disikapi positif yang berdampak terhadap perekonomian mereka.

Menggandeng para pihak

Pemikiran pembangunan yang menyeluruh seperti ini, perlu dikedepankan. Pemerintah Desa selaku pelaksana kegiatan, tidak merasa cukup setelah pembangunan selesai dilakukan. Kesesuaian antara rencana dalam RPJMDes, RKP, APBDes, dan sesuai spek, masih perlu tambahan, yakni tanggung jawab moral. Bagaimana mempersiapkan masyarakat paska itu. Toh, hal ini bisa melibatkan pihak lain untuk melakukannya.

Pemerintah desa memiliki kewenangan menggandeng pihak ketiga. Kewenangan desa dalam melakukan kerjasama antar desa, atau desa dengan pihak ketiga, bisa dioptimalkan. Pemerintah desa mengajak kepada para pihak untuk bersama-sama merancang dan mengoptimalkan pembangunan secara menyeluruh. Tidak berhenti pada pembangunan fisik saja, tapi mempersiapkan pula dampak positif yang diharapkan.

Kalau memungkinkan, para pihak yang digandeng, cukup sumber daya lokal.

Keterlibatan masyarakat

Geliat dalam pembangunan menyeluruh, memerlukan respon positif dari masyarakat. Mengandalkan pemerintah desa, tidak cukup. Secara aktif masyarakat yang terdampak, perlu melakukan upaya semampunya. Jika ada kesulitan, segera sampaikan pemerintah desa agar ditindaklanjuti.

Dengan informasi akan adanya pembangunan di wilayahnya, hendaknya masyarakat segera berimajinasi. Mereka sebaiknya memikirkan hal-hal yang mungkin dilakukan paska pembangunan tersebut. Secara gotong royong, imajinasi itu diwujudkan. Kalau memang harus bekerjasama dengan pihak lain, maka lakukan dengan tetap berkoordinasi dengan pihak pemerintah desa.

Rancangan pembangunan yang menyeluruh akan terasa lebih mengena. Tujuan mensejahterakan dan memandirikan masyarakat lebih mudah dicapai. Pemerintah desa melakukannya, masyarakat bereaksi positif, para pihak ikut membantu, dan didukung penuh oleh pemerintahan diatasnya.

Pembangunan semestinya berdampak positif bagi masyarakat.
Pembangunan semestinya berdampak positif bagi masyarakat.
BAGIKAN
Berita sebelumyaMembiasakan Berbagi Gagasan
Berita berikutnyaMelepaskan Belenggu dalam Diri
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here