Mempertimbangkan Keberpihakan

0
392
Dok: syam-story.blogspot.com

Cerita Semut dan Cicak pada kisah Nabi Ibrahim AS, sudah melegenda. Masing-masing binatang itu mengambil sikap berbeda saat Ibrahim dibakar hidup-hidup. Raja Namrudz sangat marah dengan perbuatan Ibrahim. Perbuatan menghancurkan patung-patung berhala dan menyisakan yang terbesar, adalah tamparan Ibrahim pada raja Namrudz dan rakyatnya.

Singkat cerita, Ibrahim di bakar. Banyaknya kayu yang dibakar, membuat mustahil dipadamkan dengan cepat. Api nya menjalar begitu cepat dan membesar.

Dengan bersusah payah, seekor Semut mendekati kobaran api. Mulutnya membawa setetes air. Saat ditanya, dia menjawab akan menyiramkan air itu agar api nya padam. Hal ini memang mustahil, tapi ini menunjukkan keberpihakan Semut pada Ibrahim, bukan Namrudz.

Berbeda dengan sikap yang diambil Cicak. Dia memilih meniup agar api nya cepat membesar. Mungkin tiupan Cicak pun tidak berarti. Namun perbuatannya menunjukkan keberpihakan Cicak pada Namrudz, bukan pada Ibrahim.

Inti nya pada perilaku yang menunjukkan keberpihakan.

Pendukung Kebajikan atau Kemungkaran

Sekecil apapun yang kita perbuat, pasti Tuhan tahu. Kisah Semut dan Cicak pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim AS ini pun menjadi pelajaran dalam berpihak. Semut memutuskan berpihak pada kebajikan (Ibrahim), sedang Cicak berpihak pada kebanyakan orang (Namrudz).

Kita sering melihat keberpihakan seseorang dalam mensikapi sebuah kejadian. Sekedar men-share berita, status, atau pernyataan itu pun menunjukkan sebuah keberpihakan. Mungkin sesuatu yang sepele. Padahal sekecil apapun yang kita perbuat, akan mendapat balasan.

Perlu diingatkan:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al Zalzalah: 7-8).

Oleh karena nya, lebih baik kita berhati-hati dalam bersikap. Jangan pernah merasa berat melakukan hal-hal baik meskipun kecil. Jangan pula menyepelekan hal-hal buruk meski hanya se-ujung kuku.

Mengikuti Kebenaran atau Kebanyakan

Kebenaran ada 3 (tiga) jenis, yakni: kebenaran hakiki, kebenaran sendiri, dan kebenaran umum (kebanyakan). Sesuatu yang banyak diiikuti oleh orang belum tentu benar. Di sini lah perlu nya mensikapi dengan bijak.

Seperti kebenaran pada jaman raja Namrudz merupakan contoh kebenaran umum (kebanyakan). Semut memutuskan untuk tidak mengikuti kebenaran umum, karena tahu bahwa itu salah. Dia mensikapi dengan bijak.

Berbagai pemilihan yang digelar di negara ini pun akan menunjukkan keberpihakan. Keberpihakan dalam keputusan mendukung atau tidak; mendukung salah satu dari pilihan yang lain pun bentuk dari keberpihakan. Tinggal kebenaran mana yang akan menjadi patokan.

Kalah dan menang itu hal biasa. Bisa jadi yang menang itu bukan pilihan kita. Akan tetapi, keyakinan memilih calon yang ternyata kalah, karena kebenaran hakiki, lebih mudah kita pertanggungjawabkan. Syukur kebenaran umum adalah kebenaran hakiki. Andai tidak, keberpihakan kita akan menunjukkan siapa kita sebenarnya. Seperti Semut dan Cicak pada kisah di atas.

Keberpihakan Obyektif

Ada kala nya keberpihakan kita, bukan karena kemauan kita. Terjebak pada ikrar bergabung di sebuah organisasi, parpol atau sistem kerja, membuat keberpihakan tidak obyektif. Keberpihakan yang dilakukan dikarenakan keterikatan pada organisasi, parpol atau sistem kerja.

Hati nurani terkalahkan. Obyektifitas pun kabur.

Hanya karena sudah menjadi bagian dari organisasi, maka amalan yang dilakukan sekedar ikut-ikutan. Padahal secara pemahaman, tahu bahwa amalan tersebut masih meragukan. Kecuali bagi jiwa-jiwa merdeka.

Hanya karena sudah menjadi bagian dari parpol, maka bisa saja kita memilih calon A. Padahal secara figur, kita condong ke calon B. Kecuali bagi jiwa-jiwa merdeka.

Hanya karena sudah menjadi bagian dari sistem kerja, terpaksa melakukan perintah atasan. Padahal tindakan itu bertentangan dengan hati nurani. Kecuali jiwa-jiwa merdeka.

Tidak sedikit para pengikutnya mati-matian membela yang sudah direkomendasikan oleh organisasi, parpol, atau sistem kerja nya. Padahal belum tentu mereka benar. Akan tetapi, jika keberpihakan itu karena terpaksa, semoga dimaafkan.

Keberpihakan yang tidak obyektif, akan menimbulkan kekecewaan. Yakni saat tersadar bahwa keberpihakan itu salah. Penyesalan akan keberpihakan yang tidak obyektif, pasti ditemui. Jika penyesalan itu datang segera, tentu lebih baik, sehingga masih ada waktu memperbaiki.

Tidak sedikit para pendukung berbalik arah 180 derajat karena kecewa. Bahkan ada dendam yang terus menyelimuti. Dia akan menyerang balik sesuatu yang pernah didukungnya.

Oleh karena nya, mari kita berintrospeksi. Apakah keberpihakan kita sudah benar-benar dari hati nurani. Jangan sampai kecewa nantinya.

Yang paling penting, ingat lah bahwa keberpihakan kita akan dimintai pertanggungjawaban.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.

Dok: syam-story.blogspot.com
Dok: syam-story.blogspot.com

api-semut-1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here