Mempertimbangkan Usaha Keuangan Mikro pada Unit BUMDesa

2
257
Kalau sudah profesional seperti BKD, boleh lah.

Hampir di setiap program pemberdayaan ekonomi masyarakat, pola pinjaman selalu hadir. Dengan berbagai bentuk dan varian layanan, soal pinjam meminjam menjadi alat produksi memupuk modal. Selain terlihat mudah, kebiasaan masyarakat meminjam, menjadi sisi pendongrak.

Nyata nya berbagai program berbasis pinjaman, secara umum, hilang tanpa bekas. Satu program di satu tempat berhasil, ditempat lain gagal. Sepertinya hanya SPP dan UEP eks PNPM yang masih bertahan. Meski sekarang menemui banyak kendala, yakni kemacetan yang tinggi dan idle money yang besar, secara umum mereka masih bertahan. Beberapa malah sudah berkembang baik.

Ada yang mengatakan bahwa bunga bank adalah keajaiban dunia yang ke delapan. Sepertinya itu benar adanya. Tak perlu bersusah payah menjalankan usaha riil, nilai uang akan selalu bertambah. Prosentase jasa dibuat untuk menjaga nilai mata uang akibat inflasi.

Sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan pula. Sebagai lembaga intermediasi, lembaga keuangan mesti berbagi keuntungan. Selain membiayai operasional, memberi jasa pinjaman kepada nasabah penabung dan lembaga keuangan lain, biaya promosi, mereka juga harus bisa memberikan deviden bagi pemegang saham, atau SHU bagi anggota koperasi.

Membiasakan orang berhutang

Dampak negatif dari program berbasis pinjaman adalah mental suka berhutang. Konsep inklusi keuangan sebagai upaya solusi kemiskinan fungsional, berakibat munculnya masalah baru. Tak sedikit para peminjam memanfaatkannya guna gali lubang tutup lubang. Budaya hedonisme dan konsumerisme, semakin memperparah kebiasaan suka berhutang ini.

Meski sudah berulang kali program berbasiskan pinjaman digulirkan, sepertinya belum ada evaluasi tentangnya. Apakah program itu tepat sasaran atau tidak. Berapakah tingkat signifikansi pendapatan peminjam setelah berhutang pada program. Meningkatkah indeks pendapatan mereka? Semua masih belum terjawab.

Tak dapat dipungkiri, program tersebut disambut oleh baik oleh masyarakat. Mereka yang kesulitan akan permodalan, dapat dengan mudah mengaksesnya. Sayangnya pola pengembalian pinjaman sering tidak sesuai dengan siklus keuangan si peminjam. Akibatnya terjadi tunggakan dan atau kemacetan. Belum lagi tak adanya pendampingan bagi usaha mereka.

Akan tetapi, timbulnya kebiasaan orang berhutang merupakan dampak negatif yang buruk. Sebab tatkala mereka tak mampu membayarnya, akan menjadi tanggungan bahkan sampai dia meninggal.

Menanggung biaya cadangan resiko

Oleh karena ada nya tunggakan dan kemacetan, BUMDes yang memiliki unit keuangan mikro, harus menanggung biaya cadangan resiko. Biaya ini muncul dari perhitungan atas kolektibilitas kemacetan yang ada. Cadangan ini bahkan sampai pada angka 100% dari nilai kemacetan yang ada, jika sudah parah.

Munculnya biaya resiko ini jelas akan mengurangi surplus. Surplus bersih akan didapatkan saat pendapatan dikurangkan dengan biaya operasional dan cadangan resiko. Semakin besar tingkat kemacetan, berarti semakin besar cadangan resiko, dan berakibat semakin kecilnya surplus.

Cadangan resiko adalah sebuah keniscayaan. Sebab tanpa nya, cepat atau lambat, aset akan berkurang. Ini dikarenakan tak ada jaminan bahwa pinjaman yang macet akan tertagih.

Potensi pendapatan relatif sedikit

Dalam dunia bisnis, cashflow is the king. Semakin tinggi tingkat perputarannya, potensi pendapatan akan semakin besar. Demikian pula, saat perputaran uang pada unit keuangan mikro bisa berputar cepat. Salah satu nya dengan memperpendek jangka angsuran dengan siklus pengembalian yang rapat. Ini yang dilakukan oleh bank plecit.

Sebagai unit usaha yang berbasis desa, praktek bank plecit jelas menciderai semangat pemberdayaan. Inklusi keuangan yang dipraktekkan melalui penyediaan akses dana, tak semata mencari keuntungan, tapi harus tetap untung.

Siklus pengembalian mesti longgar dengan jangka angsuran yang relatif lama, agar besaran nominal pengembalian kecil. Tujuannya agar para peminjam bisa lebih leluasa memutarkan uang demi memajukan usaha. Dengan demikian, cashflow tak bisa cepat.

Karena cashflow yang lambat, kemacetan membuat uang tak produktif, maka potensi pendapatan relatif sedikit. Bisa dikatakan bisnis keuangan mikro bagi BUMDes memiliki potensi pendapatan yang kecil dengan resiko kemacetan yang besar.

Terkendala regulasi

Sejak munculnya UU No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, semua lembaga keuangan harus berbadan hukum tanpa kecuali. Unit keuangan mikro pada BUMDes memiliki kendala dalam hal ini. Sebab pilihan badan hukum yakni Koperasi dan PT, tidak sesuai. Kedua badan hukum tersebut bersifat privat, sedang BUMDes bersifat publik. Jika tak berbadan hukum, tentu ijin operasional tak akan diterbitkan.

Perdebatan tentang badan hukum bagi BUMDes dan unit usaha nya masih sering didengar. Oleh karena nya, para pelaku BUMDes lebih memilih the show must go on. Mereka tak lagi terlalu menghiraukan soal badan hukum. Sedang jenis usaha pun lebih memilih pada sektor yang lebih produktif.

Bersaing dengan lembaga keuangan lain

Munculnya lembaga-lembaga keuangan yang baru adalah sinyal bagi lembaga keuangan yang sudah ada. Radar mereka akan terus mengawasi, dan memberikan peringatan tatkala sudah mulai mempengaruhi konsumen mereka. Insting bahaya dari para pesaing mesti segera disikapi. Analisis SWOT guna mengantisipasi. Dan mereka telah sigap melakukan itu.

Jika unit keuangan mikro BUMDes sudah mulai mengancam, lembaga keuangan yang sudah ada, akan bergerak. Persaingan bisnis murni akan dilakukan. Campur tangan pemerintah desa dalam melindungan keuangan mikro BUMDes, hanya sebatas wilayah kerja nya saja. Itu pun tak menjamin.

Tidak sedang mengecilkan semangat, namun rasa nya bertarung dengan para raksasa yang sudah berpengalaman, seakan musykil. Oleh karena nya, pertimbangkan lagi jika ingin membuka unit keuangan mikro. Kecuali Anda yakin, mampu bersaing dengan mereka dan memiliki varian produk pinjaman yang sesuai siklus keuangan masyarakat.

Salam.

Pengembangan wisata desa lebih menarik
Pengembangan wisata desa lebih menarik
Kalau sudah profesional seperti BKD, boleh lah.
Kalau sudah profesional seperti BKD, boleh lah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here