Menajamkan Rasa Dengan Festival Kopi

2
175
Briefing Malam

Bagian ke-2

 

Bisa dikatakan ini kali ketiga aku ke Sukamantri. Kali pertama memang hanya lewat dan sekedar shalat di salah satu masjid di Desa Sukamantri. Saat itu aku bersama rombongan Assosiasi UPK Kab. Ciamis dan Pangandaran sengaja mengantarkan Bu Emah, ketua UPK Kec. Panjalu. Waktu itu kami baru pulang dari acara Rakerda Assosiasi UPK Prov. Jawa Barat. Cerita tentang perjalanan melalui kecamatan Sukamantri sudah aku tulis dengan judul: Nice Trip to Majalengka and Ciamis, edisi ke-2.

Kedua kali aku diajak Kang Tarjo, Juniar, dan Kang Maman. Aku di minta ikut membantu mengisi kegiatan pelatihan TIK di aula kantor UPK PNPM MP Kec. Sukamantri. Padahal agenda ke Ciamis waktu itu tak ada. Abeh dan Kang Yoyon diutus Kang Tarjo mengambilku di Majalengka. Saat itu aku sedang diminta oleh teman-teman RBM Kab. Majalengka untuk mengisi acara RBM Ceria pada akhir tahun kemarin. Istilahnya, aku diculik… hahaha….

Meski sudah pernah ke sana, dalam perjalanan tak urung aku bingung juga. Pasalnya pada perjalanan pertama, aku berangkat dari arah berlawanan. Waktu itu pun sudah malam. Sedang pada perjalanan kedua, setelah aku konfirmasi ke Kang Tarjo, ternyata aku tidak melewati kecamatan Panjalu, tapi lewat kecamatan Panumbangan.

Oh. Pantesan.

Perjalanan dari Purwokerto ke Ciamis sepertinya tak ada sesuatu yang begitu menarik. Hanya tontonan anak-anak sekolah yang merayakan kelulusan. Kemacetan yang dibuat karenanya terjadi sejak di Rawalo hingga Jatilawang. Iring-iringan motor dengan seragam putih abu-abu yang sudah penuh dengan tanda tangan dan cat pada baju dan rambut, terlihat menyedihkan. Generasi muda ini ikut-ikutan melestarikan budaya yang tak jelas.

Apalagi saat berkonvoi, mereka tak menggunakan helm. Sebagai seorang kader yang mengajak orang untuk taat peraturan lalu lintas, aku miris. Konvoi panjang tanpa helm, selain berbahaya, juga merugikan orang lain. Mereka mengambil jalan milik orang umum. Ah, mungkin Pak Polisi tak kuasa menghentikan aksi mereka. Jika diingatkan, bukannya menurut, justru dikhawatirkan mereka malah nekat. Serba salah.

Konvoi Kelulusan
Konvoi Kelulusan

Apa yang salah dalam sistem pendidikan di negeri ini. Jika beralasan kurangnya dana, sudah tidak bisa dijadikan pembenaran. Alokasi 20% APBN kiranya lebih dari cukup. Guru, karyawan, dan peralatan belajar mengajar, seharusnya sudah memadai. Kurikulum pun sudah berkali-kali diperbarui. Atau kah benar pendapat sebagian orang bahwa sekarang guru hanya sekedar transfer pengetahuan belaka. Tidak lagi menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Sayang ya.

Kalau mengingat saat aku lulus SMA, kami tak merayakan seperti itu. Kesepakatan teman-teman waktu itu, atas dukungan dari pihak sekolah, mengumpulkan seragam kami untuk disumbangkan kepada yang tidak mampu. Pihak sekolah sengaja meliburkan kami sedang surat kelulusan sengaja di kirim via pos.

Bukan hanya itu. Kami pun menolak untuk melakukan upacara perpisahan. Bukan apa-apa, biaya yang harus dikeluarkan, sediki atau banyak, akan membebani orang tua kami. Termasuk pembuatan buku kenangan pun ditiadakan. Meski keputusan untuk meniadakan buku kenangan, sedikit kami sesalkan. Sulit mencari keberadaan teman-teman sekarang.

Paling tidak apa yang telah kami lakukan sudah sedikit berpikiran lebih maju. Kami tetap bangga.

Aku sempat terlelap dalam perjalanan. Sampai akhirnya kami shalat Jum’at di masjid yang tak jauh dari kantor kecamatan Lumbir. Pak Karjo dan Haryono sempat mengajak kami mampir. Tapi kami tolak. Perjalanan ke Ciamis masih jauh. Belum lagi dari kota Ciamis ke Sukamantri. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Mobil ELF yang kami tumpangi agak sedikit longgar. Pradna dan Krishna tak jadi bergabung. Keduanya ada keperluan lain. Sedang pulangnya nanti, penumpang bertambah. Kang Yosep dan teman-teman RTIK Cilacap bergabung bersama kami.

Untuk mendapatkan mobil ELF ini, perlu sedikit perjuangan. Pasalnya mobil ELF yang aku bayangkan, saat aku diminta mencarikan oleh Kang Budi, ternyata masih rusak. Butuh waktu sekitar 2-3 hari. Akhirnya Lik Rusdi, selaku sopir, berusaha mencarikan. Berkali-kali telpon ke rekan yang mempunyainya selalu terjawab tak ada. Maklum, sejak Kamis hingga Minggu adalah libur panjang. Banyak yang menyewa untuk bepergian. Untung saja ELF ini didapat setelah Lik Rusdi menelpon seorang temannya di Purbalingga. Alhamdulillah.

Perjalanan menuju Sukamantri melalui Panjalu membuat sopir harus ekstra waspada. Jalan sempit dengan tikungan tajam yang kadang ada di turunan dan atau tanjakan membutuhkan keahlian dalam mengemudi. Berpapasan dengan sesama kendaraan roda empat berarti harus berhenti untuk mengalah. Untung saja jalan itu sudah relatif mulus. Hanya di Desa Hujungtiwu hingga lokasi, jalan rusak parah.

Alhamdulillah kami sampai juga di lapangan Desa Sukamantri. Angin dingin langsung menyambut kami. Karena hari memang sudah sore, sekitar jam 16.30 WIB. Kang Tarjo dan Pak Nanang menemui kami. Tak ketinggalan Wa Aboer. Manusia hebat dari Majalengka ini tetap aktif menjadi andalan Kang Tarjo.

Mantap, Wa Aboer!

Sebelum mendapatkan tempat, kami dipersilakan menuju rumah singgah di dekat SDN 3 Sukamantri. Tempat itu sedianya akan digunakan untuk rombongan dari Purwakarta. Tapi menurut panitia, kedatangan mereka baru diperkirakan pada dini hari nanti. Sementara bisa digunakan untuk istirahat.

Kang Yosep sudah berada di Ciamis sejak Kamis. Dia naik kereta Pasundan dari Madiun sampai Ciamis kemudian menginap di markas Dedemit. Semangat banget nih orang. Demi ideologi orang desa ya, Kang.

Selepas maghrib, Kang Tarjo memimpin briefing guna persiapan kegiatan esok hari. Filosofi Festival Kopi sebagai ajang untuk olah rasa, rahsa, dan rumangsa, dia singgung. Menurutnya, kita mesti belajar olah rasa sebagai uji peka atas nikmat dari Sang Maha Kuasa. Belajar Olah Rahsa demi membangun kepekaan rasa dan emosi untuk arah kepekaan jiwa. Sedang belajar Olah Rumangsa akan memperkuat jati diri atas realita untuk daulat jiwa agar wisesa dan wiwaha. Kolaborasi dari ketiganya merupakan kesatuan Rasa-Rahsa-Rumangsa akan mendorong Cipta, Karsa, dan Karya yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Widih. Keren!

Suasana canda tawa saling melempar joke, sudah menjadi ciri khas. Kang Tarjo yang sedang serius menjelaskan teknis kegiatan esok pun sering menanggapi banyolan kami. Tak perlu tersinggung di sini. Saat-saat seperti ini, kami tak perlu duduk manis mendengarkan. Ada yang duduk, tengkurap, berbaring, atau sambil merokok pun tak masalah. Santai saja.

Saat itu kami diperkenalkan dengan Mas Danu dan kawan-kawan. Para mahasiswa UI ini bernama Tim Buka Peta. Mereka lah yang akan mengajari orang-orang desa dalam menerbangkan drone guna mendapatkan foto udara. Hasil foto-foto udara tersebut, akan digunakan sebagai pemetaan wilayah dan tata ruang desa.

Kepedulian mereka terhadap orang-orang desa, pantas diacungi jempol. Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta untuk mendampingi orang-orang desa menggunakan teknologi tinggi. Apalagi mereka sudah mempraktekkannya beberapa hari yang lalu bersama Soep di Desa Sidamulih. Memang belum sempurna. Tapi ini langkah maju. Harus tetap di dukung. Ah, sayangnya aku lupa minta narsis bareng. Lupa kalau narsis itu wajib… hihi….

Malam itu Kang Tarjo menjelaskan rentetan rencana kegiatan mulai dari pembukaan hingga masuk di kelas-kelas. Dia pun mengatakan kalau besok, akan ditampilkan kesenian khas Sukamantri, yakni Bebegig. Apa itu Bebegig? Tunggu ya.

Aku senang tidak mendapatkan tugas apa-apa. Menikmati berjalannya kegiatan festival akan mempermudah aku dalam belajar melalui pengamatan. Kalau ada kewajiban mengisi kelas, biasanya ada momen yang tertinggal. Biar pun Kang Tarjo menawarkan, aku tolak. Meski saat sesi dialog umum di panggung utama, dia sempat mengatakan kalau aku akan dijadikan moderator, akhirnya batal juga. Sepakat sama Kang Sani, lebih baik pakai orang lokal saja.

Briefing Malam
Briefing Malam

Kehadiran Pak Dian, salah seorang Kabid di BPMPD Kab. Ciamis, membuatku terkesan. Beliau mau datang malam-malam hanya untuk memastikan kesiapan acara. Padahal seorang pejabat seperti beliau cukup bertanya via telpon. Tapi itu tak berlaku. Beliau ingin memastikan persiapan kegiatan agar tidak mengecewakan pengunjung.

Rupanya Pak Dian masih ingat aku. Kami pertama bertemu di hotel Bidakara saat Rakornas kemarin. Setelah briefing selesai, beliau mengajakku berdiskusi soal kelanjutan program dan pendampingan dana desa.

Karena informasi terakhir aku tak begitu tahu, aku mengajak Kang Budi untuk bergabung. Tapi itu pun tidak cukup membantu. Penyusunan modul dimana Kang Budi sebagai salah satunya, ternyata bukan urusan pendampingan. Tapi urusan administrasi bagi perangkat desa. Diskusi pun berlanjut dengan Yossy soal drone. Sampai akhirnya esok hari aku tahu dari Yossy, Pak Dian akan mengusulkan agar drone itu di beli oleh Pemkab untuk dipinjam-pinjamkan bagi desa-desa yang membutuhkan.

Pak Dian (jaket hitam)
Pak Dian (jaket hitam)

Saat Mba Karni dan Chusnul sedang menggoreng mendoan, rupanya Pak Cecep membantu mereka. Pak Cecep yang saat kami berada di Jakarta harus pulang karena istrinya keguguran, tak merasa canggung membantu Mba Karni dan Chusnul. Tak tahu apa bentuk bantuannya di dapur. Yang jelas dia yang membawakan mendoan dan disajikan buat kami.

Bukan basa-basi saat aku menanyakan kesehatan istrinya. Alhamdulillah sudah baik. Katanya, proses pembersihan kandungan langsung hari itu juga. Yah, perasaan Pak Cecep waktu itu, mungkin sama dengan perasaanku saat istriku keguguran. Sedih. Bahkan saat itu aku sempat menangis. Biar pun janin dalam kandungan istri ku belum berumur 4 bulan, tapi kami tetap bersedih.

Bertemu kembali dengan Kang Soni membahagiakan juga. Biar pun ini kali kedua kami bertemu, pertalian hati karena sama-sama berjuang untuk desa, membuat kami merasa dekat. Kang Soni tadinya Pendamping Lokal (PL) di UPK PNPM MP Kec. Sukamantri. Alhamdulillah, dia sudah diterima menjadi perangkat desa. Sebagai perangkat desa, dia merasa terpanggil untuk ikut mensukseskan acara. Mantap, Kang!

Sebenarnya dia sudah menjadi perangkat desa saat pertama kami bertemu. Yakni saat aku membantu Dedemit mengisi acara di kantor UPK PNPM MP Kec. Sukamantri. Kang Soni menjadi operator, meski statusnya sudah bukan PL lagi. Keren kan?

Akhirnya kami memutuskan pindah rumah saat Wa Aboer dan Kang Soni mengatakan ada rumah yang siap ditempati. Ikut bersama kami, Kang Ayi. Ketua BKAD dari Garut ini datang sendirian. Dia ingin tahu kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan. Sayangnya aku lupa nama kecamatannya dan siapa yang mengundangnya ke sini. Tak apa lah.

Sesama Ketua BKAD, kami pun terlibat perbincangan. Soal manajemen organisasi UPK, aset, rencana ke depan, informasi pendampingan, dan lain-lain. Aku hanya menjawab sebisa ku. Sebab praktik-praktik yang dilakukan tak jauh berbeda. Aku hanya bercerita soal pengembangan usaha. Contoh peran BKAD pada komoditi kopi yang sedang dipromosikan melalui festival ini.

Menurutku, sangat strategi saat BKAD mampu menampung hasil produksi biji kopi agar harga tidak jatuh. Akan lebih bagus lagi jika BKAD bisa berperan dalam peningkatan kapasitas petani kopi dan memasarkan kopi-kopi yang sudah siap saji. Kang Ayi sepakat.

Masih banyak materi-materi lain sebenarnya. Tapi karena relatif sama, sepertinya tak perlu aku tuliskan di sini.

Malam itu begitu dingin. Teman-teman yang sudah memakai jaket, tetap menggunakan selimut yang sudah disediakan. Tak terkecuali aku. Hanya saja, malam itu aku tak bisa tidur lebih awal. Aku menemani Wa Aboer menunggu tamu-tamu. Dia diberi tugas menunggu Mba Grace dan rombongan IPPMI, kemudian Mas Sani. Hanya tamu dari Purwakarta yang sepertinya luput dari penjemputannya.

Saat Wa Aboer mulai memejamkan mata sekitar pukul 01.00, aku pun demikian. Lik Rusdi mungkin sudah terlelap didalam mobilnya. Dia memilih tidur di sana. Lebih hangat katanya.

Tugas kita ada dua: melakukan hal-hal yang benar dan menikmati hidup.

 

Menikmati Hidup
Menikmati Hidup

 

2 KOMENTAR

  1. ralat dikit mas, aku bukan pns, aku cuman perangkat desa sebagai Kaur Keuangan Desa Sukamantri. matur nuwun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here