Menajamkan Rasa Dengan Festival Kopi

0
202
Saudara kembar... xixixi....

Bagian ke-3

 

Soal kesenian Bebegig sudah aku dengar sebelumnya. Tapi soal penampilan baru kali ini aku melihat. Soal Bebegig semalam juga sudah di singgung oleh Kang Tarjo. Bebegig memang direncanakan untuk tampil sebagai upacara penyambutan kepada para tamu. Menurut warga, kesenian ini memang hanya ada di Sukamantri.

Konon ceritanya, Bebegig diciptakan oleh Prabu Sampulur. Dia penguasa di daerah Sukamantri yang bernama Tawang Gantungan. Untuk menjaga daerah tersebut dari orang yang punya niat jahat, dibuatlah topeng-topeng dari kulit kayu yang menyerupai wajah yang menyeramkan. Rambutnya terbuat dari ijuk kawung (Aren) yang terurai panjang ke bawah. Dilengkapi atribut mahkota dari kembang Bubuay dan daun Waregu yang tersusun rapi diatas kepala topeng, Dihiasi kembang hahapaan dan daun pipicisan. Atribut tersebut diambil dari tanaman liar yang tumbuh subur di daerah Tawang Gantungan. Sedang pada perut digantung lonceng sapi yang diletakkan di belakang.

Topeng-topeng kulit kayu yang dibuat oleh Prabu Sampulur dipasang di pohon-pohon besar yang ada di sekitar Tawang Gantungan. Konon, karena kesaktiannya bila ada orang yang berniat jahat melihat topeng tersebut seolah-olah melihat makhluk tinggi besar menyeramkan.

Kala itu, kehidupan di tempat tersebut hanya bertani ala kadarnya. Bisa saja mereka berburu hewan yang kiranya bisa dimakan. Apa yang dilakukan masih sebatas untuk hidup. Mungkin masih hidup untuk makan, belum berpikir makan untuk hidup, karena kondisi yang belum memungkinan. Atau malah justru saat itu manusia sudah lebih memaknai makan untuk hidup agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

Salah satu pendatang yang tak jelas darimana berasal, yakni Sanca Ronggeng selalu menari-nari kegirangan bila mendapatkan hewan buruan dan diikuti oleh yang lain sebagai ungkapan rasa gembira. Karena keseringan melihat gerakan Sanca Ronggeng menari itu, Prabu Sampulur teringat topeng yang dipasang di pohon. Topeng dan atribut Bebegig itu kemudian dipakaikan ke Sanca Ronggeng saat menari. Sejak itu, setiap mendapatkan hasil buruan mereka selalu menari memadukan jurus-jurus bela diri dan tarian sambil memakai topeng.

Dalam versi lain yang agak mirip, Bebegig sengaja diciptakan untuk mengusir para pendatang di Sukamantri yang berniat jahat. Dulu Sukamantri merupakan daerah bebas dari kekuasaan manapun. Sukamantri adalah daerah perbatasan dari tiga kerajaan. Yakni kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Cirebon, dan Kerajaan Panjalu, sedang Sukamantri merupakan tempat pelarian dari kekuatan politik yang kalah di tiga kerajaan tersebut. Versi mana yang benar, aku tak tahu.

Bebegig dan Pawang
Bebegig dan Pawang

Pertunjukan Bebegig menarik perhatian para tamu. Mereka yang semula duduk di tenda utama, keluar. Bergabung bersama penonton sembari memotret Bebegig. Tak sedikit yang ikut berjoget mengikuti irama pengiring Bebegig. Terlihat ada dua orang turis yang terus saja memotret Bebegig yang sedang menari. Aku lihat drone pun diterbangkan untuk mengambil gambar Bebegig dari atas.

Awalnya para penari Bebegig berjalan sambil menari dalam barisan yang rapi. Ada 20 orang kalau tak salah, sudah termasuk penari dari anak-anak kecil. Setelah berjalan menuju area yang disediakan, tetabuhan mulai kencang. Para penari Bebegig pun menari semaunya, keluar dari barisan dan berjoget tak beraturan. Suara lonceng sapi berbaur dengan iringan musik. Tadinya aku kira mereka akan menari sampai lupa diri seperti Ebeg. Ternyata tidak. Mereka menari seperti layaknya orang mabuk, tapi masih terkendali kesadarannya.

Betapa capeknya mereka. Topeng Bebegig yang dipakai, beratnya saja bisa mencapai 30 kilogram. Belum lagi dedaunan yang banyak itu. Bergoyang berjoget mengikuti irama dengan rancak pasti lelah. Padahal setelah itu, mereka tak lantas beristirahat. Setelah iringan musik berhenti, banyak penonton yang narsis bareng Bebegig. Tak terkecuali aku. Ini pertunjukan langka. Kapan lagi bisa begini… hihi….

Saudara kembar... xixixi....
Saudara kembar… xixixi….

Pertunjukan Bebegig ini digelar setelah upacara pembukaan festival. Sedang acara pembukaan sendiri, aku tak menyimak. Aku malah asyik ngobrol bareng Mas Sani. Lagi-lagi topiknya soal kerjasama desa. Tulisan-tulisanku di blog, dia tanggapi. Ada beberapa yang dia sepakati, ada juga yang memang perlu revisi. Itu lah manfaat menulis.

Bagiku menulis bukan untuk mencari sesuatu yang wah. Akan tetapi dengan menulis, orang jadi tahu apa yang ada dalam pikiranku. Jika itu benar dan bermanfaat bagi orang lain, Alhamdulillah. Tapi jika memang perlu diperbaiki, orang akan tahu pada sisi mana mereka akan mengkritisi. Ini akan memperkaya khasanah pengetahuanku.

Seperti komentar Mas Sani pada postinganku yang berjudul: Membangun Masyarakat Berbasis Kawasan, aku sepakat bahwa sebenarnya masyarakat sudah melakukan kerjasama antar desa. Baik itu tertulis maupun tidak. Kerjasama antar desa itu bisa soal urusan air, ekonomi, jalan, atau lainnya. Dalam urusan itu, dulu, tak diharuskan untuk dicatatkan bentuk perjanjiannya. Yang paling penting adalah esensi dari kerjasama itu, gotong royong dan saling menguntungkan.

Tanpa kesepakatan secara tertulis antara masing-masing Pemdes, masyarakat dari Desa Mandirancan, Papringan, Binangun, pergi ke pasar Desa Patikraja untuk berjualan. Hubungan ini sudah berjalan puluhan tahun lalu. Mereka saling bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Jika terjadi masalah, sering diselesaikan sendiri oleh mereka. Yang culas, pasti dikenai sanksi lokal. Bisa berupa teguran, pengucilan, atau larangan untuk berjualan di sana lagi.

Istilah BKAD yang digunakan pun sebenarnya bisa berupa wujud organisasi atau tidak. Misalnya dalam kerjasama pembuatan jalan antara dua desa. Jika cukup dibentuk tim untuk mengurusi itu, dan tim tersebut bisa menyelesaikan pekerjaan pembuatan jalan dalam waktu kurang dari satu tahun, sejatinya tim itu pun bisa disebut BKAD. Terlepas apakah tim itu bernama BKAD atau Panitia saja. Maka menurut Mas Sani, BKAD itu tidak harus berbentuk organisasi. Yang penting didasarkan atas Perdes Kerjasama Desa di kedua desa tersebut.

Persoalan kerjasama antar desa sebenarnya muncul karena adanya aset eks program. Sedang sepakat tidaknya desa-desa untuk bekerjasama, tergantung kesepakatan para Kades. Apakah kegiatan-kegiatan yang ada akan dikerjasamakan atau tidak. Jika tidak, maka tak ada kerjasama antar desa. Sedang wadah yang dibentuk oleh kesepakatan para Kepala Desa, yang diberi nama BKAD, harus bertanggung jawab kepada Kepala Desa. Maka sekali lagi ditegaskan bahwa BKAD adalah bawahan para Kepala Desa yang bekerjasama.

Persoalan lain muncul saat terjadinya kesepakatan kerjasama antara desa yang berada di luar kawasan yang sama. Misalnya kerjasama bidang pemanfaatan TIK antara Desa Melung Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas dengan Desa Mandalamekar Kec. Jatiwaras Kab. Tasikmalaya. Bagaimana cara kerjasama ini, padahal keduanya sudah lintas kabupaten dan provinsi. Bukankah kerjasama kedua desa tersebut sudah bekerjasama sejak dulu. Ini menjadi PR. Apakah perlu keterlibatan Pemda masing-masing atau tidak?

Diskusi seperti ini memang menarik. Terkadang kita menginginkan sebuah aturan baku untuk mempermudah melakukan sesuatu. Padahal bisa jadi kemudahan yang kita dapatkan justru membuat sulit bagi yang lain. Tidak selalu aturan itu akan mempermudah atau mempersulit. Mungkin memang perlu ada sisi-sisi yang sengaja tidak diatur secara jelas, agar kita bisa berkreasi.

Sesi pertama diskusi umum di tenda utama. Ada lima pemateri, yakni dari Asisten Menko Perekonomian, Dinas Kehutanan Kab. Ciamis, Disperindag Kab. Ciamis, IPPMI, dan Gedhe Foundation. Kecuali Mba Grace dari IPPMI dan Yossy dari Gedhe Foundation, aku lupa nama-nama mereka. Termasuk apa saja yang mereka sampaikan pun tak begitu aku ingat. Sedikit dari Asisten Menko Perekonomian menyampaikan bahwa tugas Menko adalah soal kebijakan. Tapi urusan penganggaran, hanya dilakukan di tingkat mentri dibawahnya.

Penjelasan yang lain pun tak aku ingat. Meski aku duduk di barisan depan, pikiranku justru melayang ke Kebasen. Andai di sana diadakan festival serupa, mungkin bisa. Hanya saja memang perlu pendekatan intens dengan berbagai pihak, terutama masyarakat. Ketiadaan rasa memiliki masyarakat atas sebuah kegiatan bisa dipastikan gagal. Oleh karenanya, strategi pertama yang ditempuh jika ingin mengadakan sebuah acara, perlu pendekatan-pendekatan terlebih dahulu.

Untuk acara seperti ini saja, Kang Tarjo dan teman-teman di Ciamis sudah mulai bergerak sejak awal tahun ini. Mereka melakukan lobi untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Masyarakat, aparat birokrasi dari tingkat desa hingga kementrian, dan para pihak baik sesama pegiat pemberdayaan maupun pihak swasta. Bisa dibayangkan, untuk menggelar acara selama 2 hari saja, memerlukan persiapan berbulan-bulan. Hanya orang-orang tangguh yang mampu melakukannya.

Jika kegiatan festival semacam ini digelar di Kebasen, maka PR ku masih banyak. Mempersiapkan sumber daya manusia untuk menjadi panitia sudah pasti. Teman-teman harus dipahamkan akan maksud, tujuan, dan manfaat dari kegiatan semacam ini. Belum lagi soal dana. Jika semua dibebankan kepada panitia nantinya, pasti sangat berat. Perkiraanku, untuk melaksanakan kegiatan semacam ini perlu dana ratusan juta. Bagaimana bisa meminimalkan pengeluarannya, hanya orang-orang yang paham akan semangat pemberdayaan yang bisa melakukannya. Sepi ing pamrih, ramai ing gawe.

Aku duduk bersebelahan dengan Bu Emah. Istri dari mantan Kuwu Panjalu yang sekarang menjadi Ketua UPK PNPM MP Kec. Panjalu ini masih aktif meski sudah sepuh. Mirip seperti Bu Robingah kalau di Kebasen. Salut akan semangatnya membuat aku ingin berdiskusi bersamanya, meski ini pertemuan yang ke sekian kalinya. Duduk bersamanya ini membawa berkah. Hanya aku dan Yossy yang nantinya dia beri oleh-oleh. Terima kasih, Bu Emah.

Bersama Bu Emah
Bersama Bu Emah

Yang aku ingat dari presentasi Mba Grace adalah soal pendampingan. Termasuk bagaimana seorang Menko harus mengkoordinasikan para menteri untuk bisa duduk bersama membahas sebuah permasalahan.

Mba Grace mencontohkan soal urusan desa. Urusan desa tidak bisa ditangani oleh Menteri Desa sendiri. Paling tidak selain Menteri Desa, urusan desa harus melibatkan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan. Di sini lah peran para Menko itu. Padahal kita tahu, ketiga menteri itu berada di bawah koordinator menko yang berbeda. Maka mau tidak mau, antar Menko pun harus berkoordinasi.

Nah. Cocok, Mba. Jangan bikin pusing pala berbi ya, eh.

Setelah itu, Yossy mulai memainkan peranannya. Sayang penampilannya sedikit kurang menarik. Rambutnya yang sudah mulai panjang membuatnya terlihat kucel. Tapi dia tetap percaya diri menceritakan soal pemanfaatan teknologi. Dia sengaja pamer drone di depan. Ternyata skenario pancingannya berhasil. Camat Panjalu dan Cijeunjing menantangnya untuk menularkan ilmu mengoperasikan drone di wilayahnya masing-masing. Dasar provokator, di tantang malah cengar-cengir dan menyatakan siap kapan saja dibutuhkan. Kalau boleh berpesan, rambutnya di cukur, Bro. Ora kewes di deleng… hihi….

Yossy in action
Yossy in action

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here