Menajamkan Rasa Dengan Festival Kopi

0
160
Tarung kopi bersama Master Chef Yossy Suparyo

Bagian ke-5

 

Pertunjukan Dangiang Ki Sunda membuatku penasaran. Bahasa pengantar yang masih belum bisa aku pahami di tambah pertunjukan ini pertama kali aku tonton, membuatku tak tahu persis apa maksud dari semua fragmen yang ditampilkan. Kecuali bobodoran yang bisa membuatku ikut tergelak bersama para penonton. Kang Ohang dan dua pemain yang lain bisa membuat penonton tertawa karena tingkah, intonasi percakapan, dan kalimat-kalimat yang kadang sedikit jorok.

Rasa penasaran akan pertunjukan ini aku tebus dengan browsing di internet. Ada tiga berita yang aku baca. Pertunjukan Dangiang Ki Sunda ternyata sudah berkeliling, bahkan pernah tampil di daerah Dayeuhluhur, Cilacap. Safari kesenian Sunda ini bertujuan mengingatkan kembali dan melestarikannya. Dari ketiga berita itu juga aku tahu kebiasaan Kang Dedi menggendong anak laki-laki dan memberi modal bagi ibu-ibu yang sudah tua.

Berita-berita tadi aku jadikan bahan tulisan yang karena ketertarikanku, sengaja aku tampilkan pada bagian ke-1 tulisan ini. Kalau ditunda bisa lupa. Sebab pertunjukan seperti itu terlalu sayang kalau tidak dituliskan. Apalagi respon penonton setelah acara berlangsung, membuatku takjub. Mereka berbondong-bondong rela mengantri hanya ingin bersalaman dengan Kang Dedi. Tidak sedikit yang meminta foto bersama, termasuk aku.

Meski sudah diperkenalkan sebagai perwakilan BKAD dari Jawa Tengah, aku tak yakin Kang Dedi ingat. Bukan karena apa, karena saking banyaknya orang yang bersalaman dan meminta foto bareng, mungkin. Yang jelas aku merasa, para penonton begitu mencintai Kang Dedi. Biarpun beliau bukan Bupati setempat.

Pernah aku dengar kalimat dari teman, saat mereka memintamu berfoto bareng, berarti dia menganggapmu sebagai orang penting baginya. Kalimat itu aku tambahkan, jika aku ingin dianggap penting bagi mereka, maka mereka harus diperlakukan sebagai orang penting pula. Salah satunya ya, mengajak mereka berfoto bareng… hihi…. Kalau nggak lupa.

Kang Dedi dan kerumunan penonton
Kang Dedi diantara kerumunan penonton

Malam itu aku tak begadang seperti kemarin malam. Setelah merasa cukup browsing mencari informasi tentang Dangiang Ki Sunda, aku paksakan mata ini terpejam. Esok hari aku berniat berkunjung ke rumah Pak Agus, Ketua BKAD Kec. Sukamantri. Tadi siang aku sudah berjanji ke sana di sela-sela acara. Tapi tak bisa. Besok harus bisa, karena sore atau malamnya kami sudah pulang.

Dinginnya Sukamantri membuatku enggan mandi awal di pagi hari. Sambil membiarkan teman-teman mandi, aku ngobrol bareng Yossy dan Mas Sani. Topik kali ini soal keinginanku mengadakan kegiatan serupa di kecamatan Kebasen. Aku ingin mengangkat potensi lokal di sini agar bisa di kenal khalayak ramai. Potensi terbesar yang aku lihat adalah gula jawa. Setahuku, suplai terbesar gula jawa di Jakarta berasal dari Banyumas. Sedang kecamatan Kebasen menjadi salah satu titik suplai disamping kecamatan Cilongok, Somagede, Sumpiuh, dan Pekuncen.

Sayangnya suplai gula jawa yang sekarang marak berbentuk Kristal, produk dari Desa Kalisalak Kecamatan Kebasen, sudah ternoda. Saat datang tim survei melihat keaslian produk gula Kristal organik, ternyata ada seorang penderes yang membawa nira dengan kaleng bekas cat, bukan pongkor. Karena itu, produk gula Kristal dari Desa Kalisalak sekarang tertolak jika dikirim ke Jakarta. Hanya karena itu.

Keinginanku mengadakan festival bertujuan untuk memperbaiki nama baik produk gula Kristal itu. Sebab aku tahu, meski berlabel Desa Kalisalak, suplai nira dan gula jawa yang dijadikan gula Kristal, juga berasal dari desa-desa lain di kecamatan Kebasen. Saat produk itu tak bisa dijual ke Jakarta, berarti penderes di desa lain pun terkena imbasnya.

Apa yang aku sampaikan ke Mas Sani mendapat respon yang kurang. Dia katakan kalau bermaksud mengadakan festival untuk memperbaiki nama baik, malah berat. Sesuatu yang sudah telanjur buruk, sulit memperbaikinya. Lebih baik mengadakan festival untuk tujuan lain. Akan tetapi kendala lain yang jadi masalah ialah tentang kedekatannku dengan kelompok-kelompok penderes. Aku tidak terlalu dekat dengan mereka.

Kedekatan dengan masyarakat yang produknya akan difestivalkan menjadi penting. Kata Mas Sani, jika mereka merasa memiliki festival yang akan diselenggarakan, maka pekerjaan akan menjadi lebih ringan, begitu pula sebaliknya. Sebab saat mereka merasa memilikinya, secara otomatis mereka akan bergotong royong mensukseskan acara itu. Entah dengan cara menyumbang makanan, mengikuti acara, atau yang lainnya.

Ilmu lain yang aku dapatkan dari pembicaraan ini adalah soal kontinuitas program paska festival. Kata Mas Sani, jika festival yang diselenggarakan itu bermula dari mengangkat produk lokal yang masih baru, maka harus ada tindak lanjutnya. Jangan hanya mengadakan festival, kemudian ditinggalkan begitu saja, kasihan masyarakat. Program tindak lanjut ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa tujuan festival bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Gitu ya?

Memang, di setiap even yang aku ikuti, selalu saja ada ilmu-ilmu baru yang didapatkan. Entah dari hasil obrolan seperti ini, melihat serangkaian kegiatan, atau mendengar paparan materi dari narasumber. Biarpun terkadang aku di undang sebagai narasumber, mendengarkan paparan dari narasumber lain, menjadi kesempatanku untuk belajar. Belajar dan menjadi seorang pembelajar menjadikan kita lebih dihargai orang lain, dan lebih bisa menundukkan kepala, bahwa sejatinya kita ini orang bodoh. Terlalu banyak ilmu di luar sana yang tak kita kuasai.

Saat aku sampai di tenda utama, rupanya kegiatan baru dimulai. Ada pak Pras, seorang pendamping petani kopi, yang sedang berorasi. Yah, mau dikatakan presentasi, tapi nadanya tinggi, sangat bersemangat. Yang aku dengar, dia menyayangkan jika GDM yang selama ini bergerak di dunia maya dengan sosial media sebagai salah satu medianya, tidak bisa membantu petani kopi. Promosi via internet harus bisa membantu petani kopi dalam hal pemasaran.

Aku pun tersenyum dan berjalan mendekati Soep. Dia pasti nggak terima jika ada orang yang mengkritisi atau menjelek-jelekkan GDM, padahal mereka nggak tahu apa yang sudah dilakukan oleh jaringan GDM. Mimiknya jelek. Dia pasti ikut berteriak apapun meski sambil senyum-senyum nggak ikhlas… haha….

Stan tempat tarung kopi menarik perhatianku. Yah, bisa ikut ngantri bikin kopi. Sejak kemarin sampai tadi pagi, kopi yang aku minum masih versi sachet.

Pagi hingga siang hari nanti, teman-teman dari Gedhe Foundation bertugas mengisi acara. Ada soal penulisan berita dimana Mba Karni akan memandunya, ada soal SiKomar (Sistem Komunikasi Antar Rakyat), drone desa, dan Desa OS. Sedang kegiatan dari panitia setempat adalah tarung kopi. Bagaimana membandingkan kopi dari 11 indikator. Yossy ikut ambil bagian dalam tarung kopi ini.

Tarung kopi bersama Master Chef Yossy Suparyo
Master Chef Coffie, Yossy Suparyo

Aku memang tidak ada niat untuk bergabung dalam salah satu acara. Niat ku memang ingin berkunjung ke rumah Pak Agus. Sebab kata Pak Nanang, selaku Ketua Panitia, acara hanya diagendakan sampai sekitar jam 11 siang saja. Tak enak sama Pak Agus. Lagi pula aku memang ingin silaturahmi ke sana. Ini kali ketiga aku bertemu dengannya, kesempatan baik untuk sekedar berkunjung. Besok-besok belum tentu bisa.

Tapi aku tertahan sebentar karena ada Kang Irman. Dia datang bersama Kang Solihin. Kang Solihin sebenarnya kemarin pun datang bersama Kang Yana, Kepala Desa Mandalamekar yang terkenal itu. Tapi kayaknya tak menginap di sini.

Bagi ku, Kang Solihin Nurodin, menjadi salah satu mantan FK yang keren. Saat pertama kali bertemu di rakor IPPMI, dia sampaikan pandangannya yang visioner. Dia katakan bahwa UPK seharusnya tidak terjebak pada urusan SPP atau UEP saja. Lihat saja di PTO lama maupun baru, tugas UPK bukan cuma itu saja. Tugas pokok UPK adalah pemberdayaan masyarakat. Cocok, Akang!

Akan halnya dengan Kang Irman, sebagai seorang teman dan aku pun menganggapnya sebagai salah seorang guruku, aku merasa perlu mendekatinya. Lama juga tak ngobrol-ngobrol. Beberapa waktu lalu, saat aku menulis cerita perjalananku ke Solo, salah seorang yang aku kritik adalah dirinya. Bukan apa-apa, Kang Irman. Apa-apa yang aku tulis dalam mengkritik dirimu, tak lebih karena aku mencintaimu… cieh….

Sahabat yang baik adalah mereka yang mau memberimu kritikan saat kamu dianggap bersalah. Bukan mereka yang terus memujimu. Ada kalanya mendukung, ada saatnya mengkritisi. Iya kan?

Lagi-lagi obrolan kami soal BKAD. Sebab ada Pak Nanang yang juga Ketua Forum BKAD Prov. Jawa Barat. Aku sepakat dengan Kang Irman bahwa teman-teman BKAD tak boleh mengorganisir diri menjadi sebuah kekuatan. Apalagi jika nanti tumbuh menjadi kekuatan politik. Artinya bahwa teman-teman BKAD dalam berorganisasi cukup sebagai ajang untuk berbagi dan meningkatkan kapasitas saja. Sebab kata Kang Irman, belum tentu dalam Peraturan Bersama Kepala Desa sebagai dasar dibentuknya BKAD, kerjasama yang berskala nasional, tertuang didalamnya. Padahal BKAD hanya bertugas melaksanakan amanah dalam Peraturan Bersama Kepala Desa yang dibuat.

Saat seorang ketua BKAD terpilih menjadi ketua forum tingkat nasional sekalipun, saat para kepala desa di wilayahnya yang menjadikan dia ketua, menginginkannya mundur, maka otomatis dia harus mundur dari kepengurusan organisasi BKAD. Tidak lantas menjadikannya legitimasi bahwa dia seorang ketua atau pengurus organisasi BKAD sehingga tak bisa dimundurkan oleh para kepala desa. Karena sejatinya, BKAD adalah bawahan para kepala desa.

Seperti yang aku tuliskan dalam tulisan berjudul: Membangun Masyarakat Berbasis Kawasan, yang disebut BKAD tidak hanya lembaga BKAD yang sekarang ada. Sebutan BKAD juga bisa disematkan bagi kepengurusan yang dibentuk oleh dua atau lebih kepala desa yang saling bekerjasama. Oleh karenanya, jika nanti muncul ada klaim bahwa BKAD adalah lembaga warisan program, maka klaim itu harus di revisi.

Aku mengajak Juniar dan Kang Solihin saat berkunjung ke rumah Pak Agus. Rumahnya tak terlalu jauh dari lokasi kegiatan. Saat ditawari minum, langsung aku minta kopi lokal Sukamantri. Apalagi kata Pak Agus, dia menjadi salah satu Pembina dari ketiga kelompok petani kopi yang ada di Sukamantri. Mantap!

Posisi BKAD yang merangkap menjadi pembina petani kopi adalah posisi strategis. Dia bisa berkontribusi dalam pengembangan petani kopi. Kesempatan untuk mengembangkan usaha dari unit-unit kerja, bisa difokuskan di sana. BKAD bisa membantu para petani kopi dalam pemasaran dan pembagian distrbusi permintaan dari luar agar harga tak jatuh. Atas kesepakatan dalam MAD, bisa saja BKAD membuka lumbung penyimpanan biji kopi sebelum dijual ke pasaran.

Rupanya pemikiranku sama dengannya. Pak Agus sudah berniat seperti itu. Dia akan manfaatkan posisinya sebagai BKAD untuk melakukan itu. Memang kerjasama antar desa tidak melulu mengurusi SPP dan atau UEP yang selama ini dikelola oleh UPK. Kerjasama bisa dalam bidang apa saja, dan BKAD bisa menjadi inisiator-nya.

Membangun relasi sosial menjadi salah satu tugas pimpinan. Bersinergi, berkolaborasi, berbagi pengalaman, menjadi salah satunya. Maka seorang pimpinan wajib hukumnya melakukan itu. Bukan sekedar tunjuk tangan untuk memerintahkan ini dan itu.

Pilot drone bersertifikat
Pilot drone bersertifikat
Uji kompetensi pilot drone
Uji kompetensi pilot drone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here