Menajamkan Rasa Dengan Festival Kopi

2
185
Abah Yoyo lagi beraksi

Bagian ke-6

 

Kang Tarjo benar-benar memenuhi permintaakku. Kemarin malam, saat pertama kali kami datang, aku minta diberi oleh-oleh berupa bibit kopi. Aku minta 6 batang bibit pohon. Malah dia kasih 9 bibit jenis robusta. Alasannya bibit kopi arabika tak akan berhasil didaerahku. Syarat tumbuh kopi jenis arabika memang harus diatas 800 mdpl, karena membutuhkan cuaca yang lebih dingin, berkisar antara 16-20 derajat celcius.

Kebanyakan konsumen lebih suka kopi Arabica karena memiliki variasi rasa yang lebih beragam, dari rasa manis dan lembut hingga rasa kuat dan tajam. Sebelum di sangrai, aromanya seperti blueberry, setelah disangrai, biji kopi Arabica beraroma buah-buahan dan manis, sedangkan Robusta memiliki variasi rasa netral sampai tajam dan sering dianggap memiliki rasa seperti gandum. Meski demikian, kopi arabika peka terhadap penyakit karat daun Hemileia vastatrix (HV), terutama bila ditanam di daerah dengan elevasi kurang dari 700 mdpl.

Sedang kopi Robusta tumbuh baik di ketinggian 400-700 m dpl, temperatur 21-24 derajat celcius. Kopi robusta memiliki rasa yang lebih seperti cokelat, memiliki tekstur yang lebih kasar dari arabika. Kopi robusta lebih rentan diserang serangga, tapi jumlah biji kopi yang dihasilkan lebih tinggi. Kalau kopi Arabika proses berbunga hingga berbuah hanya butuh waktu sekitar 9 bulan, kopi robusta butuh waktu 10-11 bulan.

Alhamdulillah, ini bisa jadi tambahan oleh-oleh.

Para petani kopi yang menggelar stan tak mengira kalau dagangannya akan diserbu peserta. Teman-teman dari berbagai daerah memborong dagangan yang mereka jajakan. Alhasil pada hari kedua ini stan tutup. Stok produk termasuk kemasan yang bagus sudah habis. Untung saja masih ada yang menyisakan biji kopi kering di rumah. Biji kopi kering itu di sangrai di lokasi, kemudian digiling dan dikemas dengan plastik transparan biasa. Hanya diberi label. Akhirnya kebagian juga nih.

Saat aku kembali dari rumah Pak Agus, acara tarung kopi masih berlangsung. Para peserta yang tertantang untuk menjadi penilai. Aku tak tertarik ikut. Tahu diri. Tak bisa menilai, hanya bisa mencicipi. Sering merasa tak cukup sekali dalam sehari… hehe….

Ikut bahagia mendengar kabar kalau Abah Yoyo, salah seorang petani di sana mendapat pesanan sebanyak 100 bungkus tiap hari. Dia harus mengirim kopi bubuk yang sudah di kemas dengan berat 250 gram ke Jakarta. Soal siapa yang memberinya order, dan berapa harganya, aku tak bertanya lebih lanjut. Kabar gembira ini cukup membuatku senang. Sebab salah satu petani yang kemarin berharap adanya hasil positif dari festival ini, pada kelas Tata Kelola Hutan, adalah Abah Yoyo ini. Seorang tua renta yang masih terlihat perkasa ini mendapatkan berkah. Semoga pesanan ini lancar dan berimbas kepada sesama petani yang lain. Sebab Abah Yoyo mengaku tak mungkin bisa memenuhi permintaan itu sendirian. Akan dibagi dengan anggota kelompok yang lain, katanya. Selamat ya, Abah.

Abah Yoyo lagi beraksi
Abah Yoyo lagi beraksi

Kebahagiaan seorang petani seperti Abah Yoyo, tak lain hanya apa yang ia usahakan dihargai oleh orang lain. Bentuk penghargaan yang nyata adalah membeli produk-produk yang mereka hasilkan. Meski bantuan lain berupa pemberian bibit unggul, pupuk, dan pestisida akan mereka terima, tapi kalau hasilnya tak laku, juga sia-sia. Membeli dan mengkonsumsi hasil pertanian lokal menjadi wujud nyata cinta tanah air. Kok bisa?

Bayangkan saja, andai kita lebih memilih produk-produk impor, siapa yang akan mengkonsumsi produk lokal. Sampai sekarang kita harus akui, bahwa produk-produk dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk luar negeri. Jika kita enggan mengkonsumsi produk lokal, apa yang akan terjadi. Produk lokal akan tersingkir dan produsennya lambat laun akan bangkrut. Permasalahan-permasalahan sosial akan muncul dan membebani negara ini.

Kampanye cinta produk lokal tidak cukup digembar-gemborkan melalui layar kaca. Tindakan nyata sangat diperlukan. Yakni membeli dan mengkonsumsi produk-produk yang mereka hasilkan. Singkirkan dulu ego dan gengsi. Berdayakan mereka dengan cara memberi mereka kesempatan untuk berkembang. Kalau dalam bahasa Islam, berjuang di jalan Allah (Jihad) itu melalui harta dan tenaga (bi amwalihim wa anfusihim). Mari kita belanjakan harta yang kita miliki untuk berjihad memerangi kemiskinan, dengan menjadi konsumen masyarakat miskin.

Jangan pernah mengaku sebagai seorang pemberdaya masyarakat jika enggan membeli produk mereka.

Aku ingat konsep 90 – 10 persen yang dituliskan oleh Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution. Konsep itu sudah sedikit aku tulis ulang. Konsep itu intinya bahwa uang sebanyak 90% di dunia, dikuasai oleh 10% orang di dunia ini. Jika uang itu dikumpulkan dan dibagi rata ke seluruh penduduk dunia, komposisinya akan kembali semula.

Mengapa demikian?

Jawabannya sudah jelas. Kebanyakan kita masih gemar membelanjakan uang kepada pemilik modal besar yang jumlahnya cuma 10% dari penduduk dunia itu. Kenyataan ini didasari atas belanja produk dan atau jasa dengan alasan kualitas, gengsi, dan alasan kekinian. Apalagi dengan alasan bahwa produk-produk lokal belum memenuhi standar konsumsi bagi kita. Nah.

Jika produk-produk mereka masih kalah dari produk lain, kita mesti berpikir dan bertindak bagaimana caranya membantu mereka meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Seorang pemberdaya selalu kelebihan akal, seorang pecundang selalu kelebihan alasan. Mau pilih mana?

Sayangnya aku tak menyalin hasil tarung kopi tersebut. Tapi dari hasil penilaian keseluruhan, kopi Jember menjadi juaranya, disusul oleh kopi Tambora, kopi Sukamantri dan kopi Cibereum/Sukamantri. Selamat… hihi….

Sebelum program berakhir, aku terkesan dengan pola pemberdayaan yang dilakukan oleh Kang Tarjo dan kawan-kawan terhadap UPK-nya. Dia selalu melibatkan teman-teman UPK dalam pemberdayaan yang tak hanya di bidang keuangan saja, meski jabatan Kang Tarjo waktu itu adalah Fasilitator Keuangan (Faskeu). Teman-teman UPK disadarkan bahwa surplus yang didapat dari usaha UEP dan atau SPP hanya lah alat untuk melakukan pemberdayaan lain. Hasilnya mantap. Pola pikir teman-teman disana terbuka. Tidak terpola menjadi seorang pegawai, tapi benar-benar tenaga pemberdaya masyarakat.

Selain mengurusi UPK, sebagian mereka juga tergabung dalam Komunitas Dedemit (Desa-desa Melek IT). Keberadaan Dedemit sudah diakui oleh Pemkab Ciamis. Beberapa waktu yang lalu, dalam kegiatan Gubernur Saba Desa di Pangandaran. Mereka mendapat penghargaan sebagai sebagai komunitas mandiri Relawan TIK tingkat Provinsi Jawa Barat dalam ajang Anugrah Jabar IT Award tahun 2014. Keren!

Pola pemberdayaan yang dilakukan oleh para fasilitator memang sedikit banyak akan mempengaruhi kerja teman-teman UPK. Jika fasilitator yang ditugaskan bermental pemberdaya, maka teman-teman UPK pun akan berperilaku seperti pemberdaya masyarakat. Tapi jika fasilitator yang ditugaskan bekerja layaknya birokrat, UPK pun tak jauh-jauh dari itu. Ibarat kata, buah yang dihasilkan tak jauh dari benih yang ditanamkan.

Keterlibatan Juniar, Kang Maman, Solehudin, Yanto, Bu Emah, Nyi Menong, dan teman-teman UPK yang tergabung dalam Assosiasi UPK, dalam even ini luar biasa. Mereka ikut terlibat dalam kepanitiaan yang dengan sukarela bersibuk ria meski di luar jam kerja, bahkan hari libur. Mereka menjadi tenaga-tenaga pemberdaya hasil didikan program.

Pernah suatu ketika saat aku ikut bermalam di kantor Faskab Ciamis, Kang Tarjo mengajakku ke Alun-alun bersama Juniar. Dia akan menyerahkan buku yang berisi tulisan-tulisan para pegiat pemberdayaan dalam bingkai program. Mereka ikut mendukung perpustakaan umum di sana. Tulisan tentang ini sudah aku posting dengan judul: Nice Trip to Majalengka and Ciamis, edisi ke-4.

Juniar, Kang Maman, dan Yanto tergabung dalam Dedemit. Solehudin tetap aktif dalam pemberdayaan lain. Kemarin dia sibuk menjadi urusan administrasi untuk acara tarung kopi. Merekap nilai-nilai dari peserta yang ikut ambil bagian dalam penilaian kopi. Bu Emah mengkoordinir teman-teman untuk pengisian stan, sedang Nyi Menong yang asli Sukamantri menjadi penggerak para ibu bergabung dalam acara ini. Luar biasa!

Dedemit yang tidak menakutkan
Dedemit yang tidak menakutkan

Kebanyakan teman-teman UPK masih terbawa dampak pemberdayaan yang keliru. Oknum-oknum fasilitator yang mengunggul-unggulkan nominal surplus menjadi panutan mereka. Hingga sekarang, tak sedikit teman-teman yang belum move on. Masih berkutat soal UEP, SPP, surplus, tunggakan, kemacetan, dan tetek bengek yang berkaitan soal keuangan. Memang salah satu tanggung jawab mereka adalah soal itu, tapi tatkala melupakan kewajiban lain, maka itu pun menjadi keliru.

Hasil pembelajaranku dengan orang-orang semacam Pak Sujana Royat, Pak Bambang Warsito Utomo, Bang Yando Zakaria, Pak Ibnu Taufan, Mba Grace Palayukan, Pak Ronggo Purwoko, Mas Sani, Kang Budi, Yossy, dan sederet nama lain, menyimpulkan bahwa dana surplus yang dihasilkan sebenarnya diperuntukkan dalam menyokong pemberdayaan itu sendiri. Surplus besar tidak bisa mencerminkan keberhasilan sebuah pemberdayaan masyarakat. Apalah arti surplus besar dan tunggakan atau kemacetan minim kalau masyarakatnya masih miskin. Bahkan surplus besar semasa program dengan iming-iming BLM dan atau amang-amang sanksi lokal adalah bom waktu. Bisa saja keberhasilan dari sisi surplus dan atau kemacetan minim itu hanya kamuflase belaka. Saat program usai, kemacetan akan bertambah dan surplus akan berkurang. Lepasnya program adalah fase pembuktian profesionalisme kerja teman-teman UPK. Jika ingin mandiri, maka harus membuktikan itu. Ayo!

Usai acara tarung kopi, aku lihat Kang Irman dan Yossy sedang duduk bareng. Aku mendekati mereka. Tak lama kemudian mereka meninggalkan tenda utama sambil berbincang-bincang. Apa topiknya, aku tak tahu, dan aku tak mau mencari tahu. Biar saja. Bagi ku tak penting aku serba tahu, yang penting sinergi harus terjalin. Berbeda pendapat itu wajar. Itu lah dinamika. Nikmati saja.

Aku tahu, tulisanku beberapa waktu lalu dibaca Yossy. Entah dengan Kang Irman. Aku tetap percaya bahwa ini terjadi karena komunikasi yang tak berjalan mulus. Masukan-masukan ku kepada mereka dalam tulisan itu semata-mata untuk mengingatkan. Apakah dia membacanya atau tidak, bukan urusan saya… hihi….

 

Ngobrol itu penting
Ngobrol itu penting

Sepakat apa yang dikatakan oleh Pak Ronggo saat kami bersama di Solo.

“Aku sudah lama berkawan dengan mereka, Kis. Dulu kami bisa bersinergi meski nggak ada uang. Aku tak mau mencampuri urusan mereka”, ujar Pak Ronggo. Mungkin mau mengklarifikasi. Padahal aku sendiri nggak bertanya soal itu.

Perjuangan tanpa uang memang susah. Tapi perjuangan pun bisa rusak karena uang. Jadi ingat syairnya Bang Haji Rhoma Irama:
Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah

Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah

 

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas!

2 KOMENTAR

  1. Saya baca tulisanmu mas Kikis .. Mantap .. Saya janji masih bersedia mengadakan uji citarasa yang lebih detil dan benar-benar “buta” dari sisi petani2 kopi ybs, asal nanti para petani itu juga bersedia berkumpul lagi tanpa perlu saya organisir .. Kopi itu duit. Petani kopi sangat menyadarinya. Dan sayangnya, memang umumnya karena duit dan bukan karena rasanya, mereka menanam tanaman kopi ..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here