Menajamkan Rasa Dengan Festival Kopi

0
446
Aku, Lik Rusdi, dan Bebegig

Bagian ke-7 (habis)

 

Ada hikmah lain yang aku dapatkan saat mengikuti kegiatan Festival Kopi di Sukamantri, Ciamis. Rupanya Lik Rusdi, sopir ELF, yang membawa kami kesana sangat terkesan dengan rangkaian kegiatan tersebut. Dia senang dan siap mendukung andai acara serupa di gelar di desa kami, Mandirancan. Dia katakan, jika tahu mau begini, pasti akan ajak Mas Amin, Kades Mandirancan. Obrolan itu terjadi sesaat setelah kami mengantar Yossy ke rumahnya di Karangnanas, Sokaraja.

Selama dua hari lalu aku memang tak tahu persis apa yang dia lakukan. Tapi aku sering melihatnya ikut menonton sesi kegiatan yang ada. Jika sudah waktu makan tiba, aku mengajaknya serta. Kadang aku mendekatinya, bercerita sedikit tentang aktifitas yang sedang dilakukan. Saat pementasan Bebegig, aku ajak dia foto bersama. Sebagai tanda pernah ke Sukamantri.

Rupanya dia cermat mengamati dan mendengarkan kami berdiskusi. Kadang, Kang Budi Ragiel pun mengajaknya ngobrol. Dari situ lah Lik Rusdi tahu maksud dan tujuan dari kegiatan-kegiatan ini. Bahkan saat aku katakan bahwa para petani kopi melalui Abah Yoyo mendapatkan pesanan dari Jakarta, dia tambah terkesan. Dia berkesimpulan bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini harus di dukung.

Aku katakan juga, kalau semua dihitung dengan uang, pasti nilainya mencapai angka ratusan juta. Akan tetapi gotong royong dari masyarakat akan meminimalisirnya. Perlu dukungan dari berbagai pihak agar acara semacam ini bisa sukses. Dia katakan siap membantu jika benar-benar bisa dilaksanakan di Mandirancan. Dia pun berjanji akan menceritakan hal ini kepada Mas Amin.

Aku, Lik Rusdi, dan Bebegig
Aku, Lik Rusdi, dan Bebegig

Benar saja. Saat aku berkunjung ke rumah Mas Amin, cerita itu sudah sampai. Mas Amin bilang beberapa hari yang lalu Lik Rusdi bercerita banyak soal Festival Kopi. Dia merasa perlu mencari potensi lokal apa yang perlu diangkat. Perlu persiapan yang matang juga. Aku tak menanggapi. Paling tidak, Lik Rusdi sudah membantu menyebarkan informasi baik ini.

Lik Rusdi memang jarang mengikuti acara pertemuan di balai desa. Tapi dia dan kelompoknya memiliki posisi strategis sebagai penyebar informasi di desa. Dia bisa ikut nimbrung di banyak tempat berkumpul masyarakat. Pola komunikasi di desa ku memang begitu. Masyarakat lebih suka duduk-duduk di tempat-tempat yang sudah biasa mereka berkumpul. Saling berbagi cerita dan informasi. Informasi baik yang dibawa Lik Rusdi pasti bisa ditularkan.

Saat berangkat sebenarnya aku merasa agak tak enak hati dengan teman-teman Gedhe Foundation. Sebab sebelumnya, yang aku tahu, Lik Rusdi ini orangnya agak keras. Dia tak mudah mengalah. Aku takut saat membawa mobil nantinya pun begitu. Syukurlah apa yang aku takutkan tidak sepenuhnya terjadi. Meski masih sedikit kurang rapi dalam mengemudi. Beberapa kali terlambat menginjak pedal rem saat ada jalan berlubang. Akibatnya kami sering kaget karena mobil terhentak.

Bagi Lik Rusdi, pengalaman mengantar kami ke Sukamantri menjadi keuntungan sendiri. Setelah mobil mengarah ke kecamatan Kawali dari kota Ciamis, dia mengaku belum pernah melewati jalur itu. Aku katakan ini jalan tembus dari Ciamis ke Majalengka, Kuningan, dan atau Cirebon. Dia kelihatan bersemangat saat aku katakan, nanti kita akan lewat Desa Panjalu, tempat orang biasa berziarah. Baginya mencari tahu arah jalan kemana orang bepergian itu penting. Agar suatu saat nanti ada yang memintanya mengantar berziarah, dia tak bingung.

Sebenarnya ingin mampir di salah satu situs bersejarah yang kami lewati. Kalau tak berhenti di Panjalu, ya di Kawali. Naik perahu melewati Danau Situ Lengkong menuju makam Prabu Hangaing Kancana, salah seorang putra Prabu Borosngora. Menapaki sejarah perjuangan dakwah Islam di Panjalu.

Terkenal dan menjadi tujuan wisata Panjalu karena Prabu Borosngora dan keturunannya bagi kaum muslim memang soal itu. Semasa menjadi raja, Prabu Borosngora menyebarkan agama Islam di sana. Tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin terhadap rakyatnya adalah mengajak kepada kebaikan.

Makam Prabu Hangiang Kancana di Nusa Gede
Makam Prabu Hangiang Kancana di Nusa Gede

Hal menarik lain di Panjalu ialah tentang kearifan lokal, dimana Pemerintah setempat melarang didirikannya hotel. Pemerintah mensyaratkan bagi para peziarah untuk tinggal di homestay yang disediakan penduduk. Tentu akan sangat merugikan jika hotel diperbolehkan didirikan di sana. Para wisatawan yang berkunjung ke sana akan menginap di hotel. Perputaran uang akan tersedot untuk para pemodal besar lagi. Penduduk pun bisa-bisa hanya gigit jari. Salut akan ketegasannya.

Banyaknya pengunjung di Situ Panjalu jelas menarik perhatian investor di sana. Tapi keberpihakan pemerintah setempat dalam melindungi masyarakatnya perlu di contoh. Tidak lantas memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Banyak kepala daerah dan atau kepala desa yang entah bagaimana ceritanya, mengijinkan para pemodal besar untuk berinvestasi yang ujung-ujungnya menyebabkan masyarakat setempat tersisih dari persaingan.

Situ Lengkong dengan Nusa Gede di tengah-tengahnya adalah aset berharga yang bisa mendatangkan rupiah bagi masyarakat. Campur tangan pemerintah dalam hal ini akan berpengaruh bagi masyarakat. Apakah aliran dana dari para pengunjung akan dikantongi oleh penduduk, atau justru di keruk oleh para pemodal besar itu.

Makam Putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang berada di Astana Gede Kawali pun ingin aku lihat. Salah satu peninggalan akibat tragedi kemanusiaan bernama Perang Bubat itu tak jauh dari sub terminal Kawali dimana kami berhenti untuk makan siang. Tapi rupanya teman-teman sudah sangat capek dan ingin segera pulang ke rumah. Biar lah kapan-kapan kalau pas main ke sini lagi.

Daerah seputaran Panjalu dan Kawali memang menjadi pusat kekuasaan salah satu kerajaan besar di Jawa Barat. Meski pernah mencapai kejayaan dengan wilayah kekuasaannya sampai di Gunung Tengger, yang artinya Banyumas menjadi wilayah Kerajaan Sunda, tapi kerajaan ini pun pernah dibawah kekuasaan Mataram. Namun paling tidak, romantisme kejayaan masa lalu menjadi kebanggaan tersendiri. Semangat untuk kembali berjaya dengan cara yang berbeda pasti tertanam dalam dada penduduknya. Karena kejayaan identik dengan kemakmuran.

Cerita perang bubat memang masih menjadi kontroversi sampai sekarang. Menurut ahli sejarah, cerita perang bubat hanya didasarkan atas Kidung Sunda yang tertera dalam kitab Pararaton. Kitab Pararaton sendiri menurut sumber di Wikipedia, disebutkan hanya 32 lembar halaman ukuran folio. Isinya pun lebih banyak mengulas tentang raja-raja Jawa, dimulai dari kisah Ken Arok. Kitab Pararaton sendiri ditulis pada tahun 1522 Saka atau 1600 masehi.

Sedang perang Bubat, sebuah peristiwa hebat kala itu, tidak tercatat dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, yang dituliskan pada sekitar tahun 1365. Artinya secara tahun, kitab Negarakertagama lebih tua dari Pararaton. Mengapa peristiwa hebat itu bisa luput dari perhatian Mpu Prapanca. Apakah demi menjaga kewibawaan Majapahit, atau memang peristiwa itu tidak ada, atau sebenarnya bukan seperti cerita yang selama ini beredar, tak tahu pasti. Aku bukan ahli sejarah… hehe….

Yang pasti, mencuatnya tragedi perang Bubat menjadi peristiwa hebat dimulai pada 1928, bukan tumbuh dari abad 14 setelah Prabu Linggabuana dan putrinya Dyah Pitaloka dibunuh. Sentimen itu lahir setelah C.C Berg–seorang filologis Belanda–menerbitkan disertasi yang membahas Kidung Sundayana. Ini puisi yang ditulis seorang penyair Bali memakai bahasa Bali. Penulisnya menceritakan perang Bubat dengan rasa simpati untuk Raja Sunda itu.

Para sarjana Indonesia ketika itu menyambut buku Berg dengan rasa curiga. Mereka menuding Berg hendak menghancurkan Sumpah Pemuda–seperti politik pecah belah Snouck Hurgronje di Aceh–yang baru dirintis. Sebab, buku Berg menyadarkan orang Sunda bahwa kejadian di Bubat adalah peristiwa memilukan sekaligus memalukan: bagaimana seorang raja yang dengan niat baik akan menjodohkan putrinya kepada Raja Majapahit justru ditolak dan dibunuh.

Penulisan sejarah biasanya memang tergantung pada suasana politik saat itu. Tidak sedikit yang menuliskan sejarah sesuai pesanan penguasa. Benarkah peristiwa Perang Bubat merupakan perseteruan antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit, atau hanya rekayasa CC Berg, sesuai dugaan para sejarahwan Indonesia. Tak jelas.

Lukisan Dyah Pitaloka Citraresmi
Lukisan Dyah Pitaloka Citraresmi

Mungkin yang perlu disadari oleh kita, terutama kaum muslim, bahwa apa yang telah, sedang, dan akan terjadi, sebenarnya sudah tercatat dalam Lauhul Mahfudz, sebelum bumi ini diciptakan. Tak ada perisitwa sekecil apapun yang tak tercatat di sana. Ini rahasia Ilahi. Tak bijak rasanya menyesali sebuah peristiwa sepahit apapun itu, secara berlebihan. Ikhlas dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT, adalah ciri orang bertakwa. Jika ini bisa kita maknai, maka tak perlu lagi ada dendam yang tersimpan. Semoga.

Perjalanan pulang dari Sukamantri sampai kota Ciamis memang terasa lebih cepat. Lik Rusdi tak perlu ragu untuk kembali memainkan pedal gas, kopling, dan rem. Tak perlu lagi bertanya-tanya. Bentuk jalan yang mirip jalur Desa Kalisalak hingga Banyumas via Karangbanar, Binangun, dan Pasinggangan ini perlu konsentrasi penuh. Bedanya, jarak dari Desa Kalisalak ke Banyumas lebih dekat. Sedang jarak dari kota Ciamis sampai Sukamantri lebih jauh. Menurut Lik Rusdi, berkendara di jalur seperti ini membuat matanya harus terjaga. Malah nggak bikin mengantuk. Kelak kelok, naik turun, berhenti sesaat ketika bersimpangan dengan kendaraan lain membuatnya terlihat trampil. Mulai bisa menguasai kendaraan yang katanya tuas koplingnya terlalu keras.

Saat berangkat dan pulang kemarin, kami melirik tempat latihan anak-anak muda bermain trail. Dia sempat bercerita tentang masa remajanya. Kenakalannya semasa itu sepertinya menurun pada Andre, anak keduanya. Beberapa hari yang lalu, Andre mogok sekolah hanya karena Lik Rusdi tak kunjung membelikannya motor trail. Ya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya… hehe….

Untung saja keempat teman-teman dari Cilacap yang ikut bersama kami, bertubuh kecil. Bergabungnya mereka di mobil tidak terlalu berpengaruh dan menjadi terasa sesak. Samsul, Baha, dan dua teman lain yang lupa namanya, menyusul bersama Kang Fadli di hari kedua. Mereka adalah pemuda-pemuda desa yang siap mengabdi untuk masyarakat di bidang TIK. Bangsa ini memang membutuhkan tenaga relawan seperti mereka. Kita berharap kontribusi pemuda-pemuda seperti mereka mampu membawa desa menjadi lebih mandiri dan sejahtera. Aamiin.

Setelah mengantarkan keempat pemuda tadi di Sidareja, Yossy menyarankan agar Lik Rusdi menerobos jalan melalui Cingebul. Jalan dari Cinangsi sampai perbatasan Banyumas – Cilacap dimana Cingebul sebagai desa di perbatasan itu, rusak parah. Jalan kembali mulus saat memasuki wilayah Cingebul.

Kendaraan dibelokkan melalui Dermaji dan Paningkaban menuju Ajibarang. Aku ingat saat masih di SD dulu, Lik Nasa, adik ibu ku pernah mengajakku menginap di Paningkaban. Waktu itu dia masih menjadi tenaga honorer operator wales. Karena belum punya kendaraan sendiri, dia terpaksa menginap. Biasanya dia pulang pada hari Sabtu. Waktu itu, sekitar tahun 1992, kondisi jalan di Paningkaban masih parah. Konstruksi jalan masih makadam yang rusak. Tapi di rumah sebelah mana kami menginap, aku sudah lupa.

Belajar merasai dan merasakan akan memperkaya hati sehingga bisa bijak mensikapi. Semoga.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here