Menajamkan Rasa Dengan Festival Kopi

0
208
Salah satu atraksi tarian

Bagian ke-1

 

Pemimpin adalah suri tauladan. Saat dia berbuat kebaikan, akan di tiru oleh orang-orang yang dipimpinnya. Begitu pula sebaiknya. Jangan pernah berharap orang-orang yang kita pimpin akan berbuat baik, saat kita sendiri tidak mencontohkannya.

Itu lah tontonan semalam. Kang Dedi Mulyadi, pimpinan grup Dangiang Ki Sunda, yang juga Bupati Purwakarta, tanpa banyak bicara memberi contoh nyata. Beliau merogoh dompet dan mengeluarkan uang sebanyak 2 juta rupiah untuk Bu Mu’ah, seorang penonton yang di ajak Kang Ohang naik ke panggung. Apa yang dilakukan oleh Kang Dedi langsung di respon oleh para pejabat nang ikut menonton pertunjukan Dangiang Ki Sunda. Mereka merogok kocek untuk Bu Mu’ah. Fantastis. Dana yang kemudian terkumpul berjumlah sekitar 5 juta.

Bu Mu'ah dan cucu di peluk Kang Dedi
Bu Mu’ah dan cucu di peluk Kang Dedi

Saat memberikan uang buat Bu Mu’ah, Kang Dedi tidak berkata apa-apa mengajak penonton untuk beranjak. Dia hanya memeluk Bu Mu’ah dan cucu nya. Lagu mendayu yang mengiringi membuat suasana menjadi sangat mengharukan. Berlinang air mata Kang Dedi memeluk keduanya. Penonton pun tersihir oleh tontonan tersebut.

Kang Ohang, pelawak yang biasa tampil di layar kaca, mengajak Bu Mu’ah yang sedang duduk menonton Dangiang Ki Sunda di bersama anak dan cucu nya. Bu Mu’ah di ajak berjoget lagu Mama Papa Larang yang dibawakan oleh Kang Ohang. Meski mengaku tak hafal, Bu Mu’ah tetap berjoget sebisanya.

Setelah lagu selesai, Kang Dedi menanyai Bu Mu’ah. Awal mula hanya bertanya soal lagu yang Ohang bawakan. Lantas dia menanyakan keluarga Bu Mu’ah. Mulai dari anak, suami, pekerjaan suami, dan pekerjaannya. Dengan malu-malu Bu Mu’ah menjawab pertanyaan Kang Dedi. Dia mengatakan kalau dia punya 7 anak. Tiga orang sudah menikah sedang yang lain masih bersamanya. Kalau tak salah dengar, 3 anaknya masih sekolah. Saat Kang Ohang mengajaknya ke panggung, dia sedang duduk memangku cucu yang dititipkan oleh anaknya karena harus bekerja.

Awalnya Bu Mu’ah menolak menjawab pekerjaan suaminya. Malu. Tapi Kang Dedi terus mendesak. Akhirnya Bu Mu’ah menjawab bahwa suaminya bekerja di Cirebon sebagai tukang rongsok. Suaminya pulang ke Sukamantri 3 hari sekali.

Bu Mu’ah pun malu saat di tanya pendapatan suami. Berapa nominal yang diberikan oleh suaminya, tak dia jawab. Saat Kang Dedi menanyakan apakah pemberiannya di atas 1 juta per bulan, dia tertawa kecil, menggeleng sembari menutup mulut dengan tangan karena malu. Begitu yang selalu dia lakukan saat tertawa kecil pertanyaan-pertanyaan tadi.

Kang Dedi terus bertanya apa yang Bu Mu’ah kerjakan, dia mengaku bekerja kepada orang lain. Dia berjualan dari dagangan yang dia beli dari tetangga dan berkeliling menjajakannya. Saat itu lah Kang Dedi merogoh dompet dan memberikan uang untuk Bu Mu’ah. Beliau berpesan agar uang itu digunakan untuk modal usahanya. Luar biasa.

Itu adegan kedua yang dipertontokan. Sebelumnya, saat pertunjukan berlangsung, dia turun dan membawa anak laki-laki seumuran 7 tahunan ke panggung. Beliau ikut bernyanyi dan berjoget sambil berkeliling menggendong anak tersebut. Tak sungkan beliau turun dari panggung dan mengajak si anak kecil tadi. Selesai lagu, Kang Dedi memberi uang 200 ribu untuk si anak kecil tadi. Salut banget.

Pada Festival Kopi Rakyat ini, grup Dangiang Ki Sunda datang untuk menghibur masyarakat Sukamantri. Pertunjukan Dangiang Ki Sunda di sini termasuk safari keliling Kang Dedi dan para anak buahnya untuk mempromosikan kesenian Sunda bagi masyarakat Jawa Barat. Tujuannya jelas, untuk melestarikan kesenian Sunda agar tidak punah dan kalah dari gempuran kesenian-kesenian impor.

Meski semua bisa menebak bahwa ini cara halus Kang Dedi meningkatkan popularitas guna mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat, aku tak peduli. Bagi ku dan mungkin semua penonton di lapangan bola Desa Sukamantri, tontonan berkualitas yang gratis ini sangat menghibur.

Apalagi bagi Bu Mu’ah. Malam itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Aku yakin, kedatangannya ke lapangan hanya sekedar ingin menghibur diri. Mencoba melupakan sejenak kepenatan hidup. Hiburan seperti ini menjadi salah satu obat sedikit meringankan beban hidup. Kedatangannya ke lapangan itu bisa juga demi menenangkan sang cucu. Biasanya anak-anak selalu tertarik dan ingin larut dalam keramaian.

Pagelaran Dangiang Ki Sunda yang ditampilkan oleh Kang Dedi dan tim sudah tampil di berbagai kota di Jawa Barat. Hasil mencari informasi di internet, aku tahu bahwa dua adegan diatas, yakni saat Kang Dedi menggendong anak laki-laki, dan memberi uang kepada seorang ibu tua, sudah menjadi ciri khasnya. Kang Dedi memberi keterangan bahwa dia suka menggendong anak laki-laki, karena dulu bapaknya selalu memperlakukannya seperti itu. Kenangan bahagia semasa kecil begitu membekas. Sedang perlakuannya kepada seorang ibu tua dengan memberikannya uang, karena Kang Dedi ingat akan ibu nya. Kang Dedi mengatakan bahwa dulu, ibu nya pun seorang pekerja keras. Keluarganya tergolong orang yang tidak mampu. Dia ingin membantu, layaknya dia berbakti kepada orang tua nya. Subhanalloh.

“Saya mengambil penonton ke atas panggung, biasanya seorang ibu- ibu dan anak-anak, karena seorang ibu adalah manusia yang pekerja keras dan melindungi anak, jika anak-anak saya mengingat kembali waktu saya kecil dulu”, begitu yang selalu Kang Dedi jadikan alasan.

Mungkin Kang Dedi ingin selalu mengingatkan diri akan asal usulnya. Sebelum sukses sekarang ini, dia berasal dari keluarga miskin. Sudah saatnya dia membantu sesama. Bantuan orang-orang sekecil apapun, pasti bermanfaat bagi mereka. Yah, dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, kita menjadi orang kuat karena ada orang-orang lemah di sekitar kita. Oleh karenanya, berbagi kebahagiaan semestinya dilakukan. Agar mereka pun merasakan sedikit kebahagiaan seperti yang kita rasakan.

Saat pagelaran dimulai, aku duduk bersimpuh di tanah dengan alas terpal bersama Kang Tarjo, Camat Panjalu, Pak Daday, juru kunci makam Ratu Citraresmi, Pak Agus, Ketua BKAD Kec. Sukamantri, dan yang lain yang aku tak tahu. Kami berada di barisan paling depan di sebelah kiri panggung. Ada kejadian lucu saat Pak Nanang menyebutku sebagai perwakilan dari Gedhe Foundation. Hihi… tak bisa membedakan antara GDM dengan Gedhe Foundation.

Sengaja aku mendekat ke depan. Aku ingin melihat pagelaran ini dari dekat. Sebelumnya aku tak pernah melihatnya. Cerita bahwa pagelaran ini menggambarkan kejayaan Jawa Barat di masa lalu, membuatku penasaran. Aku duduk bersebelahan dengan Kang Tarjo dengan harapan bisa menjadi translater bagiku. Maklum, meski sudah berkali-kali mendengar dan berinteraksi dengan orang-orang sini, bagiku bahasa Sunda masih susah diterjemahkan. Masih roaming.

Pagelaran Dangiang Ki Sunda kali ini memang tidak sama dengan di tempat lain. Karena keterbatasan waktu, beberapa fragmen tidak ditampilkan. Namun demikian, esensi pesan yang disampaikan tetap tidak berkurang.

Kang Dedi benar-benar menginginkan totalitas dalam pertunjukan. Meski diberikan secara cuma-cuma untuk menghibur masyarakat, beliau tak ingin penonton kecewa. Tak tanggung-tanggung, Kang Dedi membawa panggung, sound system, alat musik, dan kru yang handal. Hasilnya memang mantap. Suara penyanyi yang merdu, tak pecah meski tampil di lapangan terbuka. Suara keduanya tak kalah jika disandingkan dengan penyanyi ternama. Lengkingan suaranya begitu tinggi, tidak rusak dalam nada tinggi maupun rendah. Mantap pokoknya.

Penghayatan tinggi dari para penari dengan sorot lampu berwarna-warni dan kepulan asap membawa suasana magis. Apalagi saat tarian yang menggambarkan Ratu Nyi Roro Kidul. Mistis sekali.

Penari perlambang Nyi Roro Kidul sangat jelita. Gerakannya ritmis mengikuti irama. Mimiknya berubah-ubah seperti di film-film itu. Kadang menampakkan wajah cantiknya, terkadang memasang wajah sangar. Cantik tapi sangar, atau sangar tapi cantik. Tak tahu lah.

Keenam penari perempuan yang lain pun cantik-cantik. Aku sempat tertipu dengan tiga orang penari di atas panggung sana. Ketiga penari hampir mirip. Manis. Mengingatkan aku pada seseorang di sana. Ahihi….

Dari semua yang ditampilkan, aku benar-benar kagum. Terlebih pada penari-penarinya yang cantik itu… hahaha….

Tapi ada satu yang terasa hilang. Sorot matanya. Sorot matanya tidak fokus pada satu titik. Penarinya tidak membawakannya dengan kesadaran penuh. Mungkin ini yang disebut dengan fase kontemplasi.

Salah satu atraksi tarian
Salah satu atraksi tarian

Saat tarian perang Bubat dipertunjukkan, aku lihat Pak Daday dan seorang ibu di sebelahnya menitikkan air mata. Pak Daday berkali-kali mengusap air mata yang keluar. Dia menghayati betul tarian itu. Perang Bubat adalah tragedi kemanusiaan di masa lalu, yang sulit dilupakan, khususnya oleh orang-orang Sunda. Apalagi bagi Pak Daday. Putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang makamnya ditungguinya adalah salah satu korban perang Bubat itu.

Perang Bubat terjadi di lapangan Desa Bubat di daerah Trowulan, Mojokerto, pada tahun 1357 M. Saat itu Prabu Prabu Maharaja Lingga Buana, raja Sunda Galuh, datang ke Trowulan. Dia bersama rombongan prajurit hendak mengantarkan putrid Citraresmi yang disunting oleh Raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Sesampainya di sana Prabu Maharaja Lingga Buana menginginkan Raja Hayam Wuruk sendiri yang menjemput calon istrinya itu. Akan tetapi yang datang menjemput justru Gajah Mada. Mahapatih yang terkenal dengan Sumpah Palapa itu.

Lokasi Perang Bubat
Lokasi Perang Bubat

Ketegangan terjadi karena Patih Gajah Mada menolak keinginan Prabu Maharaja Lingga Buana. Patih Gajah Mada bersikeras membawa Putri Dyah Pitaloka Citraresmi karena di utus oleh rajanya. Tapi bagi Prabu Maharaja Lingga Buana ini dianggap sebagai penghinaan. Akhirnya meletuslah perang yang membuat kesedihan dan kepedihan yang mendalam itu. Prabu Maharaja Lingga Buana dan para prajurit Kerajaan Sunda Galuh gugur demi mempertahankan harga diri mereka, sedang Putri Dyah Pitaloka Citraresmi bunuh diri melihat ayahnya gugur. Kejadian ini tidak saja disesalkan oleh rakyat di Kerajaan Sunda Galuh, tapi oleh Raja Hayam Wuruk sendiri.

Bagi rakyat Kerajaan Sunda Galuh, sampai sekarang mungkin, tindakan Patih Gajah Mada adalah bukti kesombongannya. Tapi bagi Patih Gajah Mada, apa yang dia lakukan merupakan bukti kesetiaan akan perintah rajanya.

Atas kegagahan Prabu Maharaja Lingga Buana mempertahankan harga diri Kerajaan Sunda Galuh, dia diberi gelar Prabu Wangi. Oleh karena itu, keturunannya diberi gelar Siliwangi yang berasal dari kata Silih (penerus) dan Wangi.

Begitu lah, setiap tragedi kemanusiaan selalu meninggalkan luka. Meski kejadiannya sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here