Menakar Hasil Pelatihan

6
680
Ini bukan pelatihan, tapi pencitraan... hihi....

Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan Yossy Suparyo, beberapa waktu yang lalu. Sengaja aku tulis untuk mengingatkan saja. Tak lebih dari itu. Silakan disimak.

Pelatihan diselenggarakan untuk menambah pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan bagi peserta. Berbagai jenis pelatihan sudah sering dilakukan. Dari mulai yang gratisan sampai yang berbayar. Namun, sudahkah kita menakar hasil pelatihan yang kita lakukan atau ikuti?

Untuk mengukur keberhasilan pelatihan, pihak penyelenggara kadang menyediakan instrumen berupa pre test dan post test. Sebelum pelatihan, para peserta disodori pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang akan disampaikan. Jawaban dari para peserta akan dicocokkan dengan hasil tes paska pelatihan.

Oleh karena hasil dari pelatihan tak kasat mata, maka banyak pihak yang beranggapan sia-sia melakukannya. Sebab seringnya pelatihan yang dilaksanakan, tak sesuai harapan. Paska pelatihan, seolah tak ada beda nya. Materi yang diberikan saat pelatihan, hanya dimengerti sebagai pengetahuan saja. Tak lebih dari itu.

Ada beberapa indikator untuk menakar hasil pelatihan. Indikator-indikator ini bisa digunakan untuk mengevaluasi pelatihan-pelatihan yang sudah kita laksanakan. Indikator-indikator itu antara lain:

Input (Masukan)

Termasuk dalam kategori input ialah peserta, materi, dan pembicara. Ketiga unsur tersebut menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan dalam pelatihan. Kita bisa melihat apakah peserta pelatihan yang datang, benar-benar mengingini pelatihan tersebut. Jika peserta yang datang, tidak memiliki minat dalam pelatihan, maka kecil kemungkinan, pelatihan tersebut akan berhasil.

Kesesuaian materi dengan tema pelatihan pun menentukan. Pemilihan materi dengan tujuan pelatihan perlu diperhatikan. Fokus pada capaian yang diinginkan sebaiknya diberikan pada pembicara. Jika ini tak dilakukan, bisa-bisa pembicara memberikan materi, jauh dari apa yang diharapkan.

Penyelenggara pelatihan harus bisa menghadirkan pembicara yang berkompeten. Kemampuan si pembicara dalam mengaplikasikan materi pada aktifitas kesehariannya bisa dijadikan acuan. Apakah pembicara yang mengisi, telah benar-benar mengaplikasikan materi yang dibawakan atau tidak. Akan lebih meyakinkan saat pembicara memiliki prestasi dari materi yang dibawakannya.

Process (Proses)

Ketepatan dalam memilih peserta, materi, dan pembicara akan menentukan proses pelatihan. Antusias dan tidak dalam menyimak pemberian materi, akan terlihat. Jika mereka merasa penting mengikuti pelatihan tersebut, mereka akan antusias. Namun akan terjadi sebaliknya.

Materi yang diberikan saat pelatihan perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta. Bahasa pengantar dari pelatihan yang terlalu tinggi atau rendah, akan mengurangi kualitas proses pelatihan. Belum lagi cara memberikan materi yang membosankan, atau justru terlalu banyak candaan. Jelas akan mengurangi greget selama proses.
Pembicara yang baik adalah mereka yang bisa memahami peserta.

Tak bijak rasanya, saat pembicara berbicara dengan gaya nya sendiri. Pembicara harus bisa menyesuaikan diri dengan peserta. Tidak terus menerus berbicara, padahal peserta sudah mulai bosan, misalnya. Perlu ada variasi penyampaian. Asalkan tidak keluar dari fokus peserta.

Output (Keluaran)

Setelah kita yakin bahwa ketiga unsur tersebut sesuai, maka harapan akan berhasilnya sebuah pelatihan, akan mudah dideteksi. Perpaduan dari ketiga unsur tersebut akan tergambar pada hasil akhir saat pelatihan berlangsung. Ucapan-ucapan kepuasan dan atau ketagihan dari peserta bisa menjadi hipotesa awal.

Mengukur hasil keluaran saat itu dengan mudah dilihat. Saat jeda istirahat, ada beberapa peserta yang kemudian membahas materi tersebut. Tak jarang yang kemudian mendekati si pembicara untuk berdiskusi lebih lanjut.

Jika pelatihan lebih bersifat teknis, peserta biasa nya akan bertanya yang lebih mendalam. Atau antar peserta justru mendiskusikan dan praktik bersama-sama. Peserta yang tertarik, tapi belum begitu paham, akan lebih semangat bertanya dan praktek belajar lagi. Keluaran saat pelatihan terlihat saat itu.

Outcome (Hasil)

Hasil nyata dari pelatihan ialah peserta mau mempraktekkannya. Materi yang diterima saat pelatihan, tidak semata menjadi pengetahuan saja. Peserta akan mempraktekkan dalam aktifitas kesehariannya. Dia mengerti, memahami, dan bisa mempraktekkan. Sebab dalam mempraktekkan sesuatu itu, dia sadar dan merasa itu perlu.

Konsistensi dalam mempraktekkan hasil pelatihan dan terus belajar adalah bukti keberhasilan. Peserta yang mampu melakukan hal tersebut adalah peserta yang berhasil. Bagi peserta yang belum mengerti, akan berusaha mencari tahu paska pelatihan. Baik kepada pembicara maupun teman yang dianggap lebih mengerti.

Sebetulnya tak perlu banyak yang demikian. Sebagian kecil dari peserta yang mau melakukannya, menurutku lebih dari cukup. Apalagi jika hampir semua bisa melakukannya. Sampai tahap ini, boleh lah kita mengklaim.

Impact (Dampak)

Peserta pelatihan yang senantiasa mempraktekkan hasil pelatihan akan bisa memberikan dampak kepada orang lain. Orang lain yang melihat, akan tertarik. Dia mulai bertanya dan belajar pada peserta yang berhasil itu. Begini yang sebenarnya kita harapkan.

Paska pelatihan, para peserta bisa mempraktekkan dan menularkan kemampuannya pada orang lain. Terlebih orang lain yang dimaksud adalah mereka yang tak mengikuti pelatihan tersebut. Keberhasilan pelatihan lebih bisa di klaim, saat peserta mampu menjelma menjadi pembicara yang handal pula.

Nah, jika pelatihan-pelatihan yang dilakukan belum sampai pada fase outcame atau impact, perlu di evaluasi. Jangan-jangan pelatihan yang dilakukan masih sebatas seremonial atau pengguguran kewajiban saja.

Peserta yang ikut pelatihan mungkin masih karena mobilisasi atau ada iming-iming sesuatu. Apalagi jika niatan mengikuti pelatihan masih tujuan jangka pendek, yakni uang transport atau selembar sertifikat saja. Wah, kacau deh.

Salam.

Ini bukan pelatihan, tapi pencitraan... hihi....
Ini bukan pelatihan, tapi pencitraan… hihi….

6 KOMENTAR

  1. Banyak pelatihan yang tidak didesain dengan pendekatan yang komprehensif sehingga gagal membuat perubahan di tingkat apapun, baik kognitif, efektif, apalagi psikomotor. Dalam mata kuliah pengantar kurikulum yang saya ikuti di IKIP Negeri Yogyakarta, pelatihan itu mirip dengan pendidikan (baca: sekolah), yaitu serangkaian usaha yang disengaja untuk memengaruhi peserta didik untuk mengubah cara pikir, sikap, dan tingkah laku mereka ke arah yang lebih baik. Bedanya, pelatihan memiliki durasi waktu yang singkat dan jenis kompetensi yang spesifik. Akibat watak itu, pelatihan sebaiknya didesain dengan pendekatan proses sehingga kita mampu mengukur hasilnya secara ilmiah.

    Pendekatan proses akan terlihat dari statemen tujuan instruksionalnya. Perhatikan contoh berikut
    1. Peserta mampu menjelaskan alur produksi kripik singkong dengan benar (SALAH)
    2. Selama pelatihan peserta akan menjelaskan dan mencoba alur produksi kripik singkong (BENAR)

    Statemen yang kedua cocok untuk pelatihan karena intervensi yang dilakukan hanya lewat durasi waktu singkat.

    Selain itu, banyak pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga dan pihak yang tidak berkompeten. Mereka gagal menerapkan taksonomi bloom (kognitif, efektif, dan psikomotorik) dalam kurikulum pelatihan. Bahkan, tak sedikit pelatihan yang sejatinya adalah semacam event organizer narasumber. Wuih, kasihan banget kan pesertanya.

    Terimakasih dan hormat pada kang Kikis yang terus berkarya.

  2. Nampaknya beberapa pelatihan yang kerap melibatkan desa masih sebatas menggugurkan kewajiban.

    Di Purbalingga, Bapermas kerap mengadakan pelatihan, namun outputnya sungguh tidak jelas. Padahal, desa sudah menganggarkan biaya pelatihan.

    Statment Kang Yossy saya kira perlu diterapkan dalam setiap bentuk pelatihan. Sehingga, pelatihan tersebut benar-benar memiliki output yang nyata.

    Demikian, Mas Kikis…

    Salam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here