Menatap Jember yang Jembar

0
193
Narsis itu wajib...

Bagian ke-2

Aku senyum-senyum melihat Mba Ani yang terlihat ragu. Aku berjalan mendekatinya dan mengulurkan tangan. Dia meyakinkan diri dengan bertanya padaku, Kikis ya? Aku iya kan. Dia lantas tersenyum dan mengajakku ke tempat parkir motor. Dia datang menjemputku bersama Mas Bambang, rekannya di Forum Komunikasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Tapal Kuda (Forkom P2MTK). Agar nanti tidak membingungkan, aku akan sebut nama Mas Bambang untuk dia yang ikut menjemputku. Sedang nama Bambang Teguh untuk menyebut nama suaminya Mba Ani. Oke?

Mereka membawaku ke sebuah food court tak jauh dari stasiun. Sambutan awal yang mengesankan (ihir). Namanya tak sempat aku baca. Yang jelas ini makan nasi pertamaku hari itu. Pagi hanya sarapan lontong 2 buah plus beberapa tahu isi. Siang tak sempat makan pula. Maka aku pun tak merasa rikuh saat aku makan sendiri. Mereka berdua hanya menemani sambil ngobrol. Menu ayam goreng plus lalapan, dan teh hangat aku minta. Kurang suka sama nasi goreng.

Basa-basi tentang perjalanan, dan sekilas menceritakan kondisi di wilayah kerja mereka masing-masing menjadi topiknya. Termasuk keheranan mereka tentang Assosiasi UPK di salah satu kabupaten yang enggan bergabung dengan assosiasi tingkat provinsi di sana. Aku tak kaget. Cerita tentang Jawa Timur sudah lama aku dengar. Banyak sumber yang memberitahu soal itu. Aneh saja. Pelaku-pelaku PNPM MP di sana seolah jalan sendiri-sendiri. Benar atau tidak, waktu yang akan membuktikan.

Aku membonceng Mas Bambang ke rumah cukup besar bercat warna putih. Rumah ini milik seorang dosen yang baik hati. Rumah yang diurus oleh Pak Ari dan keluarga ini dijadikan kantor dan tempat diskusi Forkom P2MTK. Rumah yang asri dan kasur empuk untukku beristirahat nantinya. Kedatanganku ternyata sedikit menganggu anak-anak Pak Ari yang mau tidur. Mereka keluar demi mendengar kedatangan kami. Meski akhirnya mereka mau tidur juga. Pak Ari adalah SPF di PNPM Mandiri Perkotaan.

Sesampainya di sana, diskusi masih berlanjut. Asyik memang. Selama ini komunikasi hanya via sosial media. Telpon pun hanya sekali. Kalau sampai bisa bertatap muka, itu kan sesuatu banget.

Diskusi-diskusi tentang pemberdayaan baik di perdesaan maupun perkotaan berjalan. Kami berempat disuguhi kopi. Aku sedikit paham tentang PNPM Perkotaan. Pernah ikut membantu pelaporan di Desa Papringan Kec. Banyumas yang pernah mendapatkan program ND. Kemudian Mas Budi, teman yang berjualan kacamata keliling, salah satu anggota BKM di Kelurahan Bantarsoka. Pernah pula diberi buku-buku pelatihan dari salah satu mantan anggota BKM di Kelurahan Teluk Purwokerto Selatan.

Saat jam menunjuk pukul 22.30 WIB, Mas Bambang dan Mba Ani berpamitan. Memberiku kesempatan istirahat. Nyatanya aku tidak segera tidur. Membuka notebook sambil mencari informasi melalui media sosial facebook dan twitter aku lakukan. Termasuk menyusun tulisan: “Menatap Jember yang Jembar” bagian pertama. Fasilitas wifi yang disediakan, aku manfaatkan benar. Baru sekitar jam 1 malam aku pejamkan mata.

Aku terbangun sekitar jam 4 pagi. Tapi aku masih ingin bermalas-malasan. Mata sudah enggan terpejam, tapi badan masih terasa capek. Aku sudah mendengar Pak Ari dan keluarga mulai sibuk di luar. Empuknya kasur dan hangatnya selimut membuatku keenakan. Baru aku keluar dari kamar sekitar jam 5 pagi.

Kembali aku ke kamar sesudah urusan di toilet rampung. Melanjutkan membuat tulisan itu. Sembari menunggu siang. Sempat aku bertanya ke Pak Ari. Apa anak-anak tidak sekolah. Dia bilang anak yang pertama sedang sekolah, sedang yang kedua sedang libur. Anak yang paling kecil masih usia 3 tahunan. Belum sekolah.

Ingin keluar jalan-jalan sebenarnya. Tapi fasilitas wifi lebih menarik. Sebab aku masih ingin melanjutkan membaca tulisan-tulisanku yang dulu. Tak ingin gaya tulisanku berubah. Kata mereka tulisanku enak dibaca. Runut dan enteng. Syukurlah.

Membaca buku “Desa Membangun Indonesia” menjadi aktifitas lain. Aku merasa perlu membaca buku ini sebagai referensi. Ada bab yang kemarin menarik. Soal perpolitikan di desa. Dimana tertulis tak layak jika disamakan dengan demokrasi liberal atau radikal. Alam demokrasi di desa lebih mendekatkan pada musyawarah mufakat. Mekanisme voting memang bukan asli Indonesia. Lihat saja Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 yang berbunyi: “… dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.

Jelas sekali bahwa alam perpolitikan di Indonesia sejatinya dicita-citakan atas dasar musyawarah. Bukan voting. Voting hanya alternatif terakhir jika ada kebuntuan dalam pembahasan segala sesuatu. Bukankah dalam tradisi jawa di kenal istilah rembug desa, kemudian Kerapatan Adat Nagari di Sumatra Selatan, Gawe Rapah di Lombok, dan masih banyak lagi. Semua itu merupakan tradisi lama yang menunjukkan bahwa masyarakat desa lebih akrab dengan musyawarah, bukan voting.

Sekitar jam setengah 9 pagi Mba Ani sudah datang ke rumah itu. Walah. Padahal aku belum mandi. Ternyata sudah siang ya. Kopi yang dibuatkan oleh Pak Ari pun sampai dingin. Kami bertiga, aku, Mba Ani, dan Pak Ari sarapan bareng. Obrolan selanjutnya tentang Kang Rokhman Hermanto, yang sayangnya hingga aku pulang dia tak bisa ikut bergabung. Kesibukan di kampusnya, Universitas Jember membuat kami belum berjodoh. Padahal sudah janjian untuk bertemu. Moga-moga suatu saat nanti ya, Bro.

Seperti yang aku kira. Pertemuan ini molor. Tak urung aku mandi juga setelah sarapan. Satu per satu peserta datang dan berdiskusi kecil. Mba Ani dan Pak Ari sudah sibuk dengan urusan logistik. Tak ketinggalan kopi. Mas Bambang Teguh, suami Mba Ani bilang. Harus ada kopi dan mau ngopi kalau di sana. Siap saja, Mas. Hehe….

Pertemuan dibuka oleh Mas Bambang Teguh sendiri. Dia menceritakan apa itu Forkom P2MTK. Forkom ini sengaja dibentuk sebagai wadah saling berbagi ilmu antar sesama pelaku pemberdayaan lintas program khususnya di wilayah Tapal Kuda. Menurutnya forum ini juga dimaksudkan untuk bersama-sama memahami UU Desa dan implementasinya nanti. Sebagai seorang pemberdaya, seharusnya bisa memahami arah skenario ke depan dan bagaimana harus bekerja untuk masyarakat.

Forkom ini sering melakukan diskusi-diskusi kecil untuk menyamakan persepsi pemberdayaan. Masing-masing pelaku program baik dari PNPM Mandiri Perdesaan, Perkotaan, PPIP, PAMSIMAS, dan yang lain, biasanya memandang sistem yang mereka jalani lah yang paling baik. Maka tak heran jika masing-masing ingin pelestarian hasil-hasil program, sama dengan apa yang sekarang dijalani. Jelas ini tidak mungkin. Maka, forum ini bertujuan memformulakan ide, gagasan, dan pemikiran guna disumbangkan kepada pemangku kebijakan di Jakarta untuk pelestarian hasil-hasil program.

Menurutku ini bagus banget. Kamu juga kan?

Terlebih kedatanganku ke sana sudah didahului oleh teman-teman yang lain. Dulu pernah hadir Mas Budiman, Pak Bito, Pak Sutoro Eko, Kang Budi Ragiel, dan Yossy. Meski saat itu mungkin belum mendeklarasikan nama forum, toh pelakunya itu-itu juga. Kehausan teman-teman akan informasi dan pengetahuan terkait UU Desa yang implementasinya membutuhkan penafsiran dan cara kerja yang berbeda, mendorong mereka melakukan ini semua. Keren dah.

Saat aku dipersilakan bercerita, aku sampaikan tentang pergerakan yang dilakukan oleh UPK Nasional akhir-akhir ini. Isu miring yang dihembuskan dan diberi bumbu-bumbu menjadikan kesan negatif dari teman-teman, baik fasilitator maupun UPK. Kembali lagi soal UPK mau seumur hidup, UPK minta jadi PNS, perang Badar, dan lain-lain pandangan yang norak abis. Mirip seperti pemelintiran berita di acara infotainment. Pelakunya adalah pecundang. Kalau dia laki-laki, mestinya pakai rok, bando, dan bergincu. Coba bersanding bareng Mayang Prasetyo, cantik mana. Kalau perempuan mungkin jarang gosok gigi, atau hobi ngrasani tangga. Kurang gawean.

Aku katakan, salah satu dari 28 orang yang datang ke Kemenkokesra adalah aku. Satu dari 10 perwakilan BKAD dan UPK yang masuk ke kantor untuk negoisasi adalah aku. Salah satu dari tiga orang yang datang pada 17 September 2014 yang berakhir dead lock pun, aku. Maka jika ingin klarifikasi, aku salah satu sumber primer-nya. Kalau memang berniat baik.

Mengapa sampai UPK melakukan itu. Tak lain dan tak bukan, untuk mendobrak sebuah keangkuhan. Aku bandingkan proses penyusunan UU Desa dengan PTO 2014. Mereka yang terlibat dalam penyusunan UU Desa mau blusukan ke desa-desa, tidur, dan bergaul bersama orang-orang desa untuk mendengarkan apa kemauannya. Lha ini, PTO malah nggak seperti itu. Kalimat ini pernah aku sampaikan saat diterima TNP2K yang waktu itu di pimpin oleh Bu Tari (Pamuji Lestari).

Saat Mas Wahana mengatakan sudah mendiskusikan dengan UPK, aku pun tanyakan, UPK yang mana. Sebab kebanyakan UPK dan BKAD justru menolak PTO 2014 ini. Ah, jadi emosi lagi nih. Biar kata saat menyampaikan aku berusaha tenang.

Lebih-lebih saat tahu ada pertanyaan tendensius yang dilontarkan oleh salah satu konsultan, apakah Assosiasi UPK Jatim menjadi bagian dari Assosiasi UPK Nasional. Ini pertanyaan kok konyol banget sih. Apa maksudnya?

Pelaku lain di beri kesempatan berbicara. Mas Kasno, selaku Ketua UPK di Lumajang, kebetulan dia mantan FK, mengatakan kalau kelahiran BKAD saja sudah tidak pas. UPK lahir terlebih dahulu. Dia pun sepakat dengan semangat pemberdayaan yang semestinya di jaga nantinya. Waktu itu, topik pembahasan memang lebih soal pelestarian aset di UPK PNPM Mandiri Perdesaan. Mba Fia dari UNEJ pun baru ngeh, kalau ternyata di UPK PNPM Mandiri Perdesaan punya aset besar dan sudah dijadikan lahan pekerjaan bagi pengelolanya. Sebelumnya yang dia tahu, UPK ya seperti di PNPM Perkotaan.

Mas Robby selaku asisten Korkot bercerita bagaimana cara kerja BKM dan unit-unit di bawahnya dalam pemberdayaan masyarakat. Dia bilang, tak ada yang di kasih gaji atau honor. Hanya insentif sekedarnya. Bahkan setelah purna tugas sesuai periode, pelaku BKM atau UPK ada yang bernafas lega. Bisa menunaikan tugas mulia bagi masyarakat tanpa bayaran. Jelas beda konsep dan cara kerja.

Diskusi ini memang sengaja di setting santai. Kami duduk beralaskan tikar dan karpet. Tak ada yang duduk di kursi. Bebas. Ada yang bersandar, selonjor, dan sila. Menghilangkan formalitas yang selama ini terasa memenjara. Tempat duduk pun semaunya sendiri berpindah-pindah. Sambil merokok ya silakan saja. Yang penting esensi diskusinya masuk. Tentu camilannya juga… hehe….

Gagasan baik untuk sama-sama belajar pun diterima semua peserta. Sama-sama mengaji UU Desa. Karena grand design pemberdayaan ke depan berbeda jauh dari yang selama ini dilakukan. Menempatkan desa sebagai subyek dan pemilik kewenangan dalam pemberdayaan, menjadi amanah undang-undang. Asas rekognisi dan subsidiaritas menjadi pegangan. Desa diakui keberadaannya karena ada terlebih dahulu sebelum Indonesia lahir. Keberagaman desa pun diakomodir dalam UU ini. Tidak ada lagi aturan yang sangat rigid yang membelenggu kreatifitas desa. Semua dibicarakan dalam musyawarah desa nantinya.

Mungkin karena aku peserta paling jauh, aku diberi porsi lebih banyak oleh Mas Bambang Teguh. Aku di minta memaparkan konsep BUMADes yang sedang diusung. Maka aku gambarkan mekanisme BUMADes sebagai transformasi UPK dan peran BKAD ke depan. Ini hasil diskusi-diskusi panjang baik antara sesama UPK, BKAD, konsultan yang pro pemberdayaan, dan mitra strategis lain.

Presentasi BUMADes
Presentasi BUMADes

Kelak UPK diharapkan menjadi badan usaha milik bersama dengan kontribusi surplus bagi desa-desa satu kecamatan. UPK menjadi pelaksana strategis dan teknis. Sedang kebijakan politis ada di BKAD. Bagaimana UPK bekerja, dengan siapa bekerjasama, apa saja unit-unit usaha UPK diputuskan dalam MAD. BKAD berperan menjalin kerjasama dengan pihak swasta, CSR, Pemda, dan memfasilitasi kerjasama antar desa nantinya.

Dalam hal kerjasama yang dilakukan oleh dua desa atau lebih dan tidak melibatkan semuanya, BKAD bertugas memfasilitasinya. Kemudian jika terjadi kata sepakat, BKAD memerintahkan kepada UPK untuk ikut mengurusi, jika salah satu kesepakatannya berbunyi seperti itu. Para Kepala Desa yang bersepakat bisa memerintahkan BUMDes masing-masing pula, sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara BUMADes dan BUMDes. Tidak bersaing dan saling menjatuhkan. Bahu membahu bekerja untuk mendapatkan keuntungan bersama.

Karena UPK diharapkan menjadi sebuah lembaga yang profesional, maka masa kerjanya pun susah jika di periodisasi. Harus ada batasan usia kerja maksimal agar mereka bisa fokus. Terkecuali terbukti melakukan pelanggaran. Jenis pelanggaran yang bisa menyebabkan mereka di PHK bisa disepakati dalam MAD. Sedang ketakutan teman-teman UPK saat aset dinisbatkan kepada desa, bisa di cegah dengan Perda.

Aku katakan pula, berdasar informasi Mas Farid, BUMDes di Sulawesi bahkan lebih canggih dari UPK. Maka bisa saja aset mereka minta. Tapi di Jawa, belum begitu. Ketakutan akan hilangnya aset masih bisa disikapi. Toh aku percaya, jika teman-teman UPK sudah bekerja dengan baik, pasti tetap akan dipakai tenaganya. Tak perlu terlalu khawatir.

Konsep yang aku paparkan mendapat sambutan positif dari Mba Ani, Mba Cici (Faskel) dan teman-teman yang lain. Yang agak mengherankan justru teman-teman UPK sendiri. Mereka tetap ingin seperti ini. UPK ya UPK. Lha kok?

Berapa lama UPK akan menempuh perjuangan mendapatkan payung hukum dengan status tetap seperti ini. UU Desa saja, sejak demo para Kades dan perangkatnya pada tahun 2007 baru terealisasi akhir tahun 2013 kemarin. Pertanyaan lain, apakah mereka sendirian berjuang. Jawabannya jelas tidak. Mereka di dukung oleh pegiat-pegiat desa yang aktif lobi sana sini. Dana pun tak sedikit.

Aku katakan pula pengalaman berdiskusi dengan Mba Fikri, salah satu tenaga ahli di DPR RI. Ruangannya berhadap-hadapan dengan ruang kerjanya Mas Budiman di Senayan. Dia sampaikan, untuk memasukkan unsur positif dalam UU yang sudah disahkan, tidak bisa. UU yang dimaksud ialah UU tentang Lembaga Keuangan Mikro, UU No. 1 tahun 2013.

Maka payung hukum yang realistis sekarang adalah UU No. 6 Tahun 2014 pasal 92 khususnya ayat 5 dan 6. Yakni BKAD membentuk unit-unit dibawahnya. Salah satu unit dimaksud ialah UPK, yang berperan dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Bukan sisi surplus saja yang di kejar, tapi berperan untuk mendampingi masyarakat menggapai kemandirian. Sayang ini pun belum bisa maksimal.

Namun demikian, aku masih bersyukur karena Mba Fia memberikan masukan perlunya kajian akademis untuk menyusun draft Perda terkait konsep BUMADes yang aku paparkan.

Serius nan santai
Serius nan santai

Saat aku paparkan pula perlunya publikasi via website, Mas Robby yang paling antusias. Dia berpesan nanti malam akan datang lagi. Tertarik sekali dia. Dia katakan pula bahwa Mba Ani SMS akan datang hacker dari Banyumas. Hahaha….

Rupanya Mba Ani pintar berpromosi. SMS yang disebarkan berbeda-beda isinya. Tujuannya agar peserta mau datang. Segera aku klarifikasi ke Mas Robby, aku cuma user. Kalau hacker itu teman-teman di relawan TIK. Insya Allah aku hubungkan nanti. Latar belakang pendidikannya yang memang bergelut di dunia IT membuatnya tertarik. Aku hanya memandunya posting berita di website. Sedang pembuatan wordpress, dia selesaikan sendiri.

Selamat ya, Mas Robby!

Sayang kalau ide-ide cerdas dari Forkom P2MTK tidak dipublikasikan kepada khalayak. Aku sampaikan juga, awal perkenalanku dengan teman-teman di Jakarta, salah satunya via website. Entah bagaimana mereka menilaiku, yang jelas tulisan-tulisan yang aku publikasikan mendapatkan respon. Dari situ lah awal perkenalanku. Saat pulang nanti, aku dititipi surat permohonan pembuatan website beserta fotocopy KTP-nya Mas Bambang Teguh selaku ketuanya. Sedang urusan lain biar mereka selesaikan bareng Yossy.

Aku pamerkan empat website pada layar LCD. Tiga web yang aku kelola dan satu website dari Aceh, yakni Gampong Cot Baroh. Aku ceritakan bagaimana Muhammad Dahlan dan Shafaturrahman mengelola website desa, sedang mereka sendiri tidak tinggal di sana. Mereka minta kepada penduduk untuk mengumpulkan foto-foto dan menyediakan data-data yang dibutuhkan, yang kemudian akan diolah dan di posting ke website. Kegigihan mereka berdua menyuarakan desa sebagai bukti cinta kepada tanah kelahiran, berbuah manis. Pada Festival Desa TIK yang diselenggarakan di Majalengka, Gampong Cot Baroh menjadi salah satu penerima penghargaan tingkat nasional. Widih.

Untuk posting berita, aku klasifikasikan mana-mana yang akan aku pakai website-nya. Misalkan kegiatan itu terjadi di desaku, maka akan di posting di website desa. Kalau terjadi di luar desa dan masih dalam lingkup kabupaten Banyumas, akan di posting dalam website banyumasmandiri. Sedang kegiatan yang terjadi di luar Banyumas, aku postingkan di indonesiamandiri. Nah untuk website pribadi, aku unggah tulisan berupa celotehan-celotehan semauku, dengan sumber dan gaya bahasa sekenanya. Website pribadi ini aku anggap sebagai pengganti buku harian. Ya, seperti tulisan ini.

Tak ketinggalan aku sampaikan juga tentang perjuangan si bocah imut, Nuron. Kisah pemuda dari Desa Cikadu-Cianjur ini mungkin tak se-fenomenal Florence Sihombing. Akan tetapi pemanfaatan media sosial yang dia lakukan berhasil menarik perhatian Pemprov Jabar. Sang Wagub dan rombongan mau datang ke desa yang akses jalannya rusak parah. Terlihat dalam koleksi foto-foto bagaimana susahnya rombongan dalam menerjang medan. Ulasan khusus Nuron sudah aku unggah di web ini pada 29 September 2014 dengan judul: Ramah dan Meriahnya Festival Destika edisi ke-3. Desa Cikadu pun menerima penghargaan serupa seperti Gampong Cot Baroh.

Sosial media akan bermanfaat jika digunakan secara bijak, seperti Nuron. Tapi juga bisa membawa malapetaka, seperti Florence Sihombing. Silakan mau pilih yang mana.

Obrolan demi obrolan terus berlanjut hingga maghrib. Acara yang sudah ditutup oleh Mas Bambang Teguh ternyata masih kurang. Kesamaan visi dan misi membuat materi obrolan hampir tak pernah habis. Sayang pula, saat narsis bareng, kebanyakan peserta sudah pulang. Narsis itu kan wajib. Biar eksis. #hasyah.

Narsis itu wajib...
Narsis itu wajib…

Acara kuliner menjadi lanjutannya kemudian. Soto khas Jember menjadi perburuan. Lokasinya yang unik, yakni di lorong Pasar Tanjung tak menyurutkan minat pembeli. Mba Ani berboncengan dengan Mas Bambang Teguh, aku bareng Pak Ari dan anak sulungnya. Sedang Mas Bambang bersama istri dan kedua anaknya.

Mungkin yang mengherankan adalah banyaknya verboden di sana. Untuk menuju satu tempat, kendaraan harus berputar-putar terlebih dahulu mengikuti petunjuk lalu lintas. Jarak yang dekat bisa saja menjadi jauh. Aku berpikir, apa Dishub nya nggak bingung mengatur itu semua. Lagian banyaknya verboden, selain menambah petugas Polantas yang berjaga-jaga, juga mengakibatkan pengendara mudah kena tilang. Apalagi mereka yang jarang ke kota. Mirip seperti kota Purwokerto sebelum era Pak Mardjoko.

Kata Mba Ani, teman-teman yang dari luar Jember, pasti dia bawa ke tempat itu. Makanan khas Jember ini bernama Soto Ayu. Racikan sayuran, mie, potongan daging ayam, nasi, oyak, dan kuah berwarna kekuningan terasa nikmat. Beda dengan soto di Purwokerto. Lahap pula aku makan. Bahkan dari tujuh mangkuk yang di pesan, aku yang pertama habis.

Doyan apa kencot? Lorone!… ahaha….

Selepas itu kami berpencar. Masing-masing pulang ke rumah. Aku bersama Pak Ari kembali ke markas. Sebelumnya mampir mencari kartu perdana untuk mengisi android ku. Perjalanan pulang yang lama aku rasa butuh berkomunikasi via android. Ternyata benar. Kecelakaan karena lokomotif menabrak mobil box di daerah Lumajang, setelah stasiun Klakah hingga berhenti selama dua jam, serta pergantian lokomotif di stasiun Purwosari menambah molor perjalanan pulang.

Rasa capek yang mendadak muncul membuatku langsung merebahkan badan. Notebook dan kabel-kabel masih tertancap, berserakan. Malam itu aku tidur nyenyak. SMS dari Mba Ani untuk berpamitan dan mengingatkan aku agar bangun pagi tak sempat aku buka. Maka keesokan harinya sekitar jam 4 pagi, saat Mas Bambang Teguh menjemputku, aku kelabakan. Baju-baju kotor yang belum sempat dibereskan, aku lipat sekenanya. Notebook dan kabel-kabel aku masukkan sebisanya. Aku bergegas ke kamar mandi sekedar untuk cuci muka dan membereskan peralatan mandi. Aku pastikan tak ada yang tertinggal.

Seperti yang aku tuliskan diatas, jalur verboden aku rasa membuat Mas Bambang Teguh mengendarai motor berputar-putar dulu sebelum ke stasiun. Eh, ternyata Mba Ani sudah di sana juga, bersama Gendhis. Anak keduanya ini seumuran sama Ata. Gemas aku melihatnya. Aku teringat anak perempuanku yang kemarin menangis saat berpamitan. Setelah bersalaman, aku berjongkok mencium pipinya.

Kereta sudah bersiap berjalan. Aku lambaikan tangan pada Mas Bambang, Mba Ani, dan Gendhis. Ada sedih yang menyelinap. Kapan bisa ke Jember lagi.

Semoga silaturahmi ini membawa kebaikan untuk semua. Aamiin….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here