Menatap Jember yang Jembar

0
225
Stasiun Jember

Bagian ke-1

Aku tak tahu apa yang Ata pikirkan. Tiba-tiba dia menangis sesenggukan saat aku berpamitan. Seperti biasanya aku peluk dan cium dia setelah bersalaman kala aku atau dia yang berpamitan. Istriku sengaja membangunkannya. Semalam dia minta itu. Dia ingin melihat keberangkatanku kali pagi ini. Tidak biasanya. Aku pun mencoba merayunya. Aku bilang kalau aku cuma pergi sebentar saja. Aku berjanji segera pulang kalau urusan sudah selesai. Aku janjikan pula jalan-jalan ke Moro nantinya. Tapi dia masih menangis.

Stasiun Jember
Stasiun Jember

Aku kembali memeluknya lebih erat. Aku bisikan padanya kalau aku sayang dia, Syamil, Mama, dan Embah. Aku bilang kalau dia sudah besar, nggak boleh nakal. Aku janjikan beli Es Krim. Dan masih banyak lagi rayuanku agar dia menghentikan tangisnya. Tentu sedih dan tak tega jika aku tetap pergi sedang dia masih menangis.

Akhirnya mempan juga rayuanku. Ata tahu kalau aku tidak sedang berbohong. Aku biasanya segera penuhi janji. Andai aku lupa, dia atau istriku akan mengingatkan. Aku usap air matanya. Aku kecup keningnya.

Tak lupa aku ke kamar. Syamil yang masih terpejam, aku bisiki kata pamitan. Aku cium pipinya. Dia menggeliat. Ingin aku cium berkali-kali, tapi takut dia terbangun. Syamil pasti akan merengek minta ikut. Tangisannya akan membuat ku berat melangkah. Maka cukup sekali saja. Tidak ketinggalan berpamitan dengan istri. Dia berpesan untukku memberinya kabar kalau sudah sampai.

Pagi itu aku diantar Karsito, adik sepupu. Rumahnya dekat rumahku. Hanya terpisah rumah Bibi Salem di sebelah timur rumahku. Dia sedang berlibur menjelang Idul Adha kemarin. Beberapa hari yang lalu dia pulang bersama Driono, adiknya. Sedang Tarsidi, kakaknya tak ikut pulang. Ketiga kakak beradik ini mengadu nasib di Jakarta sebagai kuli bangunan. Mereka sering bekerja di proyek yang sama. Tujuannya agar saling menjaga satu sama lain.

Mungkin karena masih mengantuk atau dingin, dia boncengkan aku dengan santai. Tak lebih dari 30 km per jam. Aku biarkan saja. Biar tak mengantuk, aku ajak dia ngobrol. Soal pekerjaan dan alasannya tak segera kembali ke Jakarta. Santai dia jawab, masih ingin berlibur.

Ah, andai semalam aku tak ketiduran, mungkin kekhawatiranku tak terjadi. Motor kehabisan bensin di dekat SDN 1 Kedungrandu. Semalam aku memang berniat mengisinya. Tapi menemani Ata tidur membuatku tertidur juga. Aku baru terjaga sekitar jam 22.30 WIB. Sudah terlalu malam mencari bensin eceran.

Jan. Padahal sekitar 200 meter lagi ada POM Bensin. Mau tidak mau aku harus menuntun motor ke sana. Aku biarkan Ito, begitu dia dipanggil, terjajar di belakang. Aku sedikit berlari. Sebab saat aku tinggalkan rumah tadi, jam sudah menunjukan pukul 5 lebih. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke stasiun. Padahal kereta Logawa yang akan aku tumpangi berangkat pukul 05.40 WIB. Jangan sampai ketinggalan.

Setelah bensin terisi, Karsito lebih cepat memacu motor. Aku sarankan dia tak perlu masuk area Stasiun. Cukup di luar saja agar saat keluar nanti tak perlu berputar. Sesampainya di Stasiun, antrian masuk sudah panjang. Mereka sama seperti aku, hendak naik kereta Logawa. Terdengar pemberitahuan bahwa penumpang harus segera masuk gerbong.

Aku duduk di gerbong 5 nomor 5E. Urutan kedua dari pintu depan setelah toilet. Awalnya aku duduk berhadap-hadapan dengan sepasang muda-mudi yang nanti harus pindah, karena salah gerbong. Wajahnya mirip. Aku kira kakak beradik. Ternyata bukan. Bisik-bisik mereka berbicara. Aku tetap asyik membaca buku. Saat mereka mengeluarkan kamera mahal, aku katakan kalau view bagus saat kereta melintasi jembatan diatas sungai Serayu. Aku katakan kalau dari posisi duduknya kini akan melihat bagian hulu, sedang di jok sebelah yang masih kosong akan melihat Bendung Gerak Serayu di hilir. Mereka memilih geser di jok sebelah. Kaca dekat jok terlalu banyak noda.

Entah dapat gambar yang bagus atau tidak saat kereta melintas di atas sungai Serayu. Mereka asyik jeprat-jepret setelah melewati stasiun Gambarsari. Keasyikan mereka membuatku urung katakan kalau view bagus di sini di ambil dari jok tempat dudukku. Di sebelah timur akan ditemui hamparan sawah luas dan deretan pegunungan yang hijau. Selain itu, saat aku tanyakan apakah dapat view bagus saat melintas di atas sungai Serayu, mereka tak dengar. Aku tak mau mengganggu mereka. Mereka pindah ke gerbong 4 saat disadari tempat duduknya ditempati orang lain. Kala berduyun-duyun penumpang naik dari stasiun Kroya.

Kini duduk didepanku seorang ibu yang nanti turun di stasiun Purwosari-Solo dan seorang pemuda asal Brebes yang bekerja di Bukit Emas Surabaya. Perbincangan ringan mengalir antara aku dengan si Ibu. Dia hendak menjenguk anaknya yang mondok di pesantren di Solo. Sedang dia sendiri berangkat dari Cilacap. Si pemuda tak banyak bicara hanya bertanya ke mana tujuanku. Aku bilang ke Jember, sekedar ke rumah teman.

Kereta berjalan agak lambat karena di Sumpiuh dan Kutoarjo masih menaikkan penumpang. Seorang cowok ABG tanggung bertindik di telinga naik dan duduk di sebelahku dari Kutoarjo. Tapi itu tindik tempelan saja. Sebenarnya dia naik bersama teman-temannya, cuma beda gerbong.

Perjalananku dari Kutoarjo hingga stasiun Lempuyangan terasa garing. Aku hanya baca buku saja. Ingin rasanya bermain HP atau tab yang aku bawa. Sayangnya bernasib sama seperti sepeda motor. Pulsa HP habis, sedang tab belum berkartu malahan. Untung saja seorang bapak yang duduk di jok seberang kiri mengajakku ngobrol. Dia bersama istri dan anak, ibu, dan kakak perempuan serta keponakannya hendak ke Surabaya. Ada acara besanan katanya. Tak heran barang bawaannya banyak. Bagasi atas, dua bawah jok, dan yang diantaranya penuh. Bukan hanya barang yang akan dijadikan oleh-oleh, tapi juga makanan dan jajan buat dua anak kecil yang umurnya hampir sama, sekitar 4 tahunan.

Meski tadi di jalan sering berhenti karena berpapasan dengan kereta lain, dan berjalan lambat, kereta sampai di stasiun Lempuyangan sekitar pukul 08.30 WIB. Gasik. Maka setelah aku mengisi pulsa di sana, aku SMS istri. Insya Allah kalau ada rejeki, kita main ke Jogja pakai kereta ini. Bisa agak lama sampai sore. Tapi tak ada balasan dari istriku. Aku tak terlalu berharap pula. Sekedar ingin memberitahu saja.

Suasana menjadi ramai oleh 7 orang pria ABG, Angkatan Babe Gue. Ketujuh orang tua, karena memang semua sudah beruban, terus dan terus saja ngobrol, meski mereka terpisah masing-masing jok berderet ke belakang. Tema yang mereka perbincangkan mulai dari urusan politik, bola, dan mengomentari pemandangan sepanjang perjalanan. Seingatku mereka terus ngobrol sembari bersendau gurau sampai di stasiun Surabaya. Tujuan mereka sama sepertiku. Jember.

Tak lama setelah kereta berjalan dari stasiun Purwosari, aku tertidur. Terasa capek. Mataku pun lelah karena kebanyakan membaca mungkin. Lumayan lama. Aku terjaga saat kereta berhenti di stasiun Kedunggalar, menunggu kereta dari arah berlawanan lewat. Begini lah kereta ekonomi. Selalu mengalah baik ada kereta dari arah berlawanan maupun akan disusul kereta di belakangnya, tentu yang kelasnya lebih tinggi.

Sebenarnya sejak dari Kutoarjo sampai Lempuyangan dan setelahnya hingga Madiun, kereta berjalan lebih cepat. Rel ganda sudah dimanfaatkan. Andai semua jalur kereta sudah di buat rel ganda, mungkin kereta ini tak terlalu sering berhenti. Waktu yang ditempuh jauh lebih cepat. Jika rel ganda sudah bisa dipergunakan, sepertinya pihak PT. KAI mungkin harus lebih banyak mempersiapkan kereta dan mengatur jadwal. Karena kecepatan dan kenyamanan naik kereta, meski hanya kelas ekonomi, sudah bagus. Aku kira akan semakin banyak penumpang yang memanfaatkan jasanya nanti.

Celoteh para penumpang di hampir semua jok membuatku tak lagi bisa tidur. Hanya sesekali memejamkan mata saja. Terlebih suara anak-anak yang meminta ini itu dan tangis bayi membuatku tak kan nyenyak andai bisa tidur. Duduk di jok belakang rombongan yang hendak besanan ke Surabaya, se-rombongan keluarga yang baru berkunjung ke Cilacap. Logat jawa timuran kental terdengar. Mereka membawa anak 3 anak kecil, dan 2 anak bayi. Sepertinya mereka masih kelas TK atau SD kelas 2 buat yang paling besar.

Bapak yang hendak berbesanan ke Surabaya itu pindah duduk di depanku. Anak perempuannya sedang dipangku karena tertidur. Katanya sedang sedikit sakit. Memang begitu. Saat di perjalanan setelah Jombang nanti, anak perempuannya muntah. Sampai membasahi pakaiannya. Andai anaknya ditinggal sepertinya tak mungkin. Anak seusia 4 tahunan itu masih kolokan.

Dia mengaku pernah belajar perbengkelan di seputaran Purwosari selama 4 tahun. Saat itu dia ikut bekerja tanpa di gaji di sebuah bengkel. Hanya sekedarnya saja saat pemilik bengkel sedang banyak pemasukan. Baginya itu ibarat kuliah. Tak perlu membayar, sering dibayar malah. Ini mengingatkanku akan pengalaman yang hampir sama, kala aku belajar mengoperasikan komputer. Berbeda jauh memang. Dia harus merantau ke Solo, sedang aku cukup di Patikraja saja. Dia butuh 4 tahun, aku cuma 1,5 tahun. Aku lebih beruntung.

Kemudian dia putuskan kembali ke Tambak, dimana dia tinggal dan buka usaha bengkel. Kini hanya fokus di bengkel las karbit. Keahliannya memperbaiki sepeda dan sepeda motor tak lagi dia pakai untuk orang lain. Untuk memperbaiki motor sendiri dan keluarga. Sudah tidak menerima servisan motor. Usianya yang semakin tua membuat tenaganya tidak seperti dulu. Pernah dia ajak anak keduanya yang tinggal di Tangerang untuk pulang, membantunya di bengkel. Toh di sana cuma buruh pabrik dengan bayaran tak seberapa. Tapi si anak belum mau pulang kampung.

Sesampainya di stasiun Nganjuk, aku ingat Pak Ratmin. Pegawai Puskesmas Kebasen yang rumahnya dekat perempatan Ngalteh, berasal dari sini. Pernah dia bercerita kenapa dia memilih ditugaskan di Purwokerto. Dia pikir saat dia selesai sekolah kesehatan di Semarang dulu, wilayah barat yang dekat dengan ibukota, adalah wilayah yang makmur. Maka dia tak mau kembali ke Nganjuk. Sekolah dengan keterikatan dinas di bidang kesehatan mengantarnya ke Purwokerto. Dalam bayangannya saat itu, kota administratif Purwokerto adalah kota yang menjanjikan. Maka saat dia disuruh memilih dimana dia ditugaskan, Purwokerto lah tempatnya. Tak mau dia ke Jakarta atau Bandung. Terlalu jauh katanya.

Kini Bapak yang beberapa periode menjadi Ketua RT di wilayahnya sudah dikaruniai dua orang anak, Rudy dan Ami. Rudy sudah wisuda. Tinggal Ami yang masih sekolah di SMA. Istrinya, Mba Yani aktif di PKK Desa Mandirancan dan menjadi salah satu ketua kelompok SPP guna membina para ibu pemanfaat.

Saat kereta memasuki stasiun Jombang pun aku kembali ingat Lik Satam. Adik kandung ibu mertua tinggal di sini. Dulu saat Lik Satam menikahkan anak pertamanya aku tak bisa ikut ke sini. Bertabrakan dengan jadwal ujian semesteran. Waktu itu aku hanya mengantar istri dan Ata ke stasiun Kroya. Sedang keluarga dari Jatilawang menyewa mobil. Saat itu kandungan anak kedua kami baru 3 bulan. Yang kemudian lahir lah Syamil.

Pemuda bertindik tempel turun di stasiun Kertosono. Kemudian joknya diganti seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Dirosah Islamiyah yang naik dari stasiun Jombang. Baju koko dan celana cungklang yang ia kenakan menarik perhatian beberapa penumpang. Bahkan aku kira dia anak pesantren. Katanya dia asli Jombang yang kuliah di Jember. Tapi dia tidak terkesan eksklusif. Dia tetap mengajakku ngobrol tentang novel yang sedang aku baca. Kebetulan novel Islami. Dia pun lancar berbincang-bincang dengan bapak muda seumuran dan berpostur sama denganku yang naik dari Stasiun Mojokerto. Kami sama-sama menuju Jember.

Aku bantu menurunkan barang bawaan bapak yang mau besanan di Surabaya. Total ada 10 barang yang aku turunkan bersamanya. Dua diantaranya kardus berukuran besar berisi tempe mendoan. Tadi di perjalanan dia sempat heran, kenapa setiap dia bepergian selalu saja ada yang minta dibawakan tempe mendoan. Padahal bagi orang Banyumas biasa-biasa saja. Hampir tiap hari makan mendoan.

Aku tertawa mendengar penuturannya. Aku katakan bahwa salah satu ciri khas makanan Banyumas ya mendoan itu. Pengalaman di Majalengka, kala rombongan teman-teman GDM membawa mendoan yang di masak oleh Pak Kirman dan Pak Taryono, laris manis diserbu peserta Festival Destika yang lain. Padahal stok yang dibawa waktu itu sangat banyak. Aku pun katakan bahwa teman-temanku yang merantau atau bekerja di luar Banyumas, selalu rindu akan mendoan. Termasuk kawan-kawan sekolah yang kini bekerja dan sekolah bertahun-tahun di luar negeri. Dia mengangguk-angguk.

“Pokoke ngangeni”.

Kehebohan 7 orang ABG sudah tak terdengar lagi setelah kereta berjalan menuju Jember dari stasiun Surabaya Gubeng. Capek mungkin. Satu dua orang yang masih berbicara saja. Pun hanya sebentar.

Aku nikmati pemandangan kota Surabaya kala kereta berjalan membelah keramaian. Seolah sedang balapan dengan kendaraan di sisi kanan dan kiri. Semua tertinggal tercecer di belakang. Senyum sendiri merasa menang. Andai aku yang berada di kendaraan-kendaraan di luar kereta mungkin akan iri. Kereta berjalan di jalan yang tak bisa diganggu oleh kendaraan lain. Tak perlu khawatir menabrak kendaraan lain karena diamankan dengan pintu perlintasan. Juga tak harus bersabar menunggu lampu hijau menyala. Kereta bisa berjalan cepat, sedang kendaraan di kanan kiri harus berbagi jalan dengan yang lain. Naik kereta memang lebih nyaman.

Sebelum stasiun Porong, kereta berjalan lambat. Terdengar obrolan-obrolan di banyak jok membahas tragedi kemanusiaan yang menenggelamkan hampir satu kecamatan. Tragedi lumpur Lapindo. Tragedi yang mengusir paksa penduduk dari tempat tinggalnya. Beberapa rumah dekat tanggul ambruk, atau diambrukkan. Ada beberapa yang masih utuh, tapi tak berpenghuni. Hati ikut merasa tersayat pilu. Bagaimana perasaan orang kala itu kehilangan harta, pekerjaan, dan masa depannya. Ganti rugi yang menjadi hak mereka pun harus berkali-kali diperjuangkan.

Duduk didepanku, seorang lelaki renta beretnis Tionghoa. Kata ini baru aku kenal saat sudah besar. Dulu aku tahunya, Cina. Dia naik dari stasiun Surabaya Gubeng hendak ke Probolinggo. Saat aku masih percaya dan dicekoki kebencian terhadap etnis ini, aku muak. Mereka telah merebut dan memperbudak orang-orang Jawa. Pelit dan licik. Seiring berjalannya waktu, kebencian itu berangsur hilang. Orang pelit dan licik tidak hanya etnis Tionghoa. Orang Jawa yang satu rumpun saja banyak yang pelit dan licik. Tak sedikit yang memperbudak saudara sesama orang Jawa.

Aku merasa iba. Orang yang renta seperti ini semestinya tidak dibiarkan bepergian sendirian. Saat berjalan saja dia sudah kepayahan, sempoyongan. Lamban. Tangannya bergetar kala menyuap nasi goreng yang dia beli dari petugas restorasi KA. Bukan karena goyangan kereta api, tapi memang sudah renta. Makannya pun sudah lamban, termasuk menyeruput teh manis. Dia tak berbicara apa-apa kecuali menanyakan tujuan akhirku dan teman-teman satu jok. Sopan minta permisi saat dia hendak atau kembali dari toilet. Saat makan pun, kami bertiga dia tawari. Meski cuma basa-basi. Ah, Kakek dimana anak cucumu.

Setiap pemberhentian kereta yang menaikturunkan penumpang, jok tempatku duduk dan di depannya hampir selalu terisi. Ingin rasanya beristirahat memanjakan kaki. Tapi itu tak bisa dilakukan. Kecuali setelah stasiun Purwosari hingga Kedunggalar tadi. Tempat duduk yang ditinggalkan si Kakek tadi, di isi oleh seorang gadis. Ayu, putih, bibir tipis, berjilbab warna hitam dengan jaket kuning yang bagus. Dia membawa helm.

Sejak naik dari Probolinggo hingga Jember kami tak ada yang bertegur sapa. Rasa capek yang mendera membuat kedua teman dudukku tertidur. Sedang aku sendiri enggan mengajaknya ngobrol. Rasa mengantukku hilang karena menjelang maghrib tadi aku pergi ke ruang restorasi. Aku pesan kopi hitam untuk melawannya. Lagipula gadis yang aku perkirakan sudah bekerja ini asyik dengan gadget-nya. Entah itu BBM, browsing atau telpon. Mata lelahku sudah enggan diajak membaca buku lagi.

Aku kasihan sama Mba Ani. Dia SMS bahwa dia sudah menungguku sejak kereta baru berangkat dari stasiun Tanggul. Padahal masih agak lama sampai di stasiun Jember. Masih ada satu stasiun pemberhentian lagi. Dia deskripsikan pakaian yang dia kenakan agar aku mengenalinya nanti saat keluar dari stasiun Jember. Aku sempatkan bersalaman dan mengucapkan terima kasih kepada dua teman dudukku. Mahasiswa STDI dan bapak yang usia dan posturnya hampir sama denganku.

Jawa Timur dan Jember menyambutku dengan ramah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here