Mencari Habitat Dimana Kita Dibutuhkan dan Dihargai

0
906
Kerjasama saling menghargai

Seorang pria duduk disebelahku terpekur dengan HP-nya. Meski begitu terlihat dia muram. Kalau dia muram, aku gelisah. Aku gelisah karena menunggu teman yang tak kunjung datang. Janji ketemuan jam 11 siang, sudah hampir dhuhur belum datang juga. Andai bukan karena aku yang butuh, sudah aku batalkan pertemuan ini. Kopi yang aku pesan juga sudah hampir habis.

Sesaat kemudian teman si pria datang. Mereka terlibat perbincangan yang cukup serius. Sebenarnya tak hendak mencuri dengar, tapi topik bahasan mengulik rasa ingin tahuku. Meski dibicarakan dengan santai, obrolan mereka menarik didengar. Sekilas aku pandang wajah mereka, sepertinya tak jauh berbeda dengan usiaku. Sebut saja namanya Indra dan temannya, Andi.

Aku dengar keluhan dari Indra. Dia baru beberapa hari ini di PHK. Menurutnya tak ada alasan kuat dia dipecat. Tapi apa daya, argumennya tidak diterima oleh si bos. Menurutnya isu apa yang sudah didengar oleh si bos sehingga dia dipecat, tak dia ketahui dengan pasti. Indra kecewa. Pasalnya dia mengaku sudah berjuang sejak si bos baru merangkak. Hingga asetnya sekarang lebih dari 2 kali lipat. Indra merasa habis manis sepah dibuang.

Loyalitas yang tak berbalas

Kemudian Andi berkata bahwa Indra lah yang salah. Kata Andi, Indra memang pintar, tapi tidak cerdas. Tak terima dengan ucapan Andi, si Indra berargumen. Indra mengaku sudah mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk perusahaan si bos. Loyalitasnya hampir tanpa batas. Tawaran bekerja di tempat lain, saat membangun bisnis bersama si bos, dia tolak.

Indra mengaku rela dibayar murah, dengan impian bisa bersama-sama menikmati hasil kelak bersama si bos. Apa salahku, tanya Indra. Indra juga merasa heran dengan para anak buahnya. Kenapa mereka tidak melakukan pembelaan saat dirinya di PHK. Padahal menurutnya dulu Indra sering membela mereka dihadapan si bos. Indra juga kerap memperjuangkan kesejahteraan para anak buahnya.

Andi tersenyum dan menjawab dedikasi dan loyalitas terhadap sesuatu yang bukan milik kita adalah kesalahan terbesar. Kalau Indra cerdas, dia tidak akan demikian. Soal pembelaan dan memperjuangkan hak bawahan, itu sudah kewajiban sebagai pimpinan. Biasa saja. Tidak usah didramatisir, demikian timpal Andi.

Sesaat aku berpikir. Kenapa si Andi bilang begitu. Bukankan sudah seharusnya seorang bawahan bersikap loyal dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Justru dengan dia loyal dan berdedikasi, karir seseorang bisa melesat dan di apresiasi perusahaan.

Cerita seorang mekanik kapal

Kemudian Andi bercerita tentang kisah mekanik kapal. Dimana seorang mekanik kapal mampu memperbaiki kapal hanya dengan ketukan di beberapa titik. Padahal sebelumnya baik nakhoda, mekanik internal, dan pemilik bingung. Kapalnya tidak bisa dihidupkan mesinnya. Tapi si pemilik tidak terima dengan tagihan si mekanik handal tadi. Masa hanya kerja sebentar dan cuma beberapa ketuk, tagihannya besar.

Cerita ini sudah baca beberapa kali. Inti dari cerita tersebut adalah seringnya kita tidak bisa menghargai profesionalisme kerja seseorang. Keahlian si mekanik dengan memperbaiki kapal hanya beberapa ketukan berdasarkan ilmu, pengalaman, dan jam terbang tinggi. Pekerjaannya menjadi efektif dan efisien.

Jika ada orang yang memamerkan beratnya pekerjaannya karena harus dikerjakan berhari-hari atau bahkan lembur sampai larut malam, justru timbul tanda tanya. Karena pekerjaan serupa bisa dikerjakan dengan waktu yang lebih singkat dan tepat oleh orang lain. Secara tidak sadar, mereka yang memamerkan beratnya pekerjaannya, sedang menunjukkan keamatirannya.

Berpindah habitat

Andi bilang bahwa Indra diibaratkan seperti si mekanik kapal. Sedangkan si bos seperti pemilik kapal. Tidak bisa menghargai profesionalisme si mekanik handal tersebut. Padahal jika kembali berfungsinya mesin kapal dikerjakan oleh orang amatiran, bisa lama atau bahkan tambah rusak.

“Tapi kamu salah tempat, Ndra. Habitat yang kamu diami selama ini tidak baik. Mereka memang membutuhkan keahlianmu, tapi mereka tidak bisa menghargai kamu”.

Secara lugas Andi mengatakan bahwa selain karena Indra salah terlalu berdedikasi dan loyal, tempat bekerjanya pun bisa dikatakan tidak tahu terima kasih. Berdedikasi dan loyal itu bagus tapi harus pada tempatnya. Yaitu mereka yang bisa menghargai kinerja kita, bukan cuma karena butuh. Kalau soal butuh tidak butuh sih banyak, Ndra. Tapi yang bisa menghargai kita, itu sedikit.

“Terus menurut kamu, aku harus bagaimana?” tanya Indra.

“Kalau kamu memang merasa profesional. Jangan mengeluh. Jangan pula menyalahkan mereka. Carilah habitat dimana kinerja mu dibutuhkan dan dihargai”, ujar Andi.

Hmm… gitu ya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here