Mendulang Asa di Kandang Sendiri

0
183

Bagian ke-1

Perjalanan ke Semarang guna mengikuti acara Rakor Pengurus UPK se-Prov. Jawa Tengah kali ini aku nikmati benar. Tentu perjalanan ke Semarang beberapa tahun aku rasakan berbeda. Saat itu aku sempat tertidur dalam perjalanan. Kali ini hampir tak satu menit pun aku terpejam. Lagi pula saat itu aku tak tahu nama-nama tempat yang dilewati. Yang aku ingat hanya POM Bensin di Parakan saat berangkat dan rumah makan di pinggir jalan dengan tulisan Pringsurat waktu pulang. Artinya saat pulang jalur yang ditempuh melalui Ambarawa. Kalau aku lihat di peta. Sedang saat berangkat aku tak tahu. Tapi sepertinya sama. Aku bisa simpulkan itu karena setelah Temanggung sampai Semarang, jalan yang dilalui kendaraan yang membawa rombongan tidak sama.

Senin pagi aku sudah bersiap-siap. Perlengkapan yang diperlukan sudah disiapkan sejak malam hari. Pagi-pagi sekali istriku juga sudah merapikannya. Kata Parno, UPK Rawalo, semua harus kumpul jam 6 pagi di kantor Faskab di Purwokerto, atau jam 06.30 di Banyumas. Tapi biasanya molor katanya. Sepakat. Kebetulan malahan.

Kebiasaan pagi untuk mengantarkan Ata ke sekolah harus tetap dilakukan. Maka, aku katakan ke istri kalau aku berangkat sekalian mengantar anak perempuanku itu. Setelah mengantarnya langsung ke Banyumas. Aku pilih di sana dengan pertimbangan lebih dekat jaraknya. Kalau ke Purwokerto pun susah. Istriku belum berani naik motor jauh-jauh masuk ke dalam kota. Paling-paling hanya sampai ke perempatan Tanjung. Selain belum lincah mengendarai motor karena masih grogi, juga tak paham jalan-jalan di Purwokerto.

Sebelum aku berangkat, sudah aku gambarkan denah arah pulang ke Mandirancan. Aku gambarkan yang paling mudah. Biar dia paham nantinya. Tidak aku sarankan dia pulang melalui jalan sebelah utara sungai Serayu meski jalannya relatif lurus dan halus. Di sana terlalu ramai kendaraan. Belum bisa aku biarkan. Karena belum cakapnya itu.

Aku gambarkan denah dari sub terminal Banyumas yang berada di sebelah timur RSUD Banyumas atau di depan SMKN 1 Banyumas. Kata Parno, teman-teman yang berasal dari jalur selatan, menunggu di sana. Dari arah itu aku sarankan dia lurus ke utara hingga Alun-alun Banyumas. Kemudian belok kiri ke arah barat hingga mentok di pertigaan. Lalu aku katakan untuk belok kanan hingga ke pertigaan Pekunden, baru belok kiri terus. Mengikuti jalan hingga Mandirancan. Denahnya jelas, mudah, tidak membingungkan. Hanya dua kali belok kiri dan sekali belok kanan, kemudian mengikuti jalan saja.

Meski demikian, saat berangkat setelah mengantar Ata, aku pilih jalur di sebelah utara sungai Serayu. Melewati Desa Wlaharwetan, dimana Dodiet menjadi Kades disana, dan Desa Kaliori juga. Ada Pak Sugeng dan Bu Parwati, selaku perangkat Desa Kaliori. Jalan ini aku pilih karena bisa agak kencang menarik tuas gas. Jalan yang relatif lurus lebih memudahkan. Bebeda dengan jalan di sebelah selatan sungai Serayu. Cenderung berkelak kelok, sempit, dan masih ada beberapa bagian yang rusak. Jalan ini yang nanti akan dilalui istriku sepulang mengantarku ke Banyumas.

Jalanan sudah ramai. Anak-anak sekolah dan para pekerja sudah mulai berebut. Masing-masing ingin agar lekas sampai tujuan. Tak ada yang mau terlambat, termasuk aku. Setiap ada kesempatan menyalip, segera tarik gas. Melihat jalan lengang sedikit pun demikian. Malah semakin ramai di pertigaan di ujung timur sana. Untuk sekedar belok kanan ke arah Banyumas saja susahnya minta ampun. Kendaraan dari arah utara dan selatan seolah tanpa putus. Aku dan beberapa kendaraan lain yang berasal dari barat, perlahan maju merangsek merebut jalan. Kalau hanya diam menunggu, tak akan dapat jalan. Pasalnya di pertigaan itu tak ada lampu lalu lintas dan pagi itu tak ada polisi yang mengaturnya.

Jalanan ke selatan semakin ramai. Apalagi aktifitas di pasar Banyumas pun sudah sejak subuh tadi dipenuhi para pengunjung. Kanan kiri jalan dipenuhi parkir kendaraan. Lalu lalang orang-orang yang menyeberang mesti diwaspadai. Tak bisa seenaknya memainkan gas di sana. Semua orang punya hak atas jalan itu. Semua harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Pasti mereka juga punya urusan yang harus diselesaikan. Sama dengan kita.

Sesampainya di Alun-alun Banyumas, aku pinggirkan motor. Aku tunjukkan arah pulang untuk istriku nanti. Tapi dia bilang sudah paham kalau jalan situ. Syukurlah. Aku tenang-tenang saja. Toh dia juga sudah bahwa kertas bergambar denah yang tadi aku gambarkan. Aku katakan meski jalan sempit dan berkelak-kelok, tapi cukup sepi. Tak perlu takut atau grogi. Dia sudah paham itu.

Ramainya jalan membuatku harus menyeberangkan motor. Sub terminal bus yang berada di sebelah timur jalan raya. Sedang arah balik istriku ke sebelah utara, maka sisi barat mesti disusuri. Bahkan, setelah aku berpamitan, aku terus pandangi dia saat naik motor. Sampai tak terlihat, karena tertutupi kendaraan lain, masih aku pandangi. Baru setelah aku yakin aman, aku menuju ke tempat yang Parno sebutkan, yakni di bangku tunggu di sub terminal.

Parno, Mas Tri, Kang Jono, Mba Irna, Mba Nanik, dan Mba Titi sudah di sana. Aku bergabung bersama Parno, Mas Tri, Kang Jono di bangku sebelah barat setelah aku salami semuanya. Kami bersendau gurau sambil menunggu kendaraan dari Purwokerto. Bincang-bincang ringan soal pengajuan dana tahap terakhir menjadi topik selanjutnya. Kang Jono hanya menjadi pendengar. UPK kecamatan Banyumas sudah phase out, tak lagi mengelola BLM. Kalau Mas Tri sudah beres. Parno tinggal mengumpulkan saja. Sedang aku belum. Menunggu pencairan BLM hari Senin kemarin dan print out, fotocopy, kemudian legalisir buku rekeningnya sebagai salah satu kelengkapan pengajuan.

Cukup lama kami menunggu. Kendaraan yang membawa kami dari Purwokerto sepertinya terjebak kemacetan di Sokaraja. Sepanjang jalan Suparjo Rustam dari perempatan Sangkal Putung hingga pertigaan depan Klenteng Hok Tek Bio selalu begitu. Jangankan pagi hari, siang atau sore pun hampir sama. Kanan kiri jalan sering digunakan untuk parkir kendaraan. Sepanjang jalan itu memang pusat kuliner Gethuk Goreng khas Banyumas. Nah, kalau kamu lewat jalan situ, jangan lupa mampir beli oleh-oleh ya. Ahihi… promosi.

Saat memasuki pasar Klampok, sedikit aku ceritakan pengalaman menjadi sales kepada Kang Jono dan Parno. Aku katakan kalau mau ke sana kelihatannya jauh. Eh, beberapa waktu lalu malah naik motor melewatinya. Saat berkunjung dan berdiskusi dengan Mas Heru dan Mba Yayuk di UPK Purwonegoro. Tapi tak aku ceritakan bagaimana dulu aku menawarkan dagangan ke pelanggan. Parno hanya bertanya produk apa yang aku pasarkan. Aku jawab mie instan. Aku katakan pula kalau per bungkus mie instan, keuntungannya tipis. Tapi karena pembelian di pasar model kartonan, maka keuntungan pun lumayan. Yang aku tangkap pelajaran dari para pedagang adalah kecepatan cash flow-nya. Tidak terlalu peduli besar kecilnya keuntungan. Prinsipnya, semakin cepat perputaran uang, maka akan semakin banyak keuntungan. Begitu kira-kira.

Aku tunjukkan pula kantor UPK Purwonegoro, dimana Mba Yayuk bekerja di sana. Aku katakan pula saat berkunjung ke sana, sempat aku kebablasan. Terpaksa balik kanan, karena kantor itu agak jauh dari pasar Purwonegoro. Tak asing aku dengan pasar Purwonegoro. Di sana pula aku pernah menjajakan mie instan dulu. Pemasaran terakhir di pasar besar kota Banjarnegara. Jalur itu aku kunjungi dalam dua minggu sekali. Kira-kira tahun 2008 yang lalu.

Jalan yang mulai berkelak kelok, naik turun sejak keluar kota Banjarnegara, Wonosobo hingga Temanggung. Jalan yang menanjak sepanjang 10 kilometer, demikian tertulis di papan peringatan, ada di wilayah Kertek Wonosobo hingga Parakan Temanggung. Kendaraan yang melewati jalan ini harus benar-benar fit. Rem harus dipastikan tidak blong. Ban juga jangan sampai kelewat aus. Apalagi bahan bakar. Susah nantinya kalau sampai terjadi masalah.

Terlihat di depan bak terbuka dan truk terengah-engah. Seperti tak kuat yang dipaksakan. Berjalan sangat lambat. Pasti bertahan pakai persneleng gigi satu. Untuk menyalipnya harus bersabar pula. Kendaraan dari arah berlawanan meluncur seperti cepat karena turunan yang cukup tajam. Bahkan saat aku pulang bersama Gonus selepas dari Temanggung, terlihat mengerikan. Saat itu maghrib menjelang. Kabut sudah menutupi jalan. Jarak pandangmenjadi pendek. Mesti berhati-hati sekali. Masih beruntung tak ada hujan. Air yang membasahi bisa membuat jalanan menjadi licin.

Pemberhentian pertama di POM Bensin yang sama saat dulu kami ke Semarang. Pemandangan indah si Gunung Kembar, Sindoro dan Sumbing terlihat jelas. Anggun. Tadi di perjalanan, puncak gunung tertutup kabut. Gunung Sindoro yang berada di sisi kiri jalan terlihat kalah tinggi puncaknya daripada Sumbing. Saat aku pulang bersama Gonus, hanya Gunung Sumbing yang terlihat.

Baru-baru ini saja melihat kecantikan dua gunung yang aku kenal saat pelajaran di SD. Saat itu aku tak hafal nama kabupaten dimana kedua gunung itu berada. Sulit membedakan mana Sindoro dan Sumbing, sering kebalik-balik. Sekarang sudah tahu.

Aku tahu kalau nanti akan melewati kantor UPK kecamatan Bulu kabupaten Temanggung. Dulu aku, Gonus, dan teman-teman di Temanggung berkumpul di sana. Eh, malah acara makan siang di dekat situ juga. Sayangnya saat aku unggah foto acara makan, si Gondo, bendahara UPK Bulu dalam perjalanan ke Semarang. Sudah sampai Bandungan. Enggak apa-apa juga. Insya Allah akan bisa ketemu nantinya.

Jalan dari Purwokerto hingga Temanggung sudah bisa aku kenali. Tanaman di kanan kiri jalan saat di Kertek, Parakan, hingga Bulu, yang dulu di dominasi oleh tembakau, sekarang sudah berganti. Sayur mayur, cabai, dan ada padi juga. Mungkin karena faktor cuaca yang memasuki musim penghujan, atau siklusnya memang harus begitu. Tentu tak baik bagi tanaman jika sepanjang tahun tak berganti-ganti.

Penasaran aku melihat perjalanan dari Temanggung sampai Semarang melalui Bandungan. Padahal pernah aku mengikuti acara di Bandungan saat Gubernur Jateng masih di jabat oleh Pak Bibit Waluyo. Saat itu malahan kami bersama teman-teman UPK se-Jateng melakukan hearing di Gubernuran. Perjalanan dari Bandungan ke sana dikawal Patwal. Panjang sekali iring-iringan waktu itu.

Jadi sebenarnya aku pernah melewati jalur itu. Cuma nggak ngeh saja. Maka kini aku ingin konsentrasi untuk bisa menikmatinya.

Sensasi jalan yang berlika liku seperti ular, naik turun, jalan sempit yang diapit oleh jurang dan tebing, aku rasakan benar. Aku tak jirih. Cuma terkesan saat melihat kendaraan berjalan di depan pada posisi yang lebih tinggi. Aspal jalan naik terlihat jelas. Pemandangan di sepanjang jalan dominan warna hijau. Sejuk di mata.

Kata orang-orang pertanian, termasuk Kikin, adikku, warna hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau karena zat hijau daun berarti masih terjadinya proses fotosintesis. Proses itu akan memproduksi makanan bagi tumbuhan, menangkap karbondioksida dan melepaskan oksigen di siang hari, dan sebaliknya saat malam hari. Produksi makanan dari proses fotosintesis akan menumbuhkembangkan pepohonan itu. Jika dilakukan oleh tanaman umbi-umbian, sisa makanan itu akan disimpan didalam umbinya. Stok makanan dalam umbi itu yang dimakan oleh manusia.

Aku jadi ingat jalan menuju grumbul Karangbanar Desa Kalisalak kecamatan Kebasen. Di atas sana aku bisa memandang hamparan luas dataran rendah di Kebasen sampai Rawalo. Indah. Sedang tingkat kesulitannya seperti di jalan menuju UPK Kec. Tanjungkerta kabupaten Sumedang. Dimana rombongan pelaku PNPM MP Kec. Kebasen pernah studi banding ke sana. Hampir sama kondisinya. Jalan berlika liku, naik turun, dan sempit. Bedanya,jalan ini lebih panjang. Sopir harus berhati-hati dan waspada.

Memasuki jalan utama dari arah Ambarawa menuju Semarang, kendaraan-kendaraan besar mulai nampak. Pembatas dua arah jalan belum semua dibuat, masih taraf pengerjaan. Di sini mesti berbagi dengan kendaraan lain. Maka kadang-kadang memperlambat kendaraan semakin sering dilakukan. Hanya saja adrenalinnya sudah tak terlalu berpacu seperti tadi. Kini harus waspada. Kalau-kalau ada sepeda motor yang tiba-tiba memotong jalan di depan. Terlihat bapak-bapak Polisi sibuk mengatur kendaraan.

Sebenarnya naik turun dan berkelak keloknya jalan masih dilalui. Hanya saja ruas jalan di sini sangat lebar, kondisi jalan bagus, dan tentu saja tak ada jurang atau tebing di kanan kirinya. Pemandangan pun berubah dari pepohonan hijau ke bangunan gedung-gedung. Ada yang masih bagus, elegan, ada pula yang terkesan tak terawat.

Jalan Si Singamangaraja dimana Hotel Grand Candi yang akan di tuju letaknya tak jauh dari Akpol Semarang. Hotel megah ini ternyata masih agak ke selatan dari kota Semarang. Masih menempuh jarak lumayan jauh kalau mau ke kotanya. Padahal aku sudah kabari adik kelas di SMA yang sekarang tinggal di sana. Katanya masih agak jauh. Ya, Semarang kan bukan Purwokerto… hehehe….

Sesampainya di sana aku sedikit terpana. Wah, di sini ternyata. Hotel megah ini akan aku tinggali dalam dua hari dua malam nanti. Kasurnya pasti empuk, mandi pakai shower, lux, dan fasilitas lain yang sering tak bisa aku gunakan karena ndeso-nya. Makanan enaknya kadang tak bisa aku rasakan nikmatnya karena tak biasa.

Ih, kok baju seragam karyawan hotelnya lebih bagus dari kaosku ya… ahaha….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here