Meneguhkan Pemberdayaan Usaha Kecil

0
300
Mereka perlu bantuan modal dan peralatan.

Permasalahan yang dihadapi pelaku usaha kecil sangat kompleks. Banyak masalah yang sampai sekarang, masih belum terselesaikan. Berbagai pelatihan yang diadakan masih belum bisa maksimal. Perlu evaluasi dan renungan bersama.

Salah satu masalah besar yang dihadapi oleh para pelaku usaha mikro dan kecil adalah pemasaran. Berbagai teori dan praktik pelatihan seakan tak berpengaruh. Sejak dulu, pemasaran selalu menjadi masalah yang sulit dipecahkan. Teori marketing mix yang diajarkan, tak mudah dipraktekkan. Pemasaran melalui online pun, tak segampang yang dibayangkan.

Pertanyaan ini selalu muncul pada sesi pelatihan-pelatihan. Karena pada kenyataannya, produk usaha mikro dan kecil, kebanyakan jauh dari standar produk di pasaran. Masalah kualitas, kemasan, harga, dan promosi, selalu kalah dengan produk pabrikan.

Pelatihan bisnis online sebagai alternatif pemasaran produk, belum terasa manfaatnya. Pembelian awal biasanya tak diikuti oleh pembelian ulang. Baru beberapa produk saja yang demikian. Padahal pembelian ulang dan perputaran modal lah yang akan menyangga keberlanjutan usaha tersebut.

Pemasaran menjadi masalah besar bagi usaha kecil.
Pemasaran menjadi masalah besar bagi usaha kecil.

Pelatihan peningkatan kualitas, kemasan, akuntansi biaya, marketing mix, dan pemasaran online, tetap penting dilakukan. Meningkatkan daya saing produk dengan pelbagai pelatihan tadi, mesti tetap dilakukan. Akan tetapi, untuk meneguhkan usaha kecil, perlu diimbangi dengan upaya-upaya lain, diantaranya:

Pertama, Penguatan mental

Pembenahan mental menjadi pekerjaan yang wajib dilakukan. Mental pekerja, peminta-minta, instan, negative thinking, dan tidak percaya diri, merupakan penyakit menjadi penghalang kemajuan. Pelaku usaha kecil yang memiliki mental demikian, tak akan bertahan lama.

Perubahan sikap mental pada masyarakat dipengaruhi dari faktor internal dan eksternal. Perubahan ini mengakibatkan minimnya minat mereka terhadap usaha kecil. Masyarakat desa yang dulu terkenal sangat produktif, sekarang cenderung konsumtif. Perubahan ini mengakibatkan minimnya minat mereka terhadap usaha kecil.

Urusan mental memang sulit. Perlu penyadaran secara terus menerus, massif, dan dilakukan dengan teladan nyata. Memompa semangat pelaku usaha kecil dengan mengenalkan pada pelaku yang sudah sukses, menjadi salah satu solusi. Perbanyak pelatihan-pelatihan dengan mendatangkan pembicara yang sukses dari usaha kecilnya.

Usaha kecil membantu mengurangi pengangguran.
Usaha kecil membantu mengurangi pengangguran.

Kedua, Akses permodalan

Setelah mental terbentuk dan kemampuan ditingkatkan, permasalahan selanjutnya adalah soal modal. Permodalan menjadi kendala yang cukup serius. Modal yang dimaksud ialah uang, barang, dan atau peralatan. Kesulitan mendapatkan modal menjadi salah satu pemicu rendahnya kemauan masyarakat membuka usaha sendiri.

Sulitnya masyarakat mengakses permodalan usaha, menjadikan mereka lebih memilih menjadi pekerja. Masyarakat terpaksa menikmati sebagai seorang pekerja. Sebab menjadi seorang pekerja, resiko dan modal nya relatif lebih kecil. Meski dari hasil kerja ini bisa dijadikan modal usaha tentunya. Akan terasa berbeda jika kesulitan akan akses permodalan bisa teratasi.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai macam program penguatan usaha kecil. Sayangnya, tingkat keberhasilan di masing-masing tempat berbeda-beda. Ini disebabkan karena pola program disamaratakan di semua wilayah. Padahal karakter masyarakat jelas berbeda-beda. Makanya, akan lebih baik pola program disesuaikan dengan karakter masyarakat. Pemerintah lah yang menyesuaikan diri, bukan masyarakat.

Mereka perlu bantuan modal dan peralatan.
Mereka perlu bantuan modal dan peralatan.

Ketiga, Strategi kedekatan konsumen

Anggap lah bahwa masyarakat sudah mau berusaha dengan kemudahan akses permodalan. Kini masyarakat sudah memiliki produk yang siap dipasarkan. Produk yang dihasilkan mesti siap bersaing di pasar umum. Dimana hukum ekonomi akan bermain.

Menurut ilmu pemasaran, ada 4 (empat) strategi perusahan dalam memasarkan produk mereka, yaitu: kepemimpinan produk, keunggulan operasional, kedekatan dengan konsumen, dan product locking.

Dari keempat strategi pemasaran tersebut, kedekatan dengan konsumen menjadi pilihan logis.

Jika pelaku usaha kecil mengandalkan strategi pertama, jelas akan kalah dengan produk pabrikan. Produk-produk pabrikan yang telah menguasai pasar, sangat sulit digoyang. Mereka akan segera melakukan tindakan, saat muncul produk pesaing.

Pelaku usaha kecil pun akan susah bersaing di sisi harga. Keunggulan operasional sebuah usaha yang sudah maju, sudah jelas bisa mengefisiensikan biaya. Maka, tawaran produk dengan harga kompetitif, menjadi keunggulan mereka. Strategi ini tidak cocok bagi pelaku usaha kecil. Pasalnya, biaya produksi masih cukup besar.

Kedekatan dengan konsumen menjadi strategi yang tepat. Para pelaku usaha kecil bisa memanfaatkan kedekatan secara emosional dengan konsumen. Jalinan komunikasi dan silaturahmi yang hangat akan mempengaruhi keputusan pembelian dari calon pembeli. Konsumen yang merasa dekat dengan pelaku usaha kecil, biasanya akan membeli produk mereka.

Sedang strategi product locking lebih tepat dilakukan oleh perusahaan dengan produk bermerek. Nama merk menjadi jaminan produk, yang pada akhirnya, perusahaan bisa mengunci konsumen. Misalnya, pembelian HP yang di-bundling bersama vendor layanan internet.

Kebersamaan akan mendekatkan pelaku UMKM dan konsumennya.
Kebersamaan akan mendekatkan pelaku UMKM dan konsumennya.

Keempat, Membuat jaringan pemasaran sendiri

Jika ingin menyalip, jangan gunakan lintasan yang sama.

Nasihat ini berlaku bagi pelaku usaha kecil. Jika ingin mudah dalam pemasaran, jangan mengandalkan jaringan pemasaran yang sudah ada. Produk usaha kecil akan dipandang sebelah mata. Andai dipasarkan pun, tidak dilakukan sepenuh hati. Karena mengangkat sebuah produk yang belum terkenal sangat lah sulit. Belum lagi berbicara soal margin keuntungan.

Jika produk usaha kecil ingin laku, harus memakai lintasan lain. Dengan kata lain, harus membangun jejaring pemasaran sendiri. Penguasaan jalur distribusi oleh produk-produk pabrikan, terlalu sulit di lawan. Pun tidak menguntungkan saat bergantung pada mereka. Apalagi jika produk usaha kecil tersebut termasuk kompetitor, akan sangat mudah dihancurkan.

Jalan terbaik yang juga tak mudah ialah membangun jejaring pemasaran sendiri. Dengan memiliki jejaring pemasaran sendiri, produk usaha kecil akan lebih mudah didistribuskan. Perputaran produk akan terjadi. Imbasnya, keberlanjutan usaha-usaha kecil akan terjaga.

Konsekuensi logis yang mesti dilakukan adalah mempelajari pola-pola distribusi yang sudah ada. Kemudian merumuskan pola yang tepat dan mudah dilakukan, melaksanakan pola tersebut dan tak bosan mengevalusinya.

Salah satu wujud dalam membuat jaringan pemasaran sendiri.
Salah satu wujud dalam membuat jaringan pemasaran sendiri.

Kelima, Kolaborasi pemasaran

Kolaborasi para pihak guna memasarkan produk UMKM mutlak dilakukan. Kita tidak bisa memasarkan produk sendiri tanpa kerjasama. Saling memasarkan produk-produk UMKM dan berubah peran menjadi produsen dan konsumen sekaligus. Memberikan masukan guna peningkatan kualitas produk masing-masing.

Pemasaran akan lebih mudah jika pelaku UMKM berkolaborasi dengan banyak pihak. Jejaring pemasaran akan semakin meluas dan mudah di jangkau, saat kolaborasi ini dilakukan. Bentuk-bentuk kolaborasi antar pihak tinggal disepakati. Kolaborasi akan membantu mempercepat perputaran produk.

Ada baiknya kolaborasi antar pelaku diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Berbagai pilihan yang ada dalam UU Desa adalah pola kerjasama antar desa, kerjasama desa dengan pihak ketiga, dan kerjasama antar desa dengan pihak ketiga. Tentunya melalui sebuah kajian yang selektif dan bekerjasama dalam simbiosis mutualisma.

Berkolaborasi dengan asosiasi profesi.
Berkolaborasi dengan asosiasi profesi.

Keenam, Pendampingan dan perlindungan

Pemerintah wajib memberikan pendampingan dan perlindungan terhadap usaha UMKM. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan, akan bernasib sama dengan yang sudah-sudah. Pemerintah bisa memanfaatkan tenaga lokal guna pendampingan. Para pendamping akan menjadi penyambung lidah kepada pemerintah, pemberi semangat, membuka jejaring pemasaran, membantu tata kelola usaha, dan persiapan pengembangan usaha.

Perlindungan terhadap usaha UMKM bisa dilakukan dengan berbagai kebijakan, baik fiskal maupun moneter. Contoh: pembatasan impor, kampanye penggunaan produk lokal, dan lain sebagainya. Perlindungan terhadap usaha UMKM semakin tak mudah saat perdagangan global sudah berjalan. Pemerintah mesti kreatif dan inovatif dalam melakukannya.

Perlindungan nyata terhadap UMKM adalah menjadi konsumennya. Para pegawai pemerintah hendaknya mau memenuhi sebagian kebutuhannya dari produk UMKM. Keteladanan terhadap masyarakat dalam mengkonsumsi produk UMKM, sedikit banyak akan berpengaruh. Sebab di mata masyarakat, pegawai pemerintah adalah publik figur yang pasti akan diikuti tutur kata dan perilakunya.

Menjadi konsumen produk UMKM, wujud nyata perlindungan.
Menjadi konsumen produk UMKM, wujud nyata perlindungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here