Mengejar Mimpi atau Ilusi

0
585
Semangat belajar

Hampir setiap pagi saat berangkat kerja, aku mengambil jalan yang menyusuri saluran irigasi Bendung Gerak Serayu hingga sampai ke kantor. Jalan ini aku ambil karena relatif sepi. Kecuali ada keperluan ke Kantor Kecamatan, Kantor Pos, BKK, BRI, atau telanjur jalan paska melintasnya kereta api, aku akan lurus saja. Melewati jalan kabupaten yang biasa dilalui kendaraan umum. Jalan yang menyusuri saluran irigasi ini akan menyuguhkan keindahan alam dan aliran air yang membuat sejuk di mata. Meski ada “pemandangan” lain di sini.

Setelah pintu perlintasan kereta api di Desa Gambarsari, di jalan yang menghubungkan Purwokerto – Sampang via Kebasen, aku akan belok kanan ke arah Bendung Gerak Serayu. Ada pertigaan di depan. Belok kanan kemudian menyeberang melalui jembatan kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda dan motor tanpa berpapasan, diantara pintu-pintu air, adalah jalan pintas yang aku lalui saat hendak pergi ke Jatilawang. Harus hati-hati di sini. Tidak boleh lengah. Kamu-kamu yang ciut nyali tatkala melihat ke bawah, aku sarankan jangan lewat jalan ini. Perlu kesabaran menunggu kendaraan dari arah yang berlawanan. Jika telanjur masuk, salah satu harus mengalah dengan cara meminggirkan kendaraan di pintu-pintu air yang berjumlah 8 buah itu. Lebar jalan tak sampai satu meter soalnya. Pokoknya harus hati-hati sekali.

Bendung Gerak Serayu
Bendung Gerak Serayu

Sedang di pertigaan tadi, aku akan belok kiri menyusuri jalan ke selatan. Kemudian melewati jembatan yang melintang diatas saluran irigasi tersebut dan terus berjalan sampai jalan raya depan SDN 1 Kebasen. Kantorku berada persis di depan Puskesmas Kebasen. Sekitar 25 meter ke barat dari SDN 1 Kebasen. Bedanya kalau SDN 1 Kebasen berada di sebelah selatan jalan, berjajar dengan Kantor Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) Kebasen, sedang kantorku berada di sisi utara jalan. Berderet dengan warung nasi, mie ayam, sayuran, gado-gado, bakso, dan soto. Tinggal SMS atau telpon, layanan delivery order siap mengantarkan… hahaha….

Kata pemandangan dalam tanda kutip di paragraf pertama sedikit perlu penjelasan. Pemandangan ini sudah biasa bagi kami, para pengguna jalan di sisi saluran irigasi tersebut. Begitu pula bagi masyarakat Desa Gambarsari khususnya. Pemandangan itu tak lain, saling berjajarnya pasangan muda-mudi di hampir setiap waktu. Entah itu pagi, agak siang, siang, atau sore hingga menjelang maghrib. Aku memang tidak pernah memperhatikan mereka satu per satu. Sekilas saja. Wajah-wajahnya asing, aku tak kenal mereka. Andai ada beberapa yang aku kenal, mereka tak berpasangan. Hanya iseng nongkrong katanya.

Yang membuatku miris ialah seragam biru putih atau abu-abu putih masih melekat. Atau seragam lain yang aku kenal, masih berstatus sebagai pelajar. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku. Apa alasan mereka saat orang tua mereka bertanya, mengapa pulang terlambat. Les, ekstrakurikuler, belajar kelompok, atau apa. Yang aku yakin, pasti mereka tak akan jujur menjawab. Alasan selalu bisa dibuat. Hingga tulisan ini diunggah, aku tak pernah mencari tahu. Cukup jadi pelajaran sebagai calon orang tua dari anak-anak yang menanjak remaja dan dewasa nanti.

Sepanjang jalan ini
Sepanjang jalan ini

Dalam hati aku pun menebak-nebak. Apa sebab mereka melakukan ini. Apakah bosan dengan cara mengajar guru yang tidak menarik, jengah dengan urusan orang tua mereka yang sering bertengkar, atau karena mereka jarang diajak ngobrol layaknya teman. Mungkin para orang tua yang masih menganggap dan memperlakuan sebagai anak kecil, penyebabnya. Mungkin ini mereka lakukan sebagai upaya protes terhadap orang tua yang kadang egois. Tak jelas. Namun tontonan di televisi yang mengumbar kemesraan antara lawan jenis, jelas memiliki pengaruh yang kuat.

Duduk berdua di pinggir jalan atau saluran irigasi dengan bermesraan tanpa risih merupakan pemandangan yang menyedihkan. Mereka tidak sekedar berpegangan tangan. Lebih dari itu. Posisi duduk pun tak lagi sekedar berdampingan. Seperti mau pamer saja. Mereka tak tahu kalau di rumah, bersama istri tercinta, aku bisa melakukan apa saja. Halal dan dapat pahala. Insya Allah.

Pemandangan hampir serupa sering aku temui saat menyisir jalan di sebelah barat rel kereta api sejak stasiun Gambarsari. Biasanya mereka nangkring di jok sepeda motor atau rerumputan. Terlihat asyik. Sambil melihat deretan pegunungan yang hijau atau hamparan sawah yang indah. Sesekali melihat kereta api melintas. Rimbun pepohonan melindungi mereka dari panas. Biasanya ramai di sini saat matahari sudah mulai surut di ufuk barat. Sempat aku becanda dengan ucapan sedikit nyinyir.

“Lah sing wadon gelemen temen disengi pacaran nang kene. Keton banget sing lanang ora modal… hahaha….”.

Ada getir pada kalimat itu.

Kenyataan banyaknya kasus aborsi, hamil diluar dan sebelum nikah, termasuk hasil survei tentang kehormatan gadis yang sudah banyak yang terkoyak, membuat ngeri. Padahal yang aku tahu, seorang lelaki biasanya dilihat dari masa depannya, sedang perempuan dipandang dari masa lalunya. Nah. Lagi-lagi pihak perempuan yang menjadi korban. Sayangnya masih banyak yang tak bisa mengambil pelajaran dari situ.

Siang tadi aku membonceng Yoga. Setelah mampir ke BRI guna mengambil uang buat Yoga, dan nebeng AC bagiku, kami menuju Kalisalak. Rumah Bu Robingah yang kami tuju. Paginya dia sudah telpon. Dia bilang, barang-barang sembako yang akan dijual di acara pasar murah sudah di kirim, tinggal pembayaran.

Kemarin siang hingga sore, kami berkumpul di rumah nenek penebar virus itu. Membahas soal keikutsertaan dalam mensukseskan pembukaan program TMMD se-Kab. Banyumas yang dipusatkan di Desa Kaliwedi. Ada upacara pembukaan di lapangan Desa Kaliwedi dan pasar murah di kompleks balai desa. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Kamis besok, tanggal 09 Oktober 2014.

Pasar murah yang digelar itu akan diikuti oleh 12  pihak. Ada dari instansi, ormas, dan pihak swasta. Sedang UPK PNPM MP Kec. Kebasen mewakili Forum UPK PNPM MP Kab. Banyumas.

Karena ingin memberdayakan pelaku-pelaku di desa, maka dipilih beberapa orang dari unsur TPK, KPMD, dan kelompok SPP untuk menjadi panitia lokal. Penanggung jawab kegiatan di lapangan diserahkan kepada Imam dan Yoga, selaku PL Program, dan PL UPK. Untuk mempermudah koordinasi nantinya. Meski aku pun ikut nimbrung di sana.

Menurutku, biarkan mereka berperan lebih dominan. Ini proses pembelajaran yang bagus buat tim. Mereka diberi kewenangan untuk mengatur hal-hal teknis. Sedang aku belajar untuk bersabar dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Termasuk mengerem keinginan mengatur ini dan itu secara detail agar aku dianggap paling bisa. Bersama-sama belajar merencanakan, melaksanakan, dan nanti mengevaluasi kegiatan menjadi tujuan akhir.

Senin kemarin, setelah aku berkoordinasi dengan Kang Ruswedi, kemudian meluncur ke Bapermas PKB dan Setda Banyumas, aku minta tolong Rosi untuk disampaikan ke Imam, bahwa pertemuan dengan panitia di rumah Bu Robingah sekitar jam 2 siang. Kebetulan Rosi telpon saat aku sedang di jalan Gang Mas Cilik, menuju arah Setda. Padahal saat itu aku berencana ingin mengumpulkan mereka pada hari Selasanya. Alhamdulillah, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Aku sudah berencana berkoordinasi dengan Kang Rus pada Kamis sebelumnya. Sayangnya waktu itu dia sedang mengikuti rakor UPK se-Prov. Jateng di Semarang. Hari Jum’at aku harus melunasi hutang pekerjaan pada PjOK. Sedang Sabtu dan Minggu terkendala libur Idul Adha. Maka gasik aku ke sana. Aku harus menunggu. Kang Rus sedang memimpin rapat internal. Evaluasi kegiatan minggu sebelumnya dan rencana pelatihan gula semut di desa. Lumayan lama.

Setelah terjadi kesepakatan-kesepakatan, aku bergegas meluncur ke kantor Bapermas PKB. Tawaran untuk sekedar menikmati makanan ringan, terpaksa tidak aku iyakan. Pasalnya Mba Windi, bendahara Satker, sudah SMS tadi pas di jalan. Aku kira urusan pengajuan BLM. Ternyata urusan ini juga. Dia dimintai tolong oleh Pak Agus terkait rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh UPK untuk ikut dalam TMMD itu. Pak Agus tidak ada di tempat, sesampainya aku disana. Aku manfaatkan untuk ngobrol-ngobrol dengan Mba Windi. Masalah pencairan dana APBD yang tak kunjung cair. Dampak pemotongan anggaran sebesar 11,8% memusingkan. Harus ada revisi proposal, penerbitan SK, nanti NPHD, pengajuan pencairan ke KPPN. Padahal sebelum ada informasi pemotongan, tinggal mengurus pengajuan pencairan ke KPPN saja. Yah, ini lah birokrasi kita. Rumit. Kalau boleh usul sih, ya mending disederhanakan saja. Itu sih kalau bisa.

Aku kira cukup sampai di Bapermas PKB saja. Wah, ternyata harus lari ke Bagian Perekonomian Setda Banyumas. Bertemu Pak Ngadimin. Untung beliau masih di ruang kerja, belum berangkat shalat dhuhur dan istirahat. Setelah berbasa basi serta menggunakan kalimat sakti, sudah berkoordinasi dengan pihak Bapermas PKB, akhirnya UPK akan diberi stan sendiri. Syaratnya nanti pada Rabu sore, saat gladi bersih aku harus datang. Memastikan dimana posisi stan nantinya.

Titipan surat untuk Muspika, Pemdes Kaliwedi, lembaga desa, dan ormas-ormas lain harus diserahkan segera. Saat menunggu Pak Agus, aku lihat seorang anak SMK yang sedang PKL di sana, terlihat sangat sibuk. Memilah memilih dan memasukkan ke amplop dari banyak surat yang harus segera diluncurkan. Pak Janto, staf di sana, meminta aku untuk membantu mengantarkan surat-surat khusus buat kecamatan Kebasen dan Desa Kaliwedi. Untuk undangan di tingkat kecamatan, surat diberikan ke kantor kecamatan. Sedang untuk Pemdes, lembaga, dan ormas di Desa Kaliwedi akan aku titipkan ke Imam. Rumahnya bersebelahan dengan Kantor Pemdes Kaliwedi.

Pikiranku langsung menuju ke rumah Bu Robingah, kala Imam melalui Rosi bertanya mau kapan dan dimana panitia berkumpul. Dia orangnya suka membantu. Pengalaman sejak 2009 hingga sekarang, dia selalu siap sedia tatkala kita minta bantuannya. Dia pun aktif dalam setiap kegiatan yang kami selenggarakan. Tentang Bu Robingah, sudah aku posting tersendiri dengan alamat link: http://banyumasmandiri.or.id/2014/08/11/nenek-penebar-virus-semangat-belajar/.

Perbincangan-perbincangan seru hadir saat aku dan Yoga meladeni materi obrolan si nenek. Nenek ini masih mau memikirkan masyarakat. Dia memberikan masukan-masukan terkait pelaksanaan kegiatan yang sudah dan yang akan dilakukan. Apalagi masa depan paska program, khususnya untuk UPK belum pasti. Dia hanya ingin UPK tetap eksis. Tidak terpengaruh dan tersaingi dengan lembaga keuangan manapun nantinya. Memperkuat basis-basis kelompok pemanfaat SPP agar tak berpindah ke lain hati.

Kami hanya ingin memastikan saja bahwa empat jenis sembako, yakni beras, gula pasir, minyak goreng, dan mie instan sudah siap dibungkus esok harinya. Bu Robingah bersedia meminjamkan 4 kuintal beras yang baru saja dia gilingkan ke rice mill. Soal pembayaran gampang. Menunggu dana dari pembelian paket sembako. Sedang pembayaran ke toko pemasok gula pasir, minyak, dan mie instan sementara memakai dana pribadi Imam dan Bu Soniah. Transfer dana dari Forum UPK Kab. Banyumas belum cukup untuk membayar tagihan untuk tiga item sembako non beras.

Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke Randegan. Melihat pelatihan membordir yang sudah berjalan sejak 16 September yang lalu. Ini kali pertama aku ke sana dan yang kedua bagi Yoga. Melewati jalan Desa Sawangan membuatku teringat keberadaan Mas Sutriono. Ketua Kelompok Tani Jati Jaya Desa Sawangan yang juga menjadi penyuluh swadaya teladan Kab. Banyumas. Dia mengembangkan agensia hayati untuk melawan berkembang biaknya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Dia mengkampanyekan sustainable agriculture concept. Yakni model pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Sudah lama dia memakai sepenuhnya pupuk organik buatan sendiri untuk mengelola tanaman padi di sawah. Laboratorium mini yang berada di dekat rumahnya menjadi tempat pelatihan pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan di sekitar kita. Siapa saja dipersilakan datang untuk belajar ke sana. Asalkan janjian terlebih dulu. Sebab dia sering diminta tenaganya untuk melatih di banyak tempat, termasuk menjadi dosen pendamping di Unsoed, UNS, dan UGM. Keren.

Pelatihan membordir yang didanai dari BLM PNPM MP TA 2014 ini diikuti oleh 13 orang perempuan. Semuanya berstatus ibu-ibu. Mungkin terinspirasi dari keberhasilan pelatihan menjahit kesed dari kain perca pada tahun kemarin. Kelompok yang terbentuk bisa memproduksi, berkreasi, dan memasarkan produk-produk mereka hingga ke Wonosobo. Sampai sekarang pun masih memasok ke Supermarket di Sampang dan Kroya Kab. Cilacap. Memang masih model titip jual. Nyatanya keberhasilan menembus dua Supermarket ini menjadi bahasa marketing mereka.

“Kesed buatan kami laku di Supermarket, lho”. Mungkin begitu kata-katanya.

Tak heran produksinya terus berjalan, kecuali berhentinya pasokan bahan baku. Ini berdampak positif terhadap tambahan pendapatan mereka. Alhamdulillah, ikut senang mendengarnya.

Saat memasuki halaman Balai Desa Randegan, aku sedikit heran. Sepi. Hanya beberapa motor dan sepeda saja. Dimana pelatihannya. Padahal dulu, saat pelatihan menjahit kesed, sangat ramai. Karena pelatihannya diikuti oleh banyak orang dan ditempatkan di tempat rapat terbuka yang berbentuk joglo, sehingga terlihat dari jalan raya. Oh, ternyata pelatihan di ruangan bekas kantor sekretariat Pemdes Randegan.

Sejak pindah kantor, baru kemarin aku masuk lagi ke ruangan ini. Ruangan ini berukuran sekitar 8×4 meter. Ruangan ini dulu terkesan sempit. Sepertinya sekarang dialihfungsikan untuk perpustakaan desa dan olahraga tenis meja. Lima buah almari berisi buku-buku. Koleksinya lumayan banyak. Sayangnya masih belum terawat. Tatanannya masih tak rapi. Saat aku coba lihat-lihat koleksi dengan melihat tulisan per kategori buku, masih banyak yang tercampur. Sepertinya mereka yang menyempatkan membaca, masih belum disiplin mengembalikan pada tempatnya. Pasti lah pustakawan yang ditugaskan tak sempat mengurutkannya kembali. Selain keilmuan yang belum didapat, pun masih sekedar nyambi. Ini masih lebih baik. Ada niatan baik dari Pemdes dan masyarakat untuk membuka cakrawala pengetahuan.

Almari perpustakaan
Almari perpustakaan

Bed tenis meja dan bolanya tersimpan di sana juga. Termasuk beberapa barang. Lebih mirip gudang ku rasa. Yah, mungkin memang belum ada tempat untuk menyimpan aneka barang lainnya. Atau memang sengaja disingkirkan sementara. Nanti setelah pelatihan membordir ini selesai, akan di tata kembali. Tapi saat aku lirik lantainya, bersih. Hanya bagian atas yang terlihat berwarna coklat di sana sini. Atapnya pasti ada yang pernah bocor. Moga-moga sudah diperbaiki. Mumpung masih musim kemarau, agar tak bingung nanti saat musim penghujan tiba. Ah, kalau diminta membereskan semua keperluan dengan alokasi bantuan dana yang sedikit, tentu siapapun akan pusing. Tak terkecuali Pemerintah Desa Randegan.

Melihat antusias mereka dalam belajar, aku ikut senang. Semangat itu terlihat saat kesulitan pertama, yakni peserta tak bisa menggenjot pijakan mesin jahit. Biasanya, mereka yang belajar membordir sudah bisa menjahit baik dengan cara menggenjot pijakan atau dengan dinamo. Lha ini, mereka belum bisa sama sekali. Kesabaran Bu Kholifah sebagai tutor ditambah dengan keinginan besar untuk bisa, membuat kesulitan itu seolah tak berarti. Hanya dalam hitungan hari, mereka bisa menggenjot pijakan dengan baik. Satu dua orang saja yang masih sering salah. Mereka menyimak dengan baik instruksi dan cara membordir yang disampaikan oleh Bu Kholifah.

Semangat belajar
Semangat belajar

Sebagai pensiunan PNS di Dinas Pendidikan yang lebih sering ditugaskan sebagai tutor di SKB-SKB, Bu Kholifah paham benar menangani siswa-siswa belajarnya. Ia mengaku sering mendampingi para siswa belajar baik yang masih kursus di SKB maupun setelah mereka dinyatakan lulus. Jam terbangnya yang sudah tinggi membuatnya mudah saja menghadapi kesulitan-kesulitan dan perbedaan karakter siswa-siswanya. Enjoy aja, katanya.

Aku berharap nanti, kelompok ini akan bisa solid seperti kelompok pengrajin kesed. Bisa mengembangkan usaha hingga tetap eksis dan berimbas pada kesejahteraan mereka. Aku bersyukur menjadi bagian dalam pendampingan ini. Semangat dan kebahagiaan mereka kala menjalani sesi pelatihan yang bisa berdaya guna menambah kekuatan diri agar aku bisa berbuat lebih. Semoga.

Jika membandingkan antara semangat para ibu yang sedang belajar membordir dan mereka yang menjadi panitia pasar murah dengan pasangan muda-mudi yang duduk-duduk di pinggir saluran irigasi dan jalan sebelah rel, hati ini jadi sedih. Satu pihak bersemangat menyempatkan diri diantara kesempitan-kesempitan mengurus rumah tangga, pihak lain justru sebaliknya. Sayang.

Terlihat siapa mengejar apa. Mimpi atau ilusi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here