Menggapai Asa Kemandirian dengan Festival Mrica

0
315
Wawancara dengan Petani Mrica

Alhamdulillah, akhirnya bisa mengikuti Festival Mrica. Festival Mrica yang diadakan di Desa Cingebul Kec. Lumbir ini sebenarnya sudah dilaksanakan sejak kemarin (06/05/2015), tapi baru hari ini aku bisa ikut. Kemarin aku sudah janjian sama Kang Dodiet, Kades Wlahar Wetan. Sayangnya dia harus takziah dulu ke Srowot. Itu pun baru aku ketahui saat sudah agak siang. Akhirnya aku batalkan. Sebab ada keperluan lain yang tak kalah penting.

Serangkaian kegiatan Festival Mrica kemarin sudah diselenggarakan. Sarasehan tentang Mrica, manajemen portal berita, teknik penulisan, pembuatan video, guna memasarkan komoditi ini via dunia maya. Niat baik dari panitia guna memaksimalkan ladang yang semula banyak ditanami singkong yang hasilnya tak seberapa, berubah menjadi komoditi mrica yang harganya lebih baik. Tentu dengan pertimbangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Workshop Penulisan Berita (hari pertama)
Workshop Penulisan Berita (hari pertama)

Perjalanan ke Cingebul terasa lama. Mungkin karena baru kali pertama aku ke sana. Sudah sendirian, nggak tahu arah, tak tahu perkiraan sampai jam berapa di sana pula. Berkali-kali aku bertanya ke orang-orang yang kelihatan di pinggir jalan. Kayaknya lebih dari lima kali. Takut kebablasan.

Jalan berliku dimana kita bisa goyang ke kanan ke kiri saat naik bis, sering membuat perut mual. Jalur Lumbir sampai Karangpucung Cilacap memang seperti itu. Belok kanan, kiri, sedikit lurus, naik turun, mirip sirkuti MotoGP andai semua halus di aspal. Sesaat harus memiringkan badan ke kiri, kemudian ke kanan. Kadang sebentar, kadang agak lama saat tikungan tajam. Mantap pokoknya.

Kalau tak salah, jalan halus hanya aku temui dari Wangon sampai Desa Parungkamal. Setelah itu, aku harus konsentrasi penuh. Selain harus waspada dengan kendaraan di depan, lubang-lubang menganga, dan jalan yang bergelombang sering menngagetkan. Sesekali menahan nafas dan perut agar tak tergoncang. Ini pertama kali aku melalui jalan ke Lumbir dengan motor.

Ah, bisa bernafas lega saat terpampang tulisan Cingebul, dengan petunjuk arah ke kiri.

Jalan ke Cingebul sejak pertigaan itu pun tak jauh berbeda dengan jalan tadi. Hanya di sini lebih sempit, tapi halus.

Saat aku agak ragu dengan jalan yang dilalui, aku berhenti. Aku bertanya kepada seorang kakek yang sedang berjalan kaki. Dia bilang, masih agak jauh kalau ke balai desa. Kemudian dia minta ijin memboncengku. Kakek yang renta ini mengaku habis dari kebun. Katanya pula, semalam dia ikut acara di balai desa hingga sekitar jam 1 malam. Ramai.

Ternyata jarak dari tempat dimana si kakek membonceng hingga balai desa memang cukup jauh. Wah, si kakek ini benar-benar kuat. Andai tadi tak memboncengku, dia mungkin jalan kaki. Atau bahkan tadi pagi dia jalan kaki ke kebunnya. Tak heran jika orang-orang desa lebih sehat. Olahraga meski hanya jalan kaki, sudah biasa.

Wajah pertama yang aku cari adalah Kang Fadli. Meski penduduk Cilacap, dia ikut membantu menyelenggarakan acara ini. Jarak Mandirancan ke Cingebul, mungkin masih lebih jauh daripada Sidareja ke Cingebul. Oh, dia lagi asyik pencat pencet smartphone-nya.

Acara hari ini belum dimulai. Rencananya, peserta festival akan diajak outbond ke perkebunan Mrica. Di sana mereka akan membuat film pendek untuk memperkenalkan potensi Mrica di Desa Cingebul via website desa. Wajib membuat tulisan tentang kegiatan ini paska outbond nanti.

Narsis itu wajib, Sodara... hihi....
Narsis itu wajib, Sodara… hihi….

Sebelum dimulai, briefing sebentar dari panitia dan memberi kesempatan kepada pihak Dispertan Kabupaten menyampaikan sesuatu. Setelah berbincang-bincang dengan Pak Kades sebelumnya, pihak Dispertan berjanji akan berusaha membantu berupa bibit mrica pada petani Desa Cingebul. Bantuan itu akan diusulkan pada perubahan anggaran.

Ridho selaku pemuda penggerak desa yang juga Ketua LPPMD mengatakan bahwa maksud diadakannya Festival ini tidak semata untuk mengenalkan potensi Mrica di Desa Cingebul. Dia berharap bahwa Desa Cingebul mampu menjadi sentra yang bisa menguasai usaha dari hulu sampai hilir soal mrica. Bukan hanya berbicara tentang pemasaran paska panen, akan tetapi mampu menjadi tempat belajar budidaya mrica. Pengembangan usaha agrobisnis dan agrowisata memungkinkan untuk itu.

Rupanya tempat perkebunan mrica lumayan jauh dari balai desa. Peserta out bond harus naik motor terlebih dulu. Arahnya berbalik ke arah aku berangkat tadi. Kemudian menyusuri kebun-kebun dengan tanah lempung basah, membuat sepatu bertambah tebal. Sedikit berhat-hati agar tidak terpeleset.

Salah seorang petani mrica yang ikut bersama rombongan diwawancarai terlebih dahulu. Katanya untuk satu rumpun pohon mrica yang rimbun bisa menghasilkan 5 kg brangkas (mrica mentah). Setelah di olah kira-kira bobotnya antara 1,5 – 2 kg, sedang harga mrica sekarang berkisar antara 160 – 200 ribu rupiah. Dia  mengaku untuk musim panen kemarin, kebun yang dia miliki bisa menghasilkan 3 ton mrica kering. Jika di kalkulasi, maka sekali panen bisa didapat uang sekitar 48 – 60 juta rupiah.

Wow!

Wawancara dengan Petani Mrica
Wawancara dengan Petani Mrica

Sayangnya Pak Firman belum pernah menghitung berapa jumlah rumpun tanaman mrica di kebunnya. Tapi dengan ilustrasi tadi, bisa diperkirakan jumlah rumpun pohon di kebunnya sekitar 150 an.

Sekilas memang menggiurkan uang jika kita berhitung secara matematis. Tapi sebelum kita beranggapan bahwa berbisnis mrica itu membuat mereka kaya, mari kita cerita selanjutnya dari petani lain, yakni Pak Sohirun.

Untuk bercocok tanam mrica, dibutuhkan waktu menunggu sekitar 3 tahun untuk bisa panen. Sedang panen mrica sendiri sekitar 8-9 bulan dan tidak bisa langsung panen habis semua. Bertahap. Setelah biji-biji mrica di petik, kemudian di rendam air selama satu minggu. Perendaman yang lama ini bertujuan untuk mempermudah membersihkan kulit mrica dari bijinya. Biji-biji hasil menguliti lantas di jemur hingga benar-benar kering.

Memang setelah berhasil menanam mrica, kita tinggal merawat hingga usia tanaman mencapai 10 tahunan. Baru dilakukan peremajaan.

Pengambilan Gambar untuk Film Mrica
Pengambilan Gambar untuk Film Mrica

Menuliskan teori diatas begitu mudah. Tapi pada praktiknya tidak mudah. Butuh ketekunan petani mrica untuk merawatnya. Membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sekitarnya harus sering disiangi agar tidak merebut unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Kekurangan unsur hara akan membuat daun mrica cepat kuning. Berimbas pada penurunan produksi juga, begitu penjelasan dari Pak Sumarsono. Penyuluh pertanian yang mengikuti acara ini.

Selain itu, membuang sulur-sulur yang jelas tak berpotensi untuk berbuah. Sulur-sulur itu juga akan memakan persediaan makanan bagi tanaman yang siap berbuah.

Pada masa lalu, sulur-sulur itu digunakan untuk bibit mrica dengan cara stek. Tapi sebenar, menurut Pak Sohirun, itu bukan bibit yang baik. Tak peduli sulur yang menggantung atau yang menjalar di tanah. Sekedar menambahi, tanaman mrica yang di tanam bukan jenis perdu, tapi yang merambat.

Persoalan lain yang dihadapi adalah soal hama, jamur, dan pupuk.

Sayang sekali, para petani di sini belum menggunakan pupuk organik secara optimal. Masih mengandalkan pupuk kimia. Pak Sumarsono menyarankan untuk beralih ke organik. Memang tidak praktis, akan tetapi hasilnya tetap optimal. Penggunaan pestisida untuk membasmi hama dan jamur pun masih produk kimia.

Ke depan akan dilatihkan pengembangan keanekaragaman hayati untuk melawan hama dan jamur secara alami. Pihak Dispertan Kabupaten dan Pak Sumarsono akan mengundang Mas Sutriono untuk mengajarkan pembuatan bahan-bahan organik. Salah satunya jamur Tricoderma yang pernah dipraktekkan oleh ibu-ibu Srikandi di tempatku.

Beralih ke organik tidak saja bertujuan untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia, juga soal kelestarian lingkungan hidup.

Pak Sohirun mencarikan contoh bibir mrica dengan stek yang terbaik. Contoh itu berupa cabang dari tanaman mrica yang sudah mulai keluar serabut akar dan dengan terlebih dahulu di buang daun-daunnya. Cabang yang dijadikan bibir mrica sebenarnya memiliki potensi untuk berbunga dan berbuah. Maka Pak Sohirun tidak akan memberikan dalam jumlah banyak kepada orang lain, karena dia sedang berharap buahnya.

Salah satu trik untuk menjaga kelembaban stek tadi, maka harus dilindungi oleh dedaunan. Jangan langsung terkena kulit tangan. Penanamannya pun maksimal 2 jam sejak di petik dari pohonnya.

Pengembangan agribisnis bibit mrica bisa dimungkinkan asal teknik memindahkannya benar. Memakai media polibag misalnya. Itu lah mengapa bibit mrica tetap hidup meski di bawa jauh ke kota-kota besar. Kebanyakan penduduk tidak menggunakan polibag, begitu ujar penyuluh pertanian yang subur ini.

Kaosnya keren, Pak… hihi….

Bersama Pak Sumarsono (Gendut)
Bersama Pak Sumarsono (Gendut)

Tidak semua tanaman mrica yang kami temui rimbun dari bawah hingga atas. Ada yang sangat rimbun dari bawah hingga atas, ada pula yang hanya rimbun diatas.

Selain bibit unggul, teknik perawatannya pun perlu diperhatikan. Kata Pak Sohirun, untuk menghasilkan rumpun tanaman mrica, maka sejak di tanam harus benar-benar diperhatikan perkembangannya. Stek yang ditanam segera ditempel dan diikat dengan pohon-pohon penyangga tatkala serabut-serabut akar sudah mulai tampak. Kemudian potong bagian atas agar bercabang banyak. Tak lupa ikat pula pada tunas di atas lagi nantinya. Begitu terus.

Lada, disebut juga Merica, yang mempunyai nama Latin Piper Albi Linn adalah sebuah tanaman yang kaya akan kandungan kimia, seperti minyak lada, minyak lemak, juga pati. Lada bersifat sedikit pahit, pedas, hangat, dan antipiretik.

Lada dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh selain sering dijadikan sebagai bumbu penyedap masakan.  Lada memiliki khasiat untuk mengobati beberapa penyakit seperti sakit kepala, asma atau sesak nafas, menurunkan resiko kanker dan tumor payudara.  Selain itu, lada juga bermanfaat sebagai penghangat tubuh disaat suhu dingin serta mampu meningkatkan gairah seksual untuk pasangan suami istri.

Keinginan untuk menjadikan Mrica sebagai tanaman unggulan desa dengan meningkatkan produksi, sering terkendala pada harga jual nantinya. Saat produksi berlebih, harga biasanya akan jatuh, mengikuti hukum ekonomi. Padahal di satu sisi, jika sebuah produk sudah dikenal luas maka tuntutan kuantitas dan kontinuitas menjadi hal yang harus terpenuhi. Kekhawatiran itu disampaikan oleh Pak Sumarsono. Sedang Ridho berkeinginan untuk mengajak para penduduk untuk membudidayakannya. Ada sekitar 450 ha ladang di Cingebul, dan baru sekitar 20 ha yang dimanfaatkan untuk menanam mrica.

Mendorong masyarakat untuk ikut menanam mrica untuk meningkatkan kesejahteraan memang seharusnya dilakukan. Persoalan harga bisa diantisipasi dengan hadirnya BUMDes dan atau BUMADes nantinya. Peran BUMDes dan atau BUMADes ini selain melakukan pemberdayaan terkait perawatan tanaman mrica, juga membeli hasil panen nanti agar harga tidak jatuh.

Mrica yang benar-benar kering akan tahan lama. Ini keuntungannya. BUMDes dan atau BUMADes harus mau membeli mrica dari petani untuk menjaga kestabilan harga, kemudian menjualnya kembali nanti. Memang dibutuhkan lumbung pangan nantinya.

Posisi BUMDes dan atau BUMADes menjadi strategis guna membantu petani. Bukan ikut-ikutan memperdayai petani.

Mumpung jalan ke Lumbir, aku memang berencana mampir ke kantor UPK PNPM MP Kec. Lumbir dan ke Dermaji. Rakor UPK bulan kemarin aku tak bisa hadir, bentrok dengan rakor BKAD di Kedungbanteng. Padahal aku sudah berniat untuk pamitan, ganti posisi dari UPK ke BKAD. Rencana ke Dermaji, tak lain untuk menjenguk Mas Bayu. Kecelakaan parah hingga patah tulang kaki beberapa waktu lalu, membuatnya harus istirahat total.

Kreatifitas warga untuk memperkenalkan produk-produk desa melalui dunia maya merupakan sebuah keinginan untuk keluar dari jerat-jerat kemiskinan.

Kita ingat pasal 27 ayat 2 UUD 1945: “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.

Butuh sinergi dari semua pihak untuk mewujudkannya. Mari….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here