Menghadirkan Perempuan dalam Pembangunan di Desa

6
315
Belajar TIK. Pembangunan SDM Perempuan.

Pembangunan adalah hak seluruh masyarakat. Terbitnya UU Desa menginginkan pembangunan menjadi lebih merata. Para perempuan diharapkan mampu menyumbangkan ide, gagasan, pemikiran, dan kerja nyata untuk ikut membangun desa. Kehadiran mereka dalam forum-forum musyawarah akan mewarnai arah pembangunan manusia. Secara kodrati, perempuan lebih peka daripada laki-laki. Kepekaan yang dimiliki semestinya menghasilkan program kerja pembangunan desa yang lebih menyentuh masyarakat.

Nyata nya tidak mudah menghadirkan mereka. Para perempuan sudah sibuk urusan di rumah. Peserta musyawarah di dominasi oleh kaum pria. Usulan-usulan kegiatan pembangunan cenderung maskulin. Tak jauh-jauh dari pembangunan fisik.

Kesibukan perempuan di rumah menyebabkan mereka tak bisa berbuat banyak. Jangankan ikut serta dalam pembangunan. Sekedar ikut memikirkan dan menyampaikan gagasan, tak tersalurkan. Pekerjaan domestik harus diutamakan.

Dalam ilmu pemasaran, dikenal idiom yang berbunyi: “Permudahkan lah semua urusan konsumen, maka pembelian akan terjadi”.

Maknanya, seorang pemasaran harus bisa membantu konsumen. Jenis bantuan tidak cukup dari kolaborasi unsur-unsur dalam marketing mix. Ada permasalahan tersendiri yang dialami konsumen sebelum mereka memutuskan untuk membeli. Kadang permasalahan konsumen itu tidak berhubungan langsung dengan produk yang ditawarkan. Namun tetap mempengaruhi keputusan konsumen. Membantu mereka akan menciptakan peluang lebih besar terhadap pembelian.

Dalam kalimat yang berbeda, idiom tersebut bisa berbunyi: “Permudahkan lah urusan perempuan, maka partisipasi para perempuan akan terwujud”.

Kesibukan para perempuan sepertinya sepele. Mereka masih berkutat urusan dapur, sumur, dan kasur. Urusan masak memasak, cuci mencuci, memberesi tempat tidur, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk anak dan suami. Akan tetapi urusan yang kelihatan sepele ini memakan banyak waktu. Persiapannya pun tak mudah. Urusan internal ini lah penyebabnya. Jangankan memikirkan urusan pembangunan, urusan sendiri pun masih sibuk. Belum lagi jika mereka masih butuh tambahan pendapatan karena hasil kerja suami belum mencukupi. Pekerjaan mereka pasti bertambah.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi bersama Citra. Kawan yang sedang mengambil master di Birmingham Inggris ini, berkunjung ke Banyumas. Dia sedang melakukan penelitian dengan tema: Peran Perempuan dalam Pembangunan. Tema yang masih menarik. Hasil penelitian sementara masih sama. Banyak perempuan yang belum terlibat dalam pembangunan di desa. Penyebabnya pun sama. Sibuk urusan rumah tangga.

Untuk menghadirkan perempuan dalam pembangunan di desa, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

Pertama, membantu perempuan dalam mengatasi masalah internal.

Permasalahan internal yang pertama mengenai paradigma yang salah. Keterlibatan perempuan dalam pembangunan, bagi sebagian masyarakat, dianggap tidak perlu. Cukup diserahkan kepada para pria. Paradigma ini tidak saja menjangkit di kalangan pria, tapi juga perempuan. Mereka beranggapan bahwa urusan perempuan cukup di rumah saja.

Masalah lain yang muncul tentu faktor ekonomi. Masalah klasik terkait pemenuhan kebutuhan hidup menjadi kendala lain. Keterbatasan ekonomi membuat para perempuan sibuk mengurusi urusan domestik. Misalnya, memasak masih menggunakan tungku dan kayu bakar tentu lebih lama dari kompor gas. Mereka belum bisa beralih ke kompor gas karena keterbatasan ekonomi.

Keterbatasan ekonomi pula yang membuat para ibu harus ikut bekerja membantu suami. Paska urusan domestik selesai, mereka akan bekerja keras guna menambah pendapatan. Itu tak bisa dipungkiri.

Oleh karena nya, diperlukan program-program pemberdayaan yang mendukung kedua masalah tersebut. Program penyadaran bagi masyarakat akan pentingnya keterlibatan perempuan, mesti terus dilakukan. Sosialisasi, pendekatan formal maupun non formal, memberi contoh nyata keberhasilan pembangunan dengan partisipasi perempuan, menjadi upaya yang bisa dilakukan.

Pemecahan solusi atas keterbatasan ekonomi pun mesti dilakukan. Pemerintah dan masyarakat harus memikirkan dan berupaya untuk membantu mereka. Memberikan peluang usaha dan atau kerja bagi masyarakat miskin adalah wujud nyata. Persoalan perut menjadi urusan yang utama. Jika perut masih keroncongan, rasa nya sulit mengharapkan mereka ikut memikirkan urusan lain.

Kedua, menghadirkan laki-laki yang berwawasan gender.

Menghadirkan perempuan dalam pembangunan bisa dilakukan dengan cara lain. Jika keadaan memang tak memungkinkan, maka para laki-laki harus berwawasan gender. Dalam memikirkan program pembangunan desa, mesti bisa memposisikan diri sebagai perempuan. Hal-hal apa saja yang terlintas dalam pikiran perempuan, coba di tangkap dan diusulkan.

Mereka bisa belajar dan bertanya kepada para istri. Kira-kira apa yang akan mereka usulkan. Tentu tak mudah. Karena selain harus melupakan ego kelelakiannya, para pria pun harus berusaha berlogika ala perempuan.

Usulan program dalam musyawarah desa bisa berbentuk pembangunan sarana prasarana yang mendukung penyelesaian masalah perempuan. Terutama dalam bidang peningkatan kapasitas masyarakat. Sifat kewanitaan yang cenderung peka, pasti nya akan memikirkan masyarakat. Mereka ingin agar para tetangga tidak lagi merasa kesusahan. Pola pikir ini yang semestinya diadopsi oleh para laki-laki.

Untuk bisa melakukan usulan kegiatan yang berwawasan gender, para pria mesti menggandeng yang lain. Diskusi antar lelaki sebaiknya bermaterikan itu. Ikut menyadarkan kepada para lelaki agar bisa memberi ruang partisipasi pembangunan pada para istri. Mungkin juga menyadarkan kepada mereka agar mau bertanya kepada para istri, apa yang sebaiknya diusulkan. Belajar melepaskan ego dan masuk pada logika perempuan.

Ketiga, menggunakan metode lain.

Penggunaan metode lain dalam menghadirkan perempuan bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Metode ini bukan tanpa kendala. Para perempuan mesti diajari penggunaannya. Selain itu, metode ini pun terbatas pada desa-desa dengan akses internet yang cukup baik.

Para perempuan bisa memanfaatkan sosial media atau yang lain untuk berdiskusi tentang mereka. Dalam diskusi via media sosial perlu moderator untuk lebih mengarah pada topik utama. Sebab biasa nya topik akan melebar saat insting mengobrol sudah masuk. Bisa saja diskusi nya lebih pendek daripada obrolannya. Resume hasil diskusi dan usulan para perempuan bisa dimasukkan dalam usulan pembangunan desa.

Menampung usulan dan keinginan para ibu bisa pula dilakukan saat mereka berkumpul. Pada acara-acara perempuan semisal forum pengajian, pemeriksaan posyandu, dan arisan, bisa dimanfaatkan. Kepala Desa, Perangkat desa, dan atau BPD, mesti bisa menampung usulan dan keinginan pada kegiatan-kegiatan semacam ini. Hasil nya bisa disampaikan pada saat musyawarah desa.

Semua alternatif diatas masih bisa ditambahkan sesuai adat kebiasaan cara berkomunikasi masing-masing desa. Yang pasti bahwa semua niat baik pasti ada solusi nya.

Salam merdesa!

Belajar menjahit. Pembangunan SDM Perempuan.
Belajar menjahit. Pembangunan SDM Perempuan.

 

Belajar TIK. Pembangunan SDM Perempuan.
Belajar TIK. Pembangunan SDM Perempuan.

 

Bimbingan administrasi keuangan. Pembangunan SDM Perempuan.
Bimbingan administrasi keuangan. Pembangunan SDM Perempuan.

 

Pembangunan SDM Perempuan
Pembangunan SDM Perempuan

6 KOMENTAR

  1. Setuju Pak, perempuan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari dampak pembangunan, tapi mereka belum sepenuhnya dilibatkan atau terlibat dalam memberikan respon untuk mengkritisi pembangunan atau mengikuti perencanaan pembangunan. Padahal urusan domestik adalah bagian penting dalam kehidupan, namun sering terlupakan karena kurangnya keterlibatan perempuan. Selain fakta dilapangan, salah satu penyebabnya adalah marginalisasi gender. Alasan dan solusi yang panjenengan tawarkan mantap Pak, banyak hal yang baru saya sadari 🙂

  2. Saya sih bersedia bertanya kepada istri tapi aku sendiri gak diundang dalam musrenbangdes gimana menyampaikannya. Tapi ini keren tulisannya bro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here