Mengubah Kebiasaan dengan Silang dan Centang

0
230
Saat yang lain belajar shalat, Syamil asyik duduk-duduk. Hadeuh.

Syamil berbeda sekali dengan kakaknya, Ata. Utamanya masalah sekolah. Jika Ata senang bersekolah, Syamil cenderung ogah-ogahan. Dia lebih sering berangkat siang, bahkan sering tak berangkat. Untung saja masih di PAUD. Jadi guru nya agak maklum. Istri ku yang sering lapor saat aku pulang. Aku hanya tertawa menanggapi. Anak laki-laki biasanya memang begitu. Semaunya sendiri.

Saat mengantar ke sekolah, aku lihat sendiri polah tingkahnya. Pertama yang dituju saat turun dari motor adalah penjual jajanan. Ketika aku suruh masuk kelas, lalu bersalaman dengan para guru, dia berjalan lamban. Sembari makan jajanan dia menyodorkan tangan tanpa bersuara. Lalu duduk di dekat Ersah. Kata istri, selain Ersah, Syamil seperti enggan bergaul. Entah lah.

Aku tak boleh pulang sebelum istri ku datang. Sejak masuk sekolah sampai tulisan ini dibuat, dia masih minta ditemani. Kalau tidak, dia pasti menangis. Padahal sejak masuk sekolah sampai sekarang, tak pernah sehari pun Ata minta ditemani. Dia hanya diantar jemput.

Pernah sekali aku pulang. Aku tak menunggu istri ku datang. Eh, belum lama sampai rumah, Syamil sudah menangis keras menyusulku. Kata orang, selepas aku pergi, dia lari keluar. Berlari sambil menangis memanggilku. Untung saja ada orang lewat. Dia yang memboncengkan Syamil sampai ke rumah. Guru di sekolah tak tahu kalau Syamil pergi. Pagi itu, belum semua guru datang.

Istri ku pun sering mengeluh. Saat sekolah, Syamil berlaku semaunya sendiri. Dia tak mau ikut berbaris. Tetap asyik makan jajanan saat diajar oleh guru nya. Pernah, saat bel masuk, Syamil tetap bermain di luar. Enggan masuk. Pokoknya semaunya sendiri.

Ketika mengikuti kelas, Syamil sering tak ragu tunjuk tangan. Namun, dia tak bisa menjawab atau melakukan yang diminta guru. Rupanya dia hanya ikut-ikutan tunjuk tangan, tak tahu apa yang dimaksud. Ketika duduk kembali, Syamil menggerutu: “Mama, deneng Syamil ola teyeng?”

Hahaha… aku sering tertawa tiap istri ku bercerita itu.

Meski pernah mengalami masa kanak-kanak, aku tak tahu apa yang Syamil pikirkan. Dia masih menikmati masa bermainnya. Mungkin, kemauannya bersekolah karena kesepian. Saat jam-jam sekolah, tak ada teman bermain di rumah. Hanya ada Aira dan Fattan. Mereka belum bisa diajak bermain. Sebab keduanya baru bisa berjalan.

Andai ada teman bermain, sepertinya Syamil enggan bersekolah. Ini terbukti saat Aisyah tak masuk. Keponakan dari kakak sepupu ku ini sepantaran dengannya. Hanya beda 5 bulan kelahiran. Mereka tak satu sekolah. Aisyah bersekolah di TK Pertiwi, Syamil di TK ‘Aisyiyah.

Masih banyak cerita kelakuan Syamil yang ‘lucu’. Kata lucu lebih tepat untuk menggambarkan tingkah anak-anak. Jika sudah besar, atau dewasa, kata yang lebih pas adalah nakal.

Perlahan kebiasaan yang ‘lucu’ itu mesti di ubah. Tidak boleh berlanjut. Perlu kesabaran untuk melakukannya. Yang paling penting adalah memberikan contoh nyata. Bukan hanya peringatan dan atau ancaman.

Pembelajaran silang dan centang Majalah PAUD, terasa manfaatnya. Silang dan centang digunakan untuk membedakan mana yang benar dan yang salah. Jika gambar dan keterangannya sama, maka centang. Begitu pula sebaliknya.

Rupanya guru PAUD yang mengajarinya, memberikan contoh nyata. Misalnya saat guru memberikan contoh bahwa menangis terkategori silang, Syamil mulai paham. Kebiasaan-kebiasaan buruk semisal itu tak baik. Termasuk kebiasaannya jajan, mengompol, sering minta gendong, dan yang lain.

Meski di sekolah sering tak memperhatikan pengajaran, Syamil bisa menirukan saat di rumah. Berkali-kali dia memamerkan kebisaannya. Aku sering mengangguk, tersenyum, dan sering memeluk atau menciumnya saat dia benar. Termasuk soal silang dan centang itu.

Jika kebisaannya salah, aku mengingatkan. Kadang dia mau menerima; kadang ngambek.

Mulai saat itu lah kami menirukan silang dan centang pula. Tak terkecuali Ata. Tiap kali Syamil melakukan hal yang tak baik, kami akan mengingatkan kalau itu silang. Saat dia melakukan hal baik, kami apresiasi dengan centang. Dia begitu senang saat mendapatkan centang.

Meski kadang dia masih protes, ini terus kami lakukan. Kebiasaan-kebiasaan tak baik masih dia lakukan, walau kami katakan itu silang. Yah. Alon-alon.

Hari-hari ini kebiasaan tak baiknya mulai berkurang. Dia mulai jarang ngompol. Lebih sering jalan kaki daripada di gendong. Terlihat bersemangat saat berpamitan berangkat sekolah.

Kini lebih sering Syamil yang bercerita tentang apa yang guru ajarkan di sekolah. Istri ku pun lebih sering bertutur menyenangkan soal Syamil. Kebiasaan yang belum bisa ditinggalkan adalah jajan dan ditunggui saat bersekolah.

Sejak awal, aku yakin dia akan berubah. Sudah banyak contoh di lingkungan tentang itu. Semasa kanak-kanak sampai SD atau SMP nakalnya minta ampun. Tapi lambat laun mulai berubah. Maka, aku selalu menanggapi dengan tertawa saja.

Namun ada juga kreatifitasnya yang masih aku biarkan. Menggunting-gunting buku tulisnya, membongkar-bongkar mainan, bermain pasir dan tanah, merupakan cara mengeksplorasi keingintahuannya. Kebiasaan hujan-hujanan masih aku ijinkan. Tentu dengan syarat dia sedang sehat dan tak ada petir.

Mematikan kreatifitas dan imajinasi, akan membuatnya tak berkembang. Meski kami masih harus mengawasi, aku biarkan dia bermain ulat daun. Masih kami awasi saat dia memotong sesuatu menggunakan pisau. Meski agak jengkel, aku biarkan dia bermain air, sampai membasahi baju. Keyboard laptop ini rusak pun karena keisengannya. Tak mengapa.

Aku yakin, seburuk apapun kebiasaan, jika berniat dan sabar menjalani perubahan, pasti akan sampai jua. Yang penting, jangan sampai mematikan kreatifitas anak-anak.

Semoga kelak, Syami menjadi anak yang kami impi-impikan. Sesuai namanya: Muhammad Syamil Ar-Royyan. Aamiin….

Saat yang lain belajar shalat, Syamil asyik duduk-duduk. Hadeuh.
Innocent. Tak merasa bersalah… hahaha….
BAGIKAN
Berita sebelumyaMempertimbangkan Keberpihakan
Berita berikutnyaMensikapi Elite Capture Desa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here