Menikmati Proses

0
256

Percaya lah. Gusti Alloh mboten sare”. Begitu sepenggal nasehat yang selalu kita ingat. Tuhan pasti melihat dan membalas amal kita. Apapun amalan yang kita lakukan, pasti akan Dia beri imbalan. Oleh karena nya, makna ikhlas Lillahi Ta’ala bukan bermakna tak berpengharapan.

Menikmati proses sering diabaikan. Kebanyakan kita lebih menghargai hasil. Sedang proses menuju hasil seakan dikesampingkan. Apa yang kita lakukan selama menjalani proses, seakan tak berarti jika tak berhasil. Padahal tidak demikian. Proses yang jalani pasti membawa hasil. Entah cepat atau lambat. Sesuai harapan atau diganti dengan imbalan lain.

Manisnya proses justru akan terasa nikmat saat berhasil. Tak ada kata keberhasilan tanpa proses. Kalau toh ada yang menikmati sebuah hasil tanpa bersusah payah, pasti nya dia hanya penumpang. Ikut bersorak sorai gembira dan mengakui keberhasilan yang dia klaim berkat perjuangannya. Turun gelanggang juga enggak, eh ikut mengklaim.

Indahnya proses

Kenangan pahit manis menjalani proses sangat kita rindukan kala sukses nanti. Ada setumpuk cerita perjuangan yang bisa kita ceritakan. Cerita-cerita yang dirangkai menjadi babak jatuh bangun layaknya sinetron. Pelaku sinetron yang tak lain adalah kita, merasa bangga. Kita tersenyum ceria telah mampu melewatinya.

Kisah yang demikian tak bisa diceritakan oleh penumpang. Mereka hanya merangkai cerita dari mendengar dan melihat saja. Karena mereka hanya bertepuk tangan saat kesuksesan datang, dan tak jarang mencibir kala kesusahan hadir. Kisah yang mereka dirangkai jauh dari ruh dan semangat. Hambar.

Bila kita bertanya apa yang membuat mereka bangga? Pastinya kemampuan melewati rintangan. Rasa bangga justru terpancar kala mereka bercerita tentang pahit manis perjuangan. Kesuksesan hanya lah puncak. Tanpa perjuangan melewati berbagai rintangan, mustahil akan sampai ke puncak, kecuali penumpang.

Sarana belajar

Seekor keledai tak akan terperosok pada lubang yang sama. Peribahasa itu menjadi pengingat bahwa belajar dari kegagalan itu perlu. Kesalahan adalah pelajaran yang tak boleh diulangi. Pun tak perlu mengulangi kesalahan orang lain untuk gagal. Kita memiliki jatah gagal sendiri. Maksimalkan jatah gagal kita.

Kegagalan akibat kesalahan tidak boleh dialami dengan kesalahan yang sama. Setelah kegagalan, bangkit dan belajar untuk mengatasinya. Hanya mereka yang tahan banting, jatuh bangun, dan mau belajar lah yang akan menyongsong kesuksesan. Kalau tak mau gagal, jangan berharap untuk sukses. Bermimpi meraih sukses tanpa mau menghadapi rintangan, ibarat: “Cebol nggayuh lintang”.

Proses yang kita alami sebagai sarana belajar yang tepat. Ilmu pengetahuan yang didapat di bangku sekolah baru sebagian saja. Bekal selama masa belajar di kelas bisa dijadikan modal pengetahuan. Tapi sadarlah bahwa mengandalkan bekal itu saja, jauh dari cukup. Perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan pengalaman yang lain.

Berproses itu terjal dan berliku.

Menunda kesenangan

Ketidaksabaran meraih kesuksesan menjadi batu sandungan. Kesenangan yang seharusnya belum kita nikmati, cepat kita ambil. Ibarat buah, masih lama masak, sudah kita ambil. Kita tak sabar menunggu masa panen. Melihat ranum buah sudah tak tahan. Godaan untuk segera memetiknya, lebih kuat. Hasilnya kesenangan yang kita nikmati, sesaat saja.

Menunda kesabaran memang butuh kekuatan. Apalagi jika melihat orang lain sudah sukses. Seakan rentang waktu yang kita jalani sudah melebihi batas. Oleh karena nya, sadar atau tidak, kesenangan yang mestinya kita tunda, tak bisa lagi. Kita seolah ingin mengatakan pada keluarga, saudara, dan teman, bahwa kita sudah berhasil. Harapannya akan berhamburan pujian yang datang.

Kesuksesan-kesuksesan kecil yang diraih, dinikmati secara berlebih. Cara mensyukuri nikmat atas kesuksesan kecil itu membuat kita terlena. Kesuksesan-kesuksesan kecil yang dinikmati berlebih itu, membuat kita mundur beberapa langkah. Kesenangan atas kesuksesan kecil itu semestinya menambah semangat, bukan mengendurkannya.

Persiapkan mental

Meski mental sudah tertempa selama proses, kita masih perlu mempersiapkannya pula. Mempersiapkan mental sukses menjadi penting. Tak jarang orang yang sukses menjadi lupa diri. Perjalanan pahit manis selama proses diabaikan begitu saja. Cerita indah proses sebagai pengingat agar kita selalu berpijak di bumi, seakan sirna.

Orang yang gagal bisa sakit jiwa; orang sukses bisa lupa diri. Semua karena tak ada persiapan mental. Hakikat bersyukur intinya tetap tawadhu’. Mental tawadhu’ selama proses dan saat berhasil hendaknya tetap bersemayam.

Ujian kini berubah, dari sesuatu yang sulit, menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kesulitan dan kesenangan pada hakikatnya adalah ujian pula. Oleh karena nya, selalu mendekatkan diri pada pemberi ujian, agar tetap rendah hati.

Salam.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjaga Loyalitas
Berita berikutnyaMenyoal Poligami
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here