Menjadi Koresponden Tugas Akhir

0
133
Salinan thesis dan souvenir

Kaos berwarna putih, dua dompet kecil, dua gantungan kunci, dan dua salinan thesis aku terima beberapa waktu lalu. Kiriman dari Qonita Rohmah, yang belum lama ini di wisuda di Tokyo University, hanya berselang sehari sejak dia minta alamat. Meski aku hanya minta dua salinan thesis, nyatanya souvenir dia sertakan. Alhamdulillah buat kenang-kenangan.

Qonita adalah ASN (aparatur sipil negara) di Kementrian Keuangan RI yang tahun kemarin sedang menyelesaikan thesisnya. Komunikasi dan informasi yang aku berikan sedikit banyak membantu dalam hal penyelesaian tugas akhirnya tersebut. Meski sebenarnya aku merasa tidak maksimal dalam membantunya mencarikan informasi. Pasalnya data yang dia butuhkan lebih banyak disimpan di Dinas.

Koresponden

Ini kali ketiga ketika aku dimintai menjadi koresponden bagi para mahasiswa tingkat akhir. Pertama ketika seorang mahasiswa program doktoral Ilmu Bahasa di Universitas Indonesia membutuhkan koresponden dalam menyelesaikan disertasinya. Kala itu tema yang diusung adalah tentang seberapa besar tingkat literasi remaja. Meski sudah punya satu anak, aku dianggap masih remaja. Mungkin dia tertipu dengan foto profil di akun sosial media. Kala itu hadiah yang diberikan berupa buku. Tentunya bertemakan remaja. Terima kasih, Mba Intan.

Komunikasi lanjut tentang thesis bagi mahasiswa PhD di Sopron University, Rosita. Mahasiswa asal Indonesia ini mengambil tema koperasi bagi petani di Hungaria. Salah satu informasi yang dia butuhkan adalah sejarah akan rural financial institution (RFI) yang sekarang dikenal dengan nama Badan Kredit Desa (BKD). Kebetulan sejarah itu bermula di Purwokerto pada 1896. Dia senang mendengar cerita tentang BKD di Banyumas sekarang. Namun sekarang, mungkin karena kesibukannya, komunikasi sudah terhenti.

Qonita mengaku mendapatkan nomor kontak dari Mas Budiman Sudjatmiko. Dia disarankan oleh teman sejawat di OJK untuk menghubungi Mas Budiman. Lalu Mas Budiman menyarankan untuk menghubungi aku.

Thesis tentang public policy dengan adanya BUMDesa menjadi tema yang dia angkat. Kebetulan atas saran dari beberapa pihak, dia memilih Banyumas, sebagai salah satu yang disasar. Komunikasi menjadi lebih cair karena dia pernah sekolah di SMAN 1 Purwokerto, dan asli dari Bumiayu.

Efek Baik

Ternyata menjadi koresponden menjadi hal yang menyenangkan. Meski secara materi tidak mendapat apa-apa, akan tetapi keinginan untuk belajar menjadi lebih besar. Saat Mba Intan Savitri meminta informasi, mau tidak mau aku harus banyak membaca. Akhirnya membeli buku menjadi hobi. Dalam satu bulan, sebelum pandemi covid19, wajib rasanya beli minimal 1 (buku) judul buku.

Saat Bu Rosita bercerita tentang perlunya lembaga keuangan berbasis desa dan sentuhan fintech di Hungaria, aku tergerak. Banyak jurnal dengan tema rural financial institution segera aku unduh. Bangga rasanya, ternyata banyak penelitian tentang keberadaan RFI yang berkiblat ke Indonesia. Ini menjadi hal yang miris saat pemerintah Indonesia kurang respek terhadap keberadaan RFI. Meski secara empiris mampu membantu pelaku usaha kecil dalam bertahan hidup. BKD harus bertransformasi, UPK eks PNPM MP masih di PHP, pengajuan ijin LKM terkendala regulasi, koperasi simpan pinjam pun terstigma negatif.

Penelitian Qonita tentang BUMDesa dilihat dari perspektif pemerintah, maka perlu dievaluasi capaiannya terhadap indikator kemiskinan. Apakah sudah ada perubahan tentang kemiskinan bagi masyarakat. Jika belum kenapa dan bagaimana pemerintah harus berperan dalam menjadikan BUMDesa sebagai salah satu tools dalam reduksi angka kemiskinan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here