Menjadi Manusia untuk Berempati pada Rohingnya

0
257

 

Orang-orang kita memang aneh. Tatkala muncul sebuah masalah, bukannya membantu mencarikan solusi, eh malah asyik berdebat. Forum-forum debat yang diadakan sebagai salah satu alternatif mencari solusi, malah dijadikan ajang aksi. Tidak fokus pada tujuan memecahkan masalah, justru memperkeruh masalah.

Tak heran, seorang ulama menyarankan untuk menghindari debat. Karena menang atau kalah dalam berdebat, sering tak berbuah manis. Namun, andai sudah terlibat dalam berdebat, pantang culas.

Saat terpaksa berdebat, beliau selalu berdoa agar yang keluar dari mulutnya dan lawan debat adalah hal-hal yang baik. Jika kebenaran keluar dari nya, beliau berdoa agar lawan debat dilembutkan hati nya. Andai ternyata lawan debat nya justru yang benar, beliau berdoa agar diberi kelapangan. Tidak berkelit membantah sesuatu yang benar, meski dari lawan debatnya.

Persoalan Rohingnya pun demikian. Alih-alih membantu, malah debat yang dimunculkan. Mereka pun menyindir rekan yang tak mau ikut menyebarkan tentang ini. Mungkin mereka mengira, tidak ikut menyebarkan berita tentang Rohingnya, berarti tak peduli. Padahal tidak demikian.

Bisa jadi mereka yang tidak menyebarkan berita tentang Rohingnya, malah justru bantuan dan doa nya tak pernah berhenti. Mungkin mereka juga berhati-hati dalam memilah dan memilih sumber berita. Tak mau terjebak pada perdebatan yang tak berujung dan atau tak ingin ikut-ikutan menyebarkan hoax.

Solusi

Memperkeruh keadaan dengan berdebat, bukan solusi. Ketakutan, kelaparan, dan kebingungan karena terusir dari kampung halaman, perlu uluran tangan. Jika memang bisa membantu, maka lakukan lah. Kalau tak bisa, cukuplah berdoa untuk mereka.

Materi debat yang mereka sampaikan, kadang tak masuk akal. Bukan sedang merendahkan kapasitas mereka, tapi nyata nya demikian. Permasalahan ini bukan kapasitas kita menyelesaikannya. Namun, tak sedikit dari para pelaku debat membuat analisa dan memaparkan alternatif solusi atas permasalahan tersebut.

Tentu saja analisa dan alternatif solusi yang ditawarkan berdasar sudut pandang sendiri-sendiri. Secara nyata, permasalahan ini jelas rumit. Kekerasan di Rohingnya bukan kali ini saja. Beberapa waktu yang lalu kejadian serupa pun pernah terjadi.

Stop Kekerasan

Apapun motif di balik kekerasan ini, tetap tidak bisa dibenarkan. Penyiksaan dan pembunuhan terhadap warga sipil yang tak bersalah, sungguh biadab. Sungguh miris tatkala tentara yang semesti nya melindungi warga nya, justru memperlakukan mereka sedemikian kejam.

Kalau ini didasarkan pada perbedaan keyakinan (agama), dimana norma pengakuan Hak Asasi Manusia nya. Jika dipicu masalah ekonomi, apa iya harus dengan membunuh banyak orang. Tatkala disebutkan faktor politik, apa kah politik sekejam itu.

Apresiasi terhadap pemerintah RI

Upaya yang dilakukan pemerintah RI terhadap Myanmar, sudah sewajarnya. Sebagai negara tetangga dalam kawasan ASEAN, ikut berusaha menyelesaikan masalah ini, merupakan amanah UUD 1945. Apa yang dilakukan pemerintah RI melalui Menteri Luar Negeri, sudah tepat. Karena institusi negara bisa membantu memecahkan solusi di sana.

Kita perlu mengapresiasi, tanpa perlu mengagung-agungkan. Karena hal serupa sudah pernah dilakukan oleh pelaku pemerintahan di RI sebelumnya, untuk kasus serupa di tempat yang berbeda.

Cukuplah menjadi manusia

Beberapa orang melakukan profiling terhadap etnis Rohingnya. Mereka pun mengatakan bahwa etnis ini melakukan aksi separatis kepada pemerintah Myanmar.

Sebagai sesama muslim, setahuku, kita dilarang melakukan makar/bughot pada pemerintahan yang sah dengan cara yang tidak sah. Perlawanan hanya diperbolehkan jika pemerintah memerangi kita. Kritik dan saran pada pemerintah bukan berarti makar. Sudah menjadi kewajiban untuk saling mengingatkan, selebihnya, urusan mereka dengan Tuhan.

Namun apapun motif dibalik itu, kekejaman harus dihentikan. Hentikan  pula perdebatan tentang nya. Jika tak bisa membantu dan mendoakan mereka, cukup lah menjadi manusia untuk berempati. Bukan mengesankan korban sebagai pihak yang layak dipersalahkan.

Salam.

 

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenyoal Poligami
Berita berikutnyaGerakan Beli dari Tetangga
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here