Menjadi Relawan Arus Mudik

0
138

Rasanya memang tak afdhol jika lebaran tak mudik. Mungkin itu yang ada di benak para pemudik. Jauhnya jarak dan lamanya waktu tidak menjadi kendala yang berarti. Apalagi bahaya mengancam sepanjang perjalanan, khususnya bagi pengendara sepeda motor. Mereka mengaku memilih sepeda motor untuk keperluan mudik karena faktor efektif dan efisien. Kendaraan roda dua ini masih bisa berjalan di sela-sela kemacetan. Padahal korban kecelakaan lalu lintas, kebanyakan pengendara sepeda motor. Tentu tidak nyaman saat perjalanan jauh dari kota-kota besar ke desa harus berhenti berjam-jam di jalan karena macet. Kalau pakai motor kan masih bisa mlipir-mlipir.

Budaya mudik memang membuat jalanan macet. Meski pemerintah sudah berupaya membuat jalan-jalan baru termasuk Tol Cipali, sepertinya belum terlalu signifikan mencegah kemacetan. Bagaimana lagi, pertambahan jumlah kendaraan tiap tahun begitu pesat. Kalau dulu satu keluarga sudah cukup dengan satu kendaraan, sekarang seakan berlomba tiap individu punya kendaraan bermotor sendiri. Belum lagi kemudahan mendapatkan kendaraan yang ditawarkan oleh para dealer. Ah, mudah kan bagi yang punya duit… hehe….

Semua moda transportasi dipakai untuk mudik. Tiket kereta sudah habis jauh-jauh hari. Begitu pula kapal laut, pesawat, bis, travel, dan yang lain. Mereka ingin bersilaturahmi dan mengunjungi orang tua, sanak saudara, tetangga, dan teman di kampung. Pertemuan yang sangat jarang terjadi membuat semua saling merasa rindu. Memohon maaf atas kesalahan di masa lalu, bercanda tawa, berbagi cerita, merupakan sebagian agenda mereka. Hanya ada segelintir sih yang sepertinya cuma ingin pamer kesuksesan.

Saat pelbagai pilihan mudik sudah tidak ada, maka sepeda motor menjadi pilihan. Malah ada yang sengaja mempersiapkannya. Pengalaman mudik dari tahun ke tahun menyebabkan mereka memilih sepeda motor. Pernah aku dengar cerita dari teman saat arus mudik seperti sekarang, dia menggunakan mobil dari Jakarta ke Purwokerto butuh waktu lebih dari 21 jam. Sedang pengendara motor yang lain mengatakan, jarak dari Jakarta ke Purwokerto bisa ditempuh dengan waktu sekitar 15 jam. Bisa dibandingkan kan selisih waktunya. Maka iring-iringan sepeda motor saat mudik menjadi pemandangan yang biasa sekarang.

Sayangnya ketika sampai di kota-kota kecil seperti Purwokerto pun, mereka sering terjebak macet. Beberapa tempat yang sering menjadi titik kemacetan adalah perempatan Wangon, Sokaraja, perempatan Buntu, perlintasan kereta api di Sumpiuh sampai Tambak. Ini sudah biasa tiap tahunnya. Oleh karenanya, jika para pemudik tahu jalan-jalan alternatif itu lebih baik.

Untuk menghindari kemacetan di perempatan Wangon, ada baiknya para pemudik dari jalur selatan bisa mengambil jalur alternatif via Dermaji. Sebelum kota kecamatan Lumbir, coba tanya dan cari petunjuk arah ke Desa Dermaji. Kalau dari arah barat, ambil ke kiri. Lurus saja melalui Desa Paningkaban, kemudian Kracak nanti sampai di Ajibarang. Setelah Ajibarang nanti bisa mencari arah ke Purwokerto. Meski tetap kondisinya tak jauh berbeda, tapi tetap bisa berjalan. Jalan alternatif ini cukup bagus, bahkan beberapa waktu lalu sudah di aspal bagus. Memang jalannya agak sempit, naik turun dan berkelok-kelok. Tapi menurutku, tetap lebih baik daripada kepanasan, pantat pegel, dan lelah akibat kemacetan di perempatan Wangon. Apalagi kondisi jalan dari Lumbir ke Wangon pun hampir sama, yakni naik turun dan berkelok-kelok.

Saat tak ingin terjebak di Sokaraja, pemudik yang berasal dari arah Brebes atau Ajibarang bisa menggunakan jalan alternatif via Patikraja kemudian ke Kaliori. Itu jika pemudik ingin menempuh jalan ke jalur selatan. Tapi kalau mudiknya ke Purbalingga, bisa melalui jalan di daerah Kembaran. Sepertinya lebih mudah lewat perempatan Dukuhwaluh ke timur, setelah perempatan Kembaran ke utara, setelah itu cari arah ke Purbalingga yang nanti akan melalui Padamara. Kayaknya kalau sudah di Kembaran, tanya orang saja bisa kok. Nah, untuk sampai ke perempatan Dukuhwaluh sendiri, bisa lewat depan RSU Margono ke utara atau masuk saja ke dalam kota Purwokerto.

Perempatan Buntu ke timur hingga nanti di perlintasan kereta api Sumpiuh sampai Tambak sepertinya menjadi titik kemacetan paling parah tiap tahun. Kendaraan dari jalur tengah dan selatan yang hendak mudik ke Kebumen,Purworejo, Jogja dan kota-kota di sekitarnya, bertemu di sini. Jalan alternatif lain ke sana mungkin hanya via Sempor. Para pemudik bisa memanfaatkan jalur ini. Kalau dari arah Purwokerto, bisa melalui perempatan Tanjung ke selatan, belok kiri di pertigaan Patikraja, kemudian ke kanan sampai Banyumas. Kalau bisa jangan lewat jalan dekat RSUD Banyumas. Tapi dari alun-alun ke timur, ikuti jalan sampai Klampok. Terus jalan ke arah Banjarnegara, sampai di Mandiraja tanya saja arah ke Sempor. Jalanan via pegunungan ini cukup bagus daripada terjebak macet. Nanti akan turun di Gombong. Bagi para pemudik yang hendak ke Purworejo atau Jogja, bisa memanfaatkan jalan Daendels. Untuk sampai ke sana, setelah turun di Gombong cari arah ke selatan lewat Puring.

Kalau masih tak mau terjebak keramaian antara perempatan Tanjung sampai Patikraja, bisa gunakan jalan Gunung Tugel. Jalan baru ini sekarang lebih reprenstatif. Setelah perempatan Tanjung terus saja sampai Taman Andhang Pangrenan atau bekas terminal lama. Dari sana baru ambil arah ke kanan, ikuti saja jalan itu sampai ke Pegalongan. Baru belok kiri ke Kaliori atau Banyumas. Maka kamu akan terhindari dari keramaian jalan yang kadang membuat stress juga.

Memang mau pakai jalan alternatif manapun selalu akan menemui yang namanya kemacetan. Tapi kalau menurutku sih tetap lebih baik. Meski setelah Kracak kemudian masuk ke Ajibarang akan ketemu macet lagi, tapi paling tidak bisa menghindari panjang dan lamanya kemacetan di Wangon atau di Lumbir juga. Jika memanfaatkan jalan via perempatan Tanjung ke selatan, di pertigaan Patikraja atau Kaliori juga akan kena macet. Belum lagi nanti di pasar Banyumas. Begitu pula saat turun di Gombong setelah Sempor, kemacetan jelas akan ditemui. Mengurangi banyaknya kemacetan dengan memanfaatkan jalur alternatif menjadi pilihan bijak agar mesin mobil atau motor tidak cepat panas. Suasana perdesaan dengan pemandangan hijau di Desa Dermaji, Paningkaban, Kracak, dan sepanjang jalan dari Mandiraja, Sempor, hingga Gombong akan membuat mata segar. Andai ingin berhenti sejenak sambil narsis dan menghirup udara segar, maka disitulah tempat yang ideal.

Selama dua hari kemarin, ini lah yang aku lakukan. Teman-teman di Komunitas Masyarakat Sadar Keselamatan (KMSK) Kab. Banyumas ikut berpartisipasi dalam kegiatan di Posko Mudik. Posko Terpadu di bekas jembatan Timbang dan petigaan POM Bensin Ajibarang menjadi tempat kami mangkal. Kebetulan aku di beri jadwal dua sore di sana, yakni H-3 dan H-2. Tugas kami selain memberi takjil buat para pemudik, juga memberi informasi jalan-jalan alternatif tadi. Informasi yang kami dapatkan dari Posko Terpadu tentang titik-titik kemacetan bisa kami sampaikan kepada para pemudik.

Hari pertama aku bersama Mas Budi mangkal di POM Bensin. Kami mendekati para pemudik utamanya para pengendara sepeda motor. Saat itu suasana masih belum ramai. Belum terlalu dibutuhkan informasi tentang jalur-jalur alternatif. Maka kami hanya berbincang-bincang sambil mengingatkan untuk berhati-hati. Wajah lelah selama perjalanan sedikit berubah; tampak dengan seulas senyum yang mengembang. Apa yang kami lakukan memang ingin sedikit memberi keramahan selaku tuan rumah. Rasanya mereka cukup terkesan. Kalau aku ada di posisi mereka, mungkin aku pun akan merasakan hal yang sama. Saat perjalanan jauh, kemudian berhenti dan menemukan teman berbicara yang semedulur, menjadi obat tersendiri. Takjil yang diberikan bukanlah seberapa, karena menunya pun sederhana.

Saat jadwal hari kedua atau H-2 lebaran, kami sedikit kerja lebih keras. Para pemudik sudah semakin banyak. Kemacetan terjadi di mana-mana. Sampai-sampai Polisi menutup jalur dari Ajibarang ke Wangon dan hanya satu arah saja, yakni dari Wangon ke Ajibarang. Kata para pemudik yang berhenti di pertigaan POM Bensin, mereka baru saja lepas dari kemacetan di daerah Songgom-Brebes. Kemacetan yang panjang mengular itu menguras energi. Oleh karena itu lah, mereka memanfaatkan berbagai tempat di sekitar Ajibarang untuk beristirahat. Hari ini aku bertugas bersama Kang Tjandra. Kemudian nanti menyusul Didik. Sedang Pak Willy yang semula ada di Posko Terpadu, menyusul kami.

Kebanyakan dari mereka, yang kami temui, menuju ke arah Kebumen. Mereka mengaku memulai perjalanan dari Jakarta atau Tangerang sekitar jam 1 malam. Artinya butuh waktu sekitar 16 jam menggunakan motor untuk sampai di Ajibarang. Berdasarkan informasi dari Posko Terpadu, kami sarankan mereka untuk memanfaatkan jalur via Sempor tadi. Termasuk pilihan alternatif dari Purwokerto ke Patikraja, Kaliori, dan Klampok. Kami sampaikan pula titik-titik kemacetan seperti yang aku tulis diatas tadi. Setelah ngobrol sebentar dan berpamitan, mereka merasa berterima kasih. Sebab awalnya mereka berencana lewat Wangon atau Sokaraja lalu ke Banyumas dan lewat Buntu. Peta pada brosur yang dicetak oleh Dishub kami manfaatkan untuk menunjukkan arah jalan.

Hal yang sama kami lakukan saat bertemu dengan pemudik ke arah Kroya. Dia berencana mengambil jalur Sokaraja, Banyumas, terus ke Buntu. Tapi kemudian aku sarankan mengambil jalan via perempatan Tanjung ke selatan kemudian ke Kebasen dan tembus Sampang. Yah, kalau sudah sampai Sampang pasti akan terjebak macet juga. Tapi kalau dia tahu jalan lain, bisa menerobos lewat Gentasari, atau Karangjati. Lebih baik muter-muter atau lewat jalan-jalan desa daripada macet di jalan utama.

Sepertinya H-1 ini kemacetan akan semakin bertambah. Selama dua hari kemarin saja, aku memanfaatkan jalan alternatif dari Notog ke Cilongok via Karangendep. Kalau memaksakan diri melalui perempatan Tanjung sih bisa, cuma padat merayapnya itu yang kadang nggak bisa nyaman. Andai saja para pemudik tahu ada jalan alternatif ini, mungkin akan di terabas juga. Tapi sengaja tak aku tunjukkan, daripada malah bingung. Jangan-jangan salah belok ke Purwojati, susah jadinya.

Tahun ini aku ikut memantau dan menginformasikan jalur mudik di Purwokerto secara terorganisir. Sedang sebelumnya paling hanya informasi seputaran Patikraja. Kadang juga daerah Jatilawang kalau pas bolak-balik ke rumah ibu mertua. Itu pun hanya memanfaatkan sosial media saja. Maka pengalaman kali ini lebih mengesankan. Menunjukkan arah jalan kepada mereka yang kebingungan, aku yakin bermanfaat dan berpahala. Insya Allah.

Keikhlasan membantu arus mudik dengan mendirikan posko-posko mudik dan menunjukkan jalur-jalur alternatif yang dilakukan sedikit banyak membantu mereka. Kalau hanya mengandalkan petugas semisal Polisi dan Dishub, aku yakin tak akan cukup. Maka kerelaan swadaya dari masyarakat baik itu Banser, Pramuka, ORARI, RAPI, dan masih banyak lagi, adalah wujud kebersamaan yang nyata. Masyarakat kecamatan Kalibagor yang mendirikan Posko di jalan utama Sokaraja – Banyumas pun bertujuan mulia. Mereka bergotong-royong mendirikan posko mudik di pinggir jalan raya dimana sering terjadi kemacetan di sana. Tanah kosong yang ada dimanfaatkan betul untuk mengajak para pemudik beristirahat sebentar. Lokasinya tak jauh dari Kendalisada. Kalau dari arah utara ada di kiri jalan setelah Kendalisada sebelum jalan ke Gua Maria.

Mungkin cuma penglihatanku saja atau memang demikian adanya. Para pemudik lebih suka berhenti di POM Bensin. Selain mengisi bahan bakar, POM Bensin sekarang juga komplit. Ada toilet, mushola, dan mini market, maka ke sana lah mereka menuju. Oleh karenanya, aku, Mas Budi, Kang Tjandra, Didik, dan Pak Willy memanfaatkan POM Bensin juga untuk mangkal. Tak sedikit posko-posko yang tidak disinggahi. Padahal di posko-posko itu, mereka bisa bertanya tentang informasi kemacetan, periksa kesehatan, ikut nge-cas HP, dan yang lain. Rikuh kali ya?

Budaya mudik yang setiap tahun selalu ada, pasti menyisakan kesedihan. Pada H-3 siang, ada kejadian kecelakaan di dekat jembatan timbang yang memakan korban jiwa. Tercatat dua orang meninggal dunia sedang satu orang masih mengalami perawatan intensif di RSUD Margono Purwokerto. Kecelakaan beruntun ini disebabkan karena sopir mobil dari Tangerang mengantuk, tapi enggan beristirahat. Wah.

Kalau saja kampung-kampung halaman bisa memberikan ruang untuk bekerja, sepertinya tak perlu lagi acara mudik ramai-ramai seperti sekarang. Kue-kue pembangunan semestinya dibagikan pula ke kampung-kampung agar daya tariknya mampu menahan keinginan untuk merantau. Kalau kampung halamannya makmur, rasanya tak perlu jauh-jauh ke kota hanya untuk sekedar mencari makan. Maka penerbitan UU Desa untuk memakmurkan kampung-kampung atau desa-desa perlu di dukung.

Ruang partisipasi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan desa harus di jamin kemerdekaan berpendapatnya. Termasuk peruntukan penggunaan anggaran dana desa yang diberikan oleh pemerintah terhadap desa. Karena masyarakat sendiri lah yang tahu mau dibagaimanakan uang itu. Jadi, UU Desa itu perlu dan penting untuk mengatasi macet, salah satunya.

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaKenapa Masih Suka Berdebat
Berita berikutnyaMemaknai Idul Fitri dan Saling Memaafkan
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here