Menjadikan Orang Lain Hebat

0
157
Ngumpul

Setiap kita biasanya ingin menjadi orang hebat. Apapun dilakukan agar benar-benar menjadi orang hebat atau sekedar ingin disebut sebagai orang hebat. Sayangnya, keinginan untuk disebut sebagai orang hebat, sering kita lakukan dengan cara menunjukan kelemahan orang lain. Sedikit mereka yang di sebut sebagai orang hebat, benar-benar menunjukkan kehebatannya. Maka saat ada orang yang ingin orang lain menjadi hebat, itu sesuatu banget.

Menjadikan diri sebagai orang hebat itu biasa; tapi saat dia menginginkan orang lain menjadi hebat juga, itu baru luar biasa. Ingin sekali menjadi tipe orang yang kedua.

Sampai saat ini, untuk urusan servis komputer lebih percaya sama Ilham. Bukan apa-apa, secara usia aku lebih tua darinya, maka untuk urusan komplen lebih enak. Ada teman yang menurutku piawai juga, namanya Mas Rohman. Dia yang telaten mengajariku mengoperasikan komputer saat masih belajar di TMA Computer. Mas Kamto, si pemilik TMA Computer memberiku kesempatan untuk belajar sambil bekerja di usahanya itu secara gratis. Sayangnya sudah lama aku kehilangan kontak sejak dia pulang kampong ke Solo.

Rikuh rasanya kalau servis ke tempat Mas Rohman. Mau komplen nggak enak. Makanya aku lebih nyaman ke rumah Ilham.

Ilham dulu sering ke tempat usaha jasa pengetikanku. Waktu itu dia menemani pacarnya, sekarang sudah jadi istrinya, untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Sekitar dua tahun kami tak pernah lagi bertemu. Eh, ternyata dia bekerja di Batam. Di sana dia belajar banyak soal perbaikan komputer, laptop, HP, LCD TV, dan sebagainya. Apalagi dia pernah belajar teknik elektronika di SMK Tujuh Lima Purwokerto. Pas.

Selain piawai, menurutku, Ilham juga jujur. Dia tidak memanfaatkan konsumen. Sering aku mendengar cerita saat servis komputer harus beli ini itu yang membuat biaya servis membengkak. Padahal sebenarnya masih bisa diakali. Andai harus membeli spare part pun Ilham selalu mempersilakan aku membeli sendiri ke Purwokerto. Tujuannya agar aku tahu harga spare part yang dibutuhkan. Dia hanya minta ongkos untuk jasa servisnya saja.

Oleh karenanya aku sering mempromosikan Ilham ke teman-teman. Kadang sebagai imbal jasa, aku diberi sekedar pengganti bensin. Alhamdulillah.

Yah, yang namanya usaha pasti ada pasang surut. Ilham pernah mengalami itu. Dia sempat berjaya dengan usahanya, tapi pernah terpuruk juga. Saat berjaya, dia sempat tergiur usaha instan lain. Walhasil, konsumennya banyak yang kabur. Kala terpuruk dia kebingungan karena kehilangan konsumen.

Meski begitu, aku masih sering main ke sana. Tak sekedar servis, tapi ngobrol-ngobrol pun sering. Termasuk soal kesulitannya saat terpuruk. Namun, aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menempatkan diri sebagai pendengarnya saja.

Beberapa hari yang lalu, aku tertarik dengan ide pengembangan usahanya. Dia ingin menyewa kios kecil di pinggir jalan raya. Lokasinya dekat dengan pertigaan depan masjid Patikraja. Tujuannya untuk mempermudah akses pelanggan. Banyak pelanggan yang mengeluhkan lokasi rumah Ilham yang terlalu masuk. Teman-teman yang aku tunjukkan rumah Ilham pun sering mengeluh begitu. Tapi kesulitan modal menjadi kendala.

Aku belum menjadi orang kaya dermawan yang dengan muda memberikannya uang cuma-cuma. Kalau dermawan mungkin iya (cleguk), tapi soal kaya itu belum saatnya.

“Bebek kon ora silem, awake dewek kon ora di alem” #Klonthang

Aku menawarkan kerjasama usaha. Soal sewa kios biar menjadi tanggunganku. Katanya boleh sewa satu tahun dulu. Syukur lah.

Model kerjasama ini kami buat agar saling menguntungkan. Urusan servis dan pendapatan servis menjadi haknya sebagai karyawan. Sedang keuntungan penjualan akan kami bagi dua. Dia masih bisa menawarkan jasa pemasangan CCTV dengan harga miring. Merakit komputer, memperbaiki laptop, smartphone, LCD TV, dan keahlian lain yang dia miliki akan ditawarkan ke konsumen. Keuntungan yang akan dibagikan denganku dilakukan setelah dikurangkan dengan jasa servis.

Kemudian saat dia bertanya soal nama, aku sarankan pakai nama yang selama ini menjadi brand-nya. Selain sudah mendapatkan ijin usaha, membangun brand baru bukan perkara mudah. Konsumen lebih mengenal Ilham daripada aku. Kalau aku minta pakai brand-ku, mungkin aku bisa terkenal, tapi soal keberhasilan: belum tentu.

Ini juga sebagai ajang promosi, Kawan. Kalau mau servis komputer, jual beli, tukar tambah, atau jual rongsokan PC atau yang lain, hubungi aku ya. Biar aku kasihkan ke Ilham untuk mengurusi. Aku DDR soal begituan. Ahihi.

Lain Ilham, lain pula Ratna Yayi. Adik kelas SMA yang masih lajang ini juga sedang aku ajak usaha bareng. Selepas mengundurkan diri dari pekerjaannya di Jakarta, sekarang aktifitasnya cuma mengajar di sebuah lembaga bimbingan. Dia masih punya banyak waktu luang karena mengajar di lembaga itu hanya di hari Rabu.

Saat almamater kami mengadakan Lustrum awal Maret kemarin, dia punya ide berjualan kaos. Langsung aku katakan bisa kerjasama. Waktu itu kami beranggapan akan laku keras. Kami berharap para alumni akan membeli kaos yang di produksi. Bahkan saat panitia minta bagi hasil atas penjualan kaos, kami sanggupi. Sayangnya perkiraan kami salah. Masing-masing angkatan membuat kaos sendiri-sendiri. Bobor.

Tapi Ratna Yayi tetap berupaya agar kaos-kaos itu laku. Meski dia menuturkan sempat patah semangat. Prinsipnya harus bisa mengembalikan modal. Syukur lah, meski belum aku terima, dia bisa lakukan itu. Selamat ya, Yayi.

Tadi siang aku sengaja mengajaknya bertemu. Aku berharap kalau dia masih semangat untuk berusaha lagi. Alhamdulillah dia masih semangat. Aku suka itu. Yang namanya gagal itu biasa. Tapi terus menerus terpuruk dalam kegagalan itu kehinaan yang nyata. Semangat ya, Yayi!

Kaos yang dijajakan
Kaos yang dijajakan

Mungkin yang sampai tulisan ini dibuat, hanya Mas Budi yang belum sempat aku temui. Beberapa hari lalu, dia sempat BBM. Tapi waktu itu aku masih tertahan di Jakarta. Setelah itu aku disibukkan dengan banyak urusan. BBM yang aku kirimkan ke dia selalu terpending. Wah, kenapa nggak SMS ya?

Aku kenal Mas Budi lantaran Mas Amin. Mereka pernah kerjasama usaha optik keliling. Setelah Mas Amin memutuskan untuk bekerja di sekolah dan kemudian menjadi Kades di Mandirancan, dia tak pernah lagi ikut menjajakan kacamata. Dia merekomendasikan aku untuk ikut belajar ke Mas Budi soal usaha itu.

Beberapa hari dulu, aku sempat mengikutinya berkeliling. Aku menjadi asisten Mas Budi saat dia mempraktekkan memeriksa kacamata. Sampai aku mengundurkan diri, aku tetap nggak paham caranya. Yah, begini lah resiko sebagai orang yang DDR.

Aku mengundurkan diri tak lagi bergabung dengan Mas Budi. Alasannya bukan apa-apa. Aku merasa tak enak saja. Mas Budi selalu memberikan uang tunai setelah kami berhasil menjual kacamata. Yang membuat aku merasa tak enak karena dua hal. Pertama, Mas Budi masih harus menyelesaikan tugas menagih angsuran kacamata bagi yang mengangsur. Kedua, selama menjadi asisten, aku merasa hanya menjadi beban saja. Aku hanya membonceng dan ikut makan. Kemudian sekedar menyiapkan alat-alat yang dia butuhkan.

Awalnya Mas Budi meyakinkan aku kalau dia tak apa-apa. Tapi aku bersikeras mengundurkan diri. Aku tetap merasa tak enak saja.

Ikut berkeliling bersama Mas Budi, aku lakukan sebelum bergabung di UPK PNPM MP. Maka saat aku sudah di PNPM, aku ikut mempromosikan usahanya Mas Budi. Nur, Rosi, Imam, Yoga, dan Om Slamet, rekan-rekan di PNPM menjadi pelanggannya. Selain harga yang relatif lebih murah, pelayanan Mas Budi memuaskan. Aku ikut senang.

Mas Budi bercerita ingin menyewa kios di pasar Ajibarang. Pasar yang dimaksud sebelumnya adalah pasar hewan yang dialihfungsikan. Dia merasa perlu membuka kios untuk mempermudah pelayanan terhadap konsumen. Persis seperti keinginannya Ilham. Sedang pilihan yang jatuh untuk menyewa kios di Pasar Ajibarang, mungkin karena pertimbangan konsumennya yang memang banyak di sana. Maklum, area kelilingnya hampir se-Banyumas. Tapi urusan teknis bagaimana perjanjiannya, belum kami bicarakan memang.

Mas Budi bersama anak-anaknya
Mas Budi bersama anak-anaknya

Urusan dengan Ilham, Ratna Yayi, dan Mas Budi lebih mudah. Untuk memutuskan iya atau tidak, aku cukup ngobrol dengan istri. Karena uang yang aku pergunakan adalah uang pribadi. Andai uang itu hasil pinjaman ke lembaga keuangan, toh aku yang akan bertanggung jawab untuk itu.

Beda lagi urusannya dengan Rosi, Nur, Imam, Yoga, dan Om Slamet.

Setelah mengikuti rakornas tentang penyelesaian aset dana bergulir versi surat dari Kemendesa yang ditandatangani oleh Pak Suprayoga Hadi, ide-ide untuk mengembangkan usaha lain bermunculan. Usaha lumbung padi yang sempat aku bicarakan dengan para Kades, sepertinya akan segera terealisasi. Secara teknis pun sudah aku bicarakan dengan dengan teman-teman di kantor. Hanya saja, keputusan untuk mengeksekusinya masih menunggu rakor Kepala Desa yang untuk bulan ini belum terlaksana.

Formasi Lengkap
Formasi Lengkap

Aku sempat menuturkan ke mereka soal gagasan ke depan. Selepas periode ku sebagai Ketua BKAD nanti, aku berharap bisa mengembangkan paling tidak ada 3 jenis usaha lain. Aku pun berharap kelak, kecuali Om Slamet, bisa menduduki jabatan pimpinan di unit-unit usaha lain itu.

Hanya saja, karena uang yang dipakai itu bukan milik pribadi. Bahkan karena aku hanya jongos-nya para Kepala Desa, maka aku harus berbicara dengan mereka. Restu mereka terhadap gagasan itu harus aku dapatkan. Jika tidak, maka aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Perlu komunikasi yang intens dengan mereka. Andai aku memutuskan sendiri, bukan tak mungkin mereka merasa dilangkahi dan enggan ikut bertanggung jawab. Repot jadinya.

Namun demikian, mimpi untuk mendudukkan kawan-kawan di kantor menjadi Direktur di masing-masing unit usaha itu bukan tanpa syarat. Rosi, Nur, Imam, dan Yoga harus mau meningkatkan kapasitas diri. Bukan sekedar mengurusi SPP yang sistemnya sudah berjalan sesuai program. Bekerja itu tidak hanya di ukur dari absensi yang penuh setiap hari, tapi kualitas pekerjaan itu juga menjadi pertimbangan.

Ngumpul
Ngumpul

Menjaga agar angsuran lancar, idle money sedikit, dan minim kemacetan itu tak bisa dibayar hanya dengan absensi saja. Perlu strategi dan pendekatan khusus terhadap kelompok-kelompok SPP. Jangan sampai mereka merasa hanya dijadikan sapi perahan. Mereka butuh diperhatikan, tanpa mengistimewakan dengan mengesampingkan yang lain.

Andai nanti para Kepala Desa sepakat untuk membuka jenis usaha lain, teman-teman harus mau belajar lebih. Belajar bagaimana berkomunikasi dengan para stakeholder, melakukan pendekatan-pendekatan terhadap pemanfaat, menyusun strategi dan penerapan dari strategi yang disusun dengan mempertimbangkan banyak faktor. Banyaknya input data dan informasi dari masyarakat harus di akses sebanyak-banyaknya, agar keputusan mereka lebih tepat sasaran.

Menurut John C Maxwell, seseorang harus bisa menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru agar mereka layak di sebut sebagai pemimpin.

Bahagia rasanya jika bisa melakukan itu.

Semoga.

BAGIKAN
Berita sebelumyaBerbagi itu Menyenangkan
Berita berikutnyaMembuang Energi Negatif
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here