Menjaga Logika

2
241
Diskusi untuk menyesuaikan logika

Lelucon: “logika tak bisa berjalan tanpa logistik”, ada benarnya. Bahkan, logika bisa disesuaikan pemberi logistik. Sebab logika memang bisa di bolak-balik. Asalkan logistik terpenuhi, logika bisa berjungkil balik. Mengapa bisa demikian? Karena logika tak memiliki pegangan pasti. Apalagi bagi yang bangga dengan logika sendiri.

Berseliwerannya berbagai status di media sosial pun dalam rangka mempengaruhi logika. Logika benar bisa jadi rusak. Apalagi logika yang diikuti berasal dari para idola. Tak peduli latar belakang dan profesi sang idola. Ibarat nya, bau busuk dari mulut idola akan tercium wangi. Sedang bau wangi dari mulut yang dibenci tetap terendus busuk. Ironis.

Bermain retorika untuk mengubah logika menjadi tren. Seakan isi retorika adalah segalanya. Asal pandai berbicara, dia akan di puja. Tapi mereka lupa, bahwa akhlak, keteladanan, kesesuaian antara ucapan dan tindakan lah tolok ukur nya.

Kiblat Kebenaran

Apa yang ada dalam pikiran bergantung pada kiblat kebenaran. Patokan apa yang akan meluruskan sebuah logika, sangat menentukan. Ini tergambar pada ucapan dan perilaku individu yang bersangkutan. Pembawa kiblat kebenaran yang menjadi patokan akan menjadi idola. Tingkah laku pembawa kiblat kebenaran akan ditiru oleh para pengikutnya.

Kiblat kebenaran bisa berupa kitab suci, berbagai paham, peradaban sebuah bangsa, atau percampuran dari itu semua. Bagi para pengikutnya, kiblat kebenaran itu memiliki keunggulan sendiri dibandingkan dengan yang lain. Kesamaan rasa dan penghargaan terhadap sesuatu menjadi pengikatnya.

Memilah dan memilih kiblat kebenaran adalah hak setiap insan. Pemilihan itu mendasari hakikat hidup dan tujuan yang dituju. Apakah kiblat kebenaran itu akan membawa kebahagiaan atau tidak. Konsekuensi masing-masing tentu sudah dipikirkan matang-matang. Yang paling penting, pemilihan kiblat kebenaran seharusnya bukan karena tren atau sekedar ikut-ikutan.

Pahami benar kiblat kebenaran yang kita ikuti. Karena kepribadian, ucapan, dan perilaku kita akan tergambar dari kiblat kebenaran yang dipilih. Pertimbangkan kembali jika kiblat kebenaran yang kita pilih, justru mencelakakan kita. Ini bukan sekedar mencari sensasi. Kiblat kebenaran adalah jalan hidup.

Menyesuaikan Logika

Logika yang terbangun bisa terdampak dari pemilihan kiblat kebenaran. Namun ada kala nya, tidak masuk logika juga. Dangkal dan sempitnya cara kita memandang sesuatu bisa jadi penyebabnya. Logika dari kiblat kebenaran menjadi tak masuk akal. Meski kita yakin bahwa kiblat kebenaran itu benar.

Penyesuaian logika dengan kiblat kebenaran bisa dilakukan. Namun ada kala nya nafsu lebih besar dari itu. Saat kiblat kebenaran tidak masuk di akal, jalan pintas beralih menjadi pilihan. Sebenarnya tidak ada paksaan dalam hal ini. Semua menjadi pilihan dan tanggung jawab masing-masing.

Bagi sebagian orang, kolaborasi antar berbagai kiblat kebenaran merupakan pilihan tepat. Sebagian logika diambilkan dari satu sumber, sedang sebagian yang lain diambilkan dari sumber lain. Inti nya mencari titik keseimbangan dari berbagai pilihan. Benar kah demikian? Silakan Anda putuskan.

Keterbatasan Logika

Semua manusia, akal kita dibatasi. Segala yang kita pahami bermula dari pendidikan, pergaulan, dan pengalaman yang kita alami. Maka tak heran jika masing-masing orang memiliki pendirian yang berbeda-beda. Yang terpenting, perbedaan itu jangan menjadi penghalang dalam pergaulan.

Namun, tak sedikit orang yang mengagungkan logika. Saat semua tak masuk di logika mereka, maka ditolak. Standar pengukuran adalah masuk dan tidaknya pada logika mereka. Padahal logika mereka belum tentu bisa diterima oleh orang lain juga. Menganggap logika sebagai standar kebenaran merupakan wujud kesombongan.

Sebagai seorang muslim, tentu banyak kejadian di masa lalu dan sekarang yang jauh dari logika. Akan tetapi, karena itu benar adanya, kita mesti meyakini, kecuali yang mengingkari.

Keterbatasan logika seperti keterbatasan indera yang lain. Saat mata kita memandang ke langit cerah, yang terlihat adalah langit biru. Padahal ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa ada gugusan bintang dan planet-planet lain yang tak terlihat di sana. Demikian juga dengan suara ultrasonik. Meski berada di lingkungan kita, kita tak bisa mendengarkannya. Itu lah keterbatasan.

Waspadai Infiltrasi

Gempuran-gempuran infiltrasi logika semakin marak. Keterbukaan informasi dan komunikasi menjadi alat mempengaruhi pikiran orang lain. Infiltrasi baik akan membawa kebaikan, sedang yang buruk akan berimbas sebaliknya. Kebijaksanaan dalam menyaring akan menentukan.

Setiap penyebar keyakinan, menggunakan logika untuk menambah pengikutnya. Semakin banyak pengikut, akan mempermudah jalan menguasai. Tujuan menjadi penguasa, akan mempermudah dalam menyebarkan keyakinan pula. Logika bermain untuk mengerahkan massa menuju kekuasaan.

Permainan dalam mengubah logika benar dilakukan secara massif. Perbandingan dan analogi untuk memasuki ruang logika orang lain sering dilakukan. Andai logika orang sudah dimasuki, mudah baginya mempengaruhi sikap dan pilihannya. Tentu saja sikap dan pilihan yang diingini oleh mereka.

Infiltrasi logika mudah dilakukan pada jiwa-jiwa labil. Mereka yang kecewa terhadap sesuatu, mudah sekali dimasuki. Terlebih kekecewaan mereka, terhadap sesuatu yang awalnya dikagumi. Ketidaksiapan menerima kenyataan membuat mereka berlari mencari teman dalam pembenaran. Jika teman yang ditemui adalah penebar logika tak sehat, maka tak sehat pula dia.

Pegang Teguh Kiblat Kebenaran

Memegang teguh kiblat kebenaran akan mempermudah dalam menjalani hidup. Logika yang bersliweran lebih mudah disaring. Saat logika tak masuk, kembalikan pada kiblat kebenaran. Sebab logika memang terbatas. Tidak ada jaminan mereka yang berpendidikan tinggi, memiliki logika benar. Namun, belajar dari pemikiran mereka pun tak salah. Tinggal bagaimana kita menyaringnya.

Mempelajari kiblat kebenaran pun mesti diawali dengan kekosongan pikir. Artinya, subyektifitas dalam berpikir tidak bisa diikutikan. Jika subyektifitas sudah bermain, maka kebenaran pada kiblat kebenaran, akan tertolak jika bertentangan dengan subyektifitas berpikir.

Selain itu, kiblat kebenaran pun akan diambilkan sebagian saja guna pembenar subyektifitas berpikir. Jika sesuai dengan logika, akan diambil sebagai pembenar. Tatkala berbeda, maka ditolak dan ditafsirkan berbeda.

Kebenaran logika berpikir biasanya akan tergambar dalam perilaku nya sehari-hari. Lihat la kesehariannya. Apakah dia layak jadi panutan atau tidak. Jika ucapan berbeda dengan perilaku, maka waspada lah.

Salam.

Diskusi untuk menyesuaikan logika
Diskusi untuk menyesuaikan logika
BAGIKAN
Berita sebelumyaBekerja Bersama Membagi Beban Kerja
Berita berikutnyaAksi ASNI dalam Kalisalak Ekspo 2016
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here