Menjaga Loyalitas

0
320
Membuka cakrawala memupuk loyalitas

Jika kamu bertanya pada pimpinanmu, apa yang membuatnya senang, pasti dia akan menjawab: loyalitas. Apapun jenis pekerjaan dan keahlianmu, tak akan berarti jika kamu tak memilikinya. Loyalitas lah yang membuat seorang pimpinan mengistimewakanmu. Dia rela melakukan sesuatu yang tidak dilakukan pada karyawan lain, saat kamu memiliki loyalitas yang tinggi.

Loyalitas pula lah yang membuatmu dipertahankan pada posisi mu sekarang. Bagi seorang pimpinan, loyalitas lebih penting daripada keahlian yang dimiliki karyawan. Urusan keahlian masih bisa di tolerir, tapi kalau tak loyal? Tanyakan pada pimpinanmu.

Coba lah berfantasi memposisikanmu sebagai pimpinan. Bayangkan apa yang akan kamu lakukan pada bawahanmu yang tak loyal. Pahami dan rasakan saat bawahan dengan jelas atau secara sembunyi-sembunyi membangkang dan atau menggembosi kebijakanmu. Kira-kira seberapa berkecamuk amarah dalam dada nya. Yakin. Perasaan itu akan terjadi, saat kamu benar-benar mengalaminya.

Loyalitas lebih penting dari kemampuan

Pihak HRD menyadari betul pentingnya loyalitas. Para pelamar yang berpotensi tidak loyal, bisa dipastikan gugur dalam tes penerimaan karyawan. Kemampuan menggali sifat dan sikap dari calon karyawan memang domainnya pihak HRD. Kalau berkali-kali mendaftar pekerjaan dan sering gugur, padahal kamu merasa memiliki kompetensi unggul, mungkin kamu kurang memiliki loyalitas. Meski penyebab gugur dalam tes itu, loyalitas bukan satu-satunya ukuran.

Tak jarang, perusahaan lebih memilih calon karyawan yang kemampuannya tak begitu menonjol. Akan tetapi calon karyawan tersebut memiliki loyalitas yang tinggi. Kemampuan masih bisa dipelajari, tapi loyalitas harus dimiliki terlebih dulu.

Soal kemampuan bekerja, para pelamar yang berpengalaman sekalipun, tetap butuh pelatihan. Pelatihan dimaksud bukan sekedar hard skill, tapi juga bagaimana dia harus bisa menyesuaikan diri dengan suasana perusahaan. Bagi mereka yang loyal, sesulit apapun penyesuaian, akan tetap dilakukan. Sedang mereka yang tak loyal, sulit menyesuaikan diri dan biasanya memilih risen.

Mempersiapkan sikap loyal

Sikap loyal, sebagai modal penting dalam melamar atau bekerja, bisa dipersiapkan. Persiapan awal tentu bermula dari diri sendiri. Menyadari posisi diri sebagai bawahan yang harus mengikuti aturan perusahaan atau kebijakan pimpinan. Meski aturan atau kebijakan itu serasa tak selaras dengan nalar kita, kita mesti menjalankannya.

Perasaan tak selaras yang timbul bisa disebabkan ketidakpahaman kita akan strategi perusahaan atau memang PeA (pendek akal). Strategi dan kebijakan pimpinan yang visioner belum mampu tertangkap oleh akal kita. Sebab para pimpinan berusaha melihat segala sesuatu secara komprehensif, sedang kita masih berkutat pada apa yang kita kerjakan saja.

Sikap egois karena merasa diri lebih pintar menjadi penghalang tumbuhnya loyalitas. Oleh karena merasa lebih berpengalaman atau berpendidikan lebih tinggi, maka muncul sikap meremehkan. Enggan diatur oleh perusahaan atau kebijakan pimpinan membuat dia merasa benar menjalankan aturan sendiri. Bagi kamu yang demikian, saya sarankan untuk berkarir di dunia wirausaha saja. Buatlah sistem kerja sendiri.

Memperbaiki sikap loyal

Ada kala nya, seorang pimpinan membiarkan karyawan yang kurang loyal. Bukannya sang pimpinan lemah, akan tetapi karena kemurahan hati nya. Dia masih memberikanmu kesempatan. Pimpinan berharap kamu akan berubah. Tentu saja tugas ini sudah didelegasikan pada orang lain untuk membimbingmu. Kalau tak ada perubahan, bersiap lah mencari lapangan pekerjaan lain.

Mereka yang memiliki loyalitas tinggi, akan selalu menjaga itu. Sedang mereka yang kurang, akan mempermainkan kinerja. Dia beranggapan bahwa pimpinan tidak akan berani memecatnya. Sesuka hati nya dia memainkan aturan sendiri. Dengan jumawa dia akan katakan bahwa pimpinan tak berani padanya. Sebagian akan bersorak mendukungnya; tapi sebagian akan memandangmu rendah karena kebodohanmu.

Seorang pimpinan hanya akan membicarakan hal-hal serius pada karyawannya yang dipercaya. Jika sudah merasa tak pernah diajak bicara oleh pimpinan, coba introspeksi. Mungkin dia menganggapmu sudah tak loyal. Perbaiki sikapmu kalau tak mau dipecat.

Bukan loyalitas buta

Meski demikian, loyalitas yang kita miliki sebaiknya bersifat kritis. Sikap loyal yang kita memiliki pertimbangan-pertimbangan yang obyektif. Apakah aturan dan atau kebijakan pimpinan berprinsipkan win-win solution. Sudahkah kebijakan pimpinan tidak terindikasi penyalahgunaan atau membahayakan orang lain.

Kewajiban karyawan hanya mengingatkan. Jika masukan yang kita berikan tidak mengubah apapun, maka terima lah. Toh permasalahan yang mungkin timbul di masa depan, menjadi tanggung jawab pimpinan. Berpikir positif lah bahwa kebijakan itu yang terbaik. Sekali lagi, bisa jadi karena kita belum paham atau terlalu PeA.

Jika benar bahwa kebijakan pimpinan yang diambil merugikan banyak pihak, lakukan tindakan konstruktif. Membangun kesadaran pada sesama rekan kerja akan pentingnya mengingatkan pimpinan, menjadi tugas kita. Ingat lah: kalau ada kemungkaran, maka ubah lah dengan tangan mu (kemampuan), ubah pula dengan lisan mu, terakhir dengan doa mu.

Membuka cakrawala memupuk loyalitas
BAGIKAN
Berita sebelumyaAplikasi Bisnis Tapp Market Terus Diperkenalkan ke Semua Kalangan
Berita berikutnyaMenikmati Proses
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here