Menjemput Impian yang Tak Nyata

0
216

Edisi kedua (habis)

Belum hilang rasanya penat ini. Penjaga masjid sudah mempersiapkan semua untuk shalat dhuhur. Menggelar karpet, mengecek pengeras suara, mengecek kran-kran tempat berwudhu, dan menyampu. Aku pun mulai bersiap-siap. HP di mode silent, jaket dan tas aku letakkan dekat tiang agak ke depan. Meskipun di masjid, harus waspada. Terlalu sering barang-barang raib walau di rumah ibadah sekalipun. Jama’ah mulai berdatangan. Shaf-shaf yang panjang akhirnya hanya di isi tak lebih dari 2 baris. Fenomena yang sepertinya sudah biasa. Masjid besar-besar tapi sepi dari kemakmuran.

Sebelum adzan dhuhur, Pak Dwi Purnomo sudah telpon menanyakan posisi ku. Karenanya mereka menuju masjid ini selepas dari bandara. Mas Puji tersenyum dan menyalamiku. Hendak shalat dhuhur dia. Sedang aku baru saja selesai wiridan.

Sambil menunggu jam 2, kami bertiga kumpul di dalam masjid dan berbincang-bincang. Telpon dan SMS terus saja mengalir. Baik ke nomor HP ku, Pak Dwi, dan Mas Puji. Pertanyaannya masih sama. Tentang hasil pertemuan dengan Dirjen PMD. Kami senyum-senyum menanggapi. Kadang bicara serius tentang konsep yang akan disampaikan, kadang becanda mengingat komentar-komentar kawan-kawan di fesbuk. Aku sampaikan juga hasil pertemuan dengan Pak Sujana Royat di Purwokerto. Sayangnya beliau tak bisa ikut menghadiri pertemuan di Dirjen PMD siang itu. Kami diskusikan pula tentang rencana Musyawarah Besar (Musbes) Forum UPK Jawa Tengah yang tak kunjung terlaksana. Pak Dwi bilang bahwa teman-teman sedang berkoordinasi dengan BPKP terkait kehalalan penggunaan dana operasional UPK untuk itu. Ketidaksabaran kami juga dikarenakan adanya pilot project desentralisasi PNPM di 7 (tujuh) kabupaten di Jawa Tengah. Keberadaan Forum diharapkan bisa ikut memberikan masukan-masukan kepada pemangku kebijakan di Jawa Tengah terkait pelaksanaan desentrasilisasi PNPM tersebut.

Suasana diskusi
Suasana diskusi

Kami bertiga berjalan kaki ke kantor Dirjen PMD. Saat memasuki ruang lobi, kami di suruh menunggu. Tapi saat aku tunjukan surat undangannya, kami langsung dipersilakan naik ke lantai 3. Kebetulan pula Pak Gatot baru masuk kantor, ada pekerjaan di luar rupanya. Berbasa-basi Pak Gatot bertanya perjalanan Pak Dwi dari Klaten. Maklum mereka sama-sama dari Klaten. Pasti ada ikatan emosional kedaerahan.

Ruang pertemuan direktur itu berukuran 4 x 4,5 saja. Kursi empuk yang melingkari ada 8 buah, dengan beberapa di belakangnya. Aku duduk di sebelah timur, berjajar bertiga bersama Mas Puji dan Pak Dwi. Di sebelah kiriku duduk, Mas Wahana, orang yang kemarin aku katakan yang menghilangkan selera makan pada saat aksi tanggal 3 September. Aku pun jujur katakan padanya soal itu. Sebelah Mas Wahana ada Pak Gatot yang menghadap ke barat, kemudian Pak Agung (NMC), Pak Benny Irwan, Mas Suyadi, Mas Ahmad. Sedang di sebelah Pak Dwi ada Pak Lendi Wibowo (NMC) yang kadang menghadap selatan, atau ke timur saat berdiskusi.

Paparan pertama tentang tuntutan transfer dana dari UPK ke suplier yang banyak meresahkan TPK dibahas berulang kali. Mas Wahana menunjukkan alasan dan tujuan dari mekanisme transfer itu di layar. Banyak pihak berbicara dengan argumen masing-masing. Insting ku mengatakan ini tak bakal selesai pembahasannya. Bayangkan saja, sejak pukul 14.30 an pembahasan ini terpaksa dihentikan sampai jam 16.00 WIB. Padahal masih banyak tuntutan yang disampaikan secara tertulis lainnya. Saat itu pula, selera makan ku masih belum kembali. Padahal ajakan makan siang oleh Pak Dwi saat di masjid, aku tolak. Makanan ringan yang disajikan berupa gethuk lindri, lapis, nagasari, dan lemper ketan tak kami senggol. Saat Pak Benny menawari jus sebelum acara di mulai pun tak kami terima. Cukup teh manis saja.

Paparan materi
Paparan materi

Paparan lain tentang tak dilibatkannya salah satu pengurus UPK dalam spesimen di buku bank perguliran pun tetap berujung sama. NMC tak bergeming. Meski logika masuk, sejatinya kami tak sepakat. Keresahan karena jam keberangkatan pesawat untuk balik ke Klaten lah sumber masalahnya. Terlebih tadi pagi mereka berdua, Pak Dwi dan Mas Puji, hampir ketinggalan pesawat di Jogja. Maka konsentrasi jelas buyar. Adu argumen tetap dilakukan, nyatanya tak bisa di rubah.

Ada beberapa poin yang aku jadikan pedoman, hasil dari perkataan Pak Gatot yang akan aku sampaikan kepada teman-teman. Menurutku ini lebih urgen dan mencakup semuanya. Meski paparan belum selesai. Karena jelas waktu tak memungkinkan untuk membahas semua tuntutan kami.

Respek awal saat aku mendengar paparan dari Mas Wahana, hingga aku bilang bahwa teman-teman NMC sebenarnya mencintai UPK, sedikit perlu di revisi. Kekeuh mereka mempertahankan argumen dan hanya sedikit menerima masukan kami, cukup sudah. Aku tahu bagaimana harus bersikap. Apalagi saat aku tahu mereka tak bersosial media. Ada kalimat yang cukup aneh ku rasa dari Pak Gatot yang mungkin lazim di tataran birokrasi, tapi tidak bagiku. Yakni adanya hierarki komunikasi.

Kasihan saja. Di jaman serba canggih ini, sekedar sosial media pun tak punya, kecuali Pak Lendi Wibowo. Padahal setahuku, media-media itu lah yang memangkas jalur birokrasi untuk setiap laporan-laporan yang mereka butuhkan. Seperti kontradiktif antara kesimpulan awal bahwa semua karena sumbatan informasi. Namun tatkala ada penawaran shortcut media komunikasi yang bagus, tak dimanfaatkan. Padahal pula, pengakuan mereka, ada tim khusus untuk itu.

Penataan kelembagaan
Penataan kelembagaan

Kalau saja aku bisa jumawa di hadapan mereka. Aku akan katakan, kenapa harus pakai tim khusus. Saya saja masih mampu meng-handle 4 (empat) website, 2 akun fesbuk, dan 1 akun twitter. Padahal dari sisi pendanaan mereka ada. Sedang aku kadang harus memberi pengertian kepada istri yang merengut karena uang yang sudah diberikan, diminta lagi. Mengapa mereka tak mau memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung pekerjaan-pekerjaan mereka. Apalagi yang diurusi kan dari Sabang sampai Merauke. Bukannya bisa jadi lebih mudah? Mungkin mereka punya alasan tersendiri.

Alasan lain yang aku suka dari novel yang sedang aku baca ini yakni soal nasionalisme. Mereka yang menjadi tokoh-tokoh, bukan saja mencari ilmu ke negeri kincir angin. Justru rasa nasionalisme mereka semakin tumbuh di sana. Kebingungan antara kembali ke Indonesia atau menetap di Eropa bukan semata-mata soal uang. Mandeg-nya perlawanan mereka terhadap praktik-praktik illegal logging di tanah air, disadari karena dunia internasional pun ikut bermain. Perlawanan itu pun harus dilakukan di sini, di Eropa. Itu baru satu contoh. Contoh lain ialah tak tersedianya sarana dan prasarana guna penelitian ilmu pengetahuan yang ada. Sistem honorarium dosen yang diberlakukan, memaksa sang dosen cenderung mengejar proyek dan mengabaikan kewajiban mengajar mahasiswa yang sudah membayar mahal biaya kuliah. Pelajaran berharga yang dipetik dari orang-orang India yang bertahan di luar negeranya, tetap bekerja dan kembali membangun negara mereka dari luar. Ah, kamu cari saja novel dengan judul: Negeri van Oranje, ya. Biar jelas.

Rasa nasionalisme itu yang justru aku rasakan beda di dalam negeri. Banyak orang yang rela menukar idealisme kebangsaan demi rupiah. Tak peduli orang lain berebut kue-kue kecil untuk sekedar mengisi perut. Tak peduli kesulitan-kesulitan orang tatkala mengikuti aturan yang dia buat, demi mengikuti apa kata orang-orang bule yang ingin tetap menguasai Indonesia. Proyek-proyek berbungkus program dijadikan pembenaran untuk mengakses pinjaman ke luar negeri dengan dalih pengentasan kemiskinan. Kemiskinan lagi-lagi dijadikan sasaran empuk memperbesar perut segelintir orang. Semoga aku tak tergiur untuk itu.

Kawan, tolong ingatkan aku jika aku akan terjerumus di sana. Jangan sampai tulisanku ini hanya karena aku di luar lingkaran mereka, namun lidah ini kelu dan menikmatinya saat aku masuk ke dalam.

Justifikasi kata Mas Wahana
Justifikasi kata Mas Wahana

Adzan isya berkumandang sesaat setelah aku keluar dari kantor Dirjen PMD. Aku menunggu orang yang akan mengantarku ke terminal Kampung Rambutan. Pertemuan sengaja dituntaskan tanpa hasil yang memuaskan. Hasil pertemuan yang sudah di tunggu-tunggu oleh teman-teman UPK, tak maksimal. Tak ada kata sepakat. Kami bisa menerima penjelasan-penjelasan, tapi saya sendiri cukup tahu saja. Perlu strategi perjuangan lain. Salah satunya merapat ke acara 26-27 September ini di Majalengka.

Perbedaan kepentingan di Jakarta membuat orang-orang di daerah bingung. Itu kesimpulan yang aku dapatkan saat Mas Yadi menemaniku di halaman. Ayah 2 anak ini terlihat sibuk merayu anak pertamanya melalui telpon. Dia sudah di tunggu di rumah. Perbedaan usia yang tak jauh membuat obrolan kami nyambung. Apalagi dia pernah kuliah bersama 2 orang PNS di jajaran Pemda Banyumas. Satu di Badan Kepegawaian Daerah (BKD), satu lagi di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah (DPPKAD).

Ferdian mengantarku ke terminal Kampung Rambutan. Dia salah satu PNS di sana. Awalnya dia hendak mengantarku ke terminal Pasar Minggu. Tapi aku minta diantar ke terminal Kampung Rambutan saja. Ferdian bilang, ada tempat dimana bis-bis besar dari terminal Kampung Rambutan ke Jawa yang baru keluar dan berputar di sana. Jadi tak harus masuk ke terminal. Tawaran itu aku iya kan saja. Mana yang terbaik.

Jarak dari kantor Dirjen PMD ke terminal sebenarnya tak begitu jauh. Tapi kemacetan yang membuat kami harus bersabar. Pemandangan biasa di Jakarta ini terjadi setiap hari saat jam-jam berangkat dan pulang kerja. Beruntung tak aku temui setiap hari di desa. Bisa-bisa tambah kurus kalau harus menemui kenyataan seperti ini tiap hari.

Khawatir tak mendapatkan bis, aku tahan rasa sakit di perut karena ingin kencing. Berkali-kali aku lihat nama bis yang datang, nama yang familier yang aku cari. Sayangnya jurusannya tak sampai Purwokerto atau Cilacap. Ada yang cuma sampai Tasik, ada yang sampai Bandung saja. Aku tak terlalu menghiraukan antara jurusan Purwokerto atau Cilacap. Yang penting bisa terangkut. Soal nanti harus berganti bis lagi tak masalah. Agak lega karena disampingku ada seorang bapak muda, mungkin seumuran dengan ku. Dia sedang telpon dengan anak dan istrinya dengan bahasa Banyumasan. Ada teman mudik nih.

Poin-poin penting
Poin-poin penting

Sakit perut ini lama-lama terasa menyengat. Maka aku berlari menyeberang mencari WC umum. Tak mudah. Jalan masih ramai dan pengendara saling berebut maju. Terlihat seorang Polantas kerepotan mengatur kendaraan sendirian. Utamanya bis-bis yang sering membuatnya harus mendatangi pintu sopir dan berbicara langsung. Lampu tanda yang dia ayun-ayunkan sering tak efektif. Untung saja dia sepertinya sabar. Meski dia bermasker, tak aku lihat dia marah-marah dari bahasa tubuhnya. Profesional dan perlu diapresiasi.

Selepas itu, aku masih temukan bapak muda itu. Perawakannya sedang seperti aku. Kumis yang lebat dan jengkot yang sepertinya tak terawat itu membuatnya kelihatan lebih tua. Padahal dari hidung dan matanya, sepertinya dia turunan Arab. Dia masih asyik ngobrol dengan anaknya mungkin. Kata “Kakak” dia sebut-sebut untuk menenangkan sang anak yang pasti sudah menunggu. Ata, Syamil, dan istriku pun pasti demikian. Sayangnya HP ini sudah mati. Tak ada tempat untuk nebeng nge-cas.

Saat dia berlari mengejar bis yang datang, aku pun pastikan jurusannya. Oh, Cilacap. Tak apa lah. Daripada menunggu, belum tentu masih ada di belakang. Bis jurusan Cilacap biasanya akan melewati Rawalo, kemudian ke Sampang dan menuju Cilacap. Ternyata bis ini tidak demikian. Bis hanya sampai di Wangon, kemudian belok kanan ke Cilacap melalui Jeruklegi. Aku harus cari bis lagi dari Wangon ke Purwokerto. Di Patikraja aku akan turun dan jalan kaki ke Mandirancan.

Capek yang amat sangat membuat aku terlelap sepanjang jalan pulang. Perjalanan berangkat sebelumnya hampir-hampir aku tak tidur. Meski mata terpejam sejak di Stasiun Purwakarta, tapi terjaga lagi Bekasi hingga ke Jatinegara. Siangnya pun aku tak bisa tidur. Maka aku pun mencari posisi yang nyaman untuk merebahkan diri. Kebetulan bis ini tak penuh. Kalau tak salah 7 (tujuh) kursi yang diduduki penumpang, dengan seat 2-2 ini hampir-hampir di isi masing-masing satu orang saja. Tas yang semula aku letakkan di antara jok, aku ambil dan aku jadikan bantal. Sayang dinginnya AC membuatku merasa terganggu. Sebelum berangkat ke Jakarta, aku sempat di urut dan dikeroki hingga berwarna merah hitam. Takut masuk angin lagi. Aku cari-cari knop penutup AC, eh rusak. Di depan atau belakang kursi yang aku tumpangi pun sama. Akhirnya handuk putih kecil aku jadikan pelindung muka dan telingaku.

Malam itu tidurku datar-datar saja. Tak ada mimpi yang hadir. Jalur selatan yang dilalui, dimana penuh kelak kelok pun tak aku rasakan. Samar-samar telingaku mendengar teriakan kondektur kepada penumpang yang hendak turun di Karangpucung Cilacap. Seingatku, tak ada yang turun. Aku duduk dalam keadaan masih terpejam. Menikmati goyangan bis mengikuti jalan berkelak kelok di wilayah Lumbir ku rasa. Mata mulai terbuka saat jalannya bis sudah mulai mulus. Sepertinya sudah masuk wilayah Wangon. Benar. Aku lihat tulisan: Puskesmas I Wangon di kanan jalan. Yang tak lama kemudian sampai di perempatan Klapagading Wangon. Aku pun bergegas turun saat lampu lalu lintas masih berwarna merah.

Sambutan yang datang dari para tukang ojek aku balas dengan senyum dan gelengan kepala. Aku berucap ke Purwokerto saat mereka menanyakan tujuan akhirku. Tak tahu persis aku sampai di sana. Yang pasti saat aku duduk menunggu kopi yang aku pesan ke penjual kue serabi, terdengar iqomat. Aku nikmati kopi hitam dan 2 potong kue serabi yang masih hangat. Sambil menunggu kalau-kalau ada bis di belakang yang menuju ke Purwokerto. Hingga sampai aku habiskan semuanya, aku putuskan mampir ke masjid Baitul Makmur. Masjid besar yang terletak tak jauh dari situ. Hanya jalan kaki kurang lebih 100 meter ke arah utara.

Wangon merupakan tempat yang sering aku kunjungi pula. Terlebih dulu saat Mas Islahudin, Fasilitator Teknik ku masih bertugas di Kebasen. Warung bakso Langensari yang terkenal di situ, sekitar 50 meter dari perempatan Klapagading ke utara, di kiri jalan

adalah milik keluarga mertuanya. Mba Yuni, istri Mas Islahudin, sebagai anak tunggal dari keluarga Langensari pun bekerja sebagai bidan dengan status PNS. Maka untuk ukuran orang desa, mereka tergolong orang kaya. Kekayaan itu tak membuat mereka sombong. Seringkali, saat kami ingin refreshing, Mas Islahudin akan membawa mobil ke tempat kerja. Kemana kami akan pergi, tak perlu keluar biaya, karena acara makan pun akan dia bayari. Benar-benar dermawan. Soal kepedulian terhadap tetangga tak perlu diragukan lagi. Saat dulu aku ngobrol dengan bapak dan ibu mertuanya, aku simpulkan bahwa menyantuni tetangga bagi mereka adalah manifestasi rasa syukur kepada sang Khaliq.

Setelah aku rasa cukup kebutuhan di masjid, langkah kaki ku berjalan ke arah utara. Terminal Wangon berada di dekat perempatan sana. Sebelah selatan terminal ada pasar Wangon dimana aku pernah akan mengadu nasib di sana. Urung dilakukan karena sakit lama. Tapi menjajakan koran di terminal ini pun pernah aku lakukan juga. Sempat bimbang dengan keadaan terminal yang sangat sepi. Di sana hanya ada 2 bis besar yang mungkin baru parkir sepulang dari perjalanan malam. Kendaraan lain malah hanya truk-truk besar bersumbu dua yang sedang ikut parkir. Seorang bapak meyakinkanku bahwa sebentar lagi akan ada bis ke Purwokerto. Aku pun duduk di tempat tunggu.

Pemandangan Wangon di pagi hari, lazimnya tempat-tempat lain. Geliat ekonomi masyarakat sudah terasa. Ada yang baru buka lapak, ada yang baru tutup lapak. Ramainya pasar dengan para pedagang hasil-hasil pertanian dengan para tukang becak yang sibuk membantu para pedagang, menunjukkan bahwa bangsa ini bukan bangsa pemalas. Jika ketidakmalasan mereka bekerja masih dibayar dengan kemiskinan, maka tak adil jika mereka dituduh sebagai penyebabnya. Kemiskinan yang terjadi bukan karena kemalasan mereka, tapi karena sebab lain.

Terdengar obrolan seorang sopir bis yang dari seragamnya aku kenali, dengan penjual gorengan dan kupat di depan. Sang sopir mengkritik masyarakat Indonesia yang bisanya hanya menerima barang bekas dari luar negeri. Dia mencontohkan bahwa kendaraan di Singapura, dalam 5 tahun sudah diganti dengan yang baru. Lha kok di Indonesia yang sudah puluhan tahun masih dipakai.

Dalam hati aku berkata, mestinya kita bangga jadi orang Indonesia, Pak. Coba deh kita lihat dari sudut pandang orang Singapura, mungkin mereka akan bilang: hebat ya orang Indonesia, barang rongsok masih bisa digunakan. Hehe….

Saat aku agak ragu dan hendak bertanya soal kedatangan bis ke Purwokerto, terlihat bis masuk. Aku bangkit dan menaikinya. Baru ada 3 orang penumpang termasuk aku. Sebentar kemudian bis ngetem. Menunggu penumpang yang lain. Hanya satu dua saja. Perlahan bis keluar dan menaikkan penumpang yang kebanyakan pelajar di sepanjang jalan. Tak seperti di Jakarta yang akrab dengan kemacetan, jalan raya ini masih bisa dilalui dengan lancar. Bersliwerannya kendaraan masih bisa disikapi oleh sopir bis dengan baik. Tak perlu marah memaki-maki pengguna yang lain.

Alhamdulillah sekitar jam 07.30 aku sampai di rumah. Dengan terlebih dahulu berjalan kaki dari Patikraja. Tengak tengok mencari tumpangan tak jua ditemui. Tapi aku dapat tumpangan setelah di tengah-tengah jembatan Serayu yang penuh kenangan dan misteri itu. Belum sampai rumah, aku di kejar-kejar Lik Sus (Suswati). Dia bercerita bahwa kemarin, kelompok batik desa ku kedatangan tamu dari sebuah perusahaan rokok dan vendor jasa komunikasi. Katanya mereka menawarkan kerjasama pengembangan usaha batik. Dia minta aku untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan kedua perusahaan tersebut.

“Ngomonge sekang Jakarta langsung. Jajal di pindoni ya. Mbok rejekine kelompok,” ujarnya bersemangat.

“Siap!”

Pekerjaan nambah lagi nih.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjemput Impian yang Tak Nyata
Berita berikutnyaTerus Berkarya, Mama
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here