Menjemput Impian yang Tak Nyata

0
360
Istirahat di Stasiun Banjar

Edisi Pertama

Sekitar jam 4 pagi, kereta yang aku tumpangi dari Purwokerto berhenti di Stasiun Jatinegara. Jalur selatan yang dilalui membuat perjalanan menjadi lebih lama. Terlebih, kereta ekonomi tentu harus mengalah saat berpapasan atau hendak disusul oleh kereta kelas eksekutif atau bisnis. Rel ganda yang sudah mulai dikerjakan belum bisa dimanfaatkan. Sore itu, saat melewati jembatan di Sungai Serayu di bagian hilir, sekitar Maos, begitu panjang. Berapa biayanya? Pastinya banyak. Sekiranya ini investasi jangka panjang, kita tentu berharap pelayanan BUMN ini kelak bisa memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang tinggi.

Pelayanan BUMN yang bergerak di bidang transportasi umum seharusnya memang senantiasa memperbaiki diri. Dengarkan keluhan-keluhan masyarakat pengguna. Apa sih yang mereka inginkan. Biasanya tak jauh dari pelayanan prima, tepat waktu, aman, dan nyaman, serta biaya yang murah. Apalagi sebuah perseroan terbatas milik negara seharusnya tidak murni profit oriented. Toh hak-hak Anda selama ini aku rasa lebih dari cukup.

Kedatangan di Stasiun Jatinegara yang cukup siang ini pun sebenarnya tak merugikanku. Andai kereta tiba lebih awal pun, aku mau apa. Pertemuan di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan, sekitar jam 2 siang. Masih berlimpah waktu senggang. Melepas hajat di toilet, shalat shubuh, menyesuaikan diri, buka mata buka telinga, termasuk mencari informasi via SMS ke Padang Kusumo aku lakukan. Aku pikir, hobi Padang yang suka berpetualang, hingga bisa menguasai medan, pasti akan menolongku. Benar saja, Ayah yang dikaruniai 4 orang momongan yang sudah menyelesaikan S2 di Fakultas Hukum UI ini, memberi solusi. Dia paham jalur KRL. Dia sarankan agar aku menggunakan KRL jurusan Depok, turun di Stasiun Pasar Minggu, meski harus muter ke Stasiun Duri dan Tanah Abang terlebih dahulu. Lebih nyaman katanya.

Istirahat di Stasiun Banjar
Istirahat di Stasiun Banjar

Meski SMS lanjutanku tak di balas, pengalamanku lari-lari mengejar KRL dari rumahnya dulu di Tangerang hingga ke Senayan dimana dia bekerja, tarifnya sangat murah. Maka aku ikuti sarannya saja. Aku tak kaget saat harus membayar sekian rupiah. Kartu tanda masuk yang diberikan oleh petugas akan diganti uang cash saat turun nanti. Kenyamanan memang menjadi alasan mengapa akhir-akhir ini aku lebih suka naik kereta daripada bis. Diantaranya  keterpaksaanku naik kereta eksekutif dari Cirebon ke Purwokerto beberapa waktu yang lalu, aku maknai sebagai pengalaman berharga.

Bukan soal perbandingan waktu, tempat duduk, dan kebersihan saja.  Kereta kelas ekonomi cenderung lebih cair suasananya. Ngobrol panjang lebar dengan sesama penumpang yang baru saja bertemu, menjadikan perjalanan ini tak menjemukan. Merasa sebagai sesama penumpang kelas terendah membuat kami tak canggung saling menyapa, berbincang-bincang dengan topik yang berganti-ganti semaunya sendiri. Mengalir.

Posisi dudukku berhadap-hadapan dengan seorang ibu, dan sepasang suami istri. Mereka sama-sama naik dari Stasiun Sidareja Cilacap. Sedang di sebelahku ada seorang bapak yang naik bersama anak dan istrinya dari Stasiun Kroya. Tapi kok mereka beda jok? Mungkin saat pesan tiket, jok yang kami tempati dan di depannya sudah di pesan.

Dalam perjalanan, bapak itu kemudian menyatu bersama keluarganya. Tempat duduk di sebelahnya ternyata kosong. Akhirnya di jok yang semestinya di isi 6 orang yang saling berhadapan, sekarang hanya 4 orang saja. Aku, seorang ibu, dan sepasang suami istri itu.

Sepasang suami istri yang aku perkirakan usianya kepala empat itu sepertinya tak risih bermesraan. Mereka memang tak berpelukan. Tapi saat bercakap-cakap, kedua matanya saling beradu seperti baru pacaran saja. Terlintas pikiran jelekku kalau mereka berselingkuh. Pasalnya si istri masih cantik. Pintar berdandan. Sedang sang suami biasa-biasa saja. Kulitnya hitam mirip kuli bangunan, beda dengan si istri yang putih bersih. Sapuan bedaknya rata dan olesan lipstiknya pun tak menor. Ayu.

Ibu yang satu, yang mengaku beranak dua, dengan anak pertamanya baru kelas satu SMK di Sidareja malah seperti tak suka berdandan. Biasa saja. Tapi dari pengakuannya, usianya masih lebih muda dari ibu yang ayu itu. Hanya beda 5 tahun denganku.

Sebelum kehadiran mereka, sejak dari Kroya aku menyimak cerita dari seorang pemuda tanggung di jok sebelah kanan. Dari cerita-cerita yang dia sampaikan, kok terkesan mengada-ada. Terlalu hiperbola. Garing. Soal tawuran lah, mabok-mabokan lah, macam-macam pokoknya. Aku coba melirik. Oh, pantesan. Ada cewek rupanya di sana.

Meski dia bercerita dengan cowok di depannya yang dengan antusias menanggapi, sepertinya dia ingin menunjukkan keperkasaannya sebagai seorang cowok kepada si cewek itu. Dari sorot matanya, cewek mungil yang manis saat tersenyum itu, seperti terkesima dari cerita-cerita si cowok garing itu.

Lha yo ben. Kok sentimen… xixixi….
Hiperbola-nya itu lho… ahaha….

Ibu yang anaknya sudah kelas 1 SMK itu, dan sepasang suami istri yang tak aku tanyakan nama dan alamatnya pun mulai bercerita. Awalnya berbasa-basi soal asal tempat tinggal, pekerjaan, dan tujuan pergi ke Jakarta. Cerita menjadi seru saat si ibu itu bernostalgia ke masa lalu. Masa tatkala dia berpacaran dengan anak tetangga.  Ingat saat nonton layar tancap. Film yang sering diputar dibintangi oleh Suzzana, Barry Prima, dan Advent Bangun. Ada pula yang dibintangi oleh Yati Octavia dan Roy Martin, Rhoma Irama, dan yang lainnya.

Dia bilang, ingat suatu masa kala dia pulang nonton bareng pacarnya. Saat itu hujan gerimis agak lebat. Pacarnya memayunginya dengan jaket hitam. Berlari bersama. Kenangan indah katanya. Mungkin yang membuatku agak kikuk saat ibu yang ayu itu bertanya ciri-ciri fisik mantan pacarnya itu. Dia bilang, putih, tinggi, dan ganteng.

“Seperti Mas ini”.

Alah gubrak… hahaha….

Ibu yang ayu itu pun menimpali. Dia tak rikuh bercerita karena sang suami sedang ke toilet. Dia bilang masa-masa pacarannya jauh berbeda dengan anak-anak sekarang. Paling-paling pakai surat, di koleksi. Pegang tangan saja deg-degan. Pas di apeli, ditunggui bapak. Ahihi…

Setelah itu obrolan menjadi tak menarik bagiku. Mereka lebih asyik bernostalgia dengan kampung halamannya, Sidareja. Pura-pura nimbrung, jelas aku kayak kambing congek. Tak paham Sidareja soalnya. Aku lanjutkan baca novel yang sengaja aku bawa dari rumah. Toh sang suami ibu yang ayu itu lagi asyik main Zuma. Ada teman autis kan. Hihi….

Celotehan para penumpang lain pun tak kalah seru. Masing-masing punya bahasan sendiri. Meski beberapa kali diselingi teriakan para pengasong di stasiun dimana kereta berhenti, obrolan itu terus berjalan. Satu dua kelompok berhenti karena keluar mencari angin. Saat kereta berjalan, obrolan pun dilanjutkan.

Pemandangan yang menarik di sini adalah adanya kebersamaan dan perasaan senasib. Misalnya saja saat aku naik kembali dari Stasiun Banjar membawa mie gelas, mereka menawari aku makanan. Bukan pura-pura. Aku tahu itu. Bekal yang mereka bawa saling ditawarkan satu sama lain. Ada nasi, sayuran, telor asin, keripik, roti kering, sampai air putih pun ditawarkan. Tulus.

KRL jurusan Depok yang aku tumpangi mulai berjalan jam 05.00 WIB lebih. Mata ku menangkap adanya rute KRL di atas pintu keluar. Setiap rute diwarnai sendiri-sendiri. Ada yang berwarna kuning, merah, merah muda, hijau, dan coklat. KRL yang aku tumpangi berada di rute berwarna kuning. Ah, ternyata untuk sampai ke stasiun Pasar Minggu tak perlu berganti-ganti. Cuma rute-nya memang ke barat dulu, baru muter ke timur lagi. Biar lah, yang penting tak bikin pusing.

Jelasnya rute membuatku tak perlu bertanya-tanya. Termasuk pada cewek manis yang naik dari stasiun Pasar Senen, kemudian duduk di samping ku. Jilbab biru terang dengan motif bunga berwarna silver, kacamata berbingkai coklat muda, dan tas punggung warna merah bertitik-titik silver juga yang dia pangku, aku taksirkan sepertinya bukan mahasiswi. Tapi kerja kantoran dimana gitu. Andai aku iseng, modus bertanya akan aku lakukan agar bisa ngobrol. Mungkin juga aku lakukan jika tak ingat sudah berbuntut dua orang. Ah, jadi ingat Yoga.

Woiy, Bro. Kapan nikah?

Antara dua pilihan untuk turun. Apakah stasiun Pasar Minggu Baru, atau Pasar Minggu. Pada gambar rute, Pasar Minggu Baru lebih dekat dengan stasiun Duren Kalibata, sedang Pasar Minggu setelahnya. Setahuku Kalibata ke lokasi yang akan aku tuju, yakni kantor Dirjen PMD tak jauh. Semestinya pula tak lama KRL berjalan. Tapi aku putuskan turun di stasiun Pasar Minggu saja. Gampang nanti di cari.

Saat aku keluar dari KRL, di seberang sana terpampang tulisan besar: Terminal Pasar Minggu. Nah, bisa tanya-tanya angkot yang melewati kantor yang akan aku tuju. Sebelum keluar stasiun, aku tukarkan kartu KRL. Benar kan, ada cash back. Murah banget nih. Muter-muter lebih dari satu jam, cuma bayar 2500 perak.

Tawaran para tukang ojek aku abaikan. Aku berjalan kaki ke selatan. Aku baru tahu arahnya salah saat mendekati perlintasan kereta agak jauh ke sana. Saat itu aku ragu dengan konstruksi taman di tengah jalan. Berbeda dengan jalan yang aku lhat pada 3 September kemarin. Aku menyeberang bukan pada jembatan penyeberangan atau Zebra Cross. Salah sendiri. Makanya lama menunggu kesempatan menyeberang. Pagi ini suasana jalan ramai. Anak-anak sekolah dan para karyawan saling berebut mendahului.

Trotoar yang semestinya diperuntukkan bagi pejalan kaki, tak aman. Pengendara motor banyak yang menyerobot. Untung saja, aku pejalan kaki yang baik hati dan tidak sombong (aye). Aku berhenti lebih ke pinggir dan membiarkan mereka lincah memainkan stang motor agar tak bertabrakan satu sama lain. Aku berjalan lagi saat sudah aman. Peristiwa ini terjadi berulang kali. Termasuk saat aku berjalan menyelinap diantara pohon-pohon tinggi sebagai pelindungku. Pengendara terus saja mengambil trotoar.

Iseng aku masuk Terminal Pasar Minggu. Mataku mencari-cari agen bis yang sekiranya bisa aku pesan tiket untuk pulang nanti malam. Hanya ada satu. Katanya kalau jurusan ke Purwokerto harus di oper di Tegal. Weh, enggak lah. Pengalaman di oper sama perusahaan otobis ini di Terminal Tegal sampai 3 jam lebih menunggunya. Tak jadi aku pesan tiket.

Kembali aku berjalan ke utara. Masih dengan kewaspadaan yang sama terhadap pengendara motor. Aku tahu, bagi mereka waktu sangat berharga. Terlambat bekerja beralamat buruk. Mulai dari hukuman ringan dimarahi sama atasan sampai di potong gajinya. Kasihan. Monggo, Kang. Kalau mau pakai trotoar, aku minggir dulu saja.

Miris. Saat aku lihat sepasang suami istri menarik gerobak. Isinya rongsokan. Pemandangan ini sepertinya sudah tak asing. Yang tak biasa adalah ada 2 anak laki-laki seusia 8 dan 10 tahunan ikut bersama mereka. Kalau mereka masih bersekolah masuk siang, ya nggak apa-apa. Takut tertabrak kendaraan lain saja. Nah, yang aku khawatirkan saat mereka benar-benar tak bersekolah karena biaya. Jika benar, dimana alokasi 20% APBN untuk pendidikan itu?

Aku yakin arah jalanku benar. Sebelumnya, aku lihat Pak Polisi yang sedang sibuk mengatur lalu lintas di pertigaan setelah terminal tadi, orangnya sama saat aku bersalaman bersamanya di halaman kantor Dirjen PMD. Kekar, gagah, berwibawa, tapi murah senyum. Kalau saja ini di Kebasen, akan aku sapa dia: “Pagi, Ndan!”

Nah, masjid At-Takwa pasti setelahnya agak ke depan sana kantor Dirjen PMD.

Tengok sana tengok sini, aku cari warung makan. Tadi di sekitar stasiun dan terminal banyak. Cuma aku belum mau sarapan sebelum ketemu tempat yang aku tuju. Alasan lain ialah menyeleksi tempatnya. Tempat yang representatif jelas harganya mahal. Tempat yang pakai gerobak menawarkan soto, gorengan, dan aneka makanan lainnya yang dicampur lontong. Aku mau sarapan nasi. Semalam perut ini hanya di isi mi gelas dan kopi. Tapi jangan nasi padang. Warung rames biasa saja.

Aha. Kantor Dirjen PMD ketemu juga. Saatnya melampiaskan rasa lapar. Aku lihat di seberang ada tukang gado-gado. Mau aku bandingkan sama gado-gado langganan dekat kantor. Ada tulisan sedia nasi juga di gerobaknya tuh. Aku berdiri menunggu kendaraan yang lewat. Motor dan mobil hampir tak ada yang mau mengalah. Ramai banget. Ah, susah benar nih mau menyeberang saja.

Aku jalan lagi. Mencari masjid Nurul Badar. Dejavu. Keinginan makan gado-gado aku singkirkan. Di seberang ada warteg sebenarnya. Tapi aku coba cari warung makan di jalan masuk sebelah selatan masjid. Eh, tak ada. Coba tengok ke deretan warung di trotoar sebelah utara masjid. Kayaknya nggak ada juga. Hmm….

Perut yang sudah menuntut itu membawaku ke warteg tadi. zebra cross depan masjid Nurul Badar aku ambil. Aku tak ingin mengulangi kesalahan tadi. Menyeberang tak di tempat penyeberangan. Paling tidak saat apes datang, aku berada di jalur yang benar. Tentu saja apes itu tak aku harapkan. Berhenti di tengah, berdiri diatas pembatas ruas jalan, terus menyeberang dengan sedikit berlari.

Sebagai antisipasi, aku hanya pesan nasi dengan sayur taoge, pare, jamur, tahu goreng 2 potong, dan teh tawar hangat. Filosofi ngawur yang aku buat, taoge akan memperkuat semangat, pare representasi bahwa perjuangan itu pahit, jamur yang kenyal aku pilih agar sayuran yang dimakan terasa seperti daging. Teh tawar di pilih agar tak cepat puas merasakan manisnya hasil. Hadeuh, ngomong opo…?

Intinya sih tetap antisipasi. Benar. Harganya masih wajar untuk ukuran kota besar. Apalagi warteg tekenal murah meriah. Regane semedulur.

Tadinya aku berencana balik ke tempat rental komputer yang berada tak jauh dari kantor Dirjen PMD. Hanya saja badan kusut ini sepertinya perlu dibersihkan. Akhirnya masjid Nurul Badar lah tempat aku berlabuh. Melepas penat. Sembari SMS dan telpon ke kawan-kawan untuk memberi kabar tentang pertemuan bersama Pak Sujana Royat kemarin di Purwokerto. Kabar baik ini aku rasa harus disebarluaskan agar sedikit membuat mereka nyaman.

Perkiraanku sejak jam 8 pagi hingga jam 2 siang adalah waktu yang panjang. Ternyata keliru. Melayani SMS, telpon, dan membuat tulisan ini serta aktifitas ritual lain cukup makan waktu. Novel yang semalam sengaja aku sisakan untuk dibaca sembari menunggu jam pertemuan, tak terjamah.

Ada bagian menarik yang perlu aku ceritakan di sini, tentang kisah di dalamnya. Tentang layanan internet yang disediakan oleh pemerintah. Dalam novel ini digambarkan bahwa kecepatan mengunduh file yang besar, lebih cepat dari lamanya kita menyeduh kopi. Sedangkan yang terjadi di negara kita, setara dengan menyeduh kopi, bikin mie, memakannya, dan menghabiskan kopi, pun masih belum terunduh juga. Belum lagi soal kesederhanaan, jangan ditanya. Penduduk negara yang pernah menjajah Indonesia ini kebanyakan memakai sepeda kumbang sebagai alat transportasi. Mereka yang digambarkan pula adalah para mahasiswa yang sedang berkuliah untuk menyelesaikan S2.
Nah!

BAGIKAN
Berita sebelumyaKala Cinta Terhalang Kabut
Berita berikutnyaMenjemput Impian yang Tak Nyata
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here