Menjenguk Ibu yang sakit

0
358
Semoga lekas sembuh, Ibu.

Guru adalah orang tua kita di sekolah. Meski sudah tak bersekolah lagi, guru atau sebutan lain, tetap lah guru. Beliau memiliki andil besar dalam kehidupan kita sekarang. Berbakti pada guru laksana berbakti pada orang tua.

Kabar sedih yang aku terima, sang guru sedang sakit. Ibu Siti Rokhimah sedang rawat di rumah sakit. Operasi pembuluh darah kaki karena adanya sumbatan, membuat beliau terbaring lemah. Pada usia senja, sakit yang demikian, tentu membuat beliau kepayahan.

Siapa dia

Beliau adalah guru bahasa Indonesia semasa SMA. Saat kelas 3, beliau menjadi wali kelas. Meski pembawaannya agak strength, bagi ku, beliau tetap mesti dihormati. Cara mengajar yang demikian, merupakan pembawaan masing-masing individu. Tentu beliau punya alasan sendiri.

Saat masih aktif mengajar, aku pun melihat beliau sering agak sulit berjalan. Kaki sebagai tumpuan, terlihat sedikit diseret. Sepatu hak tinggi yang dipakai, seakan menyulitkan. Namun, itu tak pernah aku sampaikan. Baru kali ini.

Apa hubungan denganku

Meski bagi sebagian teman, beliau termasuk guru yang tak ramah saat mengajar, itu tak berlaku bagiku. Beliau tidak mengistimewakan aku pula. Pasalnya, nilai mata pelajaran bahasa Indonesia ku pun, biasa saja. Mungkin ini yang perlu aku sampaikan.

Beliau memberiku beasiswa memakai uang pribadi. Satu semester akhir di kelas 3, biaya sekolah ku, beliau tanggung. Saat kemarin aku ceritakan, beliau bilang sudah lupa. Yah, terlalu banyak murid yang beliau beri bantuan saat masih aktif mengajar.

Perlu diketahui pula, biaya sekolah di SMAN 2 Purwokerto saat itu, termahal se-kabupaten Banyumas. Sekolah kejuruan dengan banyak praktik saja, masih kalah. Aku bersyukur ditengah kebingungan ibu saat mesti membiayai sekolah ku dan adikku.

Apa sebabnya?

Aku bukan anak pintar di kelas. Prestasi ku standar teman-teman. Maka saat ada guru yang tahu, pernah beliau heran. Namun, seiring berjalannya waktu, beliau paham.

Kalau boleh sedikit berbangga, aku termasuk anak yang rajin. Saat guru membutuhkan buku paket di perpustakaan, aku bergegas ke sana. Mengambil dan mengantarkan LKS di meja guru, sudah biasa. Sampai-sampai membersihkan papan tulis, tanpa diperintah, aku lakukan.

Ini alasan mengapa Ibu Siti Rokhimah mau memberiku beasiswa. Kira-kira begitu yang aku dengar dari Pak Sugito, kolega beliau di SMAN 2 Purwokerto.

Harus menjenguk

Saat melihat foto yang di unggah oleh kakak angkatan, aku merasa harus menjenguk. Jasa beliau membuatku malu. Sebab selepas sekolah, tak pernah sekali pun aku bersilaturahmi ke rumah beliau. Hal ini aku sampaikan kemarin.

Aku merasa malu. Sebab menurut cerita beliau dulu, banyak murid yang mendapatkan beasiswa, sudah menjadi pejabat. Aku tahu ini salah.

Kemarin saat ngobrol di ruang Adenium nomor 114 A rumah sakit Geriatri Purwokerto, aku dan istri ku berjanji akan berkunjung ke rumah di jalan Kampus, paska beliau diijinkan pulang.

Semoga lekas sembuh dan terus diberi kesehatan, Ibu.

Semoga lekas sembuh, Ibu.
Semoga lekas sembuh, Ibu.
BAGIKAN
Berita sebelumyaMempertimbangkan Usaha Keuangan Mikro pada Unit BUMDesa
Berita berikutnyaBukan Pekerja Biasa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here