Mensikapi Gosip yang Beredar

0
226
Silaturahmi meminimalkan gosip negatif.

Berikut materi kuliah tujuh menit dalam shalat tarawih yang pernah aku sampaikan di masjid An-Nur Desa Mandirancan. Materi ini aku sampaikan pada tanggal 16 Agustus 2011. Aku rasa materi ini masih relevan. Apalagi simpang siurnya berita yang beredar. Bukannya memperjelas keadaan, berita-berita yang beredar malah menambah keruh suasana.

Bagaimana baiknya kita bersikap? Simak ya.

Assalamu’alaikum wr wb

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan kenikmatan berupa akal sehat sehingga kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain dan yang tidak.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya hingga hari akhir nanti.

Bapak-bapak, ibu-ibu jama’ah shalat tarawih yang dimuliakan oleh Allah, dalam QS An Nuur ayat 11, Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati…

Berita bohong yang disebutkan dalam ayat diatas, ini mengenai istri Rasulullah SAW. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya (semacam tenda kecil yang diperuntukkan bagi perempuan yang ikut dalam perjalanan) untuk suatu keperluan, Kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup.

Setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya dan mengharapkan ada yang menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat nabi, Shafwan ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun.

Lalu ‘Aisyah dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Jama’ah yang dirahmati Allah…

Dikisahkan pula, sesampainya di Madinah (waktu itu Rasulullah SAW, beserta keluarga dan para sahabat masih tinggal di Madinah) ‘Aisyah jatuh sakit yang lumayan parah. Namun, kabar buruk itu tidak jua sampai terdengar ke telinga ‘Aisyah.

Biasanya ketika ‘Aisyah sakit, Rasulullah SAW akan memanjakan istrinya tersebut. Akan tetapi kali ini beda, Rasulullah terkesan membiarkannya. Paling-paling rasulullah hanya bertanya, “Sudah agak mendingan?”.

Sikap lemah lembut rasulullah yang biasanya beliau tunjukkan, kali ini tidak. Ini membuat ‘Aisyah terheran. Sampai ‘Aisyah merasa sedih atas sikap acuh tak acuh Rasulullah. Maka ‘Aisyah pun berkata, “Ya Rasulullah, andai engkau ijinkan. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku.”

Apa jawab Rasulullah? “Terserah kamu”. Sungguh sebuah jawaban yang jauh dari sikap suami yang sayang terhadap istri. Lalu pulanglah ‘Aisyah ke rumah orang tuanya. Sampai suatu waktu, terdengar juga kabar buruk itu. Sakitlah hati ‘Aisyah, inilah rupanya penyebab Rasulullah mengacuhkannya, tapi mengapa demikian? Bukankah beliau tahu aku adalah istri baik-baik?

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang dimuliakan oleh Allah.
Sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah merupakan sikap obyektif yang sepatutnya kita tiru. Tidak serta merta beliau membela istrinya karena bisa saja berita itu benar adanya. Akan tetapi tidak juga menyalahkan istrinya karena bisa saja berita itu hanya gossip murahan.

Sampai suatu waktu, Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah tentang kejelasan kasus yang menimpa ‘Aisyah, yakni Surat An Nuur ayat 11 tersebut. Dimana dalam ayat tersebut jelas sekali bahwa kabar itu hanya gosip yang tidak bertanggung jawab.

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang budiman…

Kita tentu sering kali menemui atau bahkan terkadang ikut membesar-besarkan sebuah kabar yang belum jelas duduk perkaranya. Mendengar kisah diatas, ada baiknya kita bisa memperbaiki diri untuk tidak serta merta mempercayai sebuah berita, apalagi menambahkannya.

Mungkin bagi kita, sedikit bumbu akan menambah heboh berita itu dan makin asyik diperbincangkan. Akan tetapi, bayangkan lah apabila kita yang berada pada posisi korban dari sebuah gossip. Tentu tidak mengenakkan. Selain itu, kita pun patut mencontoh sikap Rasulullah dalam mensikapi sebuah gosip. Beliau tidak memvonis benar tidaknya sebuah berita. Akan tetapi beliau selalu berprasangka baik dan mencari jawaban yang benar, sehingga sikap beliau tidak menyesatkan bagi kaumnya.

Demikian, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.
Billahitaufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum wr wb

Silaturahmi meminimalkan gosip negatif.
Silaturahmi meminimalkan beredarnya gosip negatif.
BAGIKAN
Berita sebelumyaDesa Unggulan Melek IT Versi TEMPO
Berita berikutnyaMisteri Pembelian
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here