Mensikapi Rencana Pembangunan Duplikat Jembatan Merah

2
1502
Jembatan Serayu Mandirancan - Patikraja

Seperti yang diberitakan kemarin (Jum’at, 24/06/2016) oleh Bagian Humas, Pemkab Banyumas berencana membangun duplikat jembatan Merah. Jembatan sempit yang menghubungkan Desa Mandirancan dan Patikraja merupakan peninggalan jaman Belanda. Jembatan ini pun menjadi penghubung transportasi dari daerah kecamatan Kebasen, dan Desa Papringan menuju ke Purwokerto dan sebaliknya.

Sempitnya jembatan menjadi permasalahan yang tak kunjung ada solusi. Pemasangan lampu lalu lintas dari Dinas Perhubungan beberapa tahun lalu, tak berfungsi. Kemacetan akibat saling serobot masuk tak terhindarkan. Dulu sering terjadi cekcok antar pengguna kendaraan. Untung saja, beberapa waktu lalu muncul relawan pengatur lalu lintas. Keberadaan mereka sedikit banyak telah membantu. Bahkan sumbangan pengendara bisa dijadikan andalan pendapatan sehari-hari. Lumayan.

Niat baik Pemkab membangun duplikat jembatan Merah merupakan solusi tepat. Dengan adanya duplikat jembatan Merah, diharapkan lalu lintas menjadi lancar. Pengendara dari arah utara tak perlu menunggu saat ada mobil masuk dari arah selatan, begitu juga sebaliknya. Lancarnya lalu lintas tentu akan mendukung pengembangan wilayah yang pada akhirnya berimbas pada sisi ekonomi masyarakat.

Sebagai warga yang setiap hari melalui jembatan Merah tersebut, saya ikut senang. Keberadaan duplikat jembatan Merah akan banyak memberi manfaat. Tinggal bagaimana konstruksi jembatan itu nantinya.

Menghilangkan Rasa Enggan ke Daerah Kebasen

Rasa enggan melewati jembatan yang sempit itu begitu terasa. Andai bukan warga Mandirancan. Tentu rasa malas sudah menyergap saat mengambil jalan ke arah sana. Bayangan akan kemacetan yang mesti ditemui saat memasuki nya. Sejak pertigaan pasar Patikraja hingga jembatan Merah, akan ditemui kemacetan.

Kemacetan di pertigaan Pasar Patikraja akan terjadi tiap pagi dan sore. Saat jam-jam berangkat sekolah dan karyawan berangkat kerja, para Polisi akan bekerja keras. Mereka selalu kepayahan mengatur lalu lintas di sana.

Lalu lintas padat terjadi karena pertemuan antara pengendara dari arah barat yakni Wangon, Sampang, Rawalo, dan seputaran Notog. Sedang dari arah selatan, pengendara berasal dari Mandirancan, Papringan, Tumiyang, Gambarsari, Kebasen, Kalisala, dan Sampang. Sedang dari arah timur, pengendara dari Pegalongan, Sokawera, Wlahar Kulon, Wlahar Wetan, dan Kaliori.

Untuk pengendara dari arah timur yang menuju ke Purwokerto sudah terkurangi sejak ada jalan Gunung Tugel.

Kondisi ini membuat pengendara yang berasal dari Purwokerto rasa nya malas berbelok ke selatan menuju daerah Kebasen. Sebab saat terlepas dari kemacetan di pasar Patikraja, mereka akan terjebak macet lagi di jembatan Merah. Hanya mereka yang sangat berkepentingan saja yang mesti ikhlas melewatinya.

Oleh karenanya, pembangunan duplikat jembatan Merah akan banyak membantu pengendara. Rasa enggan ke daerah Kebasen, akan teratasi dengan pembangunan duplikat jembatan Merah ini. Kami sebagai warga masyarakat yang tinggal dan melewatinya setiap hari, akan merasakan manfaatnya.

Rencana Pembangunan Jembatan Pegalongan – Mandirancan

Sekarang, jembatan yang menghubungkan Purwokerto dengan daerah selatan ada tiga, yakni: 1) jembatan penghubung Kalori dan Banyumas, 2) jembatan Suharto, penghubung Rawalo dan Cindaga, dan 3) jembatan Merah, penghubung Patikraja dan Mandirancan. Diantara ketiganya, memang jembatan Merah lah yang paling sempit. Sebab hanya bisa dilalui kendaraan roda empat dari satu arah saja. Kendaraan dari arah berlawanan mesti sabar bergantian.

Rencana pembangunan jembatan yang melintang di aliran sungai Serayu sudah terdengar sejak dulu. Gambaran akan dibangunnya jembatan kata nya sudah masuk dalam rencana di Bappenas. Jembatan ini akan dilalui jalan nasional yang menghubungkan antara Purwokerto dan Cilacap via jalan Gunung Tugel.

Andai itu terjadi, bukan saja akan mengurai kemacetan di jembatan Merah, tapi juga di pasar Patikraja. Pasalnya pengendara dari wilayah Kebasen dan Papringan atau sebaliknya, bisa dialihkan melalui jembatan Pegalongan – Mandirancan tersebut. Ibarat kata sekali membangun, dua masalah teratasi. Apalagi sama-sama melintang di atas aliran sungai Serayu. Perhitungan resiko nya hampir sama.

Tentu pertimbangan demi pertimbangan sudah dilakukan. Ada konsekuensi lain jika pembangunan jembatan dilakukan antara Pegalongan – Mandirancan. Pemkab Banyumas tentu harus mengeluarkan biaya ekstra guna pembebasan lahan. Sebab jalan dari perempatan Pegalongan sampai batas sungai dan batas sungai ke jalan raya di Mandirancan, perlu pelebaran juga. Tentu biaya nya pun tak sedikit.

Mengurangi Kemacetan di Pertigaan Pasar Patikraja

Kemacetan di pertigaan Pasar Patikraja memang parah. Apalagi pertigaan tersebut sering menjadi tempat pemberhentian bus. Terkadang ada yang ngetem juga. Beberapa titik pun dijadikan pangkalan angkot dan koperades.

Oleh karenanya, dulu ada wacana pemindahan pasar. Akan tetapi batal dilakukan, sebab para pedagang menolak. Mereka sudah berjualan di pasar sejak lama. Usaha dagang mereka sudah turun temurun. Bahkan, beberapa waktu lalu dilakukan revitalisasi pasar tradisional yang peresmiannya dilakukan oleh Menteri Koperasi dan UKM era SBY.

Jalan alternatif yang juga akan dibangun dari Notog ke Kedungrandu, pun akan banyak membantu. Kendaraan dari arah Rawalo diharapkan akan melewati jalan lingkar ini. Keberadaannya tentu akan mengurangi kemacetan di sekitar pertigaan Pasar Patikraja.

Pemandangan Indah dari Jembatan Merah

Sudah menjadi kebiasaan pada malam hari, jembatan Merah ramai dikunjungi para pemancing. Terutama pada musim kemarau. Mereka datang dari Purwokerto dan Cilacap. Penduduk Patikraja dan Mandirancan pun ada. Mereka betah duduk hampir semalaman di sana.

Lukisan alam nan indah akan tersaji dari jembatan jika memandang ke barat. Bukan saja para pemancing, tak sedikit yang mengabadikan gambar di sana. Aliran sungai Serayu yang seolah menabrak gunung di sisi barat pun bisa dinikmati saat matahari terbenam. Apalagi saat kabut pagi menyelimuti. Kesan mistis akan terasa.

Pemandangan ini sekarang terganggu. Keberadaan kabel listrik, telpon, dan fiber optik menganggu. Sebaiknya antara perusahaan BUMN ini bekerjasama untuk merapikan juntaian kabel-kabel yang melintang pula di sana.

Semoga pembangunan duplikat jembatan Merah tetap memperhatikan kepentingan para pemancing. Saya berharap, pemerintah bisa berkoordinasi dengan perusahaan BUMN untuk merapikan kabel-kabel itu. Bahkan kalau bisa, menjadikan jembatan itu sebagai wahana wisata dengan latar belakang pemandangan alam saat kita memandang ke barat. Sangat disayangkan jika eksotisme pemandangan ini tidak dimanfaatkan.

Survei Bupati Banyumas di jembatan Merah. Sumber: Dok. Humas Pemkab.
Survei Bupati Banyumas di jembatan Merah. Sumber: Dok. Humas Pemkab.

 

Pemandangan serasa mistis saat berkabut
Pemandangan dari jembatan Merah serasa mistis saat berkabut.

2 KOMENTAR

    • Terpisah oleh sungai Serayu, Kang. Sejak perbatasan Banyumas dengan Purbalingga atau Banjarnegara hingga perbatasan Cilacap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here