Mensikapi Rencana Penutupan Jalan Kebasen – Patikraja

0
1917
Survei lokasi

Akhirnya penutupan jalan raya Kebasen – Patikraja akan dilakukan. Setelah melalui proses yang cukup lama, keputusan penutupan jalan raya ini pun dipastikan. Berdasarkan rapat sosialisasi yang bertempat di kantor kecamatan Kebasen (Jum’at, 18/02/2018), penutupan jalan akan mulai dilakukan sejak tanggal 28 Mei 2018. Rencana penutupan akan dilakukan sekitar 300 hari kalender. Kekhawatiran yang tertunda, akhirnya terjadi juga.

Kendaraan roda empat harus memutar melalui jalur Rawalo atau Buntu. Sedang kendaraan roda dua, sudah dipersiapkan jalurnya. Jalan alternatif melalui jalur bekas rel SS (Staatsspoorwegen) diteruskan dari Bendung Gerak Serayu hingga grumbul Losari Desa Gambarsari, menyusuri sungai Serayu. Pembuatan jalur alternatif ini menjadi salah satu konsekuensi atas pembangunan jalan layang yang sedang dilakukan. Pembangunan jalan layang yang lokasinya di dekat terowongan kereta di sisi utara, dimaksudkan agar pengendara tidak terhalang pintu kereta api nantinya.

Pembuatan jalur alternatif yang sebelumnya diisukan melalui jalan Tumiyang tembus Kebasen, urung. Meski ada sebagian masyarakat yang mengharapkan itu terjadi. Pasalnya jalur alternatif Tumiyang – Kebasen akan melalui jalan Perhutani yang mempermudah akses menuju lokasi wisata Watu Meja.

Keberatan dari warga masyarakat grumbul Losari Desa Gambarsari tak menghendaki harus memutar. Pasalnya jarak tempuh akan semakin jauh. Padahal keperluan mereka ke balai desa, kantor kecamatan, pasar, dan atau mengantar anak sekolah di SD dan atau TK hampir setiap hari dilakukan.

lokasi pembangunan jalan layang

Cukup untuk kendaraan roda dua

Bagi para pengendara yang terbiasa melalui jalan ini, tentu akan menyayangkan jalur alternatif yang hanya cukup untuk kendaraan roda dua saja. Pembuatan jembatan kecil pada 100 meter setelah Bendung Gerak Serayu memang cukup untuk persimpangan sepeda motor. Namun demikian, pengendara harus berhati-hati dan tidak membawa keranjang samping. Karena lebar jalan dan jembatan kecil hanya sekitar 2 meter dengan pengaman jalan di kanan kiri sejak depan kantor Bendung Gerak Serayu hingga jembatan kecil.

Pembuatan jalur alternatif tentu akan berdampak pengguna jalan. Baik mereka yang menuju dan atau dari Purwokerto yang memanfaatkan jalur ini. Padatnya kendaraan pada pagi hari tentu tak bisa dielakkan. Terlebih penutupan jalan ini dilakukan sebelum lebaran. Para pengendara mesti waspada, tahu diri, tidak menang sendiri, dan menghormati pengendara lain.

Berdasar pantauan penulis, jalan tersebut layak. Sebagian menggunakan kontruksi jalan aspal, sebagian lagi cor beton, meski ada sebagian yang masih berupa tanah. Jembatan kecil itu pun kokoh dengan catatan tidak terjadi kemacetan diatasnya. Perlu jasa pengatur jembatan agar pengendara mau berbagi kesempatan melintas tatkala ada pengendara membawa keranjang samping. Sepeda motor yang lumayan besar atau pun yang kecil perlu sedikit melambatkan laju saat melintas di jembatan kecil tersebut.

Survei lokasi

Upaya pemerintah lokal

Tidak henti-hentinya pemerintah lokal memperjuangkan kepentingan umum. Kepala Desa Gambarsari, selaku pemangku wilayah yang ketempatan proyek jalan layang, selalu menolak membubuhkan tanda tangan, sebelum jalur alternatif jadi. Keputusan beliau didukung oleh masyarakat, para Kepala Desa tetangga, dan tentu pihak kecamatan Kebasen sendiri.

Keinginan sebagian besar masyarakat agar pembangunan jalan layang tanpa penutupan tidak terpenuhi. Berkali-kali lobi dan diskusi dilakukan agar kepentingan umum tidak dikalahkan. Namun apa lacur, pembangunan jalan layang harus dilakukan dengan penutupan dan pengalihan jalur lalu lintas. Toh ini dilakukan demi keamanan pengguna jalan juga.

Sebelumnya, ketika pembuatan dua terowongan kereta, wacana penutupan jalan sudah mencuat. Namun atas desakan masyarakat, penutupan itu urung dilakukan. Bayangkan saja, penutupan jalan ketika pembuatan terowongan dan jalan layang, diprediksikan mencapai dua tahun.

Penampakan jembatan kecil

Konsekuensi perubahan

Setiap perubahan pasti berdampak. Entah itu positif atau pun negatif. Mereka yang terkena imbas atas perubahan zaman mesti bisa menyesuaikan. Kalau tak mampu, alhasil mereka hanya akan jadi pecundang. Pembangunan demi pembangunan pasti akan membawa keuntungan dan kerugian. Keadaan ini tergantung bagaimana kita mensikapi. Meski pada prosesnya, lebih sering tak mengenakkan.

Sebagai upaya pemanfaatan jalan paska proyek, Pemerintah Desa Gambarsari sudah mengajukan permohonan atas aset jalan alternatif tersebut. Pemerintah Desa meminta agar aset tanah, jalan, dan jembatan kecil tidak di bongkar. Biarkan saja untuk kepentingan umum desa. Menurut Kepala Desa Gambarsari, Arif Zulfikar (34 tahun), jalan tersebut kelak akan dimanfaatkan untuk prasarana wisata desa susur Serayu.

Oleh karena nya, daripada mengeluh, menggerutu, dan atau mengumpat, lebih baik kita terima dan mensikapi secara bijak. Upaya yang dilakukan oleh Pemdes Gambarsari pantas diacungi jempol. Mampu melihat peluang bagus di masa mendatang.

Lagipula, keluhan, gerutuan, dan atau umpatan yang diucapkan, tak akan bisa mengubah apapun. Konsekuensi atas pembangunan untuk perubahan memang demikian. Pilihan ada di tangan kita. Akan kan terus menyalahkan keadaan atau mensikapi secara dewasa.

 

Salam.

Jalur susur Serayu kelak.
BAGIKAN
Berita sebelumyaSadar Diri
Berita berikutnyaMerenungi Syair Lagu Deen Assalaam
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here