Mensikapi Selesainya Pembangunan Duplikat Jembatan Merah Serayu

8
960
Penampakan dari sisi selatan

Pembangunan duplikat jembatan Merah sudah rampung. Terlihat gagah. Meski sampai tulisan ini dibuat belum diresmikan, ujicoba penggunaannya sudah dilakukan. Sejak Senin (19/2/2018), lalu lalang kendaraan sudah diijinkan melaju diatasnya. Uji kelayakan memang semestinya dilakukan sebelum serah terima pekerjaan dari kontraktor ke Pemkab. Banyumas.

Sebelum itu, saat menunggu cor beton cukup kuat, masyarakat Desa Mandirancan dan Patikraja memanfaatkan untuk olahraga dan jalan-jalan.Tiap pagi dan sore, mereka sengaja berkumpul dan menikmati keindahan jembatan dengan panorama sungai Serayu dan perbukitan di sebelah barat. Mereka berfotoria dengan latar lukisan alam itu. Apalagi latar itu tak terhalang oleh semrawutnya kabel-kabel yang tergantung.

Jembatan yang dibangun dengan panjang mencapai 126 meter dan lebar 7 meter itu, diperkirakan menghabiskan dana sekitar 18,6 milyar. Waktu pengerjaan yang ditargetkan selesai sekitar pertengahan Desember 2017, ternyata molor. Musim penghujan dengan debit sungai Serayu yang membesar menjadi salah satu kendala. Tidak ditutupnya jalur Mandirancan – Patikraja menjadi kendala lain.

Panorama di sebelah barat. Dok: Komang Ardhita

Teknologi tinggi

Pembuatan tiang penyangga jembatan menjadi tontonan menarik kala itu. Masyarakat bertanya-tanya, bagaimana membuat tiang penyangganya. Padahal sungai di sisi utara tiang penyangga jembatan Merah sangat dalam. Dulu saat belum ada Bendung Gerak Serayu, kala air sungai surut, sisi utara tiang penyangga tetap berair cukup deras. Padahal sisi selatan berubah menjadi daratan (mlatar). Tempat kami, anak-anak bermain bola di sana.

Perahu buatan dari rangkaian besi guna mengangkut excavator diatas air, membuat warga kagum. Alat berat dengan tonase besar bisa mengapung. Penggalian dasar sungai dengan bor yang dipasangkan pada excavator terlihat aneh. Minimnya pemahaman, ilmu, dan pengalaman menyemburatkan pertanyaan, “apa bisa?”

Pengecoran dan pengeboran tiang penyangga. Foto: Patikraja News

Mungkin mereka tak ingat, selat Madura saja bisa ditaklukan. Apatah lagi hanya sungai Serayu. Teknologi pembuatan tiang penyangga jembatan, mereka bandingkan dengan proses pembuatan Bendung Gerak Serayu dulu. Saat itu, pembuatannya harus membendung danmengalirkan sebagian sungai agar bisa mencapai dasar. Lha ini kok nggak di bendung.

Meski membuat jalan menjadi semakin macet, saat-saat pemasangan rangka baja jembatan menjadi tontonan. Entah berdiri di sekitar lokasi, atau turun di tepi sungai, warga seperti terhibur. Teknologi tinggi pembuatan jembatan mengundang decak kagum. Materi obrolan di pertigaan, pos ronda, atau saat berkumpul tak jauh dari proses yang mereka lihat.

Masalah lain

Perjalanan menuju ke dan dari Purwokerto melalui duplikat jembatan Merah, atau sekedar dari Mandirancan ke Patikraja dan sekitarnya, menjadi sangat lancar. Satu permasalahan yang selama ini dihadapi, tertangani. Kemacetan yang masih dihadapi ada di pertigaan pasar Patikraja. Banyaknya kendaraan yang bertemu dan membuat macet di sana, belum teratasi. Rencana pembuatan jalan lingkar dari Notog ke Kedungrandu belum terealisir. Polisi dan relawan pengatur lalu lintas, masih disibukkan di sana.

Posisi jalan dari arah selatan menuju jembatan yang terlalu menikung, pun mengkhawatirkan. Jika pengendara dari arah selatan tidak melihat keluar masuknya kendaraan ke gang-gang di dekat jembatan, bisa berbahaya.Ada baiknya kendaraan sedikit mengurangi kecepatan. Termasuk pengendara dari dan ke gang-gang dekat jalan raya pun harus berhati-hati.

Andai jalan di sebelah selatan jembatan dibentuk seperti di sisi utara, kekhawatiran itu tertepis. Tapi keadaan yang memaksa demikian. Sebab jika benar dibentuk seperti itu, berarti harus mengalahkan beberapa rumah yang ada. Bukan lagi semacam pengurangan, tapi pembongkaran total. Tentu saja pembangunan tidak boleh mengesampingkan sisi kemanusiaan terhadap pemilik rumah-rumah tersebut.

Penampakan dari sisi selatan
Penampakan dari sisi utara

Masalah yang perlu segera diselesaikan

Dua batang besi penghalang pengaman yang dipasangkan pada jembatan pun masih terbilang longgar. Kalau sekedar menghalangi kendaraan yang mungkin menabraknya, mungkin masih bisa. Akan tetapi jika ada pejalan kaki yang tersenggol kendaraan, bukan tak mungkin akan langsung terjun ke sungai. Meski akan jarang pejalan kaki di sana, hal itu sepertinya perlu diperhatikan.

Selain itu, pembelokan dan penambahan saluran drainase masih menyisakan masalah. Saluran drainase di sisi selatan atau tepatnya di Desa Mandirancan menjadi terhambat. Lantai dasar drainase yang dekat sungai Serayu posisinya lebih tinggi. Ini membuat air selalu menggenang. Genangan air berpotensi menimbutkan penyakit malaria.

Masyarakat dan Pemdes Mandirancan sudah mengadukan hal itu. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan. Bahkan sepertinya tidak ada. Sebab tidak ada jawaban pasti. Oleh karenanya selaku warga Mandirancan, melalui tulisan ini saya berharap mendapat tanggapan positif dari pihak kontraktor dan atau Pemkab. Banyumas.

Genangan air pada drainase
Titik dimana genangan air di drainase

Pemanfaatan Jembatan Merah

Paska pembangunan duplikat jembatan Merah, jembatan Merah yang ada bisa dimanfaatkan untuk fungsi lain. Bisa digunakan sebagai jalur kendaraan tanpa motor, pejalan kaki, atau tempat rekreasi lokal. Pemanfaatan jembatan dengan beban yang lebih ringan akan memperpanjang umurnya. Begitu pula arahan Bupati Banyumas pada acara groundbreaking beberapa waktu lalu.

Pengalaman ambrolnya jembatan Sukarno di jalur Cindaga – Rawalo pun begitu. Karena beban yang berlebihan selama digunakan, membuat jembatan yang dirancang oleh Presiden pertama RI tersebut, kini tinggal bangkainya. Bagian tengah sudah tak ada. Onggokan di kedua sisi terlalu berbahaya jika dimanfaatkan meski sekedar untuk nongkrong.

Meskipun peninggalan jaman Belanda, jembatan Merah yang sebelumnya untuk jalur kereta api ini, bisa menjadi saksi sejarah perjuangan. Banyak cerita mengenainya yang kelak bisa diwariskan ke anak cucu.

Pada akhirnya, perlu kami sampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pihak khususnya Pemkab. Banyumas atas terselesaikannya pembangunan duplikat jembatan Merah. Lancarnya arus lalu lintas akan mempermudah pengembangan wilayah di kecamatan Kebasen khususnya. Pembangunan lain berupa pelebaran jalan dari Mandirancan ke Kebasen pun semoga segera direalisasikan.

Salam.

 

8 KOMENTAR

  1. Laporan pandangan mata yang keren. Kemampuan penulis mendokumentasikan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat Banyumas sangat bagus. Kemampuan belajar penulis pada hal-hal baru sangat meyakinkan. Salut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here