Menyoal Poligami

0
284
Sesekali foto berduaan

Seringkali permasalahan poligami menyeruak dalam pemberitaan media. Apalagi jika poligami itu dilakukan oleh orang yang seharusnya layak dijadikan sebagai panutan dalam agama. Permasalahan poligami biasanya akan membuat media tidak lagi mengundangnya mengisi acara-acara yang mereka selenggarakan. Kabar terbaru tentang poligami penyanyi religius itu.

Khalayak berpandangan bahwa menyakiti hati perempuan dengan berpoligami itu tidak layak bagi tokoh panutan agama. Meskipun khalayak juga tetap tidak sepakat terhadap poligami yang dilakukan oleh pengusaha, tokoh politik, artis, dan yang lainnya, namun berita akan semakin kencang saat tokoh panutan agama yang melakukan. Seakan, poligami itu dosa besar.

Berbicara tentang poligami, aku ingat kasus Aa Gym. Pada saat itu, istri begitu kecewa dengan beliau. Begitu teganya Aa Gym menyakiti Teh Ninih yang telah mendampingi sejak Aa belum menjadi siapa-siapa. Apalagi mengandung dan melahirkan banyak anak, karena pernikahan mereka, bukanlah perkara mudah.

Melihat istri begitu kecewa, aku merasa perlu memberi pengertian. Aku katakan, terlepas apakah kita akan melakukan atau tidak, terimalah bahwa poligami dibenarkan oleh agama (Islam). Saat itu, istriku tetap tak bisa menerima. Dia masih bersikukuh bahwa itu tak adil.

Poligami vs Selingkuh

Pada saat kasus Aa Gym mencuat, ada kasus yang hampir sama. Kasus perselingkuhan pedangdut Maria Eva dengan anggota DPR yang terhormat. Kedua kasus tersebut mencuat di media. Akan tetapi, hujatan dan boikot terhadap Aa Gym terasa lebih kentara. Pasalnya Aa Gym termasuk pendakwah yang sebelumnya disukai jama’ah perempuan.

Tapi perlu diketahui, sebagian lelaki memang demikian. Ada lelaki yang memiliki ‘keistimewaan’ lebih daripada yang lain. Mereka perlupenyaluran yang lebih pula. Meski alasan poligami tentu bukan hanya ‘keistimewaan’ itu saja. Pertimbangan lain yang tak kita ketahui, pasti ada.

Aku katakan pada istriku untuk membandingkan kedua kasus tersebut. Keduanya sama-sama perbuatan yang menyakiti istri. Tapi kedua kasus itu berbeda. Satu masalah poligami; satu masalah perselingkuhan. Kasus Aa Gym, meski tetap menyakitkan, diridhoi. Sedang kasus Maria Eva, pasti dilaknat.

Kedua kasus ini muncul bukan karena kebetulan. Kuasa Allah SWT sedang berlaku. Dia sedang menunjukkan kepada kita, bagaimana kita mensikapi ketentuan-Nya. Permasalahan poligami dan perselingkuhan, sama-sama tidak mengenakkan. Dia sedang menguji dan melihat, dimana keberpihakan kita saat menghadapi keadaan yang sulit.

Sesekali foto berduaan

Menjaga Keimanan

Pastinya, apapun yang terjadi belum tentu sesuai keinginan kita. Sebagai seorang muslim, ketentuan Allah SWT mengijinkan poligami, tentu harus kita terima. Itu hak prerogatif-Nya. Seperti yang tadi aku katakan: ‘terlepas akan dilakukan atau tidak, itulah kebenaran yang mesti diimani’.

Yang harus diwaspadai adalah pendangkalan keimanan. Ketika kekecewaan atas poligami itu dijadikan alat untuk pendangkalan keimanan. Karena kecewa dengan kebenaran itu, maka berkurang pula keyakinan akan kebenaran Islam. Sampai akhirnya berkesimpulan bahwa Allah SWT itu tidak adil. Na’udzubillah.

Keimanan ibarat akar kokoh yang menghujam ke bumi. Akar itu akan menopang batang pohon hingga menjulang ke langit. Kemudian pohon itu akan menyenangkan orang yang memandangnya. Karena mereka bisa memanfaatkan buahnya, atau berteduh dibawahnya. Nah, saat keimanan mulai goyah karena poligami, maka kekuatan penopang itu pun akan berkurang. Yang jika dibiarkan, lama-lama akan merobohkan pohon keimanan itu.

Masalah Sensitif

Seperti halnya perceraian, poligami termasuk masalah sensitif dalam berkeluarga. Oleh karena nya, bijak rasanya tatkala kedua masalah tersebut tidak dijadikan bahan candaan. Cukuplah kedua nya tahu bahwa permasalahan tersebut ada dan mesti dipahami.

Poligami dan perceraian tetap diijikan dengan syarat dan ketentuan khusus. Pembahasan yang dilakukan terhadap keduanya terkait syarat dan ketentuan khusus tersebut. Jika masalah tersebut dilarang, tentu akan sulit mencari jalan keluar kala kondisi yang demikian hadir.

Obrolan tentang poligami antara aku dengan istri, dalam rangka memahamkan kebenaran. Sedang candaan tentangnya, sangat kami hindari. Terlalu banyak bahan candaan dan obrolan tentang keluarga dan tetangga yang layak diperbincangkan.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenikmati Proses
Berita berikutnyaMenjadi Manusia untuk Berempati pada Rohingnya
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here