Mudik Selamanya di Desa

0
201
Dok: merdeka.com

Miris dan prihatin. Itu yang kita rasakan. Kemacetan akibat mudik tahun ini disebut paling parah. Pelbagai media melaporkan tentang kemacetan di tol dari Jakarta. Para pemudik harus ekstra sabar menunggu. Petugas lalu lintas tentu sudah berusaha maksimal menguraikan kemacetan. Namun apa daya, penumpukan kendaraan masih terjadi. Padahal dari beberapa status di sosial media, masih ada yang rencana nya berangkat tadi siang atau malam ini. Ini berarti beban kemacetan diperkirakan akan bertambah.

Pembangunan tol Cipali yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah, tak bisa berbuat banyak. Para pemudik yang ingin segera sampai di kampung halaman, masuk dan memenuhi jalur ini. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di tol Cipali. Pintu keluar tol Pejagan di Brebes tak mampu membagi jalan bagi kendaraan. Pasalnya pertigaan jalan di sana pun sangat padat.

Mudik itu tradisi. Tak afdol rasanya jika saat lebaran, masih di perantauan. Keinginan untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan teman-teman, selalu hadir saat lebaran. Apapun bentuk pengorbanannya, akan dilakukan asal bisa mudik. Mudik pun dilakukan untuk memberitahukan akan keberhasilan mereka selama di rantau.

Setelah lama berkutat dengan rutinitas pekerjaan, momen lebaran diharapkan menjadi sarana untuk refreshing. Mudik menjadi pilihan. Tak bisa mudik berarti kesedihan. Sebab tak bisa berkumpul bersama keluarga di kampung. Orang tua, saudara, dan tetangga pasti merindukan. Apalagi bagi mereka yang memang hanya bisa pulang saat lebaran saja.

Silaturahmi dan bersyukur

Silaturahmi menjadi niat awal para pemudik. Utamanya bersilaturahmi kepada orang tua. Meski memohon maaf kepadanya tidak harus dilakukan pada momen lebaran, tapi tradisi ini sudah turun temurun. Apalagi keyakinan bahwa silaturami akan memperpanjang umur dan rizki. Sesaat setelah shalat Ied dilakukan, mereka saling mengunjungi.

Lebaran menjadi ajang untuk melepas penat, mengendurkan syaraf otak dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan. Mereka mencari suasana baru. Menikmati suasana khas desa yang hijau dan alami. Udara segar yang menjadi barang mahal di kota, di sini bisa dinikmati sepuasnya. Mengunjungi tempat-tempat kenangan semasa kecil dan teman sebaya.

Saat di desa ini, para pemudik juga bisa merenungi dan mensyukuri karunia Allah SWT karena rizki yang diberikan. Kemudahan mengais rupiah di perantauan harus disyukuri. Bagaimana pun, kondisi sekarang masih lebih baik dari masa lalu. Apalagi jika dibandingkan dengan teman-teman semasa kecil, yang masih jua tak beruntung.

Macet tiap tahun

Macet selalu jadi langganan. Beruntung bagi sebagian pemudik yang bisa memanfaatkan kereta api atau pesawat. Terjebak mudik tidak terlalu lama. Hanya saat menuju stasiun atau bandara, dan setelahnya. Tapi para pemudik yang menggunakan kendaraan semisal bus atau mobil, akan merasakan kemacetan yang luar biasa. Namun demikian, kemacetan yang dialami tiap tahun tak membuat jera. Buktinya arus mudik selalu padat. Semua ingin mudik.

Pemerintah sudah berupaya mengatasi masalah ini. Proyek tahunan peningkatan jalan sudah tidak lagi menghiasi media. Pemerintah sudah cerdas mensikapi. Pengaspalan jalan dilakukan jauh-jauh hari sebelum lebaran. Pembangunan jalan tol pun dilakukan. Mungkin yang masih dalam tahapan adalah rel ganda. Semua dilakukan untuk mempermudah transportasi.

Untuk mengatasi macet, sebagian pemudik memilih kendaraan roda dua. Meski beresiko besar, sepeda motor di pilih karena mudahnya menyalip dan memanfaatkan jalan sempit sekali pun. Soal irit bahan bakar pun menjadi pertimbangan.

Sayangnya kemacetan mudik tahun ini, motor pun terjebak. Perilaku buruk pengendara menjadi salah satu penyebabnya. Melihat ruas jalan yang lebih lengang membuat mereka serakah. Para pengendara menyerobot jalan yang bukan bagiannya. Mereka tak peduli. Oleh karena nya, kemacetan parah pun terjadi.

Para pengendara yang sudah terbiasa memanfaatkan jalur-jalur alternatif mungkin akan beda ceritanya. Meski agak memutar, mereka akan memanfaatkannya. Bukan tanpa resiko. Jalur alternatif pun membutuhkan langkah antisipasi. Semisal ban tak boleh halus, bahan bakar yang cukup, lampu penerangan, dan cepat melakukan antisipasi saat terjadi sesuatu. Dibutuhkan pengalaman yang mumpuni.

Pemanfaatan jalur alternatif pun tak menjamin cepat nya sampai di kampung. Saat apes, malahan lebih parah. Pintar dan bijak lah dalam mensikapi.

Investasi di Desa

Ada aliran dana yang masuk ke desa saat mudik. Sejumlah rupiah yang dibawa pemudik ke desa menjadi semacam transfer dana ke desa. Transfer itu diberikan oleh pemudik kepada keluarga dan atau biaya selama di desa dalam bentuk yang bermacam-macam. Ini salah satu manfaat nya.

Salah satu yang bisa dilakukan ialah investasi. Para pemudik bisa memanfaatkan momen silaturahmi untuk ngobrol soal ini. Penjajakan bentuk investasi ke desa bisa dilakukan. Pada bidang usaha apa saja yang bisa digerakkan. Usaha ini sedikit banyak akan ikut menggerakkan roda ekonomi di desa.

Pilihan jenis usaha dan pelaku bisa dibicarakan. Para pemudik yang pernah tinggal dan hidup di desa tentu tahu potensi apa saja yang bisa dikembangkan. Pengalaman mereka berinteraksi dengan orang lain di kota, bisa ditularkan. Kemampuan manajerial, pengembangan potensi desa, peluang usaha, dan tentu saja investasi menjadi salah satu bentuk nya.

Utamanya para pemudik yang bekerja di sektor informal, investasi ini sangat dianjurkan. Sebab persaingan dari tahun ke tahun semakin sengit. Saat investasi sudah bisa menampakkan hasil, bisa menjadi pendapatan tambahan. Bahkan menjadi harapan masa depan.

Memang tak ada jaminan investasi ini akan berhasil. Akan tetapi pengalaman saat di kota yang dipadukan dengan potensi dana dan alam yang ada, lebih memungkinkan untuk berhasil. Apalagi saat usaha dari investasi ini dilakukan oleh kerabat atau teman di desa, bisa diprediksi tingkat keberhasilannya. Sebab kita sudah tahu tabiat kerabat atau teman yang kita percayai. Mampu dan amanah tidaknya mereka, kita sudah paham.

Tinggal di Desa Selamanya

Kita mesti bermimpi indah. Salah satu mimpi indah ialah tinggal di desa dengan aman, makmur, dan nyaman. Mengapa demikian? Sebab di desa lah nilai-nilai luhur bangsa ini terjaga. Nilai-nilai sosial yang ada menjadi modal peradaban bangsa. Sebagai generasi penerus, kita wajib menjaga nya. Salah satu cara nya dengan melindungi desa.

Jika kita bekerja pada sektor formal yang memungkinkan melakukan banyak hal, meninggalkan desa bisa merupakan sumbangsih besar. Namun saat sektor informal yang kita sasar, ada baiknya mempertimbangkan tinggal di desa saja. Membangun desa sebagai basis peradaban bangsa membutuhkan kiprah kita.

Permasalahan mata pencaharian di desa memang harus menjadi perhatian. Salah satu nya ya investasi tadi. Hasil kerja di kota yang diinvestasikan akan menjadi tumpuan. Ketika kita sudah kalah bersaing di kota atau masuk masa pensiun, usaha dari investasi ini bisa diandalkan.

Saat itu terjadi, maka tak ada salahnya banting stir. Tinggal di desa untuk mengurusi usaha itu sendiri. Membangun desa, membangun Indonesia, dengan hidup di desa. Cerita macet tinggal kenangan.

Semoga.

 

Dok: merdeka.com
Macet di Pejagan.                                                                                           Dok: merdeka.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here