Nge-Blog Untuk Desa

0
116
Hari Blogger Nasional

Coba-coba deh ikutan kegiatan posting ramai-ramai tanggal 27 Oktober. Katanya sih hari Blogger Nasional. Yang jelas aku nggak berharap duit 200 ribu itu. Apalagi cuma berupa voucher. Partisipasi saja. Merasa senasib dan dan sepenanggungan sebagai seorang blogger. Ahay…!

Kalau kamu tanya kenapa aku jadi blogger, aku jawab untuk membantu orang desa. Saat itu sih semangatku hanya untuk membantu menyuarakan masyarakat desa. Kegiatan-kegiatan di desa yang tak ter-ekspose menjadikan orang-orang desa dianggap tak mampu. Makanya dikit-dikit mesti diatur sampai begitu rigid-nya. Payah pisan.

Hari Blogger Nasional
Hari Blogger Nasional

Yang aku tulis memang soal kegiatan-kegiatan yang seolah sepele. Tapi sebenarnya penuh muatan pembelajaran. Bagaimana kita berperikehidupan yang sesuai dengan budaya luhur Indonesia. Kerja bakti, gotong royong, saling bahu membahu, tepa slira, dan masih banyak lagi kebiasaan baik di desa, merupakan salah satu mengapa bangsa ini dikagumi oleh bangsa lain.

Namun seiring perkembangan jaman, ketika desa tetap dalam kondisi miskin, tak sedikit penduduknya hijrah ke kota. Mencari penghidupan yang lebih layak. Sedikit atau banyak akan berimbas pada mulai lunturnya nilai-nilai sosial di desa. Padahal nilai-nilai sosial itu lah yang menjadi kepribadian bangsa.

Kerja bakti khas desa
Kerja bakti khas desa

Kemiskinan di desa harus di lawan. Kemiskinan yang ada bukan karena faktor budaya. Tapi karena sistem ketatanegaraan yang tidak berpihak padanya. Berapa banyak dana yang disalurkan guna membangun desa. Sangat sedikit. Kemiskinan yang ada bukan karena kultural, tapi struktural.

Mereka selalu memandang rendah orang desa. Andai orang desa tetap bodoh, ini salah siapa? Bagaimana mau pintar kalau fasilitas belajar saja masih minim. Bagaimana mau berpikir ke samping, kalau urusan perut saja mereka sering kebingungan. Lagi-lagi karena pemerataan pembangunan yang masih sebatas slogan.

Ah, jadi emosi nih. Sori ya, Bro.

Sebagai anak yang dibesarkan di desa, sudah menjadi kewajibanku membelanya. Desa harus dimakmurkan. Pembangunan harus merata di desa-desa. Jangan kota terus yang diperbaiki. Toh lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di desa. Tunaikan dong hak keadilan sesama warga.

Permasalahan-permasalahan sosial di kota berupa kriminalitas, prostitusi, perumahan kumuh, banjir, dan se-abrek permasalahan lain, muncul karena hanya kota yang diperhatikan. Kota menjadi daya tarik tersendiri karena fasilitas dan kemudahannya. Dari tahun ke tahun arus urbanisasi terus bertambah. Selalu dan selalu akan menimbulkan masalah baru.

Jaga keindahan desa
Jaga keindahan desa

Melalui UU Desa yang sudah disahkan, kami berharap, pembangunan fisik dan SDM di desa akan meningkat. Kami berharap ini bisa menjadi solusi terbaik bagi semua permasalahan bangsa. Bukan saja dari sisi perut, tapi bagaimana orang hidup bersama. Masyarakat kota kelak, harus mau belajar bagaimana orang-orang di desa hidup rukun. Dunia politik Indonesia yang sekarang lebih banyak dihuni oleh para badut, seharusnya menjadi tontonan menarik kalau semua hidup rukun.

Mari kita kawal dan implementasikan UU Desa sebagai semangat memperbaiki kehidupan bangsa. Melawan kemiskinan dan keterbelakangan. Jangan biarkan orang-orang desa kelaparan di sana. Jangan biarkan orang-orang desa hijrah ke kota dan menimbulkan masalah baru. Jangan biarkan nilai-nilai luhur bangsa ini terkoyak.

Mari jaga kepribadian bangsa dari desa, agar orang-orang kota berkiblat ke sana. Bagaimana seharusnya hidup berbangsa dan bernegara dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ini yang aku kelola:

www.kikis.web.id
www.mandirancan.desa.id
www.banyumasmandiri.or.id
www.indonesiamandiri.or.id

Salam damai dari orang desa. Selamat Hari Blogger Nasional…!

Terima kasih Anging Mamiri
Terima kasih Anging Mamiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here